
Fang Lin menatap pria dan wanita didepannya dengan tatapan tajam, "Haruskah kubunuh kalian? Atau... Dantian kalian dihancurkan?" Tanya Fang Lin sambil tersenyum tipis.
Chu Fengyin yang mendengar itu hanya merapatkan giginya dengan kuat, Dia benar-benar menyesal telah menyinggung pemuda berjubah biru didepannya.
Sedangkan Huang Yin yang sedari tadi diam, Akhirnya membuka mulutnya, "Tuan... Maafkan aku dan tunangan saya, Kami berdua benar-benar menyesal membunuh mereka semua" Ucap Huang Yin sambil bersujud, Dia benar-benar ketakutan jika dibunuh oleh pemuda didepannya.
Chu Fengyin yang melihat tunangannya bersujud sedikit terkejut, Namun dirinya juga langsung bersujud dan tidak peduli dengan aura naga yang dikeluarkan pemuda didepannya.
Fang Lin yang melihat mereka merubah posisi yang sebelumnya berlutut kini menjadi bersujud hanya tersenyum tipis, Walaupun dia tidak terlalu suka jika orang lain bersujud didepannya, Namun untuk dua orang didepannya ini adalah sebuah pengecualian, Dia ingin membuat mereka jera dengan kelakuan mereka yang membunuh orang lemah dengan sesuka hati.
"Memangnya dengan permintaan maaf mu dapat mengembalikan mereka semua hidup kembali?" Tanya Fang Lin sinis.
Chu Fengyin dan Huang Yin ketika mendengar ucapan itu menjadi terdiam seribu bahasa, Mereka berdua tidak tau harus berbicara apa dan hanya pasrah dengan keberuntungan mereka.
Fang Lin yang tidak mendapatkan jawaban dari mereka hanya menghela nafas pelan, "Akan kubiarkan kalian hidup kali ini, Namun dengan dua syarat yang harus kalian penuhi" Ucap Fang Lin sambil menarik aura naganya.
Chu Fengyin dan Huang Yin menjadi lega ketika mendengar itu dan tekanan yang menimpa tubuh mereka berdua juga sudah menghilang, Namun mereka berdua masih dalam posisi bersujud dan belum berubah karena tidak punya keberanian menatap pemuda berjubah biru didepan mereka.
Melihat kedua orang didepannya belum melakukan perubahan, Fang Lin hanya menghela nafas panjang, "Berdiri" Ucap Fang Lin pelan.
Chu Fengyin dan Huang Yin langsung berdiri namun masih tetap menunduk ke arah bawah, "Apa syarat yang harus kupenuhi?" Tanya Chu Fengyin dengan nada bergetar.
"Mudah saja..." Ucap Fang Lin kemudian membuat pedang dari Qi di tangan kanannya.
~Slashhh~
Tidak sampai sedetik tangan kanan Chu Fengyin langsung terputus dan darah langsung menyembur memenuhi lantai kedai.
Chu Fengyin yang tidak sempat bereaksi menjadi terkejut ketika tangan kanannya terputus, Dia dengan segera menutup luka dengan Qinya agar tidak mengeluarkan banyak darah, Chu Fengyin tetap menunduk melakukan itu, Dirinya bukan tidak berani menatap pemuda didepannya namun dia harus memprioritaskan keselamatan tunangannya.
Melihat pendarahan sudah berhenti di tangan kanan Chu Fengyin, Fang Lin hanya tersenyum tipis kemudian dia mengangkat jarinya dan membentuk angka satu dan dua, "Pertama, Kau dilarang untuk menumbuhkan tangan kananmu lagi, Kedua, Kau dilarang membunuh manusia lemah hanya karena masalah sepele seperti tadi" Ucap Fang Lin kemudian menghilangkan pedang Qi yang berada ditangan kanannya.
"Dan jika kau melanggar, Percayalah... Kau, tunanganmu dan seluruh keluarga kalian, Aku akan membantai kalian dan tidak peduli jika mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah ini" Ucap Fang Lin dingin.
~Deg~
Jantung Chu Fengyin dan Huang Yin langsung berhenti berdetak sesaat ketika mendengar itu, Mereka berdua merasakan jika omongan dari Fang Lin mengandung sebuah keseriusan.
Chu Fengyin mulai mengutuki dirinya sendiri dalam hati, Dia menyesal sudah bertindak arogan dan membuat keluarganya kini dalam bahaya, "B-baik t-tuan" Ucap Chu Fengyin dengan terbata-bata.
Pi Yu mengangguk pelan mendengar perintah tuannya, "Baik tuan" Ucap Pi Yu sambil meraih 50 koin emas yang berada di tangan tuannya.
Fang Lin melambaikan tangannya dari atas ke bawah dan seketika robekan ruang terjadi didepannya, Dia langsung memasuki robekan ruang tersebut dan menghilang dari sana.
Di sisi lain Pi Yu, Chu Fengyin dan Huang Yin menjadi terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Fang Lin, "Teknik perobek ruang... Sebuah teknik yang bisa dipakai jika sudah berada di tingkatan Dewa" Ucap Pi Yu pelan, Lalu dia melirik kedua pasangan yang sedang berdiri dihadapannya.
"Kuharap kalian tidak melanggar janji... Jika saja kalian melanggar, Aku yakin tuan tidak hanya membunuh kalian tapi juga menghancurkan jiwa kalian" Ucap Pi Yu kemudian memungut 5 mayat pria yang berada di kedai dan menggendongnya keluar.
Chu Fengyin dan Huang Yin langsung merinding ketika mendengar ucapan kakek tua dihadapan mereka, Menghancurkan jiwa? Yang artinya mereka tidak akan bereinkarnasi lagi jika jiwa mereka benar-benar dihancurkan.
"Maafkan aku Yin'er... Aku telah membuat masalah untukmu dan keluargamu" Ucap Chu Fengyin dengan nada penuh penyesalan.
Huang Yin yang mendengar itu hanya menghela nafas pelan kemudian tersenyum menatap tunangannya, "Tidak apa... Selama kita tidak melanggar janji, Kita akan baik-baik saja... Dan kejadian tadi harus menjadi pelajaran untukmu agar tidak membunuh orang yang lemah secara sembarangan" Ucap Huang Yin lalu memeluk Chu Fengyin setelah menyelesaikan perkataannya.
Chu Fengyin hanya mengangguk pelan dan membalas pelukan Huang Yin, Setelah beberapa detik mereka melepaskan pelukan dan keluar dari kedai, Pasangan itu berencana melanjutkan perjalanan mereka dan keluar dari desa ini.
***
Di rumah Fang Qin, Terjadi sebuah robekan ruang di teras rumah dan tak lama kemudian muncul sosok Fang Lin yang sedang tersenyum tipis, "Aku sengaja menggunakan perobek ruang agar mereka berdua tau seberapa kuatnya aku, Sehingga mereka tidak berpikir untuk melanggar janji mereka" Ucap Fang Lin pelan kemudian menutup robekan ruang yang berada di teras rumahnya.
"Ji Xi apakah ayah sudah selesai menyerap pil yang kuberikan?" Tanya Fang Lin berbicara dengan udara kosong kemudian duduk di sebuah bangku yang sebelumnya diduduki oleh ayahnya.
Setelah berucap seperti itu, Tiba-tiba Ji Xi muncul di depan Fang Lin kemudian langsung berlutut, "Belum tuan, Saya belum melihat tanda-tanda ayah tuan menyelesaikan penyerapan pil yang tuan berikan" Ucap Ji Xi sambil menunduk hormat.
Fang Lin hanya menganggukkan kepalanya lalu melirik bawahannya, "Berdirilah... Bukankah tadi kau sedang menyamar sebagai batu kerikil?" Tanya Fang Lin memastikan.
"Itu benar tuan" Ucap Ji Xi sambil berdiri kemudian berjalan dan berdiri dibelakang tuannya seperti prajurit.
"Em... Kupikir aku salah, Aku hampir saja tidak merasakan hawa keberadaan mu, Teknik mu cukup hebat" Puji Fang Lin kemudian menatap langit yang sudah mulai sore.
"Terima kasih tuan" Ucap Ji Xi sambil menyembunyikan wajahnya yang sedang senang, Ini kedua kalinya dia dipuji oleh tuannya, Jika sebelumnya di ruang hampa pedang Raja Neraka dirinya kesal dipuji oleh tuannya, Maka kali ini dirinya sangat senang menerima pujian itu.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.