
Tiga tahun kemudian.
Lin Feng dan Xie Long nampak tengah mondar-mandir di depan salah satu kamar di istana, wajah mereka nampak tegang karena rasa khawatir yang memenuhi dada keduanya.
"Kakak, tidak bisakah kakak diam dan duduk saja?"
"Ling'er, bagaimana kakak bisa tenang saat situasinya seperti ini?!"
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" sahut Lin Feng.
"Hah" Xie Ling menghela napas panjang, "Ayah meminta kakak untuk tenang, tapi ayah sendiri?"
"Ling'er, kau tidak mengerti, ayah sangat tegang karena sedang menunggu kelahiran cucu pertama ayah!"
Saat ini, seluruh anggota keluarga Asura tengah menunggu kedatangan tuan muda mereka yang baru, yaitu putra pertama Xie Long dan Huanran. Jadi, sangat wajar jika ayah dan putranya itu sangat tegang.
"Bagaimana? Apakah sudah lahir?"
Lin Feng dan Xie Long menoleh lalu menggeleng bersamaan, dan hal itu berhasil membuat Jia Zhen ikut-ikutan khawatir, bahkan ia juga mengikuti tingkah ayah dan kakak tertuanya itu.
"Dua saja sudah membuatku pusing, sekarang malah tambah satu lagi" gumam Lang Diyu.
"Mereka benar-benar ayah dan anak" sahut Yin Ouyang yang mendengar perkataan Lang Diyu.
***
Setelah lama menunggu, dari dalam kamar akhirnya terdengar suara tangisan bayi, bersamaan dengan itu, semua orang yang menunggu di depan kamar tersebut akhirnya bisa menghela napas lega.
Namun, mereka belum bisa berhenti untuk khawatir, karena masih belum ada kabar mengenai kondisi Huanran dan juga anaknya.
"Ibu, apa Xiao Hua baik-baik saja?!"
Luo Ning tersenyum dan mengangguk, "mereka berdua baik-baik saja" jawabnya.
"Syukurlah, aku benar-benar senang mendengarnya."
"Kakak, aku sudah menyiapkan nama untuknya!" ujar Xie Ling.
"Apa? Tidak! Akulah yang akan memberikan nama padanya!" sahut Zhen Jia.
Xie Long menghela napas panjang, ia benar-benar sudah bosan melihat perdebatan Xie Ling dan Zhen Jia, karena perdebatan tersebut telah dimulai sejak kabar mengenai kehamilan Huanran tersebar.
"Ibu, apa aku boleh masuk?"
"Masuklah, temui istri dan anakmu."
"Aku juga!"
"Tidak! Biarkan Long'er sendirian!" ujar Luo Ning menghentikan suaminya.
"Kenapa? Aku-kan..."
"Iya, tapi belum saatnya Gege menemui mereka."
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyampaikan kabar ini pada yang lain."
Setelah itu, Lin Feng meninggalkan kamar tersebut, kemudian menyebarkan kabar mengenai kelahiran cucu pertamanya pada semua orang, khususnya pada anggota klan Asura.
***
Beberapa hari kemudian.
Lin Feng mengumpulkan semua anggota keluarga Asura untuk merayakan kelahiran cucu pertamanya, bahkan ia juga mengundang Xiao Lang dan keluarganya.
Selain Xiao Lang, Lin Feng juga memanggil Wu Nan yang masih berada di dimensi kesembilan, karena tidak akan lama lagi, Wu Nan akan menjalankan ujian menjadi penguasa.
Aula singgasana.
"Selamat datang semuanya, aku sangat senang karena kalian semua bisa berkumpul di sini dan untuk itu, aku ucapkan terima kasih."
"Seperti yang sudah kalian dengar, tujuanku mengundang kalian adalah untuk merayakan kelahiran cucu pertamaku."
"Dan untuk namanya..."
"Akulah yang akan memberikan nama!" ujar Xie Ling.
"Tidak, akulah yang akan memberikan nama!" sahut Zhen Jia.
Wushh.
Lin Feng melepaskan aura kekuatannya untuk menghentikan perdebatan kedua anaknya itu, kalau tidak, perdebatan mereka akan berlangsung selama seharian tanpa henti.
"Bisakah kalian diam dulu?!"
"Ma-maaf, ayah."
"Jika kalian berdebat lagi, ayah akan menghukum kalian!"
"Ba-baik."
"Long'er, silahkan" ucap Lin Feng.
Xie Long mengangguk, kemudian berdiri dari tempat duduknya dengan menggendong putra pertamanya. Namun, bukannya memberikan nama, ia malah menghampiri Jia Zhen.
"A-aku?" tanya Jia Zhen seraya menunjuk dirinya sendiri.
Xie Long mengangguk, "Aku dan kakak ipar-mu sudah membicarakannya, jadi silahkan beri nama untuknya."
Jia Zhen nampak gugup karena baru pertama kali mengalami hal itu, namun karena tugas itu sudah diberikan padanya, ia tetap harus memberikan nama untuk keponakannya itu.
Setelah menggendong bayi laki-laki yang baru berumur beberapa hari itu, Jia Zhen kemudian berdiri di hadapan semua orang. Ia tersenyum melihat bayi yang terlelap dalam gendongannya itu.
"Wajahnya sangat cerah, dia juga sangat tampan seperti ayahnya" gumam Jia Zhen.
"Lin Xia, nama itulah yang aku pilih untuknya."
"Lin Xia? Nama yang sangat indah dan sangat cocok untuknya!" ujar Lin Feng.
Setelah pemberian nama selesai, semua orang yang ada di aula berdiri dari tempat duduknya, lalu mengucapkan selamat datang pada tuan muda generasi kedua klan Asura.
"Baiklah, sekarang saatnya untuk makan bersama."
***
Tahun-tahun berlalu dengan cepat, si kecil Lin Xia telah tumbuh menjadi anak berusia tujuh tahun, ia tidak hanya mewarisi kecerdasan ayahnya, tapi juga kekuatan mata ungu ibunya.
Selain itu, di umurnya yang masih tujuh tahun, Lin Xia sudah mewarisi banyak hal dari pamannya, karena sejak usianya lima tahun, Lin Xia sudah dilatih secara khusus oleh Jia Zhen.
"Paman, aku sudah menguasai teknik pedang yang paman ajarkan waktu itu."
"Benarkah? Coba tunjukkan pada paman."
Lin Xia mengangguk, kemudian memperagakan gerakan yang pernah diajari oleh Jia Zhen padanya.
"Meski masih kaku, tapi gerakannya sudah bisa dikatakan sempurna" gumam Jia Zhen.
"Berhenti!" ujar Jia Zhen.
"Ada apa, paman?"
"Jadi ini yang kau sebut sudah menguasai?!"
Lin Xia tertunduk diam, ia mengetahui jika pamannya itu tidak puas dengan hasil yang ia capai. Bahkan, pamannya itu tidak pernah merasa puas dengan apapun yang ia capai.
Meski begitu, Lin Xia tidak pernah merasa bosan atau mengeluh, apalagi menyerah untuk dilatih oleh pamannya itu, karena ia tahu jika semua itu demi kebaikan dirinya sendiri.
"Dengar! Kau harus melatih gerakan itu sampai benar-benar sempurna, jika tidak, jangan pernah berharap untuk belajar teknik yang lain."
"Baik, paman."
"Keponakanku, jangan dengarkan perkataan pamanmu!" ujar Xie Ling.
"Itu benar, gerakan-mu sudah sangat bagus dan sempurna" sahut Zhen Jia.
"Dengar, sebaiknya kau ikut kami berdua."
"Tapi..."
"Tenang saja, kalau pamanmu ini marah, bibi akan menghajarnya!" ujar Xie Ling.
Jia Zhen hanya menghela napas panjang, padahal ia sudah sering mengingatkan kedua saudarinya itu, namun mereka selalu saja memanjakan Lin Xia, khususnya Lin Feng dan Luo Ning.
"Pergilah, paman juga ingin menemui kakek-mu" sahut Jia Zhen, kemudian meninggalkan tempat tersebut.
***
"Ayah, aku datang."
Lin Feng mengangguk, "duduklah, ayah ingin bicara denganmu."
Setelah Jia Zhen duduk, Lin Feng langsung menghela napas panjang, "sudah berapa kali ayah katakan, jangan terlalu keras pada Xia'er."
"Ayah, aku hanya tidak ingin dia..."
"Apa kau lupa, dirimu dulu juga sangat manja pada kakek-mu?"
Jia Zhen langsung terdiam, ia benar-benar tidak bisa membantah lagi ketika ayahnya membahas masa kecilnya, dan itulah satu-satunya senjata yang mereka gunakan saat dirinya bersikap tegas pada Lin Xia.
"Apa hanya itu yang ingin ayah katakan?"
Lin Feng menggeleng pelan, "ada hal penting yang harus ayah katakan."
"Apa itu?"
"Kau tentu ingat dengan dimensi tempat kau menemukan ayah dahulu, kan?" tanya Lin Feng dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Jia Zhen.
"Bagus kalau kau ingat, karena ayah ingin kau menyelidiki dimensi itu, cari tahu penyebab kekuatan dewa tidak bisa digunakan di sana."
"Baik ayah, aku pasti akan menemukan penyebabnya."
"Bagus, jangan lupa mengajak adikmu."
"Apa? Kenapa tidak aku sendiri saja yang pergi?"
"Akan lebih baik jika kalian pergi berdua dan ayah yakin, adikmu bisa membantumu di sana."