
Sylvia perlahan mendekati gazebo tersebut, Mata-nya semakin menyipit saat melihat seekor rubah ungu yang memiliki 9 ekor, "Rubah? Kenapa rubah ini berada di taman bunga?" Gumam Sylvia setelah memastikan kalau hewan yang dilihat-nya saat ini adalah seekor rubah.
Rubah itu tersenyum saat Sylvia sudah mendekati-nya, "Duduk-lah di salah satu bangku itu, Aku ingin berbicara pada-mu" Ucap sang rubah yang tiba-tiba berbicara.
Sylvia yang melihat kalau rubah ungu didepan-nya bisa berbicara langsung terkejut, "S-siapa kau? Kenapa hewan seperti-mu bisa berada di alam mimpi-ku?" Tanya Sylvia dengan nada terkejut.
Rubah ungu ber-ekor 9 itu menggelengkan kepala-nya pelan, "Tidak perlu terkejut seperti itu dan biarkan aku memperkenal-kan diri dulu" Ucap rubah ungu lalu melanjutkan perkataan-nya, "Aku adalah Khatz, Salah satu hewan bencana primodial dari dunia Evangellion"
Sylvia yang mendengar perkataan rubah ungu langsung melebarkan mata-nya sambil menutup mulut-nya yang terbuka menggunakan kedua tangan-nya, "H-hewan b-bencana primodial... T-tidak mungkin" Ucap Sylvia dengan nada tidak percaya.
Tentu diri-nya tidak percaya dengan perkataan rubah ungu didepan-nya karena di dunia-nya Evangellion, Hewan becana primodial adalah salah satu monster terkuat disana, Bahkan sebuah kerajaan dapat dimusnah-kan dengan mudah oleh hewan tersebut. Jadi untuk apa hewan itu bersemayam di tubuh-nya?.
"Duduk-lah... Aku akan memberitahu-mu sesuatu yang penting" Ucap Rubah Ungu menyuruh Sylvia untuk duduk.
Jantung Sylvia berdegup kencang saat ini, Ia langsung mengikuti ucapan Rubah Ungu lalu merileks-kan tubuh-nya yang sedang bergetar.
"D-dia tidak berbohong... A-aku dapat merasakan limpahan Mana yang merembes keluar dari tubuh monster itu" Batin Sylvia dengan gugup.
Rubah Ungu sendiri yang melihat kegugupan Sylvia hanya menggelengkan kepala-nya pelan, "Berhenti-lah gugup seperti itu" Ucap Rubah Petir dan seketika Sylvia mengeluarkan cahaya hijau.
Tubuh Sylvia langsung berhenti bergetar, Perasaan gugup-nya tiba-tiba menjadi tenang saat diri-nya diselimuti cahaya biru tersebut.
Cahaya biru tersebut langsung meredup secara perlahan dan disaat yang bersamaan tubuh, hati dan pikiran Sylvia menjadi tenang.
Rubah Ungu yang melihat perubahan Sylvia hanya tersenyum tipis, "Sepertinya kau sudah menjadi lebih tenang dari sebelum-nya" Ucap Rubah Ungu sambil tersenyum.
Sylvia hanya menggaruk-kan kepala-nya yang tidak gatal ketika mendengar itu, "Maafkan aku... Aku tadi terlalu terkejut ketika mendengar pernyataan-mu" Jawab Sylvia sambil menunduk malu.
Rubah Ungu hanya menggelengkan kepala-nya sambil tersenyum, "Kalau begitu langsung ke-intinya saja. Kita berdua saat ini berada di semesta yang berbeda, Bukan lagi di dunia Evangellion yang kita tempati"
"Portal teleportasi yang kau gunakan terakhir kali terjadi kesalahan teknis dan membuat kita berakhir disini" Ucap Rubah Ungu dengan nada serius.
Sylvia mengangguk-kan kepala-nya paham, "Aku memang sudah tau kalau kita berada di dunia yang berbeda, Akan tetapi bagaimana mungkin seorang Sage membuat kesalahan seperti itu?" Tanya Sylvia dengan nada heran. Karena portal teleportasi yang dia masuki sebelum-nya bukan dibuat oleh-nya melainkan seorang Sage yang melegenda.
Rubah Ungu menghela nafas panjang mendengar itu, "Sebenarnya bukan kesalahan teleportasi, Tetapi itu adalah sebuah kesengajaan" Jawab Rubah Ungu pelan.
Sylvia sedikit melebarkan mata-nya ketika mendengar jawaban Rubah Ungu, "Apa maksud-mu dengan 'Kesengajaan'? Lagipula itu juga tidak mungkin, Karena Sage yang membuat portal teleportasi adalah paman-ku sendiri, Jadi tidak mungkin paman melakukan hal jahat seperti itu" Ucap Sylvia menggelengkan kepala-nya pelan. Diri-nya tidak dapat percaya dengan perkataan Rubah Ungu, Karena sedari diri-nya kecil paman-nya selalu baik kepada-nya, Bahkan Sylvia bisa menggunakan sihir berkat ajaran paman-nya.
"Selain itu, Aku juga ingin menyampaikan pada-mu beberapa hal. Pergi dari si kakek tua itu dan bertahan hidup di dunia ini, Aku akan membantu-mu jika kau benar-benar dalam keadaan terdesak" Timpal Rubah Ungu dengan nada tenang.
Sylvia mengerutkan kening-nya krtika mendengar ucapan rubah ungu didepan-nya, Saat diri-nya ingin menanyakan sesuatu lebih lanjut, Tiba-tiba pandangan-nya menjadi kabur dan perlahan menggelap.
Sedangkan dalam pandangan Rubah Ungu, Ia melihat kalau wujud Sylvia perlahan menghilang menjadi debu dan menghilang tanpa bekas.
Melihat wujud Sylvia sudah menghilang sepenuh-nya, Ia lalu menatap ke langit dan berkata kepada udara kosong, "Hey kakek tua... Aku sudah tau kalau kau mengawasi kami sedari tadi"
Setelah rubah ungu mengatakan itu, Suasana menjadi hening dan beberapa saat kemudian terdengar sebuah gelak tawa dari atas langit "Hahahaha... Mahluk bencana primodial ya? Aku baru mendengar-nya" Ucap Jin Mu sambil melayang turun dari langit.
Rubah Ungu hanya diam dan memerhatikan Jin Mu dengan seksama, Ia lalu mengambil nafas-nya dan mengatakan, "Jangan mengganggu Sylvia untuk pergi dari sana, Biarkan dia pergi dari sekolah anak-anak yang kau buat" Ucap Rubah ungu sinis. Sejak diri-nya melihat kakek tua didepan-nya membawa Sylvia ke organisasi Pasir Hitam, Ia sudah merasakan kalau kakek tua tersebut memiliki niat jahat.
Namun diri-nya hanya diam dan terus memerhatikan situasi, Dia akan melakukan sesuatu ke kakek tua tersebut jika memiliki kesempatan dan sekarang adalah waktu yang pas untuk melakukan hal tersebut.
"Apa yang membuat-mu berpikir kalau aku akan menuruti perkataan-mu" Tanya Jin Mu kembali dengan nada sinis.
Rubah Ungu hanya berdecak kesal ketika mendengar jawaban Jin Mu, "Dasar manusia, Padahal aku ingin menghemat Mana-ku" Ucap Rubah Ungu kesal lalu berdiri dari posisi tidur-nya, Ia dengan segera melesat ke arah Jin Mu sambil mengeluarkan listrik di tubuh-nya.
Melihat Rubah Ungu tersebut melesat ke arah-nya, Jin Mu hanya tertawa pelan, "Hanya seekor rubah kecil, Tetapi berani sekali menyerang-ku" Ucap Jin Mu menggelengkan kepala-nya pelan lalu membuat pedang Qi di tangan kanan-nya.
~Bzzzztttt~
Baru saja mengatakan itu, Tiba-tiba sebuah serangan petir yang kuat sedang melesat ke arah-nya. Tentu hal itu menbuat Jin Mu menjadi terkejut, Ia dengan segera mengangkat pedang Qi-nya ke depan dada dan berniat untuk menahan serangan petie tersebut.
~Craakkk~
Pedang Qi Jin Mu seketika hancur ketika serangan petur tersebut mengenai pedang Qi-nya.
~BOOOM~
Seketika Jin Mu terpental hingga puluhan kilometer jauh-nya. Rubah ungu yang melihat terpental-nya kakek tua itu hanya tersenyum sinis.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.