Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-192. Xin Yi


Setelah keduanya duduk di meja makan dan mulai menikmati hidangan yang ada di sana, pria itu kemudian menjelaskan apa tujuannya yang sebenarnya, yaitu hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Apakah itu takhta kekuasan penguasa semesta?" tanya Lin Feng.


Pria itu menggeleng, "Aku tidak menginginkan takhta penguasa, karena prinsip ku hampir sama dengan mu."


"Maksudmu?"


"Aku tidak mau membebani pikiranku dengan hal-hal yang tidak penting dan menurutku, menjadi penguasa itu bukanlah hal yang penting."


Lin Feng mendengarkan dengan seksama, meski masih tidak yakin dengan perkataan pria di depannya itu, namun Lin Feng tidak menemukan adanya kebohongan dalam mata ataupun ucapannya, yang artinya, pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.


"Ada beberapa hal yang harus aku ambil kembali."


"Boleh aku tahu apa saja hal itu?"


Pria itu mengangguk, kemudian mengatakan beberapa hal yang ia maksud, yang pertama adalah bongkahan meteor, lalu yang kedua adalah sepasang telur Beast Phoenix hitam, yang ia yakini sudah menetas.


Namun, ia juga mengatakan jika dua hal itu tidaklah terlalu penting, jadi mungkin dua hal itu tidak akan menjadi perioritas utamanya. Karena perioritas utamanya adalah mendapatkan keturunan terakhir Beast Surgawi.


"Beast Surgawi?"


"Beast Surgawi ini adalah Beast yang sangat kuat, mereka bisa menjelma menjadi apa saja sesuai keinginannya" jelas pria tersebut.


"Dia bisa menjadi manusia, iblis, siluman, roh, bahkan Dewa tanpa ada yang mengetahuinya, tapi..."


"Tapi?"


"Aku yakin dia tidak akan bisa sembunyi dari matamu, karena kau memiliki sepasang mata yang bagus."


"Tidak perlu memuji."


"Aku tidak memuji, hanya mengatakan yang sebenarnya saja" sahut pria tersebut.


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang, "Jika memang hanya itu saja tujuanmu, maka aku akan berusaha membantumu mendapatkannya, bahkan dua diantaranya ada padaku."


"Aku tahu, tapi apa kau mau menyerahkannya begitu saja?"


"Jika ini adalah jalan terbaik, maka aku akan melakukannya, lagipula, aku tidak ingin ketenangan alam semesta terganggu karena pertarungan kita" jawab Lin Feng.


"Baiklah, aku tunggu kau datang membawanya ke sini, kalaupun tidak, aku juga tidak akan mempermasalahkannya, karena perioritas utamaku bukan dua hal itu."


"Kau serius?"


Pria itu mengangguk, "Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku."


Lin Feng menghela napas lega setelah mendengar perkataan pria tersebut, meski ia tidak bisa sepenuhnya yakin pada pria itu, tapi setidaknya, Lin Feng tidak perlu terlalu mencemaskan hal tersebut, jadi dia hanya perlu fokus untuk menemukan Beast Surgawi.


Takut? Tentu saja tidak! Lin Feng tidak pernah merasa takut saat berhadapan dengan siapapun, tidak peduli seberapa hebat kekuatan lawan, atau seberapa kecil kemungkinannya untuk bisa menang, ia tidak akan pernah merasakan yang namanya takut.


Hanya saja, dia mencoba untuk bersikap lebih bijak dengan tidak menimbulkan keributan, lagipula, pria di hadapannya itu sudah mengungkapkan jika dirinya tidak ingin mencari musuh, lalu apa salahnya jika Lin Feng melakukan hal yang sama.


"Kita sudah mengobrol cukup lama, tapi aku belum tahu namamu" ucap Lin Feng.


"Hahaha! Maafkan aku, aku benar-benar lupa karena sudah lama sejak terakhir kali menerima tamu, namaku Xin Yi."


"Namaku, Lin Feng."


Setelah saling memperkenalkan diri, keduanya melanjutkan obrolan mereka sembari terus menyantap hidangan yang disediakan, selama obrolan berlangsung, keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan sedikitpun, justru mereka terlihat seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Xin Yi, terima kasih atas sambutan mu yang sangat luar biasa."


"Sama-sama, dan jangan lupa untuk datang lagi jika ada kesempatan" sahut Xin Yi melepas kepergian Lin Feng.


"Tentu!" ujar Lin Feng, kemudian masuk ke gerbang dimensi yang telah ia ciptakan sebelumnya.


"Lin Feng, kau bocah yang menarik, tapi apa kau yakin bisa memenuhi keinginanku itu? Aku rasa tidak!" gumam Xin Yi setelah gerbang dimensi itu tertutup sepenuhnya.


"Hah" Xin Yi menghela napas panjang, "Aku juga sama denganmu, sama-sama ingin menjaga kedamaian alam semesta, tapi aku memiliki caraku sendiri."


***


Daratan Suci.


Xie Long menghela napas kasar ketika melihat Huanran dan teman-temannya datang menghampirinya, padahal dia hanya ingin makan dengan tenang tanpa adanya gangguan apapun, tapi yang ia dapatkan malah tidak sesuai dengan keinginannya.


Meski ia sudah mencoba untuk mengabaikan keberadaan mereka berlima, namun tetap saja tidak bisa, bahkan ketenangannya semakin terusik karena Huanran menanyakan banyak hal padanya, begitupun dengan teman-temannya.


"Apa salahnya, kami kan hanya bertanya?"


"Tapi pertanyaan kalian itu sangat menggangguku!"


"Kau kan bisa mengabaikan kami."


"Hah" lagi dan lagi, Xie Long hanya bisa menghembuskan napas panjang mendengar jawaban Huanran, dan ia merasa, kesabarannya benar-benar sedang diuji saat ini.


"Zilong, apa aku boleh memanggilmu begitu?"


Xie Long tersentak kaget, jelas-jelas nama itu adalah nama pemberian ayahnya dan belum ada yang mengetahui nama itu selain anggota sekte Phoenix Emas.


"Apa jangan-jangan mereka anggota sekte Phoenix Emas?" pikir Xie Long.


"Alasannya?"


"Nama Zilong terdengar jauh lebih cocok untukmu" jawab Huanran.


"Terserah kau saja!"


Huanran kembali melontarkan berbagai macam pertanyaan yang sama sekali tidak penting, namun Xie Long hanya menanggapi dengan seadanya saja, kadang kala dengan anggukan ataupun gelengan kepala.


Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, Xie Long kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa menghiraukan Huanran dan teman-temannya, selesai membayar makanan yang ia pesan, Xie Long bergegas pergi meninggalkan restoran.


Sementara itu.


"Huanran, apa kau yakin bongkahan es itu adalah masa depanmu?"


"Aku sangat yakin!"


"Alasannya?"


"Karena firasat ku!"


"Hanya itu!?"


Huanran hanya mengangguk menjawab pertanyaan temannya, lalu setelahnya, Huanran dan teman-temannya beranjak dari restoran tersebut, namun saat mereka tiba di luar restoran, aura keberadaan Xie Long kembali menghilang tanpa meninggalkan jejak.


Di kedalaman hutan.


"Syukurlah, akhirnya bisa bebas dari mereka!" ujar Xie Long, kemudian melanjutkan perjalanan.


Namun sayangnya, langkah kakinya harus terhenti karena Huanran sudah muncul didepannya, tapi kali ini, ia tidak datang bersama teman-temannya.


"Apa lagi?"


"Zilong, izinkan aku ikut dengan mu" jawab Huanran.


"Ikut? Maksudmu?"


"Aku ingin berpetualang bersamamu dan jangan tolak keinginanku ini!"


"Alasannya?"


"Tidak ada!"


"Kau..." Xie Long mengusap wajah dengan kedua tangannya, sayangnya Huanran adalah wanita, jika tidak, nyawanya pasti akan melayang saat itu juga.


"Huanran, kau sudah menghabiskan semua kesabaran ku, jadi tolong! Jangan ikuti aku lagi atau..."


"Atau apa?"


"Xiao Hua cukup!"


Huanran tersentak kaget, namun bukan nada tinggi Xie Long yang membuatnya terkejut, melainkan nama yang ia sebutkan tanpa sengaja.


"Tadi, kau memanggilku apa?"


"Apa?"


"Zilong!"


"Hah" Xie Long menghela napas panjang, "Aku sudah tidak ingat, jadi lebih baik kau hentikan tingkah konyol mu ini atau aku akan menyakitimu!"