
Suasana di aula istana nan megah itu terasa begitu hening, karena belum ada satupun dari mereka semua yang membuka suara, termasuk Lin Feng yang hanya diam sejak mendengar kabar buruk tersebut.
"Ayah, aku akan menghadapi mereka" setelah cukup lama, Jia Zhen akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan tersebut.
Semua orang menoleh padanya, menatapnya dengan tatapan tidak percaya pada apa yang dikatakan olehnya, namun tetap tidak ada yang mengeluarkan suara, karena masih menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh Lin Feng.
Lin Feng menghela napasnya, melepaskan segala beban yang mengganggu pikirannya, serta berusaha untuk menenangkan dirinya agar dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
"Aku akan berada di garis terdepan bersama pasukan Raja Malam, sisanya bertahanlah di setiap kekaisaran, jaga dan lindungi para penduduk!"
"Tuan..."
"Huise, kau aku khususkan menjaga kota Zuanshi! Yang lainnya, menyebar-lah ke seluruh kekaisaran yang ada."
"Baik, Tuan!" jawab Huise dan yang lainnya.
Setelah memberikan perintah, Lin Feng kemudian beranjak dari singgasananya, lalu pergi meninggalkan aula tanpa mengatakan apapun lagi, raut wajahnya yang sangat serius membuat mereka semua tidak berani mengatakan apapun lagi.
"Ayah terlihat sangat khawatir" ucap Zhen Jia.
Meski baru pertama kali bertemu secara langsung dengan ayahnya, namun ia bisa merasakan betapa besarnya kekhawatiran yang tengah ayahnya rasakan. Dan ia juga tahu, jika ayahnya itu sedang mengkhawatirkan mereka semua.
"Kak."
"Jangan sekarang, kita akan bicara ditempat lain" sahut Xie Ling yang mengerti maksud adik bungsunya itu.
Setelah semua orang meninggalkan aula untuk mempersiapkan diri, Xie Long kemudian menghampiri ibunya, "Ibu, boleh kami mengobrol di taman belakang istana?"
Luo Ning mengangguk, "Ingat, ibu hanya mengizinkan kalian ke taman belakang, bukan meninggalkan istana ini!"
"Baik, Bu."
Taman belakang istana.
"Baiklah, sebelum membicarakan rencana ini, ada yang ingin aku tanyakan pada kalian semua. Apakah kalian sudah sanggup menanggung segala resikonya?"
Huanran dan ketiga adiknya mengangguk bersamaan, mereka semua benar-benar sudah siap menanggung segala resiko yang mungkin akan mereka dapatkan, termasuk dihukum oleh Lin Feng karena berani membantah perintahnya.
"Baiklah, kalau begitu, dengarkan baik-baik" ucap Xie Long, kemudian menjelaskan rencana yang telah ia susun untuk membantu kedua orang tua mereka.
***
Benua Biru.
Sebuah portal dimensi yang sangat besar terbuka di udara, tidak lama berselang, dari dalam portal tersebut keluar ratusan monster yang masing-masing kekuatannya setara dengan kultivator ranah Supreme God puncak.
"Aku tidak menyangka jika kedatangan kami akan langsung disambut dengan baik seperti ini" ucap pemimpin pasukan monster tersebut.
"Sebagai tuan rumah yang baik, tentu aku harus menyambut tamu dengan baik pula" sahut Lin Feng.
Pemimpin pasukan monster itu terkekeh pelan, "Lalu, apalagi yang harus kita tunggu? Bukankah tidak baik jika berbasa-basi terlalu lama?"
Wushh!
Sesaat kemudian, udara di sekitar tempat itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, lalu diikuti oleh bongkahan es raksasa yang muncul di atas pasukan para monster.
Pada saat yang berwarna, kobaran api emas yang sangat besar juga muncul di bawah mereka, sehingga membuat udara dingin dan panas bercampur menjadi satu.
"Ciptakan formasi, jangan sampai kalian..."
Perkataan pemimpin pasukan monster itu terhenti ketika merasakan tubuhnya yang mendadak tidak bisa digerakkan, bahkan ia merasa seperti sedang dibelenggu oleh sesuatu yang sangat kuat.
"Si-sial, apa-apaan ini."
"Xie Ling, Zhen Jia, sekarang!" ujar Xie Long.
"Hantaman gunung es!"
Wushh!
DHUAAAR!
Ledakan yang sangat dahsyat terjadi ketika bongkahan es raksasa itu menghantam pasukan monster, dan seketika itu juga, tubuh mereka semua langsung dibuat membeku oleh dinginnya kekuatan tersebut.
Sesaat kemudian, mereka kembali dihantam oleh kobaran api emas yang sangat panas. Walaupun panas api itu berhasil mencairkan es di tubuh mereka, namun kekuatan panasnya benar-benar menyiksa mereka.
"Ini belum selesai!"
Langit yang begitu cerah tiba-tiba saja diselimuti oleh awan mendung, kemudian puluhan petir berwarna merah keemasan muncul dari awan gelap tersebut dan menyambar seluruh pasukan monster.
"Xiao Hua, sekarang giliran kita" ucap Xie Long.
Huanran mengangguk, kemudian mereka berdua menggunakan kekuatan mata ungu untuk memperbesar area serangan, tidak hanya itu saja, kekuatan mata ungu mereka juga membuat dampak serangan itu semakin besar.
"Arkhhh!"
Suara teriakan terus menggema dari arah pasukan monster, serangan yang sangat tidak terduga itu benar-benar membuat mereka kewalahan, bahkan tidak sedikit dari pasukan mereka yang terluka parah karenanya.
Namun sayangnya, kekuatan mereka berlima masih sangat lemah, sehingga dampak serangan mereka masih belum cukup kuat untuk langsung membunuh puluhan hingga ratusan monster di padukan tersebut.
Disisi lain.
Lin Feng menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala, ia benar-benar tidak menyangka jika anak-anaknya begitu berani tidak mematuhi perintahnya. Tapi kemudian, senyuman indah nampak terukir di bibirnya.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Jangan sampai mereka berlima menghabisi seluruh pasukan musuh."
"Baik, yang mulia!"
"Kombinasi serangan mereka sungguh menakjubkan, jika kekuatan mereka lebih besar lagi, serangan tadi pasti akan sangat mematikan."
Lin Feng menghela napasnya, kemudian mengeluarkan pedang Dewa Naga dari cincin penyimpanannya, lalu setelah itu, ia melesat maju ke arah pasukan musuh dan mulai membantai mereka.
"Lanjutkan serangan kalian!" ujar Lin Feng.
Sementara para saudaranya melanjutkan serangan kombinasi mereka, Jia Zhen lebih memilih untuk ikut menyerang secara langsung.
Dengan pedang Dewa Asura di tangan kanannya, ia melesat ke tengah-tengah lautan musuh dan mengikuti ayahnya yang telah menyerang lebih dulu.
"Ayah, izinkan aku membantu."
Lin Feng menoleh dan tersenyum pada putranya itu, "Jangan sampai ketinggalan!"
Wushh!
Slash!
Dhuaaar!
Meski pedang Dewa Asura sudah tidak berada di tangannya lagi, namun tidak membuat kehebatan Lin Feng menurun sedikitpun, bahkan kekejamannya saat membantai para musuh tetap saja sama seperti sebelumnya.
"Kekuatanmu serasi dengan pedang itu, jadi ayah rasa kau sudah mengetahui cara menggunakannya dengan benar!"
"Tentu saja, ayah!"
Sebagai pewaris pedang sang Dewa Asura, Jia Zhen tentu mengetahui apa saja kemampuan yang dimiliki oleh pedang tersebut, karena saat ia berhasil mencabut pedang itu, berbagai macam teknik pedang juga ikut masuk ke dalam ingatannya.
"Kalau begitu, coba tunjukkan!"
Jia Zhen mengangguk kemudian melesat terbang ke ketinggian, setelah itu, ia mengacungkan pedang Asura ke langit. Tidak lama berselang, di langit muncul sebilah pedang energi berwarna merah dengan ukuran yang cukup besar.
Ukuran pedang itu memang tidak setara dengan pedang semesta milik Lin Feng, bahkan sangat jauh bila dibandingkan dengan pedang semesta, namun karena pedang itu mengandung kekuatan petir surgawi, kekuatan penghancur yang dimilikinya tentu tidak bisa diremehkan.