
Setelah Dewi Nuwa datang bersama Huise, Jia Zhen kemudian mengutarakan maksudnya yang sebenarnya, yaitu ia ingin Dewi Nuwa membantu ibunya dengan cara menyalurkan energi kehidupan pada ibunya.
Jia Zhen tentu mengetahui jika ibunya adalah seorang Dewi Kehidupan, dengan kata lain, tidak ada energi kehidupan yang lebih besar selain milik ibunya itu. Namun, Jia Zhen juga mengetahui siapa Dewi Nuwa sebenarnya dan hanya dialah yang dapat membantu ibunya.
"Lin Jia Zhen, apa yang membuatmu sangat yakin jika ayahmu masih hidup?" tanya Dewi Nuwa.
"Sederhana saja, aku mungkin tidak lebih tua dari kalian semua, tapi ada satu hal yang menjadi alasan kuat atas keyakinan-ku itu."
"Kalian mungkin lupa, tapi aku tidak, aku ingat dengan jelas jika ayah dan ibu memiliki satu jiwa yang saling terhubung satu sama lain."
"Ayah tidak akan mati jika ibu tidak mati, begitupun sebaliknya dan saat ini, ibu masih hidup, walaupun kondisinya sangatlah lemah, dengan kata lain, ayah masih hidup!"
Semua orang tersentak mendengar perkataan Jia Zhen, mereka tidak menyangka jika ketenangan yang dia tunjukkan selama ini ternyata memiliki alasan yang kuat.
Selain itu, mereka juga tidak pernah menyangka jika pemikiran anak berusia sembilan tahun itu sangatlah luas, bahkan mungkin jauh lebih luas dari mereka semua yang ada di sana.
Selama enam bulan ini, tidak seorangpun dari mereka yang memikirkan hal itu, mereka semua bahkan telah menganggap jika Lin Feng memang sudah meninggal, termasuk Huise. Padahal, jiwanya juga terhubung dengan Lin Feng.
Jika Lin Feng memang sudah meninggal maka ikatan jiwa mereka berdua pasti akan terputus, tapi selama enam bulan ini, Huise tidak merasakan apapun. Dengan kata lain, kemungkinan Lin Feng masih hidup sangatlah besar.
"Betapa bodohnya aku karena berpikir Tuan telah tiada" gumam Huise yang menyadari kesalahannya.
"Yang mulia Dewi, mungkin tidak pantas bagiku untuk meminta hal ini padamu, tapi aku mohon..." Jia Zhen menggantung ucapannya kemudian berlutut didepan Dewi Nuwa, "tolong bantu ibuku."
"Semakin cepat ibuku pulih, maka akan semakin membaik pula keadaan ayah" lanjutnya.
Lagi dan lagi, sikap yang ditunjukkan oleh Jia Zhen berhasil memberikan tamparan keras pada mereka semua.
Bagaimana tidak? Anak berusia sembilan tahun itu telah melakukan banyak hal demi orang tuanya, padahal ia baru saja kembali.
Sedangkan mereka? Selama enam bulan terakhir mereka semua hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun dan hanya bisa meratapi nasib.
Padahal, mereka ada di sana sejak keadaan Luo Ning seperti sekarang ini, dan tidak seorangpun berpikir seperti yang Jia Zhen pikirkan.
"Jia Zhen, bangunlah, tidak pantas bagimu untuk berlutut padaku, justru akulah yang seharusnya malu pada diriku sendiri" ucap Dewi Nuwa.
Ya! Sebagai salah seorang yang telah banyak menerima bantuan dari Lin Feng, Dewi Nuwa benar-benar merasa malu karena dirinya tidak melakukan apapun. Selain itu, ia sekarang merasa seperti seseorang yang tidak tahu balas budi.
"Kau tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu ibumu."
"Terima kasih, yang mulia."
Dewi Nuwa menggeleng pelan, "Tidak! Akulah yang harus berterimakasih, karena sikapmu sudah menyadarkan-ku."
"Ketenangan yang ada pada dirimu tidak pernah dicapai oleh orang lain sebelumnya, dan puncak tertinggi dari ketenangan adalah kehampaan" ucap Dewi Nuwa.
"Aku, Dewi Nuwa, penguasa dimensi pertama, dengan ini memberikan anugerah padamu, mulai saat ini, kau akan dikenal sebagai Dewa Kehampaan!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Dewi Nuwa kemudian mengarahkan telapak tangannya pada Jia Zhen, kemudian dari telapak tangannya memancar cahaya berwarna emas yang langsung menyelimuti tubuh Jia Zhen.
Disaat yang bersamaan, Jia Zhen dapat merasakan kekuatannya meningkat dengan sangat drastis, bahkan tubuhnya melayang dengan sendirinya akibat besarnya kekuatan yang masuk ke dalam dirinya.
Wushh!
Kekuatan yang sangat besar terpancar dari dalam tubuh Jia Zhen, kemudian diikuti oleh suara ledakan teredam, yang menandakan jika kultivasi-nya telah meningkat lagi.
Disisi lain.
Huise dan yang lainnya langsung berlutut dengan satu kaki, mereka menundukkan kepala pada Jia Zhen seraya berkata, "Hormat pada Dewa Kehampaan!"
"Terima kasih, yang mulia" ucap Jia Zhen setelah kakinya kembali menginjak tanah.
"Pergilah, dengan anugerah yang aku berikan, maka kau akan melewati lorong dimensi ruang dan waktu dengan mudah" sahut Dewi Nuwa.
Setelah itu, Jia Zhen langsung berpamitan kepada seluruh anggota keluarganya. Pada awalnya, keputusannya itu sempat ditentang, karena mengingat usianya yang masih sangat kecil.
Namun, mereka semua bungkam ketika Xie Ling angkat bicara dan hanya dia satu-satunya yang memberikan izin pada adiknya itu. Sebenarnya ia ingin ikut bersama adiknya itu, tapi tidak mungkin ia meninggalkan ibunya.
Selain itu, Xie Ling juga sadar jika dirinya hanya akan menjadi beban untuk adiknya, walaupun kekuatannya masih lebih tinggi, namun entah mengapa, Xie Ling merasa dirinya sangat rendah bila dibandingkan dengan adiknya itu.
"Zhen'er, berjanjilah pada kakak, apapun yang terjadi, kau harus membawa ayah kembali dan kau, harus kembali dengan selamat."
Jia Zhen tersenyum, kemudian menghapus jejak air mata di kedua pipi kakaknya, "Kakak tenang saja, aku pasti akan kembali bersama ayah" ucapnya.
Selesai berpamitan, Jia Zhen kemudian berangkat untuk mencari ayahnya, namun ia tidak pergi sendiri, melainkan ditemani oleh seluruh anggota pilar kematian, karena untuk melintasi dimensi, ia masih membutuhkan bantuan mereka.
"Zhen'er, kembalilah dengan selamat" gumam Xie Ling, kemudian kembali ke kamar ibunya.
***
"Zilong, kau tidak ingin membantu Zhen'er?" tanya Huanran setelah hanya tinggal mereka berdua saja di halaman istana.
Xie Long menggelengkan kepalanya, "Aku memang kakaknya, tapi derajatnya jauh lebih tinggi dariku."
"Usianya baru sembilan tahun, tapi adikku itu sudah jauh lebih dewasa daripada diriku" lanjutnya.
Selama ini, Xie Long merasa dirinya mampu melakukan segalanya, tapi setelah semua ini, ia merasa dirinya sangat lemah, bahkan sangat lemah sampai tidak bisa disandingkan dengan adik bungsunya itu.
"Hah" Xie Long menghela napas panjang, membuang semua beban menumpuk di kepalanya, "Aku benar-benar malu pada diriku sendiri" gumamnya.
Huanran yang mengerti keresahan hati kekasihnya itu, kemudian mendekat dan memeluknya dari belakang, "Jangan salahkan dirimu, semua ini terjadi diluar perkiraan kita" ucapnya.
"Aku tahu itu, tapi aku benar-benar merasa sangat bodoh sekarang" sahut Xie Long.
"Xiao Hua."
"Hmm?"
"Aku ingin bermeditasi untuk menenangkan diri, dan selama aku bermeditasi, aku ingin kau tetap di sini menjaga ibu."
Huanran melepaskan pelukannya, "Aku tidak akan meninggalkan ibu, karena bagaimanapun juga, aku sudah menganggap ibu sebagai ibuku sendiri" ucapnya.
Xie Long menunjukkan senyuman terbaiknya, kemudian membelai lembut pipi kekasihnya itu, "Terima kasih."