
Waktu kian bergulir, beberapa bulan kembali berlalu dengan sangat cepat, namun keberadaan Lin Feng masih belum juga ditemukan, padahal mereka sudah mengunjungi sepuluh dimensi yang mereka ketahui, namun hasilnya tetap sama.
Saat mengunjungi dimensi ke tujuh, Jia Zhen juga sempat menemui Xiao Lang di istananya, karena bagaimanapun juga, penguasa dimensi ketujuh dan penguasa semesta itu adalah saudara ayahnya, bahkan sudah menjadi bagian dari keluarga Asura.
Oleh karena itu, Jia Zhen memutuskan untuk menceritakan masalah yang menimpa ayahnya pada Xiao Lang, namun ia tidak meminta bantuan pada Xiao Lang, bahkan menolak bantuan dari Xiao Lang, karena menurutnya, Xiao Lang memiliki tugas yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan.
Selain dimensi ke tujuh, Jia Zhen juga sempat mendatangi dimensi kesembilan untuk menemui murid ayahnya, dan sama halnya dengan Xiao Lang, Jia Zhen juga menolak bantuan dari Wu Nan, bahkan ia berpesan agar Wu Nan tetap menjalankan tugas dari ayahnya.
"Tuan Muda, kemana tujuan kita setelah ini?" tanya Huise. Saat ini mereka masih berada di dimensi kesebelas, dimensi terakhir yang mereka ketahui.
Jia Zhen mengangkat wajahnya, menatap langit biru yang membentang luas di atasnya, "Entahlah, paman. Aku sendiri juga tidak tahu harus kemana lagi mencari ayah" ucapnya.
"Tapi kita tidak boleh putus asa, karena aku yakin ayah juga sedang menunggu kedatangan kita" lanjutnya.
"Tuan Muda, aku punya saran."
Jia Zhen menoleh pada Yin Ouyang, "Silahkan, paman"
"Saat ini, kita memang tidak mengetahui keberadaan Tuan, bahkan kekuatan jiwa Huise juga tidak bisa menjangkaunya, tapi menurutku, masih ada satu cara yang bisa kita lakukan."
Cara yang dimaksud oleh Yin Ouyang adalah dengan menggunakan kekuatan Jia Zhen, mereka semua tentunya mengetahui jika Jia Zhen memiliki kekuatan murni yang sama seperti ayahnya, yaitu kekuatan petir surgawi dan api emas.
Memang benar, kedua kekuatan ini tidak sebanding dengan kekuatan Asura, namun kedua kekuatan ini sudah lebih dulu ada dalam diri Lin Feng sebelum kekuatan Asura, bahkan mungkin kedua kekuatan ini adalah kekuatan sejati milik Lin Feng.
Ada beberapa alasan yang membuat Yin Ouyang sangat yakin dengan pemikirannya itu. Pertama karena pedang emas hitam, jauh sebelum memiliki kekuatan Asura, Lin Feng sudah memiliki pedang emas hitam dan kekuatan sejati pedang itu adalah petir surgawi.
Alasan kedua adalah kekuatan api emas, mungkin keberadaan kekuatan ini belum terlalu lama, tapi bangkitnya kekuatan api emas berkat kekuatan darah Phoenix dalam diri Lin Feng, dengan kata lain, kekuatan ini juga merupakan kekuatan sejati milik Lin Feng.
Dengan adanya dua kekuatan ini, Jia Zhen pasti bisa merasakan keberadaan ayahnya, bagaimanapun juga, kekuatan Jia Zhen pastinya terhubung dengan kekuatan Lin Feng, karena pada dasarnya, kekuatan Jia Zhen saat ini berasal dari ayahnya itu sendiri.
Jia Zhen diam sejenak memikirkan saran dari Yin Ouyang, "Yang paman katakan memang ada benarnya, kalau begitu aku akan mencobanya" ucap Jia Zhen, kemudian duduk bersila di tanah.
Setelah menutup kedua matanya, Jia Zhen langsung mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia tidak perlu lagi melakukan hal lain untuk membuat hati dan pikirannya tenang, karena ketenangan itu selalu ada bersamanya.
Tubuh Jia Zhen diselimuti oleh aura berwarna biru, kemudian berubah menjadi merah keemasan seiring dengan kekuatan petir yang mulai menyelimuti dirinya, perlahan namun pasti, kekuatan itu semakin membesar hingga membuat tanah bergetar.
"Usianya masih sembilan tahun, tapi kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar dari usianya" ucap Huise.
"Aku yakin, tidak ada anak seusianya yang mampu menandingi kekuatan Tuan Muda" sahut Heilong.
"Tentu saja tidak ada, karena dia adalah Dewa termuda yang pernah ada di alam semesta ini!" ujar Yin Ouyang.
Di alam bawah sadarnya, Jia Zhen seperti melesat melewati lorong dimensi ruang dan waktu, melintasi berbagai dimensi menuju ke tempat yang sangat jauh, hingga kemudian, ia merasakan keberadaan kekuatan yang sama dengannya.
Hanya saja, keberadaan kekuatan itu sangat jauh, bahkan sangat jauh hingga Jia Zhen tidak mampu mencapainya, sangat jauh hingga memaksa kesadarannya untuk kembali ke tubuhnya, karena kalau tidak, dia tidak akan pernah bisa kembali.
Meski mengetahui resiko yang akan dia dapatkan sangat besar, namun Jia Zhen tetap memaksakan kesadarannya untuk mencapai tempat tersebut, ia tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya, karena yang ia inginkan hanyalah menemukan ayahnya.
"Tuan Muda!"
"Lakukan sesuatu!" ujar Huise yang mulai panik.
Mereka kemudian mengelilingi Jia Zhen, kemudian menyemburkan energi kehidupan kedalam tubuhnya agar dia sadar, namun lagi-lagi, usaha mereka tetap tidak membuahkan hasil apapun.
Sementara itu.
Jia Zhen semakin memaksakan kekuatan kesadarannya untuk mencapai keberadaan kekuatan yang ia rasakan, bahkan ia tidak sadar jika kekuatannya semakin melemah dan perlahan mulai hilang.
Kekuatan Jia Zhen terus melemah bahkan kecepatannya sudah sangat menurun, saat dia benar-benar hampir tidak bisa melakukan apapun lagi, Zhen Jia tiba-tiba saja muncul dan memeluknya.
"Bodoh!" ujarnya, air matanya mengalir melewati pipi dan menetes di bahu Jia Zhen.
"Zhen Jia, a-aku..."
"Diam!"
Zhen Jia kemudian melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan Jia Zhen dan membawanya melesat terbang kembali.
"Zhen Jia."
"Menurut kakak, apa ayah akan senang melihat kakak yang seperti ini?"
Jia Zhen terdiam kehabisan kata-kata, ia menyadari kesalahannya yang terlalu memaksakan diri, meski yang ia lakukan itu demi menemukan keberadaan ayahnya, namun ia lupa pada keselamatan diri sendiri.
Jika Zhen Jia tidak datang dan menghentikannya, mungkin kesadarannya akan benar-benar musnah, dan saat hal itu terjadi, maka dia tidak hanya tidak akan pernah menemukan keberadaan ayahnya, justru akan semakin menambah masalah untuk keluarganya.
"Maaf" ucap Jia Zhen setelah diam sangat lama.
Zhen Jia tidak menanggapi perkataan kakaknya, ia masih saja menarik tangan kembarannya itu dan terus melesat terbang kembali, meski begitu, ia tetap tidak bisa menghentikan air matanya, ia benar-benar sedih melihat keadaan kakaknya.
Ditengah perjalanan, Jia Zhen tiba-tiba saja mengingat sesuatu, "Zhen Jia, kenapa kau bisa muncul di sini? Bukankah sebelumnya kau bilang..."
"Aku memaksakan kekuatanku."
"Apakah akan berakibat buruk?"
Zhen Jia kembali diam, ia tidak ingin menjelaskan apa akibat yang akan ia dapatkan jika memaksakan kekuatannya. Namun, kebisuannya itu membuat Jia Zhen sadar, jika tindakannya sudah membahayakan nyawa saudarinya.
Jia Zhen berhenti dan menarik tangannya, sehingga membuat Zhen Jia ikut tertarik karena menggenggam tangan kakaknya dengan erat, seketika itu juga, Jia Zhen merangkul tubuh adiknya kedalam pelukannya.
"Aku janji, ini terakhir kalinya aku melakukan tindakan bodoh" ucap Jia Zhen pelan.
"Bodoh, kakak bodoh!" Zhen Jia yang sudah tidak kuasa menahan air mata, akhirnya menangis dalam pelukan kakaknya.
(Maaf ya malam kemarin sama malam ini cuma satu, ini author lagi kurang sehat, makanya cuma bisa satu. Tapi tenang aja, besok author usahakan langsung 3 chapter, itupun kalo udah pulih.
Sekian untuk hari ini, see you next chapter, Bai-Bai!)