
Semua orang yang awalnya berburuk sangka pada Xie Long, sekarang malah merasa sangat bersalah, karena pada kenyataannya, Xie Long telah menyelamatkan nyawa pemuda tersebut, jika tidak, sudah pasti pemuda itu akan mati oleh senjatanya sendiri.
Akan tetapi, pemuda yang menjadi lawan Xie Long sepertinya tidak merasakan hal yang sama seperti yang lainnya, ia juga tidak menyadari jika Xie Long telah menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman tangan kematian.
"Bocah sialan! Apa yang kau lakukan pada senjataku?"
"Maaf, aku terpaksa melakukan ini, jika tidak..."
"Jika tidak apa?! Memangnya apa yang kau ketahui mengenai senjataku ini?"
"Senjata ini adalah pusaka warisan keluargaku, jadi tidak mungkin dia menyakiti Tuannya sendiri!"
"Hah" Xie Long menghela napas panjang, "Aku sungguh minta maaf, karena yang aku pikirkan tadi hanyalah menyelamatkan nyawamu."
"Cihh! Aku tidak mau tahu, kau harus menggantinya dengan hal yang setimpal!" ujar pemuda tersebut, kemudian melesat dengan kecepatan tinggi kearah Xie Long.
Disaat yang bersamaan.
"Dia benar-benar tidak tahu diri, sudah diselamatkan tapi malah tidak tahu terima kasih!"
"Bocah sepertinya seharusnya tidak ada di sekte kita!"
Para penonton mulai mencemooh pemuda tidak tahu diri itu, mereka semua nampak kesal kepada pemuda yang menjadi lawan Xie Long. Bagaimana tidak, Xie Long sudah berbaik hati mau menyelamatkan dirinya, tapi dia malah tidak tahu rasa terima kasih sama sekali.
Sementara itu.
Pertarungan kembali terjadi, disela-sela pertarungan, Xie Long masih berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi jika dia tidak menghancurkan senjata pemuda tersebut, selain itu, Xie Long juga meminta maaf kepada pemuda itu karena sudah menghancurkan senjatanya.
Akan tetapi, penjelasan serta permintaan maaf dari Xie Long sama sekali tidak dihiraukan oleh pemuda tersebut, ia masih saja menganggap bahwa Xie Long bersalah karena telah menghancurkan senjata miliknya dan saat ini, ia benar-benar ingin memberikan balasan yang setimpal untuk Xie Long.
Wushh!
Dhuaarrr!
Satu pukulan mendarat tepat di wajah Xie Long hingga membuatnya terlempar sampai ke pinggir arena, meski begitu, Xie Long masih tetap berdiri dan tidak sampai terjatuh di atas arena. Namun, raut wajahnya sudah mulai berubah, bahkan tatapan matanya sekarang sangatlah tajam.
"Yang dulu ayah katakan memang benar, satu-satunya keadilan di dunia ini adalah kekuatan, percuma saja bicara baik-baik pada orang yang tidak memiliki hati nurani lagi" gumamnya.
"Hah" Xie Long menghela napas panjang untuk menangkan dirinya, "Aku sudah berbaik hati menyelamatkan nyawamu dan bukannya mengucapkan terima kasih, kau justru semakin membenci diriku" ucapnya.
"Kau benar! Aku memang sudah muak denganmu sejak awal kita bertemu!" ujar pemuda tersebut.
Xie Long tersenyum dibalik penutup wajahnya, "Kalau begitu, jangan salahkan aku" ucapnya, kemudian menghilang dari pandangan.
Tidak lama setelahnya, Xie Long kembali muncul tepat di hadapan pemuda tersebut sembari melayangkan tinjunya, karena gerakannya yang sangat cepat, pemuda itupun tidak sempat menghindar, yang membuat pukulan Xie Long berhasil mendarat tepat di dagunya.
Dengan kekuatan besar yang ia kerahkan, pukulan itu berhasil membuat lawannya terlempar ke udara, lalu setelah itu, Xie Long melompat dan berhasil mendahului tubuh pemuda itu, disaat yang bersamaan, ia memutar tubuhnya sembari melayangkan tendangan ke bagian perut lawannya.
Wushh!
Dhuaarrr!
Ledakan yang cukup besar terjadi ketika tubuh pemuda itu jatuh dan menghantam permukaan arena dengan keras, bahkan altar yang sangat keras itu ikut retak karena hantaman tubuh pemuda tersebut. Tidak hanya itu saja, tendangan Xie Long yang mendarat tepat di bagian dada, juga membuat pemuda itu memuntahkan darah.
Setelah mendarat di arena, Xie Long menghampiri pemuda yang masih tergelatak tidak jauh darinya, "Jika bukan karena ada aturan khusus, kau mungkin tidak akan bisa melihat hari esok lagi" ucap Xie Long berbisik-bisik.
Tubuh pemuda itu gemetaran ketika mendengar ucapan Xie Long, rasa takut yang sangat besar juga menyelimuti tubuhnya saat melihat tatapan mata Xie Long yang sangat tajam, dan seketika itu juga, pemuda itu merasa seperti melihat sosok yang benar-benar mengerikan.
"A-aku menyerah" ucap pemuda itu terbata-bata.
Setelah Lin Feng menyatakan pertarungan berakhir, Xie Long kemudian turun dari arena dan langsung menghampiri adiknya.
"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Xie Ling.
Xie Long mengangguk, "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku" ucapnya.
Disisi lain.
"Anak ini sungguh hebat, rasanya ingin sekali aku menjadikannya sebagai murid ku" ucap Jin Feng Huang.
"Aku juga memiliki keinginan yang sama, tapi tidak tahu apakah tetua Lin mengizinkannya atau tidak" sahut salah seorang tetua.
"Aku tidak peduli, bagaimanapun juga, dia harus menjadi murid ku, begitupun dengan adiknya!" ujar Jin Feng Huang.
"Ketua, Anda tidak boleh curang seperti itu, bagaimana kalau adiknya menjadi murid ku saja."
"Jangan mimpi, akulah yang akan menjadi gurunya!"
"Kalian semua tidak cocok menjadi guru mereka berdua, dan hanya akulah satu-satunya yang pantas untuk menjadi guru mereka."
Pemimpin serta para tetua sekte Phoenix Emas mulai berdebat memperebutkan kedua anak Lin Feng, bahkan tidak seorangpun dari mereka yang mau mengalah dari yang lainnya. Padahal, masih ada murid lain yang memiliki potensi, namun mereka sepertinya tidak tertarik sama sekali.
Di atas arena.
"Siapa selanjutnya?" tanya Lin Feng.
"Aku saja!" ujar Xie Ling, kemudian melompat naik ke atas arena pertarungan.
Setelah memberikan hormat pada ayahnya, Xie Ling kemudian mengarahkan pandangannya pada seluruh murid baru, "Siapapun yang tidak suka denganku, silahkan naik ke atas arena sekarang juga!" ucapnya.
Semua orang nampak kaget mendengar perkataan Xie Ling, mereka benar-benar tidak menyangka jika anak berusia dua belas tahun itu begitu berani memberikan tantangan secara terang-terangan, bahkan perkataannya barusan seolah sedang menantang semua murid baru.
"Hahahaha, kalau begitu akulah yang akan menjadi lawan mu!" ujar salah seorang gadis berusia tujuh belas tahun, kemudian naik ke atas arena.
"Aku juga!" sahut seorang pemuda.
"Aku memang sudah tidak suka dengan kalian berdua sejak awal!" ujar pemuda lainnya, kemudian ia melompat ke atas arena dan diikuti oleh dua murid lainnya.
Saat ini, di hadapan Xie Ling sudah berdiri lima kultivator muda dengan basis kultivasi berada di ranah Master Spiritual, diantara mereka ada tiga kultivator perempuan dan dua kultivator laki-laki, namun keberadaan mereka tidak membuat Xie Ling merasa gentar sedikitpun.
"Apa hanya kalian saja?" tanya Xie Ling.
"Hahaha, aku benar-benar tidak menyangka jika gadis kecil sepertimu memiliki kesombongan yang sangat besar, apa ayahmu tidak mengajarimu sopan santun?"
Tatapan mata Xie Ling yang awalnya nampak begitu tenang, sekarang malah terlihat sangat tajam, "Siapa yang memberimu izin untuk menghina ayahku?!"
"Memangnya kenapa? Bukankah yang aku katakan ini memang benar? Atau jangan-jangan, ayahmu itu lebih tidak tahu diri lagi daripada dirimu?"
"Hahahaha" empat kultivator muda lainnya tertawa ketika mendengar ucapan salah seorang dari mereka.
Xie Ling hanya diam dan tidak mengatakan apapun lagi, namun ia sudah mengeluarkan dua bilah pedang dari cincin penyimpanannya, dan saat kelima kultivator muda itu masih tertawa, Xie Ling mendadak menghilang dari pandangan mereka.
Sesaat kemudian, suara tawa kelima kultivator muda itu mendadak lenyap begitu saja, tatapan mereka kini tertuju pada gadis yang sebelumnya menghina Lin Feng, pasalnya, Xie Ling yang sebelumnya berada didepan mereka, sekarang sudah muncul tepat didepan gadis tersebut.
Namun yang membuat mereka kaget bukan hanya karena kemunculannya yang tiba-tiba, tapi juga karena salah satu pedang Xie Ling yang sudah berada tepat di leher gadis itu, dan jika Xie Ling menggerakkan tangannya sedikit saja, maka leher gadis itu pasti akan terluka, atau yang lebih buruk lagi adalah langsung terpenggal.
"Tarik ucapan mu dan minta maaf karena sudah menghina ayahku atau kau akan mati!" ucap Xie Ling.