Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-258. Kakak cemburu?


Luo Ning tersenyum menatap putrinya yang terlihat sangat cantik, kemudian memberikan kecupan di kedua pipinya, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


Selain itu, Luo Ning juga meminta maaf karena tidak menyadari keberadaan Zhen Jia sebelumnya.Sama halnya dengan Luo Ning, Lin Feng juga ikut memeluk erat tubuh putrinya itu.


Dan tidak lupa, Lin Feng juga mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Zhen Jia, serta meminta maaf karena dirinya juga terlambat menyadari keberadaan Zhen Jia.


"Ayah, ibu, jangan minta maaf. Ayah dan ibu tidak memiliki kesalahan apapun padaku" sahut Zhen Jia.


"Ibu, apa aku sudah boleh membuka mata?" tanya Jia Zhen yang masih menunggu perintah untuk membuka matanya.


Suara Jia Zhen berhasil memecah kesedihan Luo Ning, bahkan ia tertawa pelan karena hampir saja melupakan putranya yang masih menunggu perintah darinya.


"Iya, kau sudah boleh membuka mata."


Jia Zhen menghela napas lega, kemudian membuka matanya secara perlahan, seulas senyuman terukir di bibirnya ketika melihat adiknya yang berhasil mendapatkan raga.


Setelah itu, mereka kembali duduk di bangku yang ada ditengah-tengah taman. Zhen Jia duduk diantara ayah dan ibunya, karena Luo Ning masih ingin memeluknya, bahkan terlihat tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Ibu, apa hanya Zhen Jia saja yang akan ibu peluk?"


Lin Feng terkekeh pelan, kemudian merangkul pundak putranya itu, "Kau itu laki-laki dan seorang kakak, seharusnya kau bisa mengalah dengan adikmu."


"Ayahmu benar! Lagipula kau sudah sering merasakan hangatnya pelukan ibu" imbuh Luo Ning.


"Kakak cemburu?" tanya Zhen Jia.


"Tidak, aku tidak cemburu sedikitpun, justru aku sangat senang karena kau akhirnya berhasil mewujudkan impianmu" jawab Jia Zhen, kemudian menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Ayah, ibu, ka..."


Xie Ling yang baru saja datang ke taman belakang istana, nampak mematung ketika melihat seorang anak perempuan yang tengah dipeluk oleh ibunya.


Tidak lama berselang, Xie Long juga datang ke taman dan ia juga sama terkejutnya dengan Xie Ling.


"Kemari-lah, ayah akan menjelaskan semuanya" ucap Lin Feng.


Xie Long dan Xie Ling bertukar pandangan, kemudian mengangguk dan menghampiri kedua orang tua mereka, karena bagaimanapun juga, mereka ingin mengetahui siapa anak perempuan itu.


Setelah keduanya duduk di bangku taman yang cukup panjang itu, Lin Feng kemudian menjelaskan siapa Zhen Jia kepada mereka berdua, ia juga berharap agar mereka berdua bisa menerima kehadiran Zhen Jia.


Penjelasan Lin Feng membuat Xie Long dan Xie Ling kaget, karena tidak menyangka jika adik mereka ternyata juga memiliki kembaran, dan tentunya, mereka sangat bahagia serta bisa menerima kehadiran Zhen Jia ditengah-tengah mereka.


"Jia'er, jika Zhen'er menjahili-mu, laporkan saja pada kakakmu ini, agar kakak bisa memberinya hukuman!"


"Terima kasih, kak Ling, tapi kakak tidak pernah jahil padaku."


"Kak, aku sudah besar dan tidak mungkin melakukan hal konyol itu lagi!" ujar Zhen Jia melakukan pembelaan.


"Benarkah? Aku tidak yakin."


"Tidak bisakah kalian sedikit tenang? Jia'er baru saja bertemu dengan kita dan jangan sampai sikap kalian membuatnya merasa tidak nyaman, kalau tidak, aku akan menghukum kalian berdua!" sahut Xie Long.


Xie Ling dan Zhen Jia langsung diam dan tidak mengeluarkan suara lagi, karena tidak seorangpun dari mereka yang ingin mendapatkan hukuman dari kakak tertua mereka itu.


"Ayah senang kalian bisa menerima Zhen Jia, tapi ada satu hal yang harus kalian ketahui" ucap Lin Feng.


Mereka semua mengarahkan pandangannya pada Lin Feng, tak terkecuali Zhen Jia dan juga Luo Ning, mereka berlima nampak sangat penasaran dan ingin mengetahui apa yang akan Lin Feng sampaikan.


Setelah itu, Lin Feng menjelaskan jika raga Zhen Jia belum sepenuhnya sempurna, dan bisa dikatakan, raga yang ditempati oleh jiwanya sekarang ini hanyalah raga yang bersifat sementara dan bukan selamanya.


Namun, bukan berarti Zhen Jia tidak bisa memiliki raga itu lagi, hanya saja, ia harus kembali ke tubuh Jia Zhen setidaknya satu kali dalam tujuh hari, karena kalau tidak, raganya akan benar-benar lenyap dan jiwanya akan terluka.


"Tapi kalian tenang saja, ayah akan berusaha untuk membantu Zhen Jia menemukan raga yang sempurna."


"Tidak apa-apa ayah, bisa berkumpul seperti ini saja sudah membuatku sangat senang, jadi aku tidak membutuhkan raga yang sempurna lagi."


"Kau itu anak ayah dan sudah seharusnya ayah melakukan hal ini untukmu."


"Tapi..."


"Putriku, dengarkan saja apa kata ayahmu, karena semua ini demi kebaikanmu dan kebaikan kita semua" sahut Luo Ning.


Kalaupun takdir menginginkannya untuk tidak bisa memiliki raga yang sempurna, itu sudah tidak menjadi masalah lagi untuknya, karena ia sudah mendapatkan semua yang ia inginkan.


***


Di dalam kamar.


"Kapan kita akan mempertemukan Zhen Jia dengan yang lainnya?" tanya Luo Ning setelah kembali ke kamar mereka.


"Besok" jawab Lin Feng singkat, kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Luo Ning tidak menyahuti perkataan suaminya lagi, karena dirinya tengah mengganti pakaiannya, setelah selesai, ia kemudian naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuh disisi sang suami hingga tidak ada lagi jarak antara mereka.


"Ning'er, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Apa itu?"


Lin Feng kemudian menceritakan tentang dirinya yang diselamatkan oleh Chu Hua dan neneknya, dan sebagai bentuk rasa terima kasih, Lin Feng memutuskan untuk membawa mereka ke dimensi pertama.


Hanya saja, ia tidak membawa mereka berdua ke Dunia Bawah, melainkan meminta Huise untuk mengantar mereka ke kota Zuanshi, atau lebih tepatnya ke keluarga Lin, agar kehidupan mereka bisa lebih terjamin selama berada di kota Zuanshi.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Luo Ning.


"Sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja, aku takut kau tidak setuju dengan keputusanku ini" jawab Lin Feng.


"Aku tidak akan setuju jika Gege membawanya pulang sebagai istri kedua!"


"Hahaha!" Lin Feng tertawa mendengar perkataan istrinya, "Aku tidak mungkin melakukan itu."


"Kalau begitu, aku juga tidak keberatan, karena bagaimanapun juga, mereka telah menyelamatkan nyawa suamiku ini" sahut Luo Ning.


"Terima kasih."


"Tapi aku masih penasaran mengenai dimensi tempat Gege terdampar itu."


"Aku juga tidak tahu apapun dengan dimensi itu, dan mungkin, aku akan menyelidikinya nanti."


"Untuk apa?" tanya Luo Ning.


Lin Feng menghela napas panjang, kemudian menjelaskan tentang keanehan yang ia rasakan di dimensi tersebut dan menurutnya, ada misteri yang harus ia pecahkan di dimensi itu.


Tapi untuk saat ini, Lin Feng hanya akan fokus pada musuh utama mereka, yaitu Xin Yi. Selain itu, ia juga ingin meningkatkan kekuatan anak-anaknya, karena merekalah satu-satunya harapan untuk mengalahkan Xin Yi.


"Kali ini, izinkan aku membantu" ucap Luo Ning.


Lin Feng tersenyum, "Ning'er, aku..."


Luo Ning menghentikan ucapan Lin Feng dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya itu, kemudian ia bangkit dari tempat tidur lalu naik ke tubuh sang suami.


"Kau mau apa?" tanya Lin Feng.


"Melakukan tugasku sebagai seorang istri."


***


Esoknya.


Lin Feng mengumpulkan semua anggota keluarga Asura dan juga seluruh penduduk kerajaan Dunia Bawah, karena hari ini, ia ingin memperkenalkan putri bungsunya kepada mereka semua.


Awalnya Zhen Jia sempat menolak untuk dikenalkan pada yang lainnya, karena dalam dadanya masih ada sedikit rasa takut, takut jika kehadirannya tidak bisa diterima oleh seluruh anggota keluarga Asura.


Namun setelah dibujuk oleh ketiga kakaknya, Zhen Jia akhirnya mau dikenalkan pada seluruh anggota keluarga, selain itu, ia juga tidak bisa menoleh keinginan ayah dan ibunya itu.


Dan tanpa ia duga, kehadirannya justru disambut dengan baik oleh anggota keluarga Asura, begitupun dengan para penduduk kerajaan yang nampak bahagia menyambut dirinya.


"Lihat? Mereka semua menyambut-mu dengan perasaan bahagia" ucap Jia Zhen.


"Mulai sekarang, kau tidak usah merasa khawatir lagi, karena dirimu adalah bagian dari keluarga ini juga" Xie Ling menambahkan.


Saat semua orang tengah diselimuti oleh perasaan bahagia, Dewi Nuwa tiba-tiba saja datang dengan membawa kabar buruk, bahkan kabar itu berhasil melenyapkan kebahagiaan yang mereka rasakan sebelumnya.