
Alam Iblis.
Di atas langit yang gelap gulita, empat sosok tiba-tiba saja muncul. Mereka adalah Yang Jian, Fei Yulan, Bai Hu dan Mo Chan.
"Sepi sekali di sini." Yang Jian yang sudah menyebarkan kesadaran spiritualnya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda adanya peperangan, ia hanya mendapati beberapa wilayah yang hancur akibat pertempuran.
"Haruskah kita menyebar?" Fei Yulan bertanya.
"Tidak perlu. Aku punya skill untuk mendeteksi yang jangkauannya cukup luas..." Mo Chan menjawab, dan ia tanpa banyak bicara lagi langsung menggunakan 'Skill' yang ia maksud.
Fei Yulan menatap Mo Chan dalam diam, begitu juga dengan yang lainnya. Energi hijau mulai berfluktuasi di tubuh Mo Chan dan kemudian membentuk sebuah kompas raksasa di bawah kakinya.
Note: Mo Chan itu Iblis, ya.
Mo Chan perlahan memejamkan matanya dan jarum kompas mulai berputar searah jarum jam. Beberapa saat kemudian, jarum kompas tersebut berhenti ke satu arah dan membuat mata Fei Yulan serta yang lainnya mengikuti arah yang sama.
"Perangnya ada di sana..." Mo Chan berkata dengan mata yang sudah terbuka, perlahan kompas raksasa di bawah kakinya menghilang.
"Bagus. Kalau begitu, ayo pergi." ajak Yang Jian dan ia lebih dulu melesat ke sana.
Melihat itu, Fei Yulan dan yang lainnya tidak tinggal diam saja, mereka langsung menyusul Yang Jian dengan kecepatan yang tinggi.
***
"Xin Qian! Xin Qian! Sadarlah, aku mohon!"
Saat ini, Lian Qianchen sedang berusaha menutupi luka yang ada di tubuh wanita Iblis bernama, Xin Qian.
"A-ah... S-saudari Qianchen, kau kah itu?" suara serak keluar dari mulut Xin Qian, ia mencoba mengangkat tangannya dan mencari keberadaan Lian Qianchen.
Lian Qianchen sendiri yang menyadari itu langsung meraih tangan Xin Qian dan membiarkannya memegang pipinya sebelah kiri.
"Syukurlah kau baik-baik saja, saudari Qianchen. Aku sangat senang..." meski saat ini Xin Qian tidak bisa melihat, ia tau kalau Lian Qianchen berada dalam keadaan baik.
"Bodoh! Seharusnya kamu mementingkan kondisimu terlebih dahulu!" Lian Qianchen berkata dengan nada kesal, di saat yang bersamaan ia mengeluarkan sebuah pil penyembuh tingkat tinggi, "Ayo telan pil penyembuh ini, aku yakin kau akan membaik setelah mengkonsumsinya." ucap Lian Qianchen dan berniat untuk memasukkan pil yang ada di tangan kanannya ke mulut Xin Qian.
"Hahaha... Kau ini suka ya berkata kasar." Xin Qian tertawa kecil, dan ia menolak untuk menelan pil penyembuh yang diberikan oleh Lian Qianchen, "Simpan saja pil itu untuk dirimu sendiri, aku yakin kau lebih membutuhkannya daripada aku." Xin Qian tau kalau hidupnya tidak akan berlangsung lebih lama lagi, akan menjadi hal yang sia-sia jika ia mengkonsumsi pil penyembuh itu.
"Tidak, jangan keras kepala di saat seperti ini! Kau masih bisa selamat, percayalah padaku!" suara Lian Qianchen mulai bergetar, ia sendiri juga tau kalau hidup Xin Qian tidak akan lama lagi-- namun ia berusaha menolak fakta tersebut dan berharap akan ada keajaiban yang datang padanya.
"Jangan berbohong, saudari Qianchen. Aku sudah tau dengan apa yang terjadi padaku saat ini, tubuhku hanya tersisa setengah saja sekarang." Xin Qian tersenyum pahit, ia masih bisa hidup sampai sekarang karena Lian Qianchen menutupi luka tersebut dengan Qi-nya.
Lian Qianchen merapatkan giginya ketika mendengar itu, apa yang dikatakan oleh Xin Qian adalah suatu kebenaran. Sedari awal, tindakan yang ia lakukan hanyalah untuk membuat Xin Qian bisa bertahan hidup lebih lama, tentu saja ia tau kalau itu akan menyiksa Xin Qian dengan rasa sakit-- akan tetapi dirinya sama sekali tidak mau Xin Qian menemui kematiannya.
"Maafkan aku... Pasti sakit, ya." air mata Lian Qianchen mulai turun, tetapi ia hanya memperlihatkan raut wajah tanpa ekspresi.
"Kamu tidak perlu menangis, saudari Qianchen. Ini adalah takdir yang harus kuterima..." Xin Qian tersenyum pahit, meskipun ia terlihat tegar namun faktanya ia sama sekali tidak ingin mati, "Omong-omong, mereka berdua di mana?"
Xin Qian mengigit bibir bawahnya ketika mendengar itu, air mata perlahan jatuh dari pelupuk matanya, "Begitu, ya..."
"Maafkan aku karena tidak sempat melindungi kalian... Maaf..." Lian Qianchen mengusap tangan Xin Qian yang masih memegang pipi sebelah kirinya, "Kalau saja aku bisa datang tepat waktu, kalian bertiga pasti tidak akan bernasib seperti ini. Dasar aku bajingan..."
Xin Qian tersenyum dan ia perlahan mengelus rambut Lian Qianchen, "Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kamu ada di sini dan menemaniku sudah membuatku paham betapa baiknya dirimu." Xin Qian berkata dan dengan segera melanjutinya, "Meskipun kamu memiliki temperamen yang sedikit kasar, namun hatimu sangat baik.
"Aku harap kamu bisa menjalani hidup dengan bahagia..." suara Xin Qian perlahan melemah, dan tidak lama setelah itu tangannya terjatuh ke tanah.
Melihat kematian Xin Qian tidak membuat Lian Qianchen menangis, ia hanya meratapi mayat iblis itu dalam diam.
***
"Oh, sepertinya kita sampai..." Bai Hu berhenti di samping Yang Jian, dan ia tersenyum lebar, "Aku akan melampiaskan rasa frustasiku di sini, hahahaha..."
"Skala perang ini terlalu besar, jika ingin menyelesaikan tugas ini dengan cepat kita harus berpisah..."
"Ide bagus, kalau begitu aku akan pergi ke arah timur." tanpa menunggu tanggapan dari rekan-rekannya, Bai Hu langsung melesat pergi dari sana.
"Dasar harimau itu, dia kadang suka bertindak seenaknya..." Yang Jian menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepala pelan, "Aku akan ke arah timur laut, kalian berdua?"
"Aku akan ke utara." jawab Mo Chan cepat.
"Aku akan ke barat..." timpal Fei Yulan.
Yang Jian mengangguk pelan dan berkata, "Baiklah, ayo berpisah."
Whooosh!
Sesaat setelah itu, mereka bertiga dalam sekejap menghilang dari sana.
***
Menggunakan pedang Pembunuh Kirin, Yang Jian membantai seluruh musuh yang ia lihat hanya dalam sekali tebasan saja.
"Sudah cukup banyak makhluk hidup dari kubu Dewa Iblis yang aku bunuh, tapi entah kenapa rasanya mereka tidak ada habisnya." Yang Jian bergumam saat melihat musuh terus berdatangan padanya.
Yang Jian kemudian mulai mengeluarkan beberapa jurus yang bisa membunuh musuh dalam jumlah banyak. Ketika Yang Jian masih membantai para musuh, ia sedikit menyipitkan mata saat menemukan seorang perempuan yang sedang berdiri di depan sebuah makam sederhana.
"Apa yang sedang dia lakukan?" Yang Jian sedikit mengerutkan alisnya, ketika ada musuh yang hendak menyerang perempuan bergaun merah itu-- mereka dalam sekejap terbunuh tanpa melakukan perlawanan.
Yang Jian terdiam sejenak saat menyaksikan itu, "Sepertinya makam yang dia ratapi itu adalah milik temannya." gumam Yang Jian dan ia kemudian kembali fokus pada apa yang di depannya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.