Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-68. Hari-hari yang sulit (1)


Waktu bergulir dengan cepat, sudah beberapa hari berlalu sejak Lin Feng terdampar di hamparan padang rumput nan luas itu, dan setelah menyusuri padang rumput itu selama berhari-hari, Lin Feng akhirnya berhasil melihat jalan keluar di kejauhan.


Jauh didepannya, Lin Feng dapat melihat sebuah hutan yang juga sangat luas, walaupun ia sendiri tidak mengetahui apakah hutan itu akan seluas padang rumput tempat ia berada sekarang, namun setidaknya ia bisa lebih tenang jika berada di hutan.


Alasannya, karena di dalam hutan pasti ada buah-buahan yang bisa ia makan dan juga sungai yang bisa diminum airnya. Walaupun berada di hutan justru jauh lebih berbahaya baginya, namun Lin Feng tidak menghiraukan hal tersebut, yang penting ia bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.


Selama beberapa hari menyusuri padang rumput tersebut, Lin Feng terpaksa harus menahan rasa lapar dan juga haus, karena selama berada di sana, ia benar-benar tidak menemukan apapun yang bisa dimakan, bahkan ia tidak menemukan satu sumber mata air pun selama berada di sana.


Sebenarnya Lin Feng masih menyimpan banyak makanan di dalam cincin penyimpanannya, tapi ia tidak bisa mengambilnya, karena untuk bisa menggunakan cincin penyimpanan, ia harus memiliki energi, sedangkan dirinya yang sekarang justru tidak memiliki energi apapun ditubuhnya.


Oleh sebab itu, hal pertama yang harus ia lakukan sekarang hanyalah menemukan makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan, selain itu, makanan juga akan mengembalikan tenaganya yang telah terkuras selama berjalan menyusuri padang rumput tersebut.


***


Menjelang sore datang, Lin Feng akhirnya berhasil mencapai bagian luar hutan, saat ini ia tengah beristri sejenak sembari mengumpulkan kembali tenaganya yang nyaris tidak tersisa lagi. Setelah merasa cukup, Lin Feng kemudian melanjutkan perjalanannya memasuki hutan tersebut.


"Bertahanlah! Sebentar lagi pasti akan ada makanan yang bisa aku temukan" ucapnya menyemangati diri sendiri.


Matahari semakin turun dan suasana di dalam hutan sudah sangat gelap, karena rimbunnya dedaunan dan tingginya pepohonan membuat cahaya matahari sore itu tidak bisa menembusnya. Sementara Lin Feng, ia akhirnya berhasil menemukan sebuah pohon dengan buah yang lebat.


Lin Feng makan dengan sangat rakus, ia bahkan tidak peduli lagi apakah buah itu bisa dimakan atau tidak, karena yang yang terpenting baginya sekarang hanyalah mengisi tenaganya lagi dengan memakan buah tersebut. Lagipula, bentuk buah yang ia temukan itu mirip seperti buah apel dan Lin Feng yakin jika buah itu bisa ia makan.


"Akhirnya aku bisa mengisi perutku lagi" gumam Lin Feng setelah menghabiskan banyak buah.


"Malam sudah hampir tiba, sebaiknya aku mengumpulkan ranting untuk membuat api."


Karena sudah tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan, Lin Feng memutuskan untuk bermalam di bawah pohon buah tersebut, lalu keesokan harinya barulah ia akan melanjutkan perjalanannya untuk mencari jalan keluar dari hutan yang sangat luas itu.


Malam pun tiba.


Lin Feng saat ini tengah duduk didekat api unggun yang berhasil ia buat dengan susah payah, beruntung ia memiliki banyak pengalaman di kehidupan pertamanya dulu, sehingga ia tidak kesulitan ketika mengalami kejadian yang sama, misalnya saja seperti sekarang ini.


"Tidak ada kekuatan, tidak ada makanan dan tidak ada senjata, sepertinya Dewa Huo benar-benar ingin aku mati ditempat ini" gumam Lin Feng.


"Dewa Huo, jangan pikir kau sudah menang hanya karena aku tidak memiliki kekuatan lagi, karena setelah ini, aku pasti akan kembali untuk membalas semua perbuatanmu!"


Malam semakin larut, Lin Feng yang sudah sangat lelah akhirnya memutuskan untuk tidur, tentunya setelah ia memastikan keadaan di sekitarnya benar-benar aman, karena ia tidak ingin ada yang mengganggunya saat sedang tertidur lelap nantinya.


Namun, keinginan Lin Feng untuk bisa tidur nyenyak sepertinya tidak bisa ia dapatkan, karena saat ia menutup matanya, dari kejauhan terdengar suara raungan hewan yang sangat kencang, dan jika Lin Feng tidak salah tebak, hewan yang mengeluarkan suara itu adalah seekor harimau.


Tapi, yang menjadi permasalahannya sekarang adalah, Lin Feng tidak mengetahui apakah harimau itu hanya hewan biasa ataukah hewan spiritual. Jika itu hanya hewan biasa, maka Lin Feng hanya perlu memikirkan cara untuk menghindarinya, tapi jika itu adalah hewan spiritual, maka ia harus siap dengan segala resiko yang akan terjadi.


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang, "Padahal hanya ingin tidur dengan nyenyak, tapi kenapa harus sesulit ini?"


Lin Feng bergegas mematikan api unggun yang telah ia buat dengan susah payah, lalu setelah itu, ia memanjat salah satu pohon yang cukup tinggi yang ada di sana, setibanya di dahan yang cukup tinggi, Lin Feng kemudian memantau keadaan disekitarnya, namun usahanya malah sia-sia, karena gelapnya hutan itu melebihi gelapnya malam.


"Cihh, jika saja pedangku masih ada bersamaku, pasti aku akan mencari hewan sialan itu!"


Dari sekian banyaknya kesialan yang menimpa dirinya saat ini, yang paling sial menurut Lin Feng adalah kehilangan pedang kesayangannya, yaitu pedang Dewa Asura. Padahal, ia sangat yakin tidak pernah melepaskan pedang itu dari genggamannya, tapi saat ia bangun, pedangnya itu sudah tidak ada lagi.


Saat ia masih berada di padang rumput sebelumnya, selain mencari Xiao Lang, Lin Feng juga sudah berusaha keras mencari pedangnya itu, namun hasilnya tetap saja sama, baik itu pedangnya ataupun Xiao Lang, keduanya benar-benar tidak berhasil ia temukan di hamparan padang rumput yang luas itu.


Meski begitu, bukan berarti Lin Feng akan membiarkan pedangnya hilang begitu saja, karena untuk saat ini, ia harus menemukan cara untuk mengambilkan kekuatannya terlebih dahulu, dan setelah berhasil mengembalikan kekuatannya, ia pasti akan menemukan pedangnya itu dengan mudah.


"Sepertinya hewan sialan itu sudah pergi." Lin Feng akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah yakin jika hewan itu sudah pergi, kemudian, ia menutup matanya dan akhirnya tertidur dengan lelap.


Paginya.


Setelah memetik semua buah yang sebelumnya ia makan, Lin Feng kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mencari jalan keluar dari hutan tersebut. Namun sebelum itu, Lin Feng harus mencari sungai terlebih dahulu, karena selain ingin menghilangkan dahaganya, ia juga harus membersihkan tubuhnya.


Selama perjalanan, Lin Feng membuat senjata dengan bahan-bahan seadanya yang ia temukan di hutan tersebut, terutama busur panah yang sangat berguna untuk berburu ataupun menghadapi hewan buas, selain itu, ia juga membuat tombak untuk berjaga-jaga jika harus bertarung dalam jarak dekat.