
Kurang lebih selama empat tahun Fang Lin bermeditasi tanpa berhenti untuk mempelajari hukum Alam Semesta. Perlahan matanya mulai terbuka dan rune-rune kuno yang menyelimuti tubuhnya sudah menghilang semenjak beberapa waktu lalu.
"Akhirnya..." Fang Lin bergumam, dan dirinya sudah resmi menjadi seorang Absolute.
"Aku senang kamu tidak mengalami masalah di pertengahan." Yue tiba-tiba saja muncul di hadapan suaminya, "Apa kamu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu?"
"Ya, aku merasakan banyak sekali perbedaan dengan diriku saat masih di ranah Supreme Being." jawab Fang Lin sembari menatap kedua telapak tangannya, "Apa aku yang sekarang mampu menciptakan Alan Semesta?"
"Itu jelas, sayang." jawab Yue cepat, dan dengan segera melanjutinya, "Tapi aku tidak menyarankan untuk memakai kekuatan yang berlebih, tunggu beberapa ratus tahun lagi supaya tubuh dan jiwamu mampu beradaptasi dengan kekuatan Absolute."
"Ah, aku mengerti." Fang Lin mulai bangkit berdiri, "Bagaimana dengan keadaan mereka?"
"Anak-anak berkembang baik selama lima tahun terakhir, keempat saudari juga sama." Yue menjawab sembari tersenyum.
"Begitu, ya..." Fang Lin cukup senang mendengarnya, jadi mulai sekarang ia akan tinggal di dalam Dunia Jiwa sampai Turnamen Semesta dimulai.
***
Seminggu setelah mencapai ranah Absolute, Fang Lin mengadakan jamuan pesta untuk semua orang di halaman depan Istana Es sebagai bentuk perayaan dirinya mencapai ranah tersebut.
Di antara mereka semua yang paling terkejut ketika mengetahui kalau Fang Lin sudah mencapai ranah Absolute adalah Heng Zhanjin. Dia jelas begitu terkejut karena beberapa tahun yang lalu pemuda itu masih cukup jauh untuk menginjak ranah tersebut.
Meskipun hanya dua persyaratan yang tersisa tetapi untuk memenuhi persyaratan tersebut dibutuhkan waktu yang lama serta kerja keras, tapi bagaimana mungkin Fang Lin mampu memenuhi persyaratan itu dalam beberapa tahun saja? Bahkan jika Yue membantu hal itu tetap saja tidak masuk akal.
"Sepertinya kau terkejut melihat Tuan sudah bisa mencapai ranah Absolute dalam waktu dekat." Diablo tiba-tiba saja muncul di sebelah pria baya itu.
Heng Zhanjin langsung memasang ekspresi malas ketika mendapati keberadaan Iblis Primordial itu. Di antara semua bawahan Fang Lin yang ada, Iblis itu adalah orang yang paling dirinya enggan temui.
Alasan Heng Zhanjin malas karena Diablo mempunyai lidah yang tajam, dia selalu membuat lelucon dengan kata-kata menyakitkan padanya karena mengetahui kalau ia tidak mau mengakui Fang Lin sebagai Tuannya.
Melihat pria paruh baya itu mengabaikannya membuat Diablo menyeringai tipis, "Aku tidak akan lagi membuat lelucon buruk padamu. Keinginanmu untuk mengakui Tuan atau tidak sudah bukan urusanku lagi, beliau telah membuktikan potensinya padamu dan sekarang adalah saatnya bagimu untuk memilih. Mengabdi padanya atau menjadi tanaman merambat di Dunia Jiwanya..."
Sesaat setelah Diablo berkata demikian, dia pergi dari sana dan mencari orang lain untuk dijadikan teman mengobrol.
Heng Zhanjin tidak peduli dengan kepergian Diablo tetapi dia memikirkan kata-kata yang Iblis itu lontarkan padanya.
"Mengabdi, ya?" Heng Zhanjin bergumam kecil sembari menatap Fang Lin yang sedang mengobrol bersama keluarganya di meja bundar besar.
......................
Beberapa jam setelah memikirkan sebuah keputusan, Heng Zhanjin akhirnya memutuskan satu hal. Ia perlahan berjalan mendekati meja Fang Lin yang saat ini sedang bersama keluarganya.
Kehadiran Heng Zhanjin membuat Fang Lin dan beberapa orang di sana menjadi diam.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Fang Lin ketika mengetahui kalau pria paruh baya itu sendang menatap dirinya.
Heng Zhanjin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan lewat mulut.
Brugh.
Heng Zhanjin berlutut tepat di hadapan Fang Lin sembari menangkupkan kedua tangannya, kepalanya menghadap ke tanah dan kemudian ia berseru lantang, "Mulai hari ini, aku, Heng Zhanji, akan mengabdi pada Tuan baruku, Fang Lin. Segala hidupku akan kuserahkan pada anda, perintahmu adalah hal yang mutlak bagi diriku!"
Seruan yang dilakukan oleh Heng Zhanjin berhasil membuat suasana pesta perjamuan yang tadinya berisik kini menjadi hening.
Fang Lin dan semua orang yang ada di sana terkejut dengan pengakuan Heng Zhanjin.
"Kau sepertinya pandai membuat orang terkejut, ya?" Fang Lin terkekeh pelan, lalu bangkit berdiri dan kembali berkata, "Terima kasih karena sudah mau mengakuiku sebagai Tuan barumu, aku senang mendengarnya..."
Setelah Fang Lin berkata demikian, suara tepuk tangan mulai terdengar dari para bawahan. Beberapa dari mereka mulai bersorak, dan merasa senang karena Heng Zhanjin sudah menjadi bawahan resmi Tuan mereka.
Heng Zhanjin sendiri entah kenapa merasa lega dalam hatinya, ia kemudian bangkit berdiri dan memberikan hormat pada Tuannya dengan cara kembali menangkupkan tangannya.
Setelah Hsng Zhanjin menjauh dari sana, pesta perjamuan dimulai kembali dan kali ini menjadi tambah meriah.
"Woah, sekarang Ayah mempunyai bawahan resmi seorang Absolute!" Fang Hai tidak bisa untuk tidak berdecak kagum.
Anak-anaknya yang lain juga mengekspresikan perasaan kagum mereka masing-masing.
Fang Lin tertawa kecil dan membalas perkataan anak-anaknya dengan beberapa gurauan.
"Ayah, aku pergi dulu, ya?" Fang Li Dao yang telah menyantap habis makanannya langsung bangkit berdiri.
"Hm, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Fang Lin penasaran.
Sebelum Fang Li Dao menjawabnya, Xue Hua lebih dulu berkata, "Dia pasti mau mengajak jalan Diao Chan..."
"Eh, t-tidak kok!" Fang Li Dao sedikit tergagap.
Glek.
Fang Li Dao langsung menelan ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan ibunya sendiri, sudah menjadi rahasia umum kalau bibi Yue memperhatikan Diao Chan seperti anak sendiri.
"A-a-aku mengerti, s-ssmpai jumpa!" Fang Li Dao buru-buru pergi dari sana karena tidak maj merasa terintimidasi lagi.
Melihat anak-anaknya itu kabur ketakutan membuat Xue Hua tertawa kencang. Sementara Fang Lin dang yang lain memasang ekspresi datang saat menyaksikannya.
"Kamu jahil sekali..." Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan.
"Hahahaha.... Tapi dia lucu tau kalau ketakutan begitu." Xue Hua hampir tidak bisa berhenti tertawa.
Fang Lin entah kenapa juga ikut tertawa, diikuti beberapa istri dan anak-anaknya yang lain.
"Omong-omong, mereka berdua sudah dekat cukup lama. Kenapa masih belum memutuskan untuk menikah?" Fang Lin bertanya-tanya karena merasa penasaran.
"Itu karena Diao Chan adalah ras setengah hewan, kalau dia menikah dengan seorang Manusia maka kemungkinan besar keturunannya akan menjadi cacat." Xue Hua berkata dengan santai.
"Hm, kenapa kalian tampak biasa saja?" Fang Lin jelas cukup terkejut melihat mereka tampak santai setelah Xue Hua berkata demikian.
"Itu karena aku menjanjikan sesuatu padanya asal bisa memenuhi persyaratan yang kuajukan." kali ini Yue yang berbicara.
"Hm, apa itu?" Fang Lin sedikit menaikkan alisnya karena merasa tertarik.
Yue menjelaskan kalau Fang Li Dao mempunyai potensi yang sangat tinggi tetapi dia pemalas, jadi ia menjanjikan akan mengubah takdir keturunan Diao Chan asalkan Fang Li Dao mencapai ranah Heavenly God tingkat enam dan terus berlatih giat meskipun sudah menikah sekalipun.
"Dia setuju?" tanya Fang Lin penasaran.
"Ya, dia sepertinya sangat mencintai Diao Chan dan mulai berubah sejak hari aku menjanjikan hal itu." jawab Yue sembari mengangguk kecil.
Fang Lin terdiam sejenak dan berpikir kalau cara itu cukup efisien untuk memotivasi orang lain.
"Bagaimana dengan kalian?" Fang Lin bertanya pada anak-anaknya yang lain.
"Untuk sekarang aku tidak mau terlihat dengan percintaan." Fang Hai menggeleng pelan, Yihua juga memberikan jawaban serupa.
"Aku juga sama, aku masih harus meneliti racun-racun yang baru saja kukembangkan." Shui Ling Fang menambahkan.
"Aku sudah jelas ingin menikah dengan Ayah!" Qiao Mi Lian berseru lantang.
Fang Lin dan beberapa istrinya terbatuk pelan ketika mendengar itu, ia tadinya ingin mengatakan sesuatu tetapi langsung mengurungkan niat saat mendapati ibunya berada di belakang Qiao Mi Lian dan menyentuh pundak putrinya itu.
"Hayoo... Kenapa kamu selalu ingin menikahi ayahmu?" Xia Mei bertanya, ekspresinya tampak seram.
"Ah, nenek..." Qiao Mi Lian sedikit mengeluarkan keringat dingin, "A-aku hanya bercanda, nenek tau kan kalau adalah tipe anak yang suka bercanda? Haha..."
"Lucu sekali candaanmu, cucuku tersayang." Xie Mei tersenyum seram, lalu melanjutinya, "Apakah ibu harus memukul bokongmu selama seharian supaya kamu tidak mengatakan itu lagi?"
"A-ahahaha... Nenek jangan buang banyak tenaga untuk cucu yang tidak berguna ini. Cucumu ini paham dan berusaha untuk tak mengulanginya kembali." Qiao Mi Lian tergagap, dan Xia Mei langsung memasang senyum cerah.
"Itu bagus! Kalau kamu tetap mengatakannya, ibu tidak akan mentolerirnya lagi..." Xia Mei berkata tepat di telinga cucunya, kemudian mencium pipi Qiao Mi Lian, "Muah!"
Fang Lin yang melihat itu dalam diam langsung tertawa kecil, sementara ayahnya mulai berjalan mendekatinya, "Selamat karena telah mencapai ranah Absolute, nak..."
"Terima kasih, ayah..." balas Fang Lin sembari tersenyum, "Apakah Ayah baik-baik saja?"
"Hm, memangnya ayah terlihat sakit?" Fang Qin tersenyum kecil, dan membuat Fang Lin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hahahaha.... Ayah baik-baik saja, ibumu katanya sangat rindu denganmu."
"Oh, benarkah?"
Xia Mei sendiri yang sedang memainkan pipi Qiao Mi Lian langsung menatap tajam Fang Qin, "Kenapa kau malah memberitahunya?" Xie Mei memasang ekspresi kesal.
"Ah, kamu tidak mengatakan untuk merahasiakannya." Fang Qin tersenyum pahit.
Xia Mei mendegus kesal ketika mendengar itu, ia kemudian berjalan medekati Fang Lin dan memeluk anaknya, "Ibu rindu padamu tau, apakah kamu tidak tidak rindu pada ibu?"
"Aku juga rindu padamu, bu." balas Fang Lin, lalu melanjutinya, "Maafkan aku karena jarang datang ke tempat tinggal ibu dan ayah, aku mempunyai urusan yang harus keselesaikan beberapa waktu lalu."
"Tidak masalah, nak. Tapi tolong sempatkan dirimu untuk mampir, ya?" Xie Mei memeluk anaknya dengan erat, dan Fang Lin segera menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua berpelukan cukup lama sembari bertukar beberapa kata.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.