
Beberapa menit berlalu.
Merlin yang sedang menyebar Kesadaran Mana-nya ke seluruh penjuru arah sedikit melakukan perubahan ekspresi ketika menemukan sesuatu.
"Mereka akhirnya datang." Merlin bergumam, kemudian menatap Gwen.
Mata mereka berdua saling bertemu, dan Gwen sendiri menganggukkan kepalanya pelan. Dia menghampiri Yuna yang sedang menatap langit sore dan memegang pundaknya, "Aku harap kamu tidak panik, ada beberapa Iblis yang akan datang kemari."
"Eh, apa...?" Yuna sedikit melebarkan matanya karena terkejut, Yohan yang belum mengetahui apapun juga bereaksi sama.
"Apa maksudmu, Gwen?" Yohan sedikit mengerutkan alisnya.
Gwen yang tidak mau terjadi kesalahpahaman mulai menjelaskan pada mereka kalau Merlin sudah memanggil bawahan Iblis miliknya untuk datang kemari.
Pada awalnya Merlin melakukan tindakan itu ketika Colin masih hidup dan berniat menghabisi mereka, makanya dia menyuruh Yohan untuk mengulur waktu selama mungkin.
"Apakah kamu mengerti situasinya, Yuna?" Gwen bertanya untuk memastikan, ia tidak mau wanita berambut pirang tersebut menjadi terkejut karena akan ada belasan Iblis yang berkumpul di tempat ini.
Yuna terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya, raut wajahnya menjadi sedikit muram ketika mendengar nama Merlin-- ia tampaknya masih mengingat dengan perkataan Colin sebelumnya.
Gwen tentu menyadari kemurungan di wajah Yuna tetapi ia hanya diam tanpa berbicara sedikitpun, kemudian dirinya merasakan hawa kehadiran Iblis yang datang dari arah selatan.
Bam!
Benturan keras terjadi di daratan ketika ada makhluk yang datang dari langit. Kepulan asap memenuhi area sekitar, kemudian mulai menghilang dan memperlihatkan seorang Iblis bertubuh hitam raksasa, dia mempunyai sepasang merah darah serta dua tanduk berwarna ungu gelap di atas dahinya.
"Tuan muda... Apakah anda baik-baik saja?"
Suara keluar dari mulut Iblis itu, nadanya terdengar sangat khawatir sekaligus ketakutan.
Bam!
Bam!
Bam!
Sesaat setelah Iblis itu bertanya, beberapa Iblis lainnya datang dan mereka mempunyai wujud yang sama persis seperti manusia.
"Tuan muda!"
"Tuan muda, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Apakah anda baik-baik saja, apa ada yang terluka?"
Semua Iblis berwujud manusia langsung bertanya sembari mendekati Merlin.
"Apakah kalian tidak bisa mendarat lebih tenang?" Merlin memasang ekspresi datar sembari mengayunkan tangannya untuk menghilangkan kepulan asap dari padang pasir yang memenuhi area sekitar, "Aku baik-baik saja, beruntung tidak ada yang terluka di antara kami."
Karena Fang Lin mengubah kejadian ketika Yohan tergores oleh benang emas, maka Merlin berkata demikian.
"Bisakah anda menjelaskan secara mendetail, Tuan muda?" tanya seorang perempuan berambut hijau panjang yang dikepang menjadi dua, dia mempunyai wajah cantik-- dan juga kacamata kotak yang dikenakannya membuat dia terlihat manis.
Merlin mengangguk pelan, kemudian menjelaskan secara detail kejadian barusan pada belasan Iblis yang sedang mengelilinginya.
......................
"Siapa dia, ya?"
"Sulit untuk mencaritahunya."
Beberapa Iblis mulai berbicara satu sama lain dan penasaran dengan sosok yang menyelamatkan Tuan Muda mereka.
"Tuan muda, apakah saya boleh membaca ingatan anda?" perempuan cantik berambut hijau itu kembali bertanya.
"Hei, Linia! Jangan bertindak tidak sopan."
"Itu benar, kita tidak perlu sampai segitunya untuk mengetahui sosok yang menyelamatkan Tuan muda."
"Lagipula Tuan muda sehat-sehat saja, aku tidak merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuhnya. Jadi kupikir, lebih baik kita kembali dan membiarkan Raja memutuskan sisanya."
"Aku tidak bertanya pada kalian, melainkan Tuan muda." perempuan yang bernama Linia itu menanggapi perkataan mereka dengan acuh tak acuh.
Semua Iblis yang mendengar itu hanya diam, mereka sudah tidak peduli lagi karena terlalu malas untuk berdebat dengannya.
"Tidak perlu, Linia. Apa yang dikatakan Zegion benar, lebih baik kita kembali dan membiarkan Raja yang mengurus sisanya." Merlin menjawab dengan tenang.
"Saya mengerti. Maafkan saya karena telah bertindak lancang, Tuan muda." Linia menundukkan badannya, ia meminta maaf dengan tulus.
Para Iblis mengangguk secara bersamaan, kemudian salah satu dari mereka memunculkan seekor elang raksasa lewat sihir pemanggilan.
"Kita akan pergi ke kota Heinz terlebih dahulu untuk memulangkan teman-temanku." Merlin berkata pada Iblis yang memanggil elang raksasa tersebut.
"Saya mengerti, Tuan muda."
Merlin mengangguk untuk menanggapinya, lalu msngajak Gwen beserta yang lainnya untuk naik ke atas punggung elang.
"Oh, seorang Priest, ya? Teman Tuan muda cukup menarik."
Seorang pemuda berambut hitam dengan satu mata yang ditutupi kain berkata sembari terkekeh pelan.
Yuna tentu saja mendengar itu setelah naik ke atas punggung elang, ia tidak menghiraukannya dan terus menundukkan kepalanya ke bawah.
Ketika Merlin dan yang lainnya berhasil naik, beberapa Iblis juga naik sedangkan sisanya memilih untuk terbang.
"Kiek~!"
Elang raksasa meringkik keras sebelum mengepakkan sepasang sayap hitamnya dan terbang ke langit.
Di sisi lain, Fang Lin dan Yohan mulai mengobrol tentang hal remeh untuk mengisi waktu luang.
Sebagian besar Iblis yang mengawal Merlin sudah mengetahui rupanya, karena Fang Lin sudah tidak lagi menundukkan kepalanya meskipun masih mengenakan kupluk mantel.
"Hei, pemula. Suasana di sini menjadi cukup canggung, bukan?" Yohan berbisik walaupun tindakannya percuma.
"Ya, itu benar. Kita kehilangan tiga anggota yang bahkan bukan rekan kita sedari awal, jadi wajar saja jika suasananya seperti ini." Fang Lin menanggapi sembari mengangguk sekali.
"Ha, kau benar..." Yohan memasang ekspresi rumit, kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu masih terekam jelas di otaknya, "Omong-omong apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Aku sepertinya akan mengambil Kartu Identitas Pemburu-ku dan mengambil misi." jawab Fang Lin cepat, lalu bertanya balik, "Bagaimana denganmu?"
"Kalau aku mau beristirahat untuk sementara waktu." jawab Yohan sembari tersenyum, kemudian bertanya, "Memangnya kau belum punya kartu Identitas Pemburu sebelumnya?"
"Begitulah..."
"Gila... Berani juga kau menerima tawaran dari Colin untuk memasuki Dungeon bersama kami." Yohan sedikit terkejut, lalu bertanya, "Apakah bajingan itu tidak memberitahumu kalau Labyrinth of The Death adalah Dungeon yang berbahaya?"
Fang Lin terdiam ketika mendapati pertanyaan tersebut, sepertinya alur obrolan ini bisa membuat dirinya dicurigai kalau tidak menjawabnya secara hati-hati.
"Dia memberitahuku, hanya saja kupikir tidak seberbahaya itu. Aku baru menjadi pemburu dan hanya pernah bertarung beberapa kali melawan monster, aku tidak pernah kalah sekalipun jadi kupikir hal yang sama juga bakal terjadi di dalam dungeon." Fang Lin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia berbicara seolah-olah dirinya adalah seekor katak di dalam sumur.
Yohan terdiam sejenak sebelum tertawa dengan lantang, jawaban yang diberikan oleh Fang Lin sangatlah lucu menurut dirinya.
"Bodoh... Apa kau pikir kau tidak akan pernah kalah, begitu?" Yohan mengejek sebelum tawanya berakhir.
"Ya, aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak menyimpulkan sesuatu semudah itu..." Fang Lin membalas sembari tersenyum pahit.
"Tapi sungguh kebetulan, ya?"
Linia yang mendengar percakapan mereka berdua langsung bergabung, dan membuat beberapa mata teralih padanya termasuk Fang Lin sendiri.
"Apanya?" Yohan sedikit mengangkat alisnya karena tidak mengerti maksud dari ucapan Linia.
"Mengingat kau akan mengambil Kartu Identitas Pemburu nanti, itu artinya kau baru saja mendaftar jadi pemburu, bukan?"
"Itu benar, apa ada yang salah?" Fang Lin mengangguk pelan tanpa membantah sama sekali.
"Kartu Identitas Pemburu akan diberikan pada Pemburu setelah satu minggu mendaftar, aku tidak tau kapan kau mulai mendaftar tetapi bukankah ini adalah suatu kebetulan karena kalian terjebak di Dungeon Labyrinth of The Death tepat selama satu minggu saja?" ucap Linia dan menatap Fang Lin dengan tatapan curiga.
"Apa maksudmu, aku adalah orang yang mengeluarkan anggota grup dari Dungeon itu?" Fang Lin bertanya untuk memastikan.
"Begitukah? Aku tidak berpikir seperti itu, apakah kau baru saja mengakui kalau kejadian aneh tersebut adalah hasil dari perbuatanmu?" Linia membalas seakan percakapan sebelumnya adalah sebuah rute menuju jebakan.
"Pembicaraanmu mengarah ke situ, seharusnya wajar jika aku berpikir demikian, bukan?" Fang Lin mengerutkan alisnya untuk memperdalam aktingnya.
"Untuk orang bodoh sepertimu, kurasa pemikiranmu terlalu jauh. Bahkan kau tidak menyadari sesuatu yang sederhana, dan membuat kesimpulan yang idiot."
"Kau benar kalau aku memang bodoh, tetapi orang bodoh masih bisa berpikir. Aku adalah katak di dalam sumur jika menyangkut hal tentang monster dan semacamnya, jadi aku tidak sadar kalau kesimpulan yang kubuat selama ini adalah suatu kebodohan." Fang Lin menjelaskan dengan tenang, lalu melanjutinya, "Seandainya aku tau kalau dunia ini benar-benar berbeda dari apa yang kupikirkan, aku juga tidak akan berani membuat kesimpulan semacam itu."
Suasana menjadi hening ketika Fang Lin berkata demikian, perkataannya sama sekali tidak salah karena menurut perspektif mereka-- pengetahuan dirinya tentang dunia masih sangat terbatas.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.