
Aura kegelapan yang merembes keluar dari tubuh Elisa membuat semua pohon di sekitar mereka berterbangan, api unggun yang tadinya menyala kini sudah tidak tersisa lagi.
Fang Lin masih berdiri ketika aura kegelapan tersebut berusaha menekan dirinya, ia tersenyum seolah semua yang sedang dilakukan oleh Elisa saat ini tidak berpengaruh sama sekali padanya.
"Apa-apaan ini...?" Elisa melebarkan matanya, selama beberapa tahun terakhir-- baru kali ini ada orang yang bisa menahan aura kegelapannya tanpa terlihat terganggu sedikitpun.
"Aku tadinya ingin membunuhmu, tapi aku ingin mencari tau sebesar apa potensimu." Fang Lin tersenyum tipis, mengingat usia Elisa kurang dari empat dekade-- ia merasa kalau perempuan itu cukup berbakat untuk menjadi bawahannya.
Elisa tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan Fang Lin, ia kemudian menciptakan lingkaran sihir yang berbentuk pentagram dan memunculkan tengkorak hidup yang tak terhitung jumlahnya.
"Hm? Itu, makhluk kematian?" Fang Lin mengangkat satu alisnya, lalu menambahkan, "Mereka tidak jauh berbeda dengan makhluk bayanganku, tetapi sepertinya mereka tidak mempunyai ingatan sebelum dibangkitkan dan hanya mempunyai skill-nya saja, ya?"
Fang Lin menganalisis dengan cepat ketika Mata Dewa-nya diaktifkan.
Mendengar semua yang dikatakan oleh Fang Lin cukup membuat Elisa terkejut, ia terdiam sejenak sebelum menarik kembali aura kegelapan yang merembes keluar dari tubuhnya.
Fang Lin sendiri menghindari berbagai serangan yang datang dari makhluk tengkorak yang tiada habisnya itu, ia kini sedang menganalisa kemampuan yang dimiliki mereka.
"Berhasil menahan aura kegelapanku dan mampu menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh skeleton-ku, siapa sebenarnya dia?" Elisa bertanya-tanya, ia sangat yakin kalau semua informasi yang keluar dari mulut Fang Lin sebelumnya adalah kebohongan.
Bagi Elisa hanya ada satu yang bisa ia percayai dari mulut Fang Lin, yaitu, misi membunuhnya.
"Dua tahun lalu aku pernah pergi ke kota Heinz, dan ketika aku memasuki Serikat Pemburu dengan penyamaran sempurnaku. Aku terkejut karena menemukan sebuah misi yang di mana aku adalah target pembunuhannya." Elisa bergumam, lalu menambahkan, "Aku sudah memusnahkan semua kelompok pemburu yang berusaha membunuhku. Kupikir misi itu sudah ditarik kembali oleh pihak Serikat, tapi nyatanya tidak, ya?"
Sekarang Serikat Pemburu malah mengirim orang yang sangat merepotkan, Elisa cukup yakin kalau dirinya sangat kuat tetapi melihat tindakan tenang Fang Lin membuatnya bergidik entah kenapa.
"Meskipun tidak sefleksibel makhluk bayangan, mereka mempunyai pertahanan yang kuat. Entah itu efek dari job Necromancernya atau tidak, tapi mereka cukup berguna." Fang Lin mengangguk beberapa kali seolah sedang memahami sesuatu, ia kemudian mengalihkan pandangan pada Elisa yang sedang menatapnya dari kejauhan, "Sepertinya aku harus memanggil Yue untuk menanyakan pendapatnya."
Fang Lin kemudian berhenti menghindari, lalu menjentikkan jarinya.
Whooosh!
Dalam sekejap saja, seluruh makhluk kematian itu berubah menjadi patung es.
Elisa yang menyaksikan itu merasa jantungnya ingin copot, raut wajah pucat pasi sekaligus ketakutan mulai terlihat.
"A-aku harus pergi..." Elisa terbata-bata, ketika hendak berbalik-- Fang Lin muncul di depannya dan dengan cepat memegang pundaknya.
"Sejauh manapun kau pergi, aku akan menemukanmu. Bahkan jika kau bersembunyi di dalam dimensi yang kau ciptakan, aku akan tetap menemukanmu." ucap Fang Lin, nada suaranya terdengar dingin, "Aku minta kau menuruti perintahku untuk sementara waktu, aku tidak akan membunuhmu tentu saja."
Elisa melebarkan mata sebelum menelan ludahnya dengan kasar, satu kata yang bisa ia deskripsikan pada Fang Lin, 'Monster'.
"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, tidak ada pemaksaan atau semacamnya. Anggukan kepalamu jika mengerti." ucap Fang Lin dengan nada tenang.
Elisa mengangguk perlahan dan tangan pemuda itu dilepas dari pundaknya. Dia mengatur nafasnya, lalu mulai menenangkan diri.
Sementara Fang Lin sendiri menghubungi Yue untuk datang langsung ke tempatnya berada, ia ingin meminta pendapatnya karena ingin merekrut seseorang.
Elisa yang sudah menenangkan dirinya kembali melebarkan mata ketika sesosok perempuan yang cantiknya luar biasa muncul di samping Fang Lin. Dia mempunyai tubuh langsing serta kulit seputih susu, rambutnya hitam pekat dengan panjang yang mencapai pinggang, lalu dia mempunyai mata indah berwarna merah muda.
"Cantik sekali..." Elisa tanpa sadar bergumam, baru pertama kali dalam seumur hidupnya ia memuji secara jujur kecantikan wanita lain.
Meskipun Yue hanya mengenakan gaun kasual berwarna putih polos, tetapi kecantikannya yang tiada tara itu bisa membuat semua pria terbius dalam sekali lihat.
Yue memasang wajah datar ketika mendengar ucapan suaminya itu, pandangannya kemudian teralih pada Elisa dan ia memandanginya dalam diam.
"Potensinya cukup bagus, mungkin setara dengan Hu Jiazhen atau Zhong Li. Namun sayangnya, hatinya sangat rentan terhadap sesuatu. Dia mempunyai kenangan buruk atau trauma sehingga ada kemungkinan bisa berkhianat karena alasan tertentu." Yue menjelaskan potensinya, begitu juga dengan kesetiaannya setelah menguji hatinya.
"Hm, itu artinya dia tidak akan berguna, ya?" Fang Lin mengelus dagunya, tetapi Yue langsung menggeleng pelan.
"Cukup hilangkan saja kenangan buruk tersebut menggunakan Api Emas, dan semuanya akan beres." ucap Yue memberitahu.
"Benar juga! Api emas sangat berguna untuk menghapuskan seluruh keberadaan negatif." Fang Lin memukul pelan telapak tangan kanannya dengan kepalan tangan kiri, ia kemudian menatap Elisa sambil tersenyum dan bertanya, "Jadilah bawahanku."
Elisa yang masih mencerna obrolan mereka berdua langsung tersentak kaget ketika mendengar itu, "A-apa maksudmu, kenapa tiba-tiba?"
"Kau mempunyai potensi yang cukup bagus, dan cocok untuk menjadi bawahanku. Kekuranganmu hanya satu, kenangan buruk di masa lalu yang membuat mentalmu tidak stabil. Masa depan memang mustahil untuk diprediksi, tetapi ada kemungkinan kau bisa mengkhianati diriku." jelas Fang Lin panjang lebar.
Elisa masih tidak mengerti setelah menerima penjelasan tersebut, ia terdiam sejenak dan mulai mencerna satu persatu dari setiap kata yang diucapkan Fang Lin.
Beberapa saat kemudian, Elisa menghela nafas karena dia sudah mengerti sebagian besar dari penjelasan itu, ia menatap ke arah Fang Lin dan bertanya, "Kalau begitu, selain bisa menyembuhkan keterpurukan mentalku, apa yang aku dapatkan dengan menjadi bawahanmu?"
"Kekuatan, teman atau bahkan kekasih?"
Fang Lin tidak pernah melarang hubungan lawan jenis di antara para bawahannya, mereka semua bebas saling menyukai satu sama lain asalkan tidak menciptakan pertengkaran atau semacamnya.
Elisa termenung selama beberapa saat ketika mendengar itu, ia kemudian menganggukkan kepalanya dan berkata, "Mulai sekarang, aku adalah bawahanmu. Sebutan apa yang aku harus panggil untukmu?"
"Keputusan yang cepat..." Fang Lin tersenyum tipis, lalu menjawab, "Cukup panggil aku dengan sebutan 'Tuan' saja."
"Aku mengerti, Tuan." Elisa menundukkan kepalanya.
Fang Lin mengangguk puas, dan matanya teralih pada Yue, "Tolong bimbing dia, ya?"
"Tentu, sayang. Ada lagi?" Yue menjawab dengan patuh.
"Tidak ada, itu saja." Fang Lin menggeleng pelan, lalu mencium bibir istrinya itu.
"Sampaikan pada anak-anak untuk tidak malas berlatih."
"Baiklah..."
Yue tersenyum manis, lalu meminta Elisa untuk datang menghampirinya.
Elisa dengan cepat mematuhi permintaan tersebut.
"Simpan semua makhluk ini dengan baik, kembangkan mereka." Fang Lin menjentikkan jarinya ketika mengatakan itu, dan semua skeleton yang berubah menjadi patung es kini kembali normal.
Elisa langsung mengiyakannya, kemudian memindahkan semua skeleton itu ke dalam dimensi buatannya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.