System Sang Immortal

System Sang Immortal
Dungeon Buatan II


Setelah Instruktur Argon memberikan beberapa penjelasan mengenai medan Dungeon dan monster apa saja yang ada di dalamnya, pria paruh baya yang berada di sebelahnya kini berbicara.


"Namaku adalah Zamyan, seharusnya kalian sudah mengetahui diriku ini, bukan?"


Karena Zamyan adalah pembawa acara ketika upacara pembukaan tahun baru, semua murid dari tahun ajaran pertama sudah pasti mengenalnya.


"Ya..."


Sebagian besar murid menjawab ketika pria paruh baya itu bertanya demikian.


"Instruktur Argon telah menjelaskan semuanya, dan aku harap kalian bisa berhati-hati. Meskipun dungeonnya hanyalah sebuah sihir ilusi, tetapi luka yang diterima dari monster yang ada di dalam Dungeon adalah nyata. Nyawa kalian bisa saja terancam, ingat itu." Zamyan memperingatkan semua murid dengan tatapan serius.


Para murid mengangguk kuat ketika mendengar peringatan tersebut, Zamyan yang melihatnya memasang senyum tipis dan kemudian berbalik.


Tongkat yang ujungnya melengkung muncul di tangan kanan Zamyan, kemudian dia menghentakkannya ke lantai dan enam portal perlahan tercipta beberapa belas meter di depannya.


Setelah portal tersebut tercipta secara sempurna, Zamyan membalikkan tubuhnya kembali dan menatap para murid dari kelas 1-D.


"Sekarang, lima kelompok yang berisi lima orang boleh masuk ke dalam portal. Sementara, kelompok enam akan menunggu sampai aku mengintruksikannya." ucap Zamyan sembari tersenyum.


Kelima kelompok langsung mengangguk patuh dan mereka mulai memasuki portal yang berbeda dari kelompok lain.


Ketika kelima kelompok telah masuk, suasana menjadi hening tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Karena orang-orang di kelompok enam tidak ada yang saling dekat, maka mereka tidak akan berbicara jika bukan masalah penting.


......................


Sepuluh menit akhirnya berlalu.


"Kalian boleh masuk sekarang." Zamyan mempersilahkan kelompok terakhir untuk memasuki portal.


Albert yang pertama kali memasuki portal setelah mendapat instruksi dari pria paruh baya itu, kemudian anggota lainnya juga masuk dan Fang Lin menjadi orang yang terakhir.


***


"Hm?"


Setelah melewati portal, alis Fang Lin sedikit terangkat ketika melihat dirinya dikelilingi oleh kobaran api.


"Kota yang terbakar...?" Fang Lin mengedarkan pandangan dan menemukan belasan bangunan yang sedang terbakar.


"Jangan lengah... Sepertinya ini adalah sarang musuh." Keisha memperingatkan, ia sudah menarik benar busur yang ada di tangan kanannya, "Ayo selesaikan ini dengan cepat."


Sesaat setelah Keisha berkata demikian, dia mulai melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih sedikit terbakar oleh api. Anggota tim yang melihat itu langsung mengikutinya dalam diam.


***


Saat ini, mereka semua sedang berkumpul di lantai dua sebuah bangunan yang sudah hangus terbakar.


"Ratusan monster kadal api, dan satu Cyclops. Ini... Mungkin akan jadi pertarungan yang lama." Keisha menggenggam erat busurnya dengan ekspresi yang terlihat rumit.


Bagi Keisha, ratusan kadal tidak akan menjadi masalah yang sulit dihadapi tetapi lain cerita jika itu adalah Monster Cyclops.


Meskipun hanya satu mahkluk Cyclops, tetapi dia mempunyai pertahanan dan daya penghancur yang luar biasa. Bahkan Keisha yang mempunyai Mana Circle tingkat lima tidak cukup yakin bisa menembus kulit luar Cyclops.


Cyclops sendiri adalah monster raksasa yang ukurannya seperti Orc, namun dia mempunyai kulit berwarna coklat tua dengan satu mata yang besarnya hampir memenuhi sebagian besar jidatnya.


"Bagaimana kalau membentuk tim? Empat orang menghadapi Cyclops, sementara dua lainnya menghabisi para kadal api." Amber memberikan usulan, lalu menambahkan, "Tentu saja yang membunuh ratusan kadal api harus mempunyai sihir area agar bisa menyelesaikannya dengan cepat."


"Itu adalah ide yang bagus, tapi siapa di sini yang mempunyai sihir area selain Keisha?" Goshu bertanya sembari menatap anggota kelompoknya.


"Tidak perlu membuat streategi seperti itu."


"Apa maksudmu?" Keisha sedikit mengerutkan alisnya.


"Biarkan aku yang membunuh monster bernama Cyclops itu, kalian cukup membantai kadal api saja." ucap Fang Lin dengan tenang.


"Oi, oi. Apa maksudmu, murid baru? Kau sedang membuat lelucon, kah?" Andrew bertanya karena ia tak percaya dengan ucapan Fang Lin barusan.


"Mentang-mentang kau sudah menghajar sepihak William, apakah kau berpikir kau adalah orang yang paling kuat di sini?!" Albert menimpali, raut wajahnya terlihat marah.


"Kalau begitu, ayo buktikan sekarang. Kalian urus kadal api sedangkan aku mengurus Cyclops, jika aku gagal maka kalian dapat memisahkan diri sesuai dengan rencana yang sebelumnya." ucap Fang Lin dengan percaya diri.


Melihat itu, mereka berlima tampak memberikan raut wajah terkejut sekaligus ragu. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak percaya, tetapi beberapa orang yang berpikir bahwa hal itu tidak salah untuk dicoba.


Ketika Albert yang tidak setuju ingin mengatakan sesuatu, Keisha mendahuluinya, "Kalau begitu, aku akan mengikuti rencanamu itu."


"Hei, apa-apaan itu! Apa kau percaya dengan murid baru?!" Albert menatap Keisha dengan tatapan aneh.


"Selama itu menguntungkan, aku tidak masalah dengan rencananya." jawab Keisha cepat.


Meskipun Fang Lin tidak bisa mengalahkan Cyclops, tidak ada banyak kerugian yang diterima oleh kelompok karena mereka hanya perlu melakukan rencana sebelumnya.


Albert menggertakkan giginya, ia melihat ke arah anggota lain dan tidak menemukan raut wajah yang tidak setuju.


"Terserah kalian, sialan!"


Albert sudah tidak mau tau lagi, ia hanya akan menjadi penyumbang kekuatan dan enggan untuk menyuarakan pendapat.


Melihat tingkah Albert membuat Keisha menghela nafas panjang, ia kemudian membuat pola pertarungan antara kadal api sementara itu Fang Lin pergi dari sana tanpa berbicara apapun.


Monster Cyclops sekarang sedang duduk di reruntuhan bangunan dan melakukan postur kalau itu adalah singgasananya, di sekitarnya terdapat ratusan kadal api yang berkeliaran.


Jumlah kadal api yang sekarang sebenarnya hanya sebagian saja, sisanya kini sedang membakar bangunan yang belum terbakar di kejauhan.


Jika pertempuran terjadi, maka ratusan kadal api akan datang dan membantu rekan mereka. Maka dari itu, Keisha akan melakukan serangan besar-besaran agar bisa membantai para kadal api di sana sebelum bantuan datang.


......................


Bam!


Ledakan besar terjadi ketika Keisha menggunakan sihir serangannya ke arah para kadal api, anggota lainnya juga mulai melancarkan serangan masing-masing dan membantai kadal api yang mendekati Keisha.


Di sisi lain, Fang Lin sekarang sedang bertatap mata dengan Cyclops dari jarak puluhan meter. Meskipun semua bawahannya sekarang dalam kondisi sulit sepertinya dia tidak peduli dan memilih menunggu sampai musuh mendatanginya.


"Ilusi nyata, ya? Meskipun hanya di tingkat paling rendah, ini sudah cukup bagus." pikir Fang Lin dengan tenang, ia kemudian mengeluarkan sebilah pedang berwarna perak dan bergerak maju ke arah Cyclops.


Cyclops sendiri langsung bangkit berdiri dan mengambil tongkat kayu yang ukurannya hampir setengah badannya, lalu mengayunkannya pada Fang Lin.


Fang Lin sendiri menghindarinya dengan mudah, lalu bertukar belasan serangan dengan Cyclops itu sebelum memenggal kepalanya.


Brugh~


Kepala Cyclops menggelinding di tanah dan Fang Lin menginjaknya dengan satu kaki, ia mengalihkan pandangannya ke arah area pertempuran dan menemukan sisa anggotanya yang masih berusaha membunuh kadal api.


Fang Lin tentu saja tidak akan membantu mereka dan duduk di atas kepala Cyclops sembari menatap pertempuran dengan tenang.


Kemungkinan besar apa yang Fang Lin lakukan sekarang sudah disadari beberapa anggota kelompoknya, dan seiring berjalannya waktu mereka semua pasti akan mengetahui kalau dirinya sudah menyelesaikan pertarungan lebih dulu dari pada mereka.


Bersambung....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.