
Berita tentang pernikahan yang akan diadakan keesokan harinya menyebar dengan cepat, seluruh penduduk kerajaan menyambutnya dengan perasaan gembira, bahkan mereka beramai-ramai mendatangi istana untuk membantu mempersiapkan semuanya.
Hanya dalam hitungan jam, halaman istana kerajaan Dunia Bawah yang begitu luas, telah berhasil mereka ubah menjadi tempat untuk melangsungkan pernikahan yang indah, dengan berbagai macam hiasan berwarna merah sebagai pelengkapnya.
"Aku tidak mengerti apa yang ibu kalian pikirkan, dalam sekejap dia telah mengubah semua rencana yang ayah susun" ucap Lin Feng.
"Tapi ibu terlihat sangat senang, aku bahkan tidak menyangka jika ibulah yang merencanakan semua ini" sahut Xie Long.
"Ibu kalian memang berbeda, lihatlah, dia sangat sibuk mengatur ini dan itu, padahal tugas itu bisa dilakukan oleh para prajurit."
Lin Feng menghela napasnya, "Ayah minta maaf, karena latihan kalian harus ditunda sampai dua hari ke depan."
"Baik, ayah!"
"Tapi, dimana Zhen'er? Ayah tidak melihatnya sejak tadi."
"Kakak pergi ke suatu tempat, katanya ingin mencari hadiah untuk ibu Zhu Ling."
"Ibu?"
Zhen Jia mengangguk, kemudian menjelaskan jika kakaknya itu sudah menganggap Zhu Ling sebagai ibunya sendiri, jadi dia ingin menyiapkan hadiah yang sangat spesial untuk pernikahannya.
"Apa kau tahu dia kemana?"
Zhen Jia menggeleng pelan, "Kakak tidak mengatakan apapun selain itu."
Benua Biru.
Jia Zhen melesat terbang dengan kecepatan tinggi menyusuri luasnya Benua Biru, sesekali ia nampak mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu, namun apa yang ia cari masih belum berhasil ia temukan.
"Apa yang harus aku berikan pada ibu" gumamnya.
"Paman Fang Ren dan ibu Zhu Ling adalah Dewa, jadi tidak mungkin aku memberikan hadiah yang biasa pada mereka berdua."
Karena tidak kunjung berhasil menemukan hadiah apa yang akan ia berikan, Jia Zhen kemudian melesat turun dan mendarat di sebuah lembah yang cukup luas, dan disaat yang bersamaan, beberapa pasang mata nampak tengah mengamatinya.
Jia Zhen tentunya menyadari keberadaan orang-orang yang sedang mengawasi dirinya, namun ia terlalu malas untuk meladeni mereka semua, karena ia masih memiliki tugas yang sangat penting, yaitu menemukan hadiah untuk pernikahan Zhu Ling dan Du Fang Ren.
Disisi lain.
Karena Jia Zhen tidak menunjukkan reaksi apapun, beberapa orang yang tengah bersembunyi akhirnya menunjukkan diri mereka, tatapan mata yang tajam serta ekspresi wajah mengerikan sengaja mereka tunjukkan untuk menakuti Jia Zhen.
Namun sayangnya, setajam apapun tatapan mereka dan mau bagaimanapun ekspresi wajah mereka, tetap tidak berhasil membuat Jia Zhen beranjak dari tempatnya, jangankan beranjak, ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan mereka sedikitpun.
"Bocah, apa yang kau lakukan di wilayah kekuasaan kami?" tanya salah seorang dari mereka.
"Bukan urusan kalian dan sebaiknya, kalian tinggalkan aku sendiri" jawab Jia Zhen, namun masih fokus memikirkan hadiah yang ingin ia berikan.
"Hahahaha!" Mereka semua tertawa mendengar jawaban Jia Zhen.
"Bocah! Kau sudah berani memasuki wilayah kekuasaan kami, jadi kau harus siap menanggung akibatnya."
"Tapi, jika kau menyerahkan semua isi cincin penyimpanan mu, mungkin kami akan mempertimbangkannya!"
Jia Zhen masih diam dan mengabaikan perkataan pria tersebut. Dan masih sama seperti sebelumnya, ia masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan keberadaan orang-orang itu.
"Cihh! Aku benar-benar tidak suka jika diabaikan, apalagi okeh seorang bocah sepertimu!"
"Kau! Bunuh dan ambil cincin penyimpanannya!"
"Baik, ketua!"
Salah seorang dari mereka kemudian melangkah maju mendekati Jia Zhen, lalu menyerang Jia Zhen dengan tinjunya, namun sayangnya, serangan itu tidak mengenai Jia Zhen.
Merasa kesal karena serangannya berhasil dihindari, pria itu kemudian menyerang Jia Zhen secara bertubi-tubi, namun sama seperti serangan pertama, setiap serangan yang ia lancarkan tetap berhasil dihindari oleh Jia Zhen.
"Pergilah, aku sedang terburu-buru" ucap Jia Zhen.
"Bocah sialan! Kau pasti menyesal karena telah meremehkan aku!"
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah tombak dari cincin penyimpanannya, lalu menyerang Jia Zhen dengan lebih ganas, tapi lagi-lagi, setiap serangan yang ia lakukan tidak satupun yang berhasil mengenai Jia Zhen.
"Berhentilah bermain-main, bocah!"
Jia Zhen menghela napas panjang, kemudian memiringkan tubuhnya kesamping untuk menghindari serangan tombak pria itu, disaat yang bersamaan, ia juga menangkap tombak yang melesat disebelahnya.
"Kau sendiri yang memintaku untuk serius!" ujar Jia Zhen, kemudian menarik tombak tersebut.
Pria tersebut ikut terseret karena Jia Zhen menarik tombaknya dengan sangat kuat, dan saat pria itu berada dalam jangkauannya, Jia Zhen langsung melancarkan pukulan dan tepat mengenai wajah musuhnya.
Ketika pria itu terpental, Jia Zhen menarik tombaknya lagi, sehingga pria itu kembali terseret ke arahnya. Lalu, Jia Zhen memutar tubuhnya seraya melayangkan tendangan, dan serangan itupun mendarat tepat di sasarannya.
Wushh!
Boom!
Pria itu terlempar cukup jauh hingga tubuhnya menabrak pohon sampai tumbang, ia juga memintakan darah segar, bahkan beberapa giginya nampak patah karena tendangan Jia Zhen yang sangat kuat.
"Masih tidak mau pergi?"
"Bunuh bocah sialan ini!" ujar ketua mereka.
Setelah itu, mereka semua maju dan menyerang Jia Zhen bersama-sama, namun karena sedang tergesa-gesa dan tidak ingin membuang waktu lagi, Jia Zhen terpaksa menyudahi pertarungan itu dengan cepat.
Gerakannya yang sangat cepat membuat mereka semua kesulitan membaca pola serangannya. Bahkan, mereka benar-benar tidak bisa melihat pergerakan Jia Zhen, dan saat mereka menyadarinya, mereka telah dibuat terlempar oleh serangan anak itu.
"Tu-tunggu!" ujar ketua kelompok tersebut menghentikan Jia Zhen yang ingin menghantam wajahnya dengan bogem mentah.
"Apa lagi?"
"A-aku ingin bernegosiasi" jawab pria tersebut.
Jia Zhen mengerutkan dahi, "Katakan!"
Pria itu kemudian mengeluarkan selembar kertas usang dari cincin penyimpanannya, lalu menyerahkan kertas tersebut pada Jia Zhen.
"Ini adalah peta menuju tempat tersembunyi di bagian Utara, dan menurut rumor yang aku dengar, di sana terdapat sebuah peninggalan kuno" jelas pria itu.
"Kau ingin membohongiku?"
"A-aku berkata jujur, sebenarnya kami sedang dalam perjalanan ke sana, dan karena kebetulan melihatmu berhenti di sini, kami jadi ingin merampok mu" jawab pria itu.
Jia Zhen kemudian meraih peta yang ada di tangan pria itu, lalu menyimpannya dalam cincin penyimpanan miliknya. Setelah itu, Jia Zhen melangkah pergi meninggalkan mereka semua.
Saat Jia Zhen mulai menjauh, pria itu meraih pedang disampingnya, lalu bergegas menghampiri Jia Zhen dan hendak membunuhnya, namun sialnya, serangan itu malah tidak mengenai apapun selain udara kosong.
"Aku paling benci dengan orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan!" ujar Jia Zhen yang telah muncul di belakang pria tersebut.
Slash!
Jia Zhen langsung memenggal kepala pria itu saat ia hendak memutar tubuhnya, lalu setelah itu, Jia Zhen menghampiri semua anggota pria tersebut dan membunuh mereka semua.
Dan sebelum berangkat menuju wilayah Utara, Jia Zhen terlebih dahulu mengumpulkan cincin penyimpanan mereka semua, karena sumberdaya yang mereka miliki pastinya akan sangat berguna untuknya nanti.