
Saat berada di ruang tamu, Fang Li Dao langsung menceritakan apa yang telah dilaluinya barusan. Ketika mendengar itu, Hao Ming dan dua pria paruh baya lainnya hanya bisa terkejut dalam diam.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Hao Ming penasaran.
"Kalau diizinkan, aku ingin menginap di kamar sebelumnya sampai besok sore." jawab Fang Li Dao cepat.
"Memangnya kau punya uang untuk ganti rugi semua properti yang rusak, bocah?" tanya salah satu pria paruh baya dengan tatapan tajam.
Hao Ming sendiri langsung menyikut anak laki-lakinya itu karena terus membahas masalah ganti rugi pada Fang Li Dao.
"Aku mempunyainya, paman." Fang Li Dao melambaikan tangannya, dan muncul sebuah kantung berwarna coklat tua, "Coba periksa, paman. Di sana ada uang yang lebih dari cukup untuk membayar ganti rugi properti yang rusak di kamar tadi."
Pria paruh baya itu mengambil kantung coklat tersebut, matanya melebar secara sempurna ketika melihat tumpukan koin emas yang berkilauan.
"Kau... Kau ternyata orang kaya, bocah!" pria paruh baya lainnya yang melihat isi dari kantung coklat itu tidak bisa untuk tidak merasa senang.
Hao Ming sendiri diam-diam ikut terkejut melihat kantung uang yang diberikan oleh Fang Li Dao, ia menjadi penasaran dengan latar belakang anak laki-laki itu karena bisa memberikan uang sebegitu banyaknya dengan mudah.
Melihat kesenangan yang diperlihatkan kedua paruh baya itu, Fang Li Dao hanya tersenyum tipis-- ia mempunyai gunungan koin emas di cincin penyimpanannya jadi uang yang ada di kantong coklat itu bukanlah jumlah yang banyak baginya.
"Nak Li Dao, kamu terlalu banyak memberikan uang ganti rugi... Aku akan mengambil koin emas secukupnya untuk biaya ganti rugi." Hao Ming ingin mengembalikan tumpukan koin emas yang ada di kantung coklat, ia merasa tidak enak hati jika harus menerima jumlah uang sebanyak itu.
"Ayah, biarkan saja uang ini pada kita. Tuan muda Li Dao pasti sudah memiliki terlalu banyak uang!" anaknya yang ia panggil Jun sebelumnya berkata dengan nada sedikit protes.
"Benar itu, ayah. Dengan semua uang ini, kita pasti akan menjadi salah satu orang terkaya di desa!" timpal pria paruh baya yang lain.
Urat kecil muncul di wajah Hao Ming ketika mendengar ocehan kedua anaknya, "Kalian ini benar-benar mata duitan, ya! Cepat kembalikan sebelum aku marah!" ucap Hao Ming dengan nada keras.
Kedua pria paruh baya itu saling menatap satu sama lain sebelum menghela nafas panjang, dia yang memegang kantung coklat itu mengambil koin emas secukupnya lalu mengembalikan sisanya pada bocah kecil di dekatnya.
Fang Li Dao tersenyum tipis dan ia menolak pengembalian uang tersebut, "Sisa uang ganti rugi yang tersisa boleh untuk kakek dan paman-paman sekalian, aku akan di sini untuk beberapa waktu ke depan-- siapa tau aku menghancurkan properti yang lainnya ketika roh perempuan itu datang dan bertarung denganku." jelas Fang Lin Dao.
"Hahahaha~ Ayah dengar itu, kan?! Kita tidak perlu mengembalikan koin emasnya!" ucap Jun dengan nada kegirangan, pria paruh baya satunya lagi juga bereaksi sama.
Ming Hao yang melihat tingkah kekanak-kanakan dari keduanya anaknya langsung memijat keningnya yang mulai terasa sakit, ia mengalihkan pandangannya pada Fang Li Dao lalu bertanya untuk memastikan, "Apa kau yakin ingin memberikan kami semua uang itu? Dengan uang sebanyak itu, kau sebenarnya bisa membeli rumah ini sekalipun."
Fang Li Dao tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya pelan, "Tentu saja saya yakin, kek. Lagipula, ayah saya memberikan cukup banyak koin emas..."
"Ayahnya?" pikir Ming Hao dengan alis yang sedikit terangkat, dan tidak memikirkan hal itu lebih jauh lagi, "Baiklah... Terima kasih dengan uang yang telah kau berikan, nak."
"Tuan muda kaya raya, terima kasih atas koin emasnya!" kedua paruh baya secara serempak berkata, mereka tanpa malu menundukkan badan karena ingin membangun relasi pada bocah itu.
Fang Li Dao tertawa kecil sebelum menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku terlebih dahulu."
Ming Hao dan dua pria paruh baya yang ada di sana mempersilahkannya. Fang Li Dao sendiri langsung menutup pintu kamarnya setelah masuk, ia menghela nafas panjang dan melakukan posisi sila di atas lantai.
"Aku harus sesegera mungkin mengembalikan Qi-ku yang terbuang." Fang Li Dao berkata dalam hati, dan dirinya mulai menyerap energi spiritual di sekitarnya.
Beberapa jam berlalu.
Mata Fang Li Dao perlahan terbuka, ia merasakan kalau ada hawa kehadiran yang lain di ruangan ini.
"Datang pagi-pagi buta, kau ini sungguh menyebalkan, ya." Fang Li Dao mendengus kesal, ia bangkit berdiri dan sebilah pedang muncul di tangan kanannya.
"Wah, wah... Satu saja sudah membuatku terluka, dan sekarang tambah dua?" Fang Li Dao hampir mengumpat kesal, ia melapisi pedangnya dengan Qi dan tanpa banyak basa-basi lagi langsung menyerang ketiga roh tersebut.
Pertarungan antara manusia dengan roh makhluk halus kini terjadi, suara gemuruh mulai bermunculan ketika serangan mereka saling berbenturan.
Fang Li Dao mendengus dingin dan ia mengincar hantu terlemah di antara ketiganya, tujuannya saat ini adalah membunuh mereka satu persatu dan tentu saja itu harus dimulai dari yang terlemah lebih dulu.
Di sisi lain, Ming Hao dan kedua anaknya terbangun akibat suara gemuruh tersebut. Sebenarnya ketiganya hendak mencari tau apa yang terjadi, tetapi mereka langsung mengurungkan niat saat merasakan hawa membunuh yang begitu kuat.
"Ayah, seperti Tuan Muda Li Dao sedang bertarung dengan hantu perempuan yang dimaksudnya, ada baiknya kita menjauh dari sini daripada nantinya menjadi beban baginya." ucap Jun sambil meraih lengan ayahnya.
Ming Hao sendiri sebenarnya ragu untuk keluar dari rumah, akan tetapi peringatan kedua anaknya adalah sebuah kebenaran-- itu adalah pertarungan antara orang yang mempunyai energi spiritual, manusia biasa seperti dirinya tidak akan sanggup untuk ikut campur dalam pertarungan itu.
"Baiklah, ayo pergi dari sini." Ming Hao membalikkan badannya, ia dan kedua anaknya kemudian pergi dari rumah secepat mungkin.
Ternyata gemuruh yang terjadi di rumah Ming Hao membuat tetangga di sekitarnya terbangun, mereka berkumpul di satu tempat lalu menghampiri Ming Hao yang sedang keluar dari rumahnya.
"Pak tua Ming Hao, apa yang sedang terjadi di rumahmu? Kenapa aku terus mendengar suara gemuruh dari sana?" salah satu warga bertanya penasaran, diikuti oleh warga-warga yang lainnya.
Ming Hao sendiri awalnya sedikit ragu untuk menceritakannya, namun ia memilih untuk memberitahu kebenarannya pada warga karena dirinya terus didesak.
Ketika mendengar cerita dari Ming Hao membuat para warga terkejut bukan main, ternyata keributan yang membangunkan mereka diciptakan oleh seorang bocah kecil dan juga roh jahat yang menempati sumur kutukan.
Berita itu tentu saja langsung menyebar dengan cepat, para warga yang tinggalnya di sisi berbeda mulai berdatangan ke titik kumpul.
Melihat orang-orang semakin ramai, Ming Hao menghela nafas panjang-- ia menatap keributan di rumahnya dengan tatapan khawatir, "Aku harap kau menang dalam pertarungan itu..."
***
Setelah mengincar roh jahat yang terlemah, Fang Li Dao berhasil membunuh satu dari ketiganya dalam waktu yang relatif singkat.
"Tersisa dua lagi, tsk." Fang Li Dao merasa sedikit kesal, hampir tiga puluh persen Qi-nya dipakai untuk membunuh satu hantu-- jika pertarungan ini terus dilanjutkan dalam waktu yang lama maka cepat atau lambat dirinya akan mengalami posisi yang tidak diuntungkan.
Kedua roh perempuan itu yang sudah mengetahui niat Fang Li Dao tidak tinggal diam saja, mereka langsung melindungi satu sama lain dan berusaha untuk tidak mendapatkan luka dari musuh.
Pertarungan berlanjut sampai setengah jam, pada akhirnya Fang Li Dao berhasil membunuh satu roh jahat lagi dan menyisakan satu yang terkuat.
"Sudah membawa teman, tapi kalah. Hahaha~ Pecundang!" Fang Li Dao tidak bisa untuk tidak mengejek, meskipun ia terlihat baik-baik saja dari luar tetapi ia mengalami banyak luka dalam dan membuat pergerakan tubuhnya menjadi terbatas, tidak hanya itu saja-- energi spiritual di dalam dantiannya sudah berkurang drastis dan sekarang hanya terisa kurang dari sepuluh persen saja.
Mendapatkan ejekan dari manusia kecil di depannya membuat roh perempuan meraung marah, tiba-tiba saja kesepuluh jarinya mengeluarkan cakar hitam yang cukup panjang.
Fang Li Dao yang menyaksikan itu menelan ludahnya dengan kasar, ia mulai menyesal karena memprovokasi lawannya.
Duar!
Pertarungan berlanjut kembali, suara gemuruh semakin menjadi dan semua properti yang ada di ruangan itu menjadi rusak parah.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.