Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-188. Wanita menyebalkan!


Di satu dimensi yang sangat jauh.


Sepasang mata berwarna merah darah akhirnya terbuka setelah terpejam untuk waktu yang sangat lama, aura yang begitu kuat langsung menyebar bersamaan dengan tatapan tajam yang menyusuri setiap sudut ruangan.


Perlahan namun pasti, sosok berbadan tegap berisi itu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat duduk, aura gelap yang menyelimuti tubuhnya akan membuat siapapun bergidik ngeri saat bertemu dengan dirinya.


Pupil mata berwarna merah menyala serta tatapan yang begitu tajam bagaikan pisau, akan membuat orang-orang berpikir ribuan kali sebelum memiliki niat untuk sekedar bertegur sapa dengannya.


Darah yang mengalir dalam dirinya juga akan membuat orang-orang merasa bingung, karena di dalam dirinya mengalir berbagai macam darah dari hampir semua jenis penghuni alam semesta ini.


Dewa, manusia, iblis, siluman, bahkan roh, semua darah itu menyatu dan mengalir dalam dirinya, sehingga memberikan kekuatan yang begitu luar biasa dan hampir tidak tertandingi oleh siapapun juga.


"Sudah sekian lama aku bermeditasi, akhirnya aku menemukan keberadaannya" gumam pria yang nampaknya berusia 35 tahun itu.


Pria itu memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali setelah beberapa saat berlalu, tatapan matanya terfokus ke arah depan, menatap ruang hampa yang tidak terhitung luasnya.


"Hmm? Sepertinya ini akan menarik, aku tidak menyangka jika sahabat lamaku sudah dibangkitkan lagi."


Senyuman aneh terbentuk di bibirnya, menampakkan deretan gigi putih dengan taring yang cukup panjang, "Aku harap kau tidak melupakanku, teman. Atau... harus ku sebut kau sebagai musuh abadi?"


"Ah, apa ini? Aku tidak menyangka kau yang sekarang sudah berkeluarga?"


Pria itu terus bicara pada dirinya sendiri ketika melihat gambaran peristiwa yang terjadi di dimensi lain dengan kedua matanya, hingga akhirnya, ekspresi wajahnya berubah setelah melihat sesuatu yang mengganggu penglihatannya.


"Sebaiknya kalian bersiap-siap, karena aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" ujarnya, masih dengan wajah yang datar.


Setelah merasa tidak ada hal lain lagi yang perlu ia ketahui, pria itu kemudian mengedipkan kedua matanya dan seketika itu juga, gambaran peristiwa di dimensi lain yang sebelumnya ia saksikan, langsung lenyap begitu saja.


***


Daratan Suci.


"Terima kasih."


"Lupakan saja!" ujar Xie Long.


Huanran melebarkan pandangannya ketika mendengar ucapan Xie Long, "Kau ini manusia atau batu? Aku mengucapkan terima kasih dan hanya itu saja tanggapan mu?"


Kesal, sudah pasti, Huanran sudah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang di berikan oleh Xie Long, tapi tanggapan yang ia dapatkan malah sikap dingin bagaikan gunung es, siapapun pasti akan kesal jika berada di posisinya sekarang.


"Lalu, kau mengharapkan apa dariku?"


"Kau..."


"Apa?"


"Dasar batu!"


"Apa bedanya dengan mu?"


"Jangan samakan aku denganmu, bocah sialan!"


"Lalu apa hak mu menyamakan aku dengan batu?"


"Karena kau memang pantas disamakan dengan batu, memangnya ada manusia berhati keras sepertimu!?"


"Tentu saja ada!"


"Siapa?"


"Ya, aku!"


Habis sudah kesabaran Huanran menghadapi remaja didepannya itu, dan jika bukan mengingat bantuan yang ia berikan, mungkin Huanran sudah menantang remaja itu untuk bertarung dengannya.


Meski ia sendiri tidak tahu seberapa besar kekuatan remaja didepannya itu, namun jika mereka bertarung, meski tidak yakin apakah bisa menang atau tidak, namun ia percaya jika kekuatannya masih mampu mengimbangi kekuatan Xie Long.


"Dasar batu!"


"Tidak ada!"


"Lalu kenapa kau mengikuti ku?"


"Apa hak mu melarang ku?"


Xie Long tersenyum masam mendengar ucapan gadis itu, bahkan sebelah alisnya berkedut karena gadis itu mengulang ucapannya. Jika saja lawan bicaranya saat ini adalah laki-laki, mungkin riwayatnya akan tamat saat itu juga.


"Apa hak ku? Kau itu membuntuti ku selama berhari-hari, jadi aku tidak hanya berhak untuk menanyakan maksud dan tujuanmu mengikuti ku, tapi juga berhak untuk melarang mu!"


"Kau bukan ayahku yang bisa melarang ku, lagipula, ini hidupku dan aku bebas melakukan apa yang aku inginkan."


Lagi dan lagi, Xie Long harus menghembuskan napas kasar berulang-ulang untuk menahan emosinya, dan jujur saja, ia benar-benar menyesal karena telah menyelamatkan gadis tersebut.


"Satu lagi, kau harus tanggung jawab!" ujar gadis tersebut.


"Maksudmu?"


"Lihat ini" gadis itu menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah karena digenggam terlalu kuat, "Tanganku sakit karena kau genggam terlalu erat, jadi kau harus bertanggung jawab."


Boom!


Ledakan yang cukup keras terjadi ketika Xie Long menghantam tinjunya ke pohon didekatnya, kekesalannya yang sudah mencapai batas terpaksa ia lampiaskan pada pohon tersebut hingga membuat pohon besar itu hancur berkeping-keping.


Gadis bercadar itu tentunya kaget melihat pohon yang begitu besar hancur hanya dengan satu pukulan, keberanian yang ia miliki seketika menciut saat matanya berpapasan dengan tatapan tajam Xie Long.


"Berhenti mengikuti ku atau nasibmu akan sama dengan pohon ini!" ujar Xie Long, kemudian menghilang dari pandangan.


Setelah Xie Long pergi, Huanran kembali mengarahkan pandangannya pada pohon yang telah hancur, "Kasihan sekali pohon ini, padahal dia tidak salah apa-apa" gumamnya.


"Tapi, kekuatannya benar-benar luar biasa, entah kenapa aku malah semakin penasaran dengannya."


Kekuatan pukulan yang luar biasa serta ancaman yang ia berikan, seharusnya membuat siapapun berpikir berkali-kali untuk mendekatinya, tapi tidak dengan Huanran, ia malah semakin ingin mendekati putra Dewa kematian itu.


***


Dimensi kesembilan.


Lin Feng yang sedang bermeditasi tiba-tiba saja terbangun saat merasakan getaran aneh dalam dirinya, dan karena khawatir, ia langsung melihat keadaan keluarganya di dimensi pertama, termasuk keadaan Xiao Lang di dimensi ketujuh.


Napas lega keluar dari mulut Lin Feng setelah mengetahui semuanya dalam keadaan baik-baik saja, namun entah kenapa, perasaan khawatir yang ia rasakan tidak kunjung menghilang, dan anehnya lagi, ada firasat buruk yang mendadak muncul dalam dirinya.


"Akankah ketenangan yang sudah aku dapatkan dengan susah payah ini lenyap lagi?"


Lin Feng menatap langit biru yang membentang luas, hal ini biasanya ia lakukan untuk membuang kecemasan yang muncul tanpa sebab, namun bukannya menghilang, kecemasan itu malah semakin membesar dan terus bertambah.


"Guru, apa yang terjadi?"


Setelah lama mengikuti Lin Feng, Wu Nan kini sudah mulai mengerti jika gurunya itu sedang dilanda masalah, apalagi gurunya itu tengah menatap langit biru nan luas sangat lama, yang menandakan ada masalah besar yang mengganggu pikiran gurunya.


Lin Feng menggeleng pelan, "Semuanya baik-baik saja."


Meski Lin Feng berkata demikian, namun ia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya dari muridnya itu, hanya saja, Wu Nan lebih memilih untuk diam, karena tidak pantas baginya untuk mencampuri urusan gurunya itu, kecuali jika Lin Feng memang menginginkan dia untuk ikut campur.


*


Nah, ada karakter baru lagi nih, kira-kira dia siapa, ya? Dan, siapa sosok yang karakter baru ini cari? Dan siapa pula sahabat lama yang ia maksud?


Hmm? Masih banyak misteri yang masih belum terungkap...


Oke, sekian dulu untuk hari ini, jika kalian penasaran dengan karakter baru ini, jangan lupa tekan tombol like, kalau ada saran, jangan segan-segan untuk tulis di kolom komentar.


Dan jangan lupa, berikan juga dukungan agar Author selalu semangat melanjutkan cerita ini.


See you next Chapter, Bai Bai!