
Dewi Nuwa dan yang lainnya kembali dikejutkan dengan kemunculan aura kekuatan dahsyat lainnya, apalagi setelah mengetahui aura kekuatan itu berasal dari Dewa Huo, dan tentunya tidak seorangpun dari mereka yang menduga jika Dewa Huo memiliki kekuatan tersembunyi.
Satu-satunya orang yang tidak terkejut sama sekali adalah Lin Feng, walaupun ia sebelumnya tidak mengetahui seberapa besar kekuatan Dewa Huo yang sebenarnya, namun ia sudah menduga jika Dewa Huo memiliki kekuatan tersembunyi sama seperti dirinya.
"Pertarungan antara kau dan aku sepertinya memang sudah diatur oleh takdir sejak lama, bahkan aku sampai tidak menduga jika di dalam tubuhmu tersimpan darah leluhur para penguasa dimensi kesembilan" ucap Lin Feng.
"Hahahaha, jika kau ingin menyerah, maka sekaranglah saatnya" sahut Dewa Huo.
"Menyerah? Sepertinya kau masih menganggap diriku sama seperti Asura yang pernah di hadapi oleh leluhur penguasa kesembilan ribuan tahun yang lalu."
"Apa maksudmu?" Dewa Huo nampak bingung dengan ucapan Lin Feng.
"Lupakan saja, karena tidak ada gunanya bicara dengan seekor keledai dungu sepertimu" jawab Lin Feng.
"Hahahaha, tidak masalah kau mau memanggilku bagaimana, karena bagaimanapun juga, akulah yang akan mencabut nyawamu, Dewa Asura!" ujar Dewa Huo, kemudian menghilang dari pandangan.
Disaat yang bersamaan, Lin Feng juga menghilang dari pandangan, dan seketika itu juga, di udara mulai muncul percikan api akibat benturan serangan mereka, kemudian diiringi oleh suara ledakan yang menggema di seluruh medan peperangan.
Selain itu, luapan energi yang berasal dari dua kekuatan berbeda juga muncul, sehingga menyebabkan terjadinya benturan aura kekuatan yang sangat dahsyat, bahkan benturan kekuatan mereka berdua sampai membuat seluruh alam Dewa bergetar karenanya.
Pertarungan antara Lin Feng melawan Dewa Huo, tidaklah sama seperti pertarungan yang terjadi antara para kultivator ataupun para Dewa biasa, pasalnya, kekuatan yang mereka miliki, sudah sangat jauh melebihi pencapaian para kultivator atau para Dewa sekalipun.
Slash!
Salah satu serangan Lin Feng berhasil mendarat tepat di tubuh Dewa Huo dan melukainya, namun luka tersebut langsung sembuh hanya dalam sekejap saja, bahkan luka tersebut telah sembuh sebelum darah ditubuhnya sempat mengalir keluar dari sana.
"Hahaha, apa kau lihat itu? Aku sudah menjadi sosok yang abadi , jadi tidak ada gunanya kau melawanku, karena sampai kapanpun, kau tidak akan bisa membunuhku!" ujar Dewa Huo disela-sela pertarungan.
"Benarkah? Kalau begitu, mari kita buktikan kebenaran dari ucapan mu itu" sahut Lin Feng.
Setelah itu, keduanya saling menjauhi satu sama lain hingga dalam jarak yang cukup jauh, kemudian, keduanya mengerahkan aura kekuatan yang sangat besar dan lagi-lagi, aura kekuatan mereka berhasil membuat seluruh daratan di Alam Dewa bergetar karenanya.
"Lin Feng, akan aku gunakan teknik mu untuk mengalahkan mu!"
Dewa Huo kemudian membentuk segel tangan dan setelah beberapa saat berlalu, di langit muncul sebilah pedang energi berwarna hitam dengan ukuran yang sangat besar serta memancarkan aura kekuatan yang sangat dahsyat.
"Jadi kau meniru teknik pedang semesta milikku, ya? Lumayan juga" sahut Lin Feng.
"Lumayan? Sepertinya kau belum sepenuhnya bangun dari tidur!" ujar Dewa Huo.
Lin Feng hanya menanggapi perkataan Dewa Huo dengan senyuman remeh, kemudian ia mengarahkan tangan kirinya ke langit, "Teknik pedang hampa, pedang semesta!" ucapnya, lalu sebilah pedang dengan ukuran yang sama muncul lagi di langit.
Meski ukuran kedua pedang itu terlihat sama, namun ada beberapa perbedaan yang cukup besar antara keduanya, misalnya seperti warna dari pedang itu sendiri. Pedang semesta milik Lin Feng berwarna merah kehitaman, sedangkan pedang Dewa Huo berwarna hitam pekat.
Selain warna, ada juga beberapa perbedaan lain yang bisa dirasakan dengan sangat jelas, salah satunya adalah aura kekuatan yang berasal dari kedua pedang tersebut, dan bisa dikatakan bahwa perbedaan aura kekuatan ini adalah perbedaan yang terlihat dengan jelas dari keduanya.
Suasana mendadak menjadi hening, baik Lin Feng ataupun Dewa Huo, keduanya lebih memilih untuk diam sembari terus mengisi energi mereka kedalam pedang yang telah mereka ciptakan, lalu setelah beberapa saat berlalu, keduanya kemudian menggerakkan tangannya secara bersamaan.
DHUAARRR!
Ledakan yang benar-benar sangat dahsyat terjadi ketika ujung kedua pedang raksasa itu saling bertabrakan, selain menimbulkan suara ledakan yang maha dahsyat, benturan dua senjata itu juga menyebabkan terjadinya ledakan energi yang tidak kalah dahsyatnya.
Tidak hanya itu saja, ledakan yang tercipta dari benturan kedua senjata itu juga menciptakan kehancuran, bahkan seluruh alam Dewa dapat merasakan dampak dari dahsyatnya ledakan tersebut, atau lebih tepatnya, serangan mereka berdua hampir saja menghancurkan alam Dewa dimensi kesepuluh.
***
Sebelumnya.
Saat Dewa Huo menciptakan sebuah pedang yang mirip dengan teknik pedang semesta milik Lin Feng, Dewi Nuwa sudah menyadari jika hal buruk akan segera terjadi, oleh sebab itu, Dewi Nuwa langsung memerintahkan seluruh pasukan untuk meninggalkan Alam Dewa.
"Huise, perintahkan semua pasukan untuk mundur, kita pergi ke alam manusia sekarang juga!"
"Ada apa yang mulia? Kenapa kita harus mundur?" jawab Huise, ia merasa bingung dengan keputusan mendadak Dewi Nuwa.
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, sekarang tugas kita adalah melindungi alam manusia!" ujar Dewi Nuwa.
Meski masih belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, namun Huise tetap menuruti perintah yang diberikan oleh Dewi Nuwa untuk mundur, lalu, saat ia dan yang lainnya hendak meninggalkan tempat itu, barulah ia menyadari alasan kenapa Dewi Nuwa mengambil keputusan tersebut.
"Cepat mundur! Jika tidak, kalian semua pasti akan mati!" ujar Huise.
Disisi lain.
Xiao Lang yang masih bertarung dengan Ziran dan hampir berhasil membunuhnya, terpaksa mengurung niatnya itu setelah menyadari apa yang akan segera terjadi, karena yang harus ia pikirkan sekarang bukan lagi pertarungannya dengan Ziran, melainkan nyawa manusia yang ada di dimensi kesepuluh ini.
"Lin Feng, semoga saja pertarungan mu ini tidak menjadi penyebab musnahnya manusia di dimensi kesepuluh ini" gumamnya sembari melesat terbang meninggalkan alam Dewa.
Alam manusia, dimensi kesepuluh.
"Dewi Nuwa, apa semua pasukan sudah siap?" tanya Xiao Lang yang baru saja muncul di alam manusia.
Dewi Nuwa mengangguk, "Semua sudah siap!"
"Baiklah, mari kita lakukan bersama-sama" ucapnya, kemudian mengarahkan pandangannya pada seluruh pasukan aliansi.
"Dengarkan aku baik-baik! Kerahkan semua kekuatan yang kalian miliki dan ciptakan formasi pelindung terkuat yang kalian kuasai!"
"Baik, yang mulia!" jawab seluruh pasukan Aliansi.
"Tujuh pilar, kalian ikut denganku" ucap Dewi Nuwa.
"Baik, yang mulia!"
"Aku juga akan membantu!"