
Alam Nirvana Agung.
Sesuai dengan perintah Luo Ning, Huise langsung meninggalkan kediaman utama klan Lin, lalu pergi ke Alam Nirvana Agung untuk menemui Dewi Nuwa, karena untuk saat ini, hanya dialah satu-satunya harapan yang bisa membantu mereka semua.
"Hormat, yang mulia."
"Huise, aku tahu apa tujuanmu datang ke sini, tapi maaf, aku sudah tidak bisa memberikan bantuan apapun lagi."
"Sebelumnya aku sempat membantu Lin Jianheeng dengan memberikan obat yang bisa memperpanjang umurnya selama satu tahun, dan sekarang, waktu satu tahun itu sudah hampir tiba, jadi aku tidak bisa membantu lagi" ucap Dewi Nuwa.
"Hamba mohon yang mulia, setidaknya sampai Tuan kembali."
"Lin Feng sudah menghilang selama hampir enam tahun, dan sampai saat ini belum ada satupun dari kita yang mengetahui dimana dia berada. Jika dia tidak kunjung kembali, dan aku terus membantu Lin Jianheeng, bukankah ini sama saja dengan aku melawan kehendak takdir?"
"Kembalilah, sampaikan pada mereka jika aku tidak bisa membantu, dan sebaiknya kalian menerima keinginan takdir."
"Baik, yang mulia!" jawab Huise, kemudian pergi meninggalkan istana Dewa.
Setibanya di kediaman keluarga Lin, Huise langsung menyampaikan apa yang dikatakan oleh Dewi Nuwa padanya, namun hal itu justru membuat semua orang semakin sedih, karena apa yang mereka harapkan ternyata tidak bisa mereka dapatkan.
"Ibu, tenanglah, masih ada dua bulan lagi sebelum waktu satu tahun itu berakhir, dan aku yakin Gege akan kembali sebelum waktu itu tiba" ucap Luo Ning menenangkan ibu mertuanya itu.
Ditengah-tengah kesedihan yang tengah melanda seluruh keluarga, salah seorang anggota klan datang dengan tergesa-gesa ke kediaman utama, walaupun napasnya terdengar memburu, namun di wajahnya terpancar kebahagiaan yang sangat jelas.
"Ada apa? Tidak bisakah kau membaca situasi?!"
"Tu-tuan muda... Tuan muda sudah kembali!" ujar pria tersebut.
"Apa?" semua orang yang ada di sana terkejut mendengar perkataan pria itu.
"Benar! Tuan muda sudah kembali, sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini!"
Sesaat setelah pria itu menyelesaikan ucapannya, Lin Feng muncul didepan pintu kediaman utama dengan wajah panik dan juga khawatir, awalnya dia ingin memberikan kejutan kepada keluarganya, namun siapa sangka saat dia kembali, dia malah mendengar berita yang menyayat hatinya.
"Dimana kakek?"
Lin Hua bergegas menghampiri putra semata wayangnya itu dan langsung memeluknya, disaat yang bersamaan, bendungan air mata yang sudah ia tahan sejak lama akhirnya pecah dan mengalir dengan deras hingga membasahi pipinya.
"Tenanglah, Bu. Aku berjanji akan menyelamatkan kakek" ucap Lin Feng membalas pelukan ibunya.
Setelah berhasil menenangkan dirinya dan menghilangkan rasa khawatir dalam dirinya, Lin Hua melepaskan pelukannya dan kemudian membawa Lin Feng menuju ke kamar tempat Lin Jianheeng berada.
Di dalam kamar Lin Jianheeng.
Saat melihat kondisi kakeknya, dada Lin Feng terasa seperti di tusuk oleh puluhan belati dan hatinya terasa seperti disayat-sayat oleh sembilu yang sangat tajam, bahkan Lin Feng sampai tak kuasa menahan derai air matanya ketika merasakan energi kehidupan kakeknya yang sudah mulai menghilang.
"Kakek, maafkan aku karena tidak menyadarinya dari awal, jika saja aku mengetahui hal ini sebelum aku pergi, mungkin kakek tidak akan menderita seperti ini" ucap Lin Feng sembari menghampiri kakeknya yang tergelatak tak sadarkan diri ditempat tidur.
Kemudian, Lin Feng mengeluarkan sebuah guci kecil dari cincin penyimpanannya, lalu ia menuangkan beberapa tetes air yang ada di dalam guci kecil tersebut kedalam mulut kakeknya, dan seketika itu juga, energi kehidupan yang sebelumnya mulai menghilang, kini sudah mulai kembali ke dalam tubuh Lin Jianheeng.
Selain energi kehidupannya yang sudah mulai kembali, kondisi Lin Jianheeng juga sudah semakin membaik, wajah yang sebelumnya sangat pucat, sekarang sudah mendapatkan cahayanya kembali, suhu tubuh yang sebelumnya terasa seperti bongkahan es, sekarang telah berangsur-angsur normal kembali.
"Nak, ba-bagaimana keadaan kakek mu?"
"Kondisi kakek sudah mulai membaik dan aku yakin, sebentar lagi kakek akan sadarkan diri" jawab Lin Feng.
"A-apa kau yakin?" tanya Lin Hua memastikan.
Lin Feng tersenyum seraya menganggukkan kepala, "Sebaiknya kita biarkan kakek istirahat terlebih dahulu, setelah dia sadar nanti, aku akan memberikan obat ini lagi padanya" ucapnya, kemudian membawa ibunya keluar dari sana.
Setelah mereka berdua keluar dari kamar Lin Jianheeng, rentetan pertanyaan mulai terdengar memenuhi telinga Lin Feng, karena semua orang yang ada di sana benar-benar penasaran dengan apa yang telah terjadi selama Lin Feng berada di dalam kamar.
Lalu, setelah Lin Feng menjelaskan bagaimana situasi kakeknya saat ini, seluruh anggota keluarga yang semula menahan napas karena terlalu khawatir, akhirnya bisa menghela napas lega, bahkan kesedihan di wajah mereka juga telah menghilang sepenuhnya.
Disisi lain.
Dua anak kecil berusia tujuh tahun berdiri memandangi Lin Feng dari kejauhan, keduanya terlihat seperti sangat ingin mendekati Lin Feng, namun mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
"Kakak, apa dia itu ayah kita?"
"Entahlah, tapi menurut ciri-ciri yang ibu katakan, dia sepertinya memang ayah kita, lagipula, nenek terlihat begitu dekat dengannya."
"Benar! Aku yakin dia adalah ayah kita, coba lihat, wajah kakak dan wajahnya sangat mirip."
"Apa kau mau ke sana?"
Anak perempuan itu nampak ragu, "Aku takut, bagaimana kalau ternyata dia bukan ayah kita?"
"Jangan takut, lagipula kita hanya ingin bertanya, bukan?"
Setelah mengumpulkan keberaniannya, kedua anak kembar itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri Lin Feng yang masih berada di samping Lin Hua, dan seketika itu juga, pandangan semua orang langsung tertuju pada mereka, begitupun dengan Lin Feng yang langsung mengenali siapa kedua anak itu.
"Ma-maaf, apakah paman adalah ayah kami?"
Lagi-lagi, hati Lin Feng terasa seperti disayat oleh sembilu yang sangat tajam, jika sebelumnya ia merasakan hal itu karena keadaan kakeknya, sekarang rasa perih itu timbul lagi karena pertanyaan yang dilontarkan oleh putranya sendiri.
Dengan menahan air matanya, Lin Feng kemudian berjongkok didepan kedua anaknya, lalu membelai pipi mereka dengan lembut, "Apa yang hati kalian rasakan dan katakan saat melihatku?"
"Hatiku bilang, paman adalah ayah kami" jawab Xie Ling.
"Benarkah? Lalu kenapa kalian masih bertanya? Padahal, hati kalian sudah memberikan jawaban yang pasti" ucap Lin Feng.
"Ayah!" ujar keduanya serempak, kemudian melompat kedalam pelukan Lin Feng.
Haru dan juga bahagia, dua hal itulah yang sedang dirasakan oleh semua orang yang ada di sana ketika menyaksikan pertemuan Lin Feng dan kedua anaknya.
"Ayah, kemana saja ayah selama ini? Kenapa ayah baru kembali sekarang?"
"Kami sangat iri dengan kakak Lin Chen, karena bisa bermain dengan ayahnya, sedangkan kami..." Xie Ling menangis sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.
Air mata Lin Feng jatuh lagi mendengar keluh kesah kedua anaknya itu, ada rasa bersalah yang sangat besar di dalam dirinya saat ini, bahkan ia sendiri sudah tidak bisa lagi menggambarkan betapa besar rasa bersalahnya itu.