
Fang Lin melesat ke arah Ju Qao dengan kecepatan tinggi dan tak sampai satu detik, Dia sudah berada di belakang Ju Qao.
~Slashh~
Tidak lama setelah itu, Tangan Ju Qao yang sedang memegang palu langsung terputus, Ju Qao melebarkan matanya saat melihat tangan kanannya terputus dengan darah yang mengucur, Namun dia tidak terlalu terkejut dan segera menghentikan pendarahan dari tangannya yang terputus.
Setelah menghentikan pendarahan dari tangan kanannya, Ju Qao berbalik sambil menatap tajam pemuda berjubah biru didepannya, Ia langsung mengeluarkan aura Tyrantnya bersamaan dengan aura pembunuhnya yang pekat.
Ju Qao lalu mengambil palunya kemudian melesat ke arah pemuda berjubah biru itu, Di sisi lain Fang Lin yang melihat itu hanya diam, "Lambat..." Ucap Fang Lin lalu menghilang dari jarak pandang Ju Qao.
Ju Qao langsung berhenti dan melihat ke segala arah, "Jangan bersembunyi dasar bajingan penakut" Teriak Ju Qao dengan nada kesal.
"Hahahaha... Aku bajingan penakut? Sayang sekali kau salah" Tawa kecil Fang Lin menggema di ruangan itu.
Ju Qao hanya mengabaikan suara yang menggema itu dan terus mengawasi segala arah dengan teliti, Setelah berkedip Ju Qao sudah berada di ruangan yang berbeda, "Eh dimana ini?! Kenapa disini ada lahar api?!" Ucap Ju Qao dengan nada terkejut, Saat ini Ju Qao sedang melayang di sebuah ruangan yang tertutup dan terdapat lahar api yang menutupi ruangan tersebut.
"Tempat ini... Seperti didalam gunung?! Bukankah sebelumnya aku berada di markas?" Gumam Ju Qao sambil menatapi lahar api yang berada tepat dibawahnya.
Ju Qao segera menggelengkan kepalanya pelan, "Lebih baik aku keluar dari sini dan kembali ke markas" Batin Ju Qao lalu melesat ke atas sambil mengeluarkan jurus terkuatnya.
~BOOM~
Ledakan yang cukup besar terjadi saat jurus Ju Qao menabrak dinding batu yang menutupinya, Namun beberapa setelah itu matanya terbuka lebar saat melihat dinding yang masih utuh tanpa tergores sedikitpun.
"Apa-apaan ini?! Bagaimana bisa jurus terkuat ku tidak bisa menghancurkan dinding ini?" Ucap Ju Qao dengan nada tidak percaya.
~BOOM~
~BOOM~
Berkali-kali Ju Qao menggunakan jurus terkuatnya, Namun masih belum bisa menggores dinding dihadapannya, "Brengsek!! Aku tidak bisa selamanya disini! Cucuku masih dalam bahaya" Umpat Ju Qao dengan keras, Terlebih lagi dirinya tidak dapat menyerap Qi di tempat ini, Ia tidak akan bisa terbang selamanya.
Ju Qao terus mengumpat keras dan mencari jalan keluar dari tempat berlahar api itu.
.....
Beberapa minggu kemudian, Ju Qao saat ini hanya pasrah dengan keadaannya, Qinya saat ini hampir habis bahkan kantung matanya sudah menghitam karena terlalu sibuk mencari jalan keluar.
"Aku akan mati" Ucap Ju Qao pelan dan beberapa saat tubuhnya mulai terjatuh karena sudah kehabisan Qi.
Ju Qao menutup matanya perlahan, "Kematian seperti ini hanya sebentar saja" Gumam Ju Qao dengan nada pasrah.
~Blupp~
Sesaat setelah Ju Qao tercebur di lahar api panas itu, Terdengar teriakan yang cukup memekakkan telinga.
"AAARRRRGGGGGHHHH"
"PANASSSS... BAJINGANNNN KENAPAAA AAAKKUUUU TIIIDAAAKKK MATIIII"
"KELUARKANNNN AAAKKUUU DAARIII SINIII!!!"
Yap... Teriakan itu adalah teriakan dari Ju Qao yang kini sedang berusaha keluar dari lahar api panas tersebut, Tubuh dia terus beregenerasi setelah termakan oleh lahar api dan rasa sakit yang diterimanya berkali-kali lipat saat terkena lahar api.
"Layaknya neraka, Kau akan merasakan siksaan seperti itu tanpa adanya kematian ataupun sesuatu yang membuatmu tidak merasakan kesakitan" Gumam Fang Lin pelan sambil melihat Ju Qao yang sedang berteriak sambil berguling-guling di lantai seperti orang gila.
Fang Lin memberikan ilusi ke pada Ju Qao sebelumnya dan membuat dia seakan berada di tempat yang penuh dengan lahar.
Ju Zhi yang melihat kakeknya bertingkah seperti itu hanya melebarkan matanya, "Bajingan!!! Kau apakan kakekku?!!" Teriak Ju Zhi sambil menghampiri kakeknya.
Fang Lin hanya mengorek kupingnya ketika mendengar itu, "Bajingan... Bajingan... Apa hanya umpatan itu yang ada di otakmu?" Tanya Fang Lin sambil memutar bola matanya malas.
Ju Zhi mengabaikan perkataan pemuda berjubah biru itu dan fokus membangunkan kakeknya, "Kakek!! Sadarlahh!! Itu semua cuma ilusi!!" Teriak Ju Zhi di telinga kakeknya.
Namun perkataan dari Ju Zhi tidak berguna sama sekali, Ju Qao hanya terus berteriak memohon ampun untuk dikeluarkan dari sana.
Fang Lin hanya menatap mereka dalam diam, Lalu secara cepat mengayunkan pedangnya ke arah Ju Zhi dan Ju Qao.
~Slash~
Seketika tubuh mereka terbelah dan membuat genangan darah yang cukup banyak, "Walaupun kakek tua itu sudah mati, Tetapi jiwanya masih terkurung di dalam ilusiku, Itulah yang paling mengerikan dari jurus Ilusi Dewa Perang" Gumam Fang Lin lalu berbalik dan melihat ke arah Shui Ru, Saat ini Shui Ru masih dalam posisi bersujud walaupun banyak darah bergenangan disekitarnya.
"Sudahlah lebih baik kubawa dia, Sayang sekali jika wanita secantik itu harus mati di tanganku" Ucap Fang Lin sambil berfikiran yang tidak-tidak.
Note: Berdosa banget kamu Fang Lin, Padahal punya 3 calon istri secantik dewi :v
Fang Lin langsung menepis pikiran tidak-tidaknya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Sialan... Punya 3 wanita saja sudah cukup merepotkan, Tetapi bisalah menambah satu istri..." Ucap Fang Lin sambil berjalan santai mengarah Shui Ru.
Detak jantung Shui Ru berdetak dengan cepat, Ia tau jika ketuanya Ju Zhi dan kakeknya sudah mati walaupun tidak melihatnya secara langsung, "T-tuan... Maafkan saya... Saya berjanji tidak melakukan hal keji lagi seperti membunuh manusia lemah yang tidak bersalah" Ucap Shui Ru dengan suara yang bergetar.
"S-saya a-akan menuruti apa yang tuan mau, Jadi tolong ampuni saya" Lanjut Shui Ru tanpa melihat ke arah pemuda berjubah biru itu.
Fang Lin menaikkan satu alisnya ketika mendengar itu, "Apa saja?" Tanya Fang Lin memastikan sambil berjongkok di depan Shui Ru.
Shui Ru sendiri hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali, "B-benar... Apa saja" Jawab Shui Ru dengan cepat.
Mendengar itu Fang Lin hanya tertawa pelan, Kemudian mengangkat kepala Shui Ru yang sedang bersujud secara perlahan, "Jadilah istriku, Tetapi bukan saat ini melainkan nanti saat aku sudah menjadi kuat, Sekuat absolute" Ucap Fang Lin disertai senyuman lembut.
Shui Ru tersentak saat mendengar itu, "Eh?
A-apa saya tidak salah dengar?" Tanya Shui Ru dengan nada kebingungan, Walaupun ia masih takut dengan pemuda berjubah biru didepannya, Namun dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kau tidak salah dengar, Lagipula apa aku terlihat bercanda di situasi sekarang?" Tanya Fang Lin dengan senyum tipis.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.