
Saat ini Fang Lin, Tian Wai serta roh perempuan tersebut sudah berada di ujung lorong, Kini mereka sedang berada di balik sebuah pintu batu yang cukup besar.
Fang Lin yang melihat pintu batu tersebut langsung mendekati-nya, Ia menyentuh-nya dan seketika batu tersebut retak seperti jaring laba-laba.
~Crakkkk~
~Booomm~
Ledakan kecil terjadi ketika pintu batu tersebut pecah berkeping-keping, Roh perempuan yang melihat kehancuran batu tersebut hanya bisa tertegun, "Padahal aku sudah berkali-kali mencoba untuk menghancurkan batu itu namun gagal, Tetapi orang itu dapat menghancurkan-nya hanya dengan menyentuh-nya saja" Batin Roh perempuan menggelengkan kepala-nya pelan.
Fang Lin langsung memasuki ruangan itu ketika batu di depan-nya sudah hancur berkeping-keping. Ia sedikit melebarkan mata-nya ketika melihat penjara yang tak terhitung jumlah-nya saling bertumpukan.
Kehadiran Fang Lin, Tian Wai serta roh perempuan itu tentu menjadi pusat perhatian para budak yang sedang terkurung di penjara besi.
Mereka semua tidak berteriak sedikitpun dan hanya memerhatikan Fang Lin dan juga yang lain, "Tempat ini sangat-lah luas, Mungkin saja luas-nya berkali-kali lipat dari tempat budak yang pernah aku kunjungi sebelum-nya" Gumam Fang Lin mencoba menebak-nebak.
"Hoi! Siapa kalian?!" Sebuah teriakan terdengar dari arah timur dan membuat Fang Lin menoleh ke sumber suara tersebut.
Fang Lin dapat melihat segerombolan orang yang memiliki jumlah sekitar 10 orang sedang berjalan mendekati-nya. Mereka semua berpenampilan garang dan membawa senjata mereka masing-masing.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya salah satu orang saat sudah berada di dekat Fang Lin.
Fang Lin sendiri yang mendengar-nya hanya tersenyum tipis, "Siapa ya..." Ucap Fang Lin sambil membuat pedang Qi di tangan kanan-nya.
~Slashhhh~
Seketika kepala orang itu terputus dan membuat sembilan orang lain-nya terkejut, Mereka semua yang melihat kematian teman-nya langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Namun baru saja mereka mengeluarkan senjata, Tiba-tiba pandangan mereka semua menjadi kabur dan beberapa saat kemudian menjadi gelap gulita.
"Uaakhhhh!" Salah seorang pria berpenampilan garang berteriak histeris saat melihat kedelapan teman-nya mati dengan cara kepala yang terputus.
Pria tersebut langsung terjatuh lemas ketika melihat mayat teman-teman-nya yang sudah tergeletak di tanah, Ia lalu mengalihkan pandangan-nya ke arah pria tampan berjubah hitam itu dan menatap-nya dengan tatapan ngeri.
"Hiyyy... M-mafkan a-aku tuan!" Ucap pria garang tersebut sambil bersujud ke arah Fang Lin.
Melihat pria berpenampilan garang tersebut menangis dan bersujud di hadapan-nya membuat Fang Lin tersenyum tipis, "Siapa kalian? Dan apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Fang Lin sambil berjongkok menghadap pria garang tersebut.
Pria garang yang mendapati pertanyaan itu langsung menjawab-nya dengan cepat. Ia mulai menjelaskan kalau mereka adalah sebuah kelompok yang suka menculik anak-anak atau pengemis untuk di jual di tempat perbudakan.
Dan kini mereka ingin menjual beberapa budak yang mereka dapatkan akhir-akhir ini, Namun di saat mereka sedang mencari orang yang bertanggung jawab atas tempat ini, Mereka secara tidak sengaja mendengar suara ledakan dan dengan segera menghampiri asal suara tersebut.
Fang Lin yang mendengar cerita dari pria garang tersebut hanya mengangguk-kan kepala-nya, "Jadi ledakan itu terdengar cukup jauh ya" Gumam Fang Lin pelan lalu melirik ke arah pria sangar yang sedang bersujud itu
"Karena kau sudah menjawab pertanyaan yang ku-berikan, Aku akan memberikan kematian yang tidak menyakitkan untuk-mu" Ucap Fang Lin lalu memegang kepala pria sangar tersebut.
Seketika jantung pria sangar tersebut berhenti berdetak dan membuat-nya mati secara perlahan tanpa rasa sakit sedikitpun.
Melihat pria sangar tersebut sudah mati Fang Lin langsung berdiri dan melihat ke arah sekitar-nya, Ia sedikit mengerut-kan kening-nya ketika melihat para budak yang tidak bersuara sedikitpun, "Mereka semua sedang menatap kesini, Namun kenapa tidak ada satupun dari mereka yang berteriak ketika melihat pembunuhan yang ku-lakukan?" Batin Fang Lin keheranan.
Fang Lin kemudian menyebarkan kesadaran-nya sampai ke seluruh ruangan dan melihat banyak kelompok dari berbagai aliran, "Hmm... Bahkan aliran putih dan netral juga berada disini untuk membeli budak?" Gumam Fang Lin sedikit menaik-kan alis-nya.
"Entah apa yang mereka cari, Aku tidak memedulikan-nya" Gumam Fang Lin kembali dengan nada acuh tak acuh.
Misi-nya saat ini adalah membawa seluruh budak yang ada di tempat perbudakan, Jadi jika ada yang menghalanginya untuk membawa mereka maka ia tidak akan segan-segan untuk membunuh-nya.
"Meskipun begitu aku tetap akan membunuh mereka, Walaupun mereka tidak menghalangi-ku atau semacam-nya" Batin Fang Lin menggelengkan kepala-nya pelan. Ia sebenarnya tidak ingin ada saksi mata yang melihat-nya, Apalagi melihat wajah-nya yang tidak sedang mengenakan topeng.
Setelah membatin seperti itu Fang Lin berjalan pelan menuju salah satu kelompok yang berada di dekat-nya, Ia memutuskan untuk membunuh mereka semua yang ada disini.
Sebelum berjalan menuju kelompok tersebut Fang Lin sudah menyampaikan kepada Tian Wai dan roh perempuan itu untuk menunggu-nya di tempat ini, Ia melakukan itu karna mereka hanya akan menjadi beban jika mengikuti-nya.
Saat ini Fang Lin berada di atas sebuah penjara besi, Ia mengamati sekitar-nya dengan tenang tanpa bersuara sedikitpun, "Tempat ini semacam ruang bawah tanah yang menyimpan para budak dan lagi 2 warung sebelum-nya juga terhubung dengan tempat ini" Batin Fang Lin berpikir. Jadi jika diri-nya sudah selesai mengambil para budak yang ada disini, Ia tidak perlu lagi memasuki 2 warung lain-nya karena ketiga warung makan tersebut saling terhubung ke ruangan ini.
Fang Lin kemudian mengalihkan pandangan-nya ke bawah kaki-nya dan meluhat seorang budak pria paruh baya yang sedang menatap-nya dengan tatapan kosong, "Tatapan mereka kosong dan lagi mereka tidak bersuara sedikit-pun" Gumam Fang Lin lalu menimpali-nya, "Apakah mereka di cuci otak-nya? Atau mereka menggunakan sebuah artefak untuk menghilangkan cara berpikir mereka?" Timpal Fang Lin mencoba menebak-nebak.
Fang Lin menggelengkan kepala-nya untuk menepis pikiran-nya sekarang, Ia kembali fokus dengan tujuan-nya lalu memejamkan mata-nya.
~Klik~
Fang Lin menjentik-kan jari-nya dan seketika semua pintu keluar yang terbuat dari batu berubah menjadi bongkahan es yang dingin.
Tentu hal itu membuat semua orang terkejut, Para kelompok dari berbagai aliran itu langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing dan melakukan posisi yang siap untuk bertarung.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
NOTE: Buat yang tanya, Thor kenapa orang-orang yang Fang Lin bantai gak di ubah ingatan-nya aja? Kan lumayan kekuatan mereka kalau di jadi-in pasukan.
Jawab: Itu karna author pengen Fang Lin punya pasukan yang tulus ngikutin Fang Lin tanpa harus diubah ingatan-nya.
Nanya: Trus kenapa gk buat mereka ketakutan aja thor? Kan bisa tuh ngebuat mereka takut trus di jadi-in pasukan.
Jawab: Author gak suka kalau Fang Lin punya bawahan yang di dasari rasa takut, Karna kalo misalnya Fang Lin punya musuh yang lebih kuat dari dia, Trus pasukan-nya takut sama musuh, Mereka jadi gampang khianatin Fang Lin.
Nanya: Kan bisa thor pake segel tuan dan budak biar mereka gak berkhianat.
Jawab: Bisa sih, Tapi author mau buat Fang Lin punya pasukan yang gak harus pake segel tuan dan budak, Biar lebih srek aja.