
Pada awalnya, perjalanan Jia Zhen berjalan biasa saja, ia juga merasa seperti tengah melewati jalan biasa menuju ke jalan keluar, namun setelah beberapa puluh langkah menapaki jalan tersebut, keanehan mulai terjadi.
Disisi kiri dan kanan jalan, mendadak muncul puluhan kedai yang menjajakan barang dagangan, yang mereka jual adalah berbagai jenis senjata, armor, sumberdaya dan juga tanaman herbal, dan semuanya adalah barang langka.
Salah seorang pedagang menghampiri Jia Zhen dengan membawa sebilah pedang, ia menawarkan pedang tersebut pada Jia Zhen dengan harga yang sangat murah, padahal kualitasnya jelas jauh melebihi harga yang ditawarkan oleh pedagang tersebut.
Karena merasa ada yang aneh, Jia Zhen lebih memilih untuk mengabaikan pedagang itu, ia juga menolaknya dengan cara yang lembut, agar pedagang itu tidak merasa tersinggung atas ucapannya.
Lepas dari satu pedagang, datang lagi pedagang yang lain, namun ia menawarkan berbagai jenis sumberdaya langka, lalu disusul oleh pedagang lainnya yang menawarkan berbagai jenis tanaman herbal.
Akan tetapi, Jia Zhen masih menolak mereka dengan cara yang sama, karena tujuannya kali ini adalah segera keluar dari tempat yang aneh itu, lagipula, ia masih belum membutuhkan semua itu.
"Tempat ini sungguh aneh" gumam Jia Zhen mempercepat langkah kakinya.
Tidak lama kemudian, Jia Zhen kembali dikejutkan dengan kemunculan kakeknya disisi kanan jalan, ia melambaikan tangannya pada Jia Zhen seolah sedang memanggilnya untuk mendekat.
Jia Zhen yang memang sudah manja pada Luo Ming An sejak kecil, tentu tidak tahan untuk tidak mendekati kakeknya itu, namun saat langkahnya hampir berubah arah, Jia Zhen kembali mendengar suara tetesan air dari dalam dirinya.
"Tidak! Aku harus fokus!" ujarnya.
"Kakek, maafkan aku, tapi aku bukan anak kecil lagi yang harus dimanja" ucapnya dalam hati.
Setelah berbagai macam hal yang ia temui disepanjang perjalanan, Jia Zhen akhirnya berhasil mencapai gerbang yang sangat besar tersebut, ia berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk keluar dari sana.
"Meski hampir goyah, namun kau tetap fokus pada tujuan, kau benar-benar sosok yang luar biasa!"
Suara seseorang terdengar dari luar gerbang, namun anehnya, Jia Zhen tidak melihat siapapun di sana, padahal gerbang itu tengah terbuka lebar.
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "Mungkin hanya perasaanku saja" gumamnya, kemudian melangkah melewati gerbang tersebut.
Awalnya, Jia Zhen berpikir jika dirinya akan keluar dari tempat yang aneh itu, namun setelah melewati gerbang, ia malah berada ditempat yang berbeda dari dua tempat sebelumnya.
"Ayah, ibu, kenapa mereka ada di sini?" gumam Jia Zhen, kemudian mendekati dua sosok yang ia yakini sebagai ayah dan ibunya.
"Ayah, ibu, apa yang..." perkataan Jia Zhen terhenti, ekspresi wajahnya langsung berubah ketika melihat dua sosok didepannya itu.
Kedua sosok itu memanglah ayah dan ibunya, namun saat ini, keadaan mereka sangat jauh dari kata baik-baik saja, karena keduanya tengah terbujur kaku dan tidak bernyawa lagi.
Di sekujur tubuh mereka terdapat banyak sekali luka, baik luka tebasan ataupun luka tusukan, benar-benar memenuhi setiap bagian tubuh kedua orang tuanya itu.
Darah segar masih mengalir dari setiap luka di tubuh mereka, yang menandakan jika keduanya baru saja meninggal. Jia Zhen yang tak kuasa menahan kesedihan akhirnya menangis sejadi-jadinya.
Slash!
Arkhhh!
Suara tebasan yang kemudian diiringi oleh suara teriakan terdengar jelas di telinga Jia Zhen, seketika itu juga, Jia Zhen menoleh kearah sumber suara, karena suara teriakan barusan terdengar begitu akrab di telinganya.
Benar saja, saat ia menemukan dimana sumber suara itu berasal, kesedihan Jia Zhen semakin menjadi-jadi, karena suara teriakan barusan berasal dari kakak perempuannya, yaitu Lin Xie Ling.
Slash!
Sebelum Jia Zhen sampai didekat kakak perempuannya, suara tebasan lainnya kembali terdengar. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Jia Zhen menoleh kearah sumber suara tebasan barusan.
"Ka-kak Long!"
Tidak jauh dari Jia Zhen, terlihat Lin Xie Long yang juga terbujur kaku, sekujur tubuhnya juga penuh dengan luka dan keadaannya, bahkan lebih parah dari keadaan Lin Xie Ling.
Kemudian, suara tebasan lainnya kembali terdengar di telinga Jia Zhen, suara itu berasal dari kakeknya, lalu diikuti oleh semua anggota keluarganya yang lain, mereka semua telah dibunuh oleh sosok yang tidak diketahui.
"A-apa yang terjadi?"
"Ayah, ibu, bangunlah! Kalian semua, bangunlah!"
"Arghhh!"
Jia Zhen berteriak dengan sangat kencang untuk melampiaskan kesedihannya, karena air matanya sudah tidak bisa keluar lagi, entah karena telah habis atau memang tidak ingin keluar, Jia Zhen sendiri tidak tahu alasannya.
Saat ini, Jia Zhen merasa dirinya benar-benar sangat lemah tidak berdaya, dan ketika dirinya hampir mencapai titik keputusasaan, suara tetesan air kembali terdengar dari dalam dirinya.
Suara itu membuat Jia Zhen terdiam, ia kemudian bangkit dan berdiri dengan susah payah, tubuhnya terasa begitu lemah hingga membuatnya kesulitan untuk berdiri.
"Hah" Jia Zhen menghela napas panjang, "Aku mengerti, semua ini hanya akan membuatku lemah, semua ini hanya akan menjadikanku manusia lemah dan tidak berguna!"
Aura biru menyelimuti tubuh Jia Zhen, dari dalam tubuhnya terpancar energi yang sangat besar, energi yang bahkan melebihi kekuatan maksimal yang ia miliki saat ini.
"Pertama ketenangan, kedua fokus dan yang ketiga keteguhan hati. Tiga hal inilah yang sedang aku lalui, jika aku gagal, semuanya akan sia-sia!"
Jia Zhen menguatkan hatinya, melangkah maju meninggalkan semua hal yang ada di sana, bukannya mengabaikan keluarganya yang telah dibunuh, tapi karena ia tahu bahwa semua itu hanyalah ilusi semata.
"Ayah, ibu, aku akan membuat kalian bangga! Itulah sumpahku!"
Cahaya yang sangat menyilaukan muncul didepan Jia Zhen, menerangi jalannya menuju ke pintu keluar yang sesungguhnya, menerangi jalannya untuk mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai oleh orang lain sebelumnya.
Wushh!
Boom!
Ledakan teredam kembali terdengar dari dalam tubuh Jia Zhen, luapan energi yang keluar dari dalam tubuhnya membuat seluruh tempat itu bergetar hebat, bahkan aura yang menyelimuti tubuhnya membuat air terjun yang deras itu tidak bisa menyentuhnya lagi.
Saat Jia Zhen membuka mata, segala sesuatu di sekitarnya terlihat seperti melambat, ia bisa melihat pergerakan hewan sekecil apapun, bahkan ia bisa melihat dengan jelas kepakan sayap burung yang tengah terbang di ketinggian.
Jia Zhen menengadah ke atas, setiap tetesan air terjun bisa dilihatnya dengan sangat jelas, bahkan air terjun yang turun dengan deras itu, terlihat sangat lambat di mata Jia Zhen dan ya! Ia bahkan melihat air terjun itu seperti berhenti mengalir.
"Jadi ini, yang dimaksud oleh guru" gumam Jia Zhen.