
Beberapa hari berlalu, Lin Feng dan Huise masih berada di istana bintang karena keduanya masih belum memikirkan tujuan mereka yang selanjutnya. Selain itu, Xiao Lang juga meminta mereka berdua untuk tetap tinggal di istana bintang sampai pertemuan para penguasa diadakan.
"Tuan, apa yang Tuan pikirkan?" tanya Huise.
"Kau sendiri pasti sudah mengetahui apa yang aku pikirkan" jawab Lin Feng.
"Tuan, bagaimana jika kita pulang saja? Meskipun hanya sebentar, setidaknya bisa melepaskan rasa rindu Tuan kepada Tuan dan Nona Muda."
Lin Feng menggelengkan kepala, "Tidak, jika aku pulang sekarang, maka akan sulit bagiku untuk pergi meninggalkan mereka lagi, jadi lebih baik aku menahan rasa rinduku sampai waktunya tiba."
Sebenarnya Lin Feng memang berencana untuk kembali agar bisa bertemu dengan keluarganya, namun jika ia kembali sekarang, maka akan sangat sulit baginya untuk pergi meninggalkan mereka lagi.
Jadi, Lin Feng lebih memilih untuk menyelesaikan misinya terlebih dahulu, karena setelah misi itu berhasil ia selesaikan nantinya, maka tidak akan ada lagi yang bisa menghalanginya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Xiao Lang, ia baru saja datang bersama dengan salah seorang putrinya, yaitu Xiao Ling Yun.
"Bukan hal yang penting" jawab Lin Feng.
"Boleh kami bergabung?"
"Tentu, lagipula tempat ini adalah halaman istanamu, jadi kau bisa duduk dimana pun yang kau suka."
"Terima kasih" ucap Xiao Lang, kemudian duduk berseberangan dengan Lin Feng, "Perkenalkan, dia adalah putriku, namanya Xiao Ling Yun"
Lin Feng menoleh kearah Xiao Ling Yun selama beberapa saat, kemudian mengalihkan pandangannya lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun, jangankan untuk berbicara, Lin Feng bahkan tidak tersenyum sedikitpun saat memandangi Xiao Ling Yun.
"Cihh, dasar sombong!" gumam Xiao Ling Yun, ia benar-benar kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Lin Feng padanya.
"Apa ada masalah?" tanya Lin Feng, namun matanya masih menatap jutaan cahaya bintang yang menghiasi langit.
"Apa maksudmu?"
"Kau baru saja menyebutku sombong, apa ada masalah dengan itu?"
Xiao Ling Yun nampak kaget, ia benar-benar tidak menyangka jika Lin Feng ternyata mendengar ucapannya, padahal ia sudah berbicara dengan sangat pelan, bahkan ia sangat yakin tidak ada yang bisa mendengar ucapannya itu, termasuk ayahnya sendiri.
"Hahaha" Xiao Lang tertawa lantang, "Putriku, Lin Feng bukanlah Dewa biasa, jadi wajar jika dia bisa mendengar ucapan mu barusan."
"Heh... luar biasa apanya? Aku yakin dia tidak lebih hebat dari ayah."
"Kau salah, justru dia lebih hebat dari ayah, bukankah begitu, Lin Feng?"
"Kau terlalu merendah, Xiao Lang. Jika aku lebih hebat darimu, mustahil aku tidak bisa mengalahkan mu dalam pertarungan sebelumnya" jawab Lin Feng.
"Ayah dengar itu, kan? Dia sendiri sudah mengakuinya, jadi tidak mungkin dia jauh lebih hebat dari ayah!"
"Sudahlah, siapa yang lebih hebat antara kami berdua, itu sudah tidak penting lagi, karena sekarang, kami sudah menjadi saudara" sahut Xiao Lang.
Walaupun Xiao Lang seperti enggan untuk membahas masalah tersebut, namun ia tidak memungkiri bahwa Lin Feng adalah pemuda yang sangat luar biasa, karena diusianya yang masih sangat muda, Lin Feng sudah mampu menandingi kekuatan penuhnya.
Selain itu, Xiao Lang juga sangat yakin bahwa Lin Feng masih memiliki potensi yang lebih besar lagi dalam dirinya. Saat ini saja, Lin Feng sudah memiliki kekuatan yang setara dengan dirinya, dan tidak menutup kemungkinan jika suatu hari nanti Lin Feng akan memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat lagi.
"Jadi, apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Lin Feng.
"Benar juga, aku sampai melupakan hal itu. Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu" jawab Xiao Lang.
"Apa itu?"
"Yang ingin aku tanyakan adalah, kenapa kau tidak menyempurnakan segel itu? Bukankah kau akan mudah mengalahkan ku jika segel itu dibuka dengan sempurna?"
"Hah" Lin Feng menghela napas panjang "Karena kita sudah bersaudara, maka aku akan menjelaskannya padamu."
Lin Feng kemudian menjelaskan bahwa segel yang ia buka adalah segel untuk melepaskan kekuatan maksimal Dewa Asura, namun untuk bisa membuka segel itu secara sempurna, dibutuhkan dua orang yang memiliki satu jiwa.
"Dua orang satu jiwa, memangnya ada?"
"Dengarkan dulu penjelasan ku" jawab Lin Feng, kemudian melanjutkan penjelasannya.
Dua orang satu jiwa yang ia maksud bukanlah dua orang yang memiliki satu jiwa, melainkan dua orang yang memiliki jiwa berbeda namun saling terhubung atau saling melengkapi satu sama lain, misalnya seperti cahaya dan kegelapan, keduanya memang berbeda, namun saling melengkapi dan akan selalu ada.
"Jadi, siapa orang yang satunya lagi?" tanya Xiao Lang.
"Dia adalah istriku" jawab Lin Feng.
"Dua raga satu jiwa, berbeda namun saling melengkapi bagaikan cahaya dan kegelapan, laki-laki dan perempuan..." Xiao Lang berpikir keras mengenai jiwa yang dimaksud oleh Lin Feng.
"Jangan-jangan..." Xiao Lang nampak terkejut, meski ia tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan saat ini, namun kemungkinan besar, memang itulah kenyataannya.
"Kenapa kau begitu tegang?"
"Lin Feng, ikut aku sebentar" ucap Xiao Lang.
"Kemana?"
"Kau akan segera tahu."
Setelah itu, Xiao Lang dan Lin Feng menghilang dari halaman istana bintang, lalu mereka berdua muncul lagi di suatu ruang hampa yang tidak diketahui oleh Lin Feng.
"Dimana ini?"
"Lihat itu" Xiao Lang mengarahkan telunjuknya pada sesuatu yang ada di bawah mereka, "Jika yang aku pikirkan memang benar, aku yakin kau mengetahui apa itu" lanjutnya.
Lin Feng mengikuti arah yang ditunjuk oleh Xiao Lang, kemudian ia menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti, namun dari apa yang ia lihat, sesuatu yang ada didepannya itu berbentuk seperti sebuah lingkaran raksasa dengan pola Yin dan Yang.
"Lin Feng, apa kau mengetahui apa itu?" tanya Xiao Lang.
Lin Feng mengangguk pelan, "Tidak salah lagi, itu adalah wujud dari dua tubuh satu jiwa, atau yang dikenal dengan jiwa Yin dan Yang."
Xiao Lang tersenyum, "Aku benar-benar tidak menyangka jika diriku bisa bertemu dengan sosok yang sangat luar biasa dalam hidupku ini."
"Sudahlah, aku tidak sehebat yang kau pikirkan, lagipula, masih banyak Dewa lain yang jauh lebih hebat dariku" sahut Lin Feng.
"Semakin rendah ucapan seseorang, artinya semakin tinggi pula derajatnya, dan itulah yang sedang aku saksikan saat ini."
"Kau salah, aku merendah bukan karena derajat ku lebih tinggi, aku merendah karena diriku tidak pernah merasa lebih tinggi dari orang lain. Selain itu, aku juga sama sepertimu, hanya manusia biasa yang dijadikan Dewa oleh takdir."
"Oleh sebab itu, setinggi apapun tempatku berpijak, namun itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa diriku hanyalah manusia biasa."
Xiao Lang tersenyum mendengar ucapan Lin Feng, awalnya ia sempat berpikir bahwa Lin Feng adalah pemuda yang sombong dan juga arogan, namun setelah mengetahui lebih jauh tentang dirinya, Xiao Lang akhirnya mengetahui bahwa Lin Feng adalah pemuda yang sangat rendah diri.
"Aku benar-benar kagum denganmu, Asura" gumam Xiao Lang.
"Namaku Lin Feng, dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun."