
Para Hiu Petir mulai mengejar Bao En dengan kecepatan tinggi, dalam beberapa menit saja mereka sudah keluar dari lautan tanpa ujung dan masuk ke sebuah pulau yang isinya hanya Hutan belantara saja.
Bao En sendiri turun ke salah satu tempat di Hutan tersebut, nafasnya memburu karena sudah memakai cukup banyak Qi. Ia kemudian memasuki sebuah Gua yang ditemuinya dan bersembunyi di sana.
Hatinya saat ini di landa penuh kegelisahan, Bao En begitu khawatir dengan keadaan kakaknya serta senior-seniornya, "Aku tidak boleh berlama-lama di sini, aku harus pergi.
Bao En berisitirahat kurang dari lima menit saja, ia kemudian pergi ke luar Gua dan dirinya cukup terkejut mendengar suara ledakan yang tercipta dari Elemen Listrik.
"Apa mereka sedang bertarung dengan orang lain?" Bao En menjadi cukup penasaran, ketika ia ingin menyebarkan kesadarannya-- niatnya terhenti saat melihat seorang pemuda berambut putih muncul dari atas langit dan menghampirinya.
Bao En langsung mengeluarkan pedang, sprpt matanya menjadi dingin dan ia mengeluarkan auranya-- mencoba untuk mendominasi pemuda tersebut.
"Aku Fang Dia, dari Aliansi Istana Iblis." Diablo tanpa banyak basa-basi langsung memperkenalkan diri dengan identitas palsu.
Nafas Bao En sedikit tertahan ketika mendengarnya, ia sebenarnya ingin tidak percaya dengan itu tetapi mengingat keadaan kakaknya saat ini membuatnya tak bisa berpikir lebih lama.
"Kamu berasal dari Aliansi Istana Iblis, yang artinya kamu ada di pihak-ku, bukan?" Bao En bertanya untuk memastikan.
Diablo mengangguk sekali dan ia menjawab, "Kalau kamu berasal dari ras Xana, maka jawabannya adalah Iya."
Bao En terdiam sejenak sebelum menarik nafasnya dalam-dalam, ia menundukkan badan lalu memohon dengan suara lantang, "Aku mohon padamu! Tolong bantu kakakku dan yang lainnya! Mereka saat ini sedang dikepung oleh kelompok dari ras Hiu Petir."
"Selama aku berada di Alam ini, aku mengetahui beberapa informasi tentang keempat ras Aliansi Lima Bintang Penjaga. Salah satunya adalah tentang ras Xana yang mempunyai harga diri tinggi, serta ketidaksukaan mereka terhadap laki-laki." pikir Diablo sembari menatap Bao En, "Sepertinya dia orang yang berharga untukmu. Ayo pergi, aku akan membantu mereka..."
Bao En menegakkan badannya kembali ketika mendengar itu, senyum lebar terukir jelas di wajahnya dan ia langsung berbalik lalu melesat pergi dari sana. Diablo sendiri langsung mengikutinya dari belakang.
Selama di perjalanan, Bao En memikirkan banyak pertanyaan yang mengganjal di pikirannya, "Dimana para Hiu Petir yang mengejarku? Aku sama sekali tidak merasakan kehadiran mereka, apakah mereka sudah menyerah dan kembali ke tempat kakak dan lainnya berada? Kalau begitu, mereka dalam bahaya! Aku harus cepat-cepat kembali ke sana." Bao En langsung meningkatkan kecepatannya usai memikirkan semua itu.
Tanpa diketahui oleh Bao En, seluruh Hiu Petir yang mengejarnya sudah terbunuh oleh Diablo.
***
Saat ini, Mu Lan menyerang Ming Kau dengan penuh kemarahan-- pasalnya dua dari empat orang yang bertarung bersamanya baru saja terbunuh.
Melihat kemarahan Mu Lan membuat Ming Kau menjadi antusias, "Gahahaha... Teruslah marah, marah! Semakin kau marah, maka semakin terlihat seberapa lemahnya dirimu!" Ming Kau tertawa mengejek di sela-sela pertarungan.
Mu Lan sendiri terus mengumpat dalam hati ketika mendengar provokasi Ming Kau, kemarahannya semakin bertambah setiap Hiu Petir itu berbicara dan tentu saja membuatnya menjadi banyak celah yang dapat diserang oleh lawan.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.