Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-99. Peperangan di tiga dimensi


Peperangan yang sama juga tengah terjadi di dimensi ke-tujuh, karena Liu Yang dan Shen Huang juga telah tiba di sana bersama dengan pasukan terbaik mereka, namun saat mereka tiba di sana, mereka justru langsung dihujani oleh berbagai macam serangan.


Serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan dimensi ke-tujuh berhasil merenggut cukup banyak nyawa pasukan musuh, terlebih lagi yang melakukan serangan itu adalah pasukan dari klan Dewa Cahaya yang memiliki serangan jauh lebih dahsyat dan lebih mematikan.


Meski begitu, pasukan musuh tetap berhasil bertahan dari serangan yang dilakukan pasukan dimensi ketujuh, karena sebelum serangan itu merenggut nyawa mereka semua, pasukan musuh telah lebih dulu menciptakan formasi pelindung berlapis untuk menahan serangan tersebut.


"Lanjutkan serangan kalian, jangan biarkan mereka lolos begitu saja!" ujar Xiao Lang.


"Baik, yang mulia!" jawab seluruh pasukan.


Karena serangan dari kejauhan sudah tidak efektif lagi untuk digunakan, pasukan dimensi ketujuh kemudian meraih senjata mereka masing-masing dan langsung melesat maju untuk berhadapan dengan musuh secara langsung.


Sama halnya dengan pasukan dimensi ketujuh, pasukan musuh juga meraih senjata mereka masing-masing dan bergerak maju untuk menyerang, dan walaupun prajurit mereka telah berkurang, namun jumlahnya masih melebihi pasukan dimensi ketujuh.


"Shen Long, kau bantu yang lainnya, biar aku sendiri yang menangani kedua penguasa itu" ucap Xiao Lang.


"Yang mulia, tindakan ini terlalu berbahaya, meskipun kekuatan yang mulia sangat tinggi, tapi mereka berdua tetap tidak bisa diremehkan begitu saja" sahut Shen Long.


"Aku tidak pernah meremehkan musuh, tapi kekuatanmu masih tidak sebanding dengan mereka berdua, jadi akan lebih baik jika kau membantu pasukan kita saja."


"Baik, yang mulia!"


Shen Long terlihat sangat keberatan dengan keputusan Xiao Lang, namun ia juga tidak memungkiri jika kekuatannya tidaklah sebanding dengan para penguasa, oleh karenanya, Shen Long hanya bisa menuruti perintah Xiao Lang dengan patuh.


Setelah Shen Long pergi membantu pasukan, Xiao Lang kemudian melesat terbang mendekati Liu Yang dan Shen Huang yang masih mengamati jalannya peperangan. Namun, keduanya masih terlihat begitu santai seolah sudah mengetahui tindakan Xiao Lang sejak awal.


"Dipertemuan para penguasa, kalian berdua tidak banyak bicara, tapi siapa sangka justru kalianlah yang datang menyerang dimensi ketujuh" ucap Xiao Lang.


"Untuk apa banyak bicara jika tidak ada gunanya? Dan perlu kau ketahui, aku lebih suka bertindak sebelum berbicara" sahut Liu Yang.


"Aku juga sama dengannya, dan mungkin inilah alasan kenapa kami ditugaskan bersama" imbuh Shen Huang.


"Ditugaskan? Apa dalang dari semua ini adalah Dewa Huo?"


"Kau tidak perlu mengetahuinya, tapi aku sarankan agar kau bergabung dengan kami" jawab Shen Huang.


"Bergabung dengan kalian sama saja dengan aku mengkhianati saudaraku, dan aku sangat tidak suka dengan pengkhianatan" sahut Xiao Lang.


"Hahahaha, aku suka dengan ucapan mu itu, tapi maaf saja, perkataan mu barusan sudah tidak berlaku lagi, apalagi bagi kami berdua!" ujar Liu Yang.


"Hah" Xiao Lang menghela napas panjang, "Kalau begitu, sudah tidak ada gunanya lagi berbicara dengan kalian" ucapnya, kemudian menyerang kedua penguasa tersebut.


Sebagai seseorang yang sudah pernah berhadapan dengan musuh-musuh yang kuat, Xiao Lang tentunya tidak merasa kesulitan saat berhadapan dengan kedua penguasa itu, bahkan di awal pertarungan, ia sudah berhasil memojokkan kedua penguasa itu dengan serangannya yang sangat cepat.


Dhuaarrr!


Dhuaarrr!


Boom!


Suara ledakan mulai terdengar di udara ketika mereka saling bertukar serangan, walaupun pertarungan itu berlangsung di udara, namun dampak dari serangan mereka bertiga dapat dirasakan oleh para prajurit yang tengah berperang di bawahnya, bahkan luapan energi yang muncul dari serangan mereka sampai membuat daratan bergetar.


***


Dimensi kesepuluh.


Waktu kian bergulir, enam ratus ribu pasukan yang berhadapan dengan Lin Feng kini hanya tersisa kurang dari setengahnya saja, sedangkan sisanya, mereka semua sudah habis dibinasakan dengan sangat kejam oleh Lin Feng.


"Ini sungguh tidak masuk akal, siapa sebenarnya pemuda ini?" Ji Ling mulai meragukan identitas diri Lin Feng.


"Sekarang aku tahu kenapa Dewa Huo meminta kita untuk melawannya bersama-sama" sahut Hua Xiong.


"Memangnya kenapa?" tanya He Jin.


"Karena sejak awal, Dewa Huo sudah mengetahui bahwa pemuda ini memiliki kekuatan setara dengan para penguasa."


"Tidak, aku rasa kekuatannya melebihi itu, jika tidak, tidak mungkin harus mengerahkan empat penguasa untuk menghadapinya" sahut Yan Baihu.


"Sekarang apa? Apa kita hanya akan diam dan menyaksikan pertarungan mereka sampai selesai?"


"Iya! Biarkan dia bersenang-senang terlebih dahulu, lalu setelah itu, barulah kita buat dia merasakan kengerian yang sebenarnya" jawab Yan Baihu.


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu sampai dia selesai."


Disisi lain.


Meskipun telah membunuh lebih dari tiga ratus ribu prajurit, namun tidak ada sedikitpun rasa lelah yang dirasakan oleh Lin Feng, justru, semakin banyak prajurit yang ia bunuh, semakin bersemangat dan semakin besar pula niat membunuhnya.


"Tebasan pencabut nyawa!"


Wushh!


Energi pedang berwarna merah kehitaman dan berbentuk seperti bulan sabit, melesat dengan kecepatan tinggi kearah prajurit musuh, dan hanya dalam sekejap mata, energi pedang itu telah berhasil memotong ratusan tubuh prajurit yang dilewatinya.


"Hahaha, apa hanya ini saja yang bisa kalian berikan?"


"Ayolah, hadapi aku dengan segenap kekuatan kalian!"


Walaupun dirinya sudah membunuh banyak prajurit dalam peperangan itu, namun rasa haus darah yang ia rasakan tak kunjung terpuaskan, bahkan dahaga itu malah semakin membesar dan mengubah Lin Feng menjadi orang yang berbeda dari biasanya.


Lin Feng yang biasanya menunjukkan ketenangan saat bertarung, sekarang malah lebih agresif dan menyerang dengan membabi-buta, bahkan ia yang sekarang benar-benar terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki hati nurani.


"Lagi! Cobalah untuk menyerang ku lagi!" ujar Lin Feng, sembari terus melesat dengan kecepatan tinggi dan menebas para prajurit yang tersisa.


"Sial! Apa-apaan orang ini, dia selalu berkata ingin diserang, tapi dia sendiri tidak pernah memberikan kita kesempatan untuk melakukan serangan!"


"Sudahlah, jangan banyak bicara, jika tidak, kau akan menjadi mangsanya yang..."


Slash!


Sebelum prajurit itu sempat melanjutkan ucapannya, sebuah tebasan yang datang entah darimana telah lebih dulu memenggal kepalanya, dan tidak hanya itu saja, karena seluruh tubuh prajurit itu juga ikut terpotong menjadi beberapa bagian.


"Si-sialan, sebenarnya siapa yang kita hadapi ini? Apakah dia benar manusia?"


"Ya! Aku adalah manusia!" jawab Lin Feng mendadak muncul di hadapan prajurit tersebut.


"Ka-kau..."


Lagi-lagi, satu orang prajurit tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena kemunculan Lin Feng yang sangat mendadak dan serangannya yang tidak terduga, membuat prajurit itu tidak sempat melakukan atau mengucapkan apapun.


"Kau bisa menyelesaikan ucapan mu setelah kau tiba di neraka" ucap Lin Feng.