Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-306. Pilihan yang berat.


"Aku rasa waktu yang kuberikan untuk mereka sudah cukup banyak dan sekarang, sudah saatnya untuk mendamaikan alam semesta ini."


Sejak memerintahkan bawahannya untuk menyerang dimensi pertama, Xin Yi memang tidak melakukan apapun lagi, bahkan ia membiarkan anak-anak Lin Feng tumbuh menjadi kuat.


Alasan Xin Yi melakukannya bukan karena ingin melihat pertumbuhan mereka, tapi ia memang sengaja melakukan itu, agar mereka pantas untuk menjadi lawannya.


Diantara semua dewa dan kultivator kuat di alam semesta ini, hanya anak-anak Lin Feng lah yang paling ingin dihadapi oleh Xin Yi, terutama Lin Jia Zhen yang sempat membuatnya ketakutan.


Akan tetapi, pertarungan yang ia inginkan bukanlah pertarungan yang mudah, melainkan sebuah pertarungan yang benar-benar bisa membuatnya terhibur dan bersemangat.


Dan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya, ia harus rela menunggu sampai anak-anak Lin Feng siap, dan menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat.


Walaupun anak-anak Lin Feng belum mencapai puncak kekuatan, namun apa yang mereka miliki sudah bisa membawa mereka ke puncak, sehingga Xin Yi tidak ingin menunggu lebih lama lagi.


"Lin Jia Zhen, persiapkan dirimu, karena kau adalah lawan pertama yang ingin aku hadapi" gumam Xin Yi.


Setelah itu, Xin Yi membuka sebuah portal dimensi yang sangat besar, lalu dari dalamnya keluar ratusan ribu monster dengan kekuatan yang sangat luar biasa.


"Selamat datang, pasukan ku, sudah saatnya untuk memulai pesta besar" ucap Xin Yi.


***


Beberapa bulan kemudian.


Suasana di istana kerajaan Dunia Bawah nampak sangat ramai, seluruh penduduk kerajaan serta semua anggota klan Asura terlihat tengah berkumpul di halaman istana kerajaan tersebut.


Selain suasana yang ramai, halaman dan aula istana juga telah dihiasi dengan berbagai macam hiasan, karena hari ini adalah hari dimana pernikahan Xie Long dan Huanran dilangsungkan.


"Kak Huanran terlihat sangat cantik" ucap Zhen Jia menatap Huanran yang tengah berada di panggung pernikahannya.


"Diam-lah, acaranya akan dimulai" sahut Jia Zhen.


"Aku kan hanya berkomentar!"


Jia Zhen tersenyum lembut "simpan komentarmu untuk nanti, adikku."


"Kakak menyebalkan!"


"Lin Jia Zhen, jika kau punya nyali, datang dan hadapi aku!"


Jia Zhen tersentak saat mendengar suara yang familiar di telinganya, yaitu suara seseorang yang pernah membuatnya kehilangan sosok seorang ayah, yang tidak lain adalah Xin Yi.


"Apa mau mu, Xin Yin!?"


"*Mudah saja, kau hanya perlu datang dan menghadapi aku, jika tidak, aku akan mengacaukan acara penting saudaramu."


"Dan percaya atau tidak, aku sudah menyiapkan ratusan ribu pasukan yang siap melenyapkan penduduk kerajaan ayahmu itu*."


Kemudian, Xin Yi memperlihatkan ratusan ribu pasukan yang ia maksud pada Jia Zhen, walaupun tidak mengerti bagaimana Xin Yi melakukannya, namun ia tahu jika semua itu bukanlah kebohongan.


"Xin Yi, kau benar-benar keterlaluan!"


"Hahahaha, sekarang pilihlah, apa kau ingin menyelematkan mereka atau mengorbankan mereka?"


Jia Zhen tidak langsung menjawab, karena pilihan yang diberikan oleh Xin Yi adalah pilihan yang sulit untuknya, apalagi sekarang adalah hari yang sangat penting bagi kakaknya.


Selain itu, di sana juga ada ratusan nyawa yang sangat penting baginya, dan kalau Xin Yi benar-benar menyerang, mustahil mereka bisa melakukan tindakan pencegahan.


"*Katakan, dimana aku bisa menemui-mu?"


"Pilihan yang bagus! Sekarang, kau hanya perlu keluar dari dunia bawah dan aku akan membawamu ke sini."


"Baiklah! Dan sebaiknya kau menepati janjimu, sialan*!"


"Hahahaha! Kau tenang saja, aku tidak akan menyerang jika kau menuruti keinginanku."


"Kakak kenapa?"


Pertanyaan yang dilontarkan Zhen Jia berhasil menyadarkan Jia Zhen dari lamunannya, ia kemudian menoleh dan menunjukkan senyuman terbaiknya kepada adiknya itu.


"Bukan apa-apa, aku sedang memikirkan hadiah untuk kakak" jawab Jia Zhen.


"Apa kakak lupa membawa hadiahnya?"


Jia Zhen tersenyum canggung, "aku benar-benar lupa, mungkin karena terlalu sibuk membantu persiapan."


Zhen Jia menghela napas panjang seraya menggeleng pelan, "ya sudah, cepat ambil hadiahnya sebelum acara selesai."


"Aku akan segera kembali" sahut Jia Zhen, kemudian meninggalkan halaman istana kerajaan.


Setelah berada di halaman belakang istana, Jia Zhen langsung membuka portal dimensi, dan setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, ia kemudian masuk ke portal tersebut.


"Tidak usah basa-basi, dimana kau sekarang, sialan!"


"Hahahaha, aku sedang menunggumu di medan pertarungan kita*."


Tidak lama kemudian, sebuah portal dimensi ruang dan waktu terbuka di depan Jia Zhen.


"*Masuklah, portal itu akan membawamu ke tempatku berada."


"Maafkan aku, semuanya, aku harus melakukan ini demi keselamatan banyak orang*."


***


Acara pernikahan berlangsung dengan sempurna, semua orang nampak bahagia atas pernikahan Xie Long dan Huanran, khususnya Luo Ning yang sangat bahagia karena pernikahan putranya itu.


"Zhen Jia, dimana kakakmu, kenapa aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya Xie Long yang menyadari ketidakhadiran adiknya itu.


"Tadi kakak bilang hanya mau mengambil hadiah yang ketinggalan" jawab Zhen Jia.


"Hadiah apa lagi? Bukankah dia sudah memberikannya dua hari yang lalu? Ini buktinya."


Xie Long dan Huanran menunjukkan sepasang cincin giok yang ia kenakan di jari manis tangan mereka, cincin itu adalah hadiah pernikahan yang diberikan oleh Jia Zhen sebelumnya.


Meski nampak seperti cincin biasa, namun cincin giok itu menyimpan kekuatan luar biasa, karena Jia Zhen membuatnya dengan menggunakan ketujuh api suci.


"Jika hadiahnya ada disini, lalu kakak kemana?"


"Tenanglah, ayah akan mencarinya" jawab Lin Feng.


Setelah itu, Lin Feng melepaskan kekuatan jiwanya untuk mencari keberadaan Jia Zhen, namun sayangnya, ia tidak merasakan keberadaannya di Dunia Bawah.


"Bagaimana?" tanya Luo Ning.


"Dia sudah tidak ada di Dunia Bawah" jawab Lin Feng.


"Tuan, tadi aku melihat tuan muda menuju ke halaman belakang" sahut Yin Ouyang.


"Auranya juga menghilang di halaman belakang, itu artinya dia keluar dari Dunia Bawah" imbuh Lin Feng.


Semua orang mulai larut dalam kepanikan, karena tidak biasanya Jia Zhen pergi tanpa mengatakan apapun, dan kalaupun dia ingin pergi, ia pasti sudah minta izin pada ayah atau ibunya terlebih dahulu.


"Tenanglah, aku akan mencoba mencarinya lagi."


Dengan kemampuan khusus yang ia miliki, tentu sangat mudah bagi Lin Feng untuk mengetahui dimana Jia Zhen berada, namun sayangnya, ia tetap tidak menemukannya di dimensi pertama ini.


"Dia tidak ada di dimensi ini!" ujar Lin Feng.


"Lin Feng benar, aku juga tidak merasakan keberadaannya dimana-pun di dimensi ini" imbuh Dewi Nuwa.


"Apa?!"


"Lin Feng, sebaiknya kita segera mencarinya, aku takut ada sesuatu yang terjadi padanya" sahut Xiao Lang.


"Kau benar, dan takutnya..."


"Tidak perlu khawatir, Lin Jia Zhen sedang menuju ke tempatku!"


Lin Feng dan yang lainnya langsung terdiam, meski yang kenal akrab dengan suara itu hanyalah Lin Feng seorang, namun mereka sudah bisa menebak suara siapa yang mereka dengar itu.


"Xin Yi, apa yang kau lakukan pada putraku!?"


"Hahahaha! Sebelum aku menjawab pertanyaan mu, sebaiknya kalian bersiap-siap menyambut kehancuran!"


"Kau..." Lin Feng menghentikan ucapannya ketika merasakan keberadaan aura mencekam di Benua Biru.


"Semuanya dengarkan aku! Persiapkan diri kalian untuk berperang sekarang juga!" ujar Lin Feng.


"Baik!"


"Huise, kau pimpin pasukan dan hadapi musuh di wilayah, barat!"


"Yin Ouyang, kau wilayah utara! Lang Diyu wilayah selatan, sisanya ikut aku!"


"Baik!"


"Aku akan membantu" sahut Xiao Lang.


Lin Feng mengangguk, lalu membuka portal ruang dan waktu yang terhubung langsung dengan benua Biru.