
Jia Zhen mengerutkan dahi ketika mendengar pria itu memperkenalkan dirinya dan istrinya sebagai Dewa Kekosongan, karena selama ini ia tidak pernah mendengar dua orang memiliki satu gelar Dewa yang sama.
Jika mereka adalah ayah dan ibunya, maka Jia Zhen dapat memakluminya, karena ayah dan ibunya memang memiliki satu jiwa yang sama, sehingga keduanya bisa dikatakan mempunyai satu gelar yang sama, yaitu Dewa Asura.
Meski begitu, bukan berarti ibunya adalah Dewa Asura yang sebenarnya, melainkan hanya pelengkap kekuatan ayahnya dan juga menjadi penyempurna wujud Asura milik ayahnya.
"Tidak usah bingung, aku hanya pelengkap suamiku dan bukan Dewa kekosongan yang sesungguhnya."
"Pelengkap?"
Istri Dewa Kekosongan itu mengangguk, kemudian menjelaskan jika dirinya hanyalah bagian dari jiwa suaminya, dan bisa dikatakan jika dirinya yang sekarang adalah perwujudan dari jiwa suaminya itu.
Meski masih sulit untuk memahami penjelasannya, namun satu hal yang bisa Jia Zhen mengerti adalah, mereka berdua hampir mirip seperti ayah dan ibunya, dimana keduanya saling melengkapi dan saling menyempurnakan.
"Baiklah, sesuai janjiku, aku akan memberikan beberapa hadiah untukmu" ucap Dewa Kekosongan.
Setelah itu, pria yang mengaku sebagai Dewa kekosongan itu mengeluarkan dua benda dari telapak tangannya, yaitu dua buah mutiara yang masing-masing memiliki warna hitam dan putih di kedua sisinya.
Dewa kekosongan kemudian menjelaskan jika kedua mutiara itu adalah mutiara jiwa Yin dan Yang, jika mutiara itu dibagi menjadi dua bagian dan ditelan oleh sepasang kekasih, maka jiwa mereka akan selalu terhubung.
Dengan kata lain, jika Du Fang Ren dan Zhu Ling menelan mutiara itu, maka mereka akan selalu bersama dan tidak akan pernah terpisahkan, namun bukan berarti jiwa mereka akan menyatu seperti Lin Feng dan Luo Ning.
Selain itu, Dewa Kekosongan juga menjelaskan jika mutiara jiwa Yin dan Yang juga akan meningkatkan energi Dewa yang mengonsumsinya, dengan kata lain, mutiara tersebut tidak bisa dikonsumsi oleh manusia biasa.
"Karena mutiaranya ada dua, artinya aku tidak perlu lagi memikirkan hadiah untuk paman Lang Diyu" ucap Jia Zhen dalam hatinya.
"Dan ini adalah hadiah kedua" ucap Dewa Kekosongan, kemudian mengeluarkan setangkai bunga lotus dari telapak tangannya.
"Bunga lotus?"
"Ini bukan lotus biasa, melainkan lotus jiwa abadi."
"Saat kau memberikan bunga ini pada gadis yang sangat kau sayangi, maka bunga ini akan mekar dan menyatu dengan jiwanya, asalkan, gadis itu juga menyayangimu dengan tulus."
"Sama dengan namanya, lotus ini melambangkan keabadian, dan saat bunga ini mekar, maka dia akan menjaga jiwa kalian agar tetap utuh, sekalipun raga kalian telah hancur berkeping-keping."
Jia Zhen mengangguk paham, kemudian meraih lotus tersebut dan memasukkannya kedalam cincin penyimpanan. Setalah itu, ia hendak berpamitan kepada mereka berdua, karena harus segera kembali.
Namun, mereka berdua malah menghentikan tindakannya, karena ada satu hadiah lagi yang ingin mereka berdua berikan pada Jia Zhen, dan hadiah itu adalah hadiah yang hanya dikhususkan untuk Jia Zhen seorang.
"Mendekat-lah."
Jia Zhen mengangguk, kemudian menghampiri Dewa kekosongan. Lalu setalah itu, dahi Jia Zhen disentuh oleh Dewa Kekosongan dengan ujung telunjuknya, dan seketika itu juga, kultivasi Jia Zhen tiba-tiba meningkat dengan sendirinya.
"Ini..."
"Anggap sebagai hadiah pertemuan dari kami."
"Sekarang kembalilah, jangan lupa berikan lotus itu pada orang yang benar-benar kau sayangi."
Jia Zhen mengangguk, "Terima kasih!"
***
"Kak..."
"Kakak!"
Suara yang terdengar begitu akrab ditelinga Jia Zhen membuatnya membuka mata, saat matanya terbuka sempurna, Jia Zhen justru dibuat kaget dengan kehadiran adik dan ayahnya yang berada di dekatnya.
"Kakak, apa yang terjadi?" tanya Zhen Jia yang langsung memeluknya dengan erat.
"Aku..."
"Pingsan?" Jia Zhen nampak kebingungan mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.
Lin Feng kemudian menjelaskan jika Jia Zhen telah menghilang selama dua hari. Dan karena merasa khawatir, ia dan Zhen Jia pergi mencarinya, hingga akhirnya, mereka menemukan dirinya yang tengah tergeletak pingsan di celah tebing.
Jia Zhen semakin bingung dengan penjelasan ayahnya, bahkan ia tidak merasa jika dirinya sedang pingsan, karena sebelumnya, ia dibawa ke suatu tempat yang tidak ia ketahui dan akhirnya bertemu dengan Dewa Kekosongan serta istrinya.
"Ini benar-benar aneh" ucap Jia Zhen dalam hatinya.
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali sekarang, karena semua orang sedang mengkhawatirkan dirimu."
Istana kerajaan Dunia Bawah.
Semua orang nampak menghela napas lega ketika melihat Jia Zhen kembali bersama Lin Feng dan Zhen Jia, mereka juga terlihat senang karena Jia Zhen kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Zhen'er, kemana saja kau selama dua hari ini?"
"Ibu, maafkan aku karena sudah membuat ibu khawatir" jawab Jia Zhen.
Luo Ning menghela napas panjang, kemudian memeluk putranya itu dengan erat, "Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja."
Setelah itu, Jia Zhen menghampiri Zhu Ling dan Du Fang Ren, ia mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, juga meminta maaf karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan mereka.
Hal yang sama juga ia lakukan pada Zhu Lien dan Lang Diyu, Jia Zhen bahkan mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa kembali tepat waktu, padahal ia sudah berjanji untuk menghadiri acara pernikahan mereka berempat.
"Benar juga, aku memiliki hadiah untuk kalian" ucapnya, kemudian mengeluarkan mutiara jiwa Yin dan Yang dari cincin penyimpanannya.
Saat menatap kedua mutiara itu, perasaan bingung kembali menyelimuti diri Jia Zhen, karena jika dirinya memang pingsan selama dua hari, pasti kedua mutiara itu tidak ada padanya.
Namun nyatanya, kedua mutiara itu benar-benar ada dalam cincin penyimpanannya, yang menandakan bahwa kejadian yang ia alami sebelumnya bukan hanya sekedar mimpi.
"Ini benar-benar aneh" gumam Jia Zhen, kemudian menyerahkan mutiara itu pada Lang Diyu dan Du Fang Ren, lalu menjelaskan kegunaan mutiara tersebut.
"Terima kasih, Tuan Muda!" ucap mereka bersamaan.
***
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang setelah kembali ke kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur untuk sekedar melepas lelah.
"Aku masih punya satu hadiah lagi, tapi... pada siapa aku harus memberikan bunga ini?"
"Zhen Jia, mungkin dia akan senang jika aku memberikan bunga ini padanya."
"Kakak mau memberiku bunga apa?" tanya Zhen Jia berdiri diambang pintu kamar.
Jia Zhen kembali menghela napas panjang, "Kenapa tidak mengetuk pintu?"
"Memangnya salah?"
Jia Zhen berdiri kemudian menghampiri Zhen Jia, meski sikap adiknya itu kadang sedikit mengesalkan, namun tetap tidak merubah kenyataan jika dirinya sangat menyayangi Zhen Jia.
"Aku rasa tidak masalah jika memberi bunga lotus itu padanya, lagipula aku sangat menyayanginya, walaupun hanya sebagai adik" gumam Jia Zhen dalam hatinya.
Setelah itu, Jia Zhen mengeluarkan bunga lotus jiwa abadi dari cincin penyimpanannya, lalu menyerahkan setangkai bunga tersebut pada Zhen Jia, dan saat Zhen Jia menyentuhnya, bunga itu langsung mekar dan memancarkan cahaya terang.
"Kakak, kenapa ini?"
"Jika penjelasan mereka memang benar, artinya Zhen Jia juga menyayangiku dengan tulus" gumam Jia Zhen.
Tidak lama berselang, bunga lotus yang masih memancarkan cahaya itu tiba-tiba saja melayang di udara, kemudian masuk ke tubuh Zhen Jia dan langsung menyatu dengan jiwanya.