
Usai Fang Lin menjauh dari sepasang kekasih tersebut, Ia mengumumkan kepada para budak barunya untuk tidak terkejut jika mereka berada di tempat yang berbeda.
Klik.
Fang Lin menjentikkan jarinya dan seketika puluhan juta manusia serta monster yang ada di daratan menghilang tanpa jejak sedikitpun, yang tersisa di daratan saat ini hanyalah orang-orang yang telah gugur disaat peperangan sebelumya berlangsung.
"Kalian yang masih berada di area medan tempur, mundur. Peperangan telah berakhir." Fang Lin mengatakan ini lewat telepati kepada para bawahan intinya.
Di sisi lain, para bawahan inti termasuk pasukannya langsung melesat terbang kembali ke kapal terbang Star Universe, mereka semua memasuki kapal terbang tersebut secara berurutan.
Usai menelepati mereka Fang Lin langsung membangkitkan para mayat yang ada di daratan dan memasukkan mereka ke dalam bayangannya, Ia kemudian kembali ke tempat Xiao Chen dan Xia Mei lalu mendapati mereka berdua yang kini sedang mengobrol satu sama lain.
"Tunda dulu obrolan kalian... Kita akan kembali ke kota Fang." Ucap Fang Lin dan langsung melesat pergi dari sana tanpa menunggu jawaban mereka berdua.
"Baik tuan..." Xiao Chen dan Xia Mei menjawab secara serempak lalu mengikuti tuan mereka dari belakang.
Sesampainya di kapal terbang, Fang Lin dapat melihat para bawahan intinya dan Sylvia sedang berdiri di bagian luar kapal terbang.
"Tuan..." Para bawahan intinya termasuk Sylvia menundukkan badan mereka untuk menyambut kedatangan tuan mereka.
Fang Lin sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Perkenalkan, mereka berdua adalah Xiao Chen dan Xia Mei, mereka adalah raja dan ratu dari musuh yang ku perangi sebelumnya."
Xiao Chen dan Xia Mei yang berada di belakang Fang Lin langsung maju beberapa langkah dan menundukkan badan mereka, tidak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara.
Sedangkan para bawahan inti yang mendengar itu tidak bisa untuk tidak terkejut, "Maksud tuan... Peserta turnamen semesta yang telah menjadi musuh anda kini telah berganti menjadi bawahan anda?" Tanya Pi Yu memastikan.
"Benar..." Fang Lin menganggukkan kepalanya saat mengatakan itu.
Para bawahan intinya hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya ketika mendengar itu, meskipun begitu mereka tetap kagum dengan tuannya yang dapat menaklukkan musuh kuat dengan mudah.
Usai memperkenalkan Xiao Chen dan Xia Mei pada bawahan intinya, Fang Lin langsung menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kapal karena ia akan menjalankannya sebentar lagi.
Para bawahan inti dan Sylvia langsung mengangguk patuh dan mereka berjalan memasuki kapal terbang.
Fang Lin yang melihat mereka sudah masuk langsung teleportasi ke ruang pengendalian kapal, Ia mengalirkan Qi miliknya dan dengan cepat menjalankan kapal terbang Star Universenya.
Butuh beberapa menit untuk Fang Lin melakukan perjalanan kembali, Ia mengerutkan alisnya ketika melihat sebuah array hitam pekat berbentuk kubah kini menutupi wilayah hutan terlarang termasuk kota Fang.
"Hmm? Apakah Diablo yang menciptakan array itu?" Batin Fang Lin bertanya-tanya dan ia mulai menyebarkan kesadarannya ke dalam array tersebut.
Perasaan aneh muncul dihatinya ketika melihat array hitam tersebut menolak mentah-mentah kesadaran miliknya, Ia dengan segera menelepati Diablo namun iblis itu tidak menjawab panggilannya.
"Bajingan... Ada yang aneh disini." Fang Lin mengumpat dan ia langsung teleportasi ke luar kapal terbang.
Whoooshhh!
Fang Lin muncul tepat di atas kapal terbang Star Universe dan ia dengan segera mengeluarkan busur Api Neraka miliknya, Ia kemudian menciptakan anak panah yang terbuat dari api hitam lalu mengarahkan busurnya ke array hitam di depannya.
Swosshhh!
Fang Lin melesatkan anak panahnya itu dan tidak sampai 1 detik sebuah ledakan yang begitu keras tercipta.
BOOOOOOMMM!
Dalam sekejap area disekitar array tersebut rata dengan tanah, tidak hanya itu saja array hitam pekat tersebut juga hancur berkeping-keping dan menyatu dengan alam.
Mata Fang Lin melebar ketika melihat puluhan kawah yang tak ada dasarnya di area hutan terlarang, Ia langsung melesat ke arah lembah atau lebih tepatnya ke kota Fang.
Rasa takut, gelisah dan khawatir tercampur aduk di dalam hatinya, tak sampai 1 detik Fang Lin sudah berada di tempat yang ia tuju.
Matanya tertuju ke satu-satunya kawah yang memiliki diameter sebesar 50 kilometer, Fang Lin mengaktifkan mata dewanya untuk melihat dasar dari kawah tersebut dan mendapati Diablo yang 70 persen badannya telah hancur.
Whoooshhh!
Dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya Fang Lin melesat masuk ke dalam kawah besar tersebut, tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk sampai ke sebelah Diablo.
"Tubuh Diablo saat ini sedang beregenerasi, akan tetapi prosesnya sangatlah lambat." Gumam Fang Lin pelan lalu menyentuh pundak Diablo.
Whooshh.
Sebuah kobaran api putih muncul di pundak Diablo dan mulai merembet ke seluruh tubuh iblis itu. Beberapa detik kemudian, tubuh Diablo yang hancur dan menghilang perlahan mulai tumbuh kembali.
"T-tuan..." Lirih Diablo saat sudah membuka matanya.
"Jangan berbicara dulu... Tunggu sampai proses regenerasi selesai." Ucap Fang Lin dan ia mulai menyebarkan kesadaran miliknya.
Di dalam kawah tersebut Fang Lin tidak menemukan siapapun selain Diablo, Ia berdecak kesal dan mencoba menelepati para elang es yang menjaga dinding kota Fang.
Namun para elang es itu tidak menjawab panggilan telepatinya dan membuatnya kembali berdecak kesal, "Tidak mungkin kalau mereka hancur... Karena aku membuat mereka dari elemen es suci, dan kalau mereka hancur pasti system akan memberikanku notifikasi." Gumam Fang Lin lalu melirik ke arah Diablo yang kini seluruh tubuhnya telah kembali beregenerasi.
"Tuan... Maafkan saya yang tidak berguna ini." Diablo bersujud ke arah tuannya dan berkata dengan nada penuh penyesalan.
"Jelaskan situasinya terlebih dahulu...." Fang Lin mengatakan ini dengan nada serius.
Diablo bangun dari sujudnya lalu menganggukkan kepalanya pelan, Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi pada kota Fang disaat tuannya pergi secara detail.
***
Beberapa jam setelah Fang Lin dan lainnya pergi dari kota Fang untuk berperang melawan Xiao Chen.
Diablo berdiri tepat di atas dinding gerbang kota Fang, Ia menyebarkan kesadarannya ke seluruh arah dalam radius ribuan kilometer untuk menjaga wilayah tuannya.
Hingga kejadian tak terduga di alami oleh Diablo, sebuah array berwarna hitam pekat tercipta dalam kurun waktu 1 detik dan menutupi seluruh wilayah Fang Lin.
Diablo yang mengetahui itu langsung menghubungi Fang Lin lewat telepati, namun sayangnya telepati miliknya tidak dapat terhubung oleh tuannya seolah ada penghalang yang membuatnya tidak dapat melakukan itu.
Diablo lalu menciptakan penghalang dari Mananya untuk melindungi kota Fang, Ia lalu melesat terbang ke atap kubah array tersebut dan mencoba menyerangnya.
Serangan yang Diablo lakukan hanya bisa membuat kubah array tersebut retak, dan di setiap kerusakan array itu akan otomatis beregenerasi.
Meskipun Diablo melakukan serangan ganda agar array tersebut tidak sempat beregenerasi, akan tetapi hal itu tetap saja tidak berguna.
Saat sedang mencoba mencari cara untuk menghancurkan langit-langit array itu, tiba-tiba sebuah laser pembunuh yang sangat cepat mengarah ke arahnya dan membuat ia menghindari serangan tersebut.
"Hoo... Hebat juga kau dapat menghindari serangan mendadak ku..." Seorang pria tampan yang mengenakan zirah hitam berdesain mewah muncul tidak jauh dari Diablo.
Diablo langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mengerutkan alisnya ketika merasakan aura kematian yang begitu pekat keluar dari tubuh pria tersebut.
Diablo tanpa basa-basi mengeluarkan senjata rantai miliknya dan melesat ke arah orang itu, "Jangan harap kau akan selamat..." Saat mengatakan itu Diablo sudah berada dihadapan pria berzirah tersebut dan mulai menyerangnya dengan kecepatan cahaya.
"Kau... Sungguh hebat." Pria berzirah itu berdecak kagum dan terus menghindari serangan Diablo dengan mudah.
Diablo sendiri berdecak kesal ketika melihat serangannya dapat dihindari dengan mudah, disela-sela pertarungannya ia menciptakan puluhan ribu tombak dari empat elemen utama dan menyerang pria berzirah tersebut.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.