Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-164. Aku adalah kakek mu


Karena lencana yang ditunjukkan oleh Xie Long adalah lencana giok yang asli, prajurit penjaga gerbang itupun hanya bisa mengizinkan Xie Long untuk masuk ke kota, tapi mereka tidak akan membiarkan Xie Long berada di kota tanpa pengawasan.


"Kau diizinkan untuk masuk ke kota tapi ingat, jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa mengacaukan ketenangan kota ini" ucap prajurit itu sembari menyerahkan lencana milik Xie Long.


Xie Long mengangguk sembari meraih lencana giok miliknya, "Terima kasih, Tuan."


Hal pertama yang Xie Long lakukan setelah masuk ke kota adalah mencari restoran, karena saat ini dia sudah sangat lapar dan membutuhkan makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan, bahkan ia tidak memikirkan apapun lagi selain harus segera makan.


Sementara itu, di istana kerajaan.


Komandan prajurit yang sebelumnya memeriksa lencana giok Xie Long, sekarang telah berada di istana kerajaan untuk melaporkan hal yang ia temui kepada raja kota dan jendral kerajaan, agar mereka dapat menentukan keputusan apa yang harus dilakukan.


"Apa kau yakin kalau lencana itu adalah lencana giok keluarga Lin?" tanya Qing Zong Xian, raja kota Shuijing.


"Hamba tidak mungkin berbohong yang mulia, ukiran yang ada pada lencana giok itu memang berasal dari keluarga Lin di kota Zuanshi."


"Lalu, dimana anak itu?"


"Dia masih berada di kota ini, yang mulia."


"Segera temukan dia dan bawa ke istana, jika dia memang anggota keluarga Lin, maka dia adalah tamu kehormatan ku."


"Baik, yang mulia!"


Meski sudah sangat lama berlalu, namun Qing Zong Xian masih mengingat jasa dua pemuda dari keluarga Lin yang pernah menyelamatkan anak dan cucunya, bahkan salah seorang dari mereka telah menjadi bagian keluarga Qing karena telah menikahi cucu kesayangannya.


Kedua pemuda yang begitu berjasa itu tidak lain adalah Lin Feng dan Lin Tian, sedangkan yang menikahi cucu Qing Zong Xian adalah Lin Tian, oleh karena itu, Qing Zong Xian tidak bisa mengabaikan keluarga Lin begitu saja, karena mereka sudah menjadi kerabat sejak lama.


"Aku jadi merindukan pemuda itu" Qing Zong Xian berucap pelan.


"Siapa yang Anda maksud, yang mulia?" tanya jendral kerajaan.


"Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda keluarga Lin" jawab Qing Zong Xian.


***


Xie Long yang tengah menikmati makanannya, terpaksa harus berhenti karena beberapa pria tengah berdiri tepat di depan mejanya. Awalnya Xie Long tidak terlalu menghiraukan mereka, namun mereka malah melepaskan aura kekuatan dengan sengaja dan ditujukan padanya.


"Bocah! Apa kau tidak tahu jika ruangan ini hanya untuk keluarga bangsawan? Dan apa kau tidak tahu, jika meja yang kau gunakan itu adalah meja khusus Tuan Muda kami?"


"Kau benar, aku tidak tahu tentang itu" jawab Xie Long dengan santainya.


"Kau..."


"Dengar, aku hanya ingin makan dan jangan ganggu ketenangan ku!" ujar Xie Long.


Beberapa pria itu nampak sangat kesal dengan ucapan Xie Long, salah seorang dari mereka bahkan sudah bersiap untuk melancarkan serangan padanya. Namun sebelum pria itu sempat menyerang, seseorang tiba-tiba datang dan menghentikan mereka.


"Apa yang mau kalian lakukan?" tanya pria yang tidak lain adalah komandan pasukan istana yang sebelumnya memeriksa lencana Xie Long.


"Tu-tuan, ka-kami, kami hanya..."


"Ba-baik!" ujar para pria tersebut, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


Tidak lama setelah para pria itu pergi meninggalkan tempat tersebut, sang komandan pasukan kerajaan kemudian menyampaikan tujuannya datang menemui Xie Long, yaitu ingin mengajak Xie Long ke istana kerajaan atas perintah raja kota.


Xie Long yang masih menikmati makanannya pun terpaksa harus berhenti lagi, dan mau tidak mau ia harus mengikuti komandan pasukan ke istana kerajaan, "Baiklah, silahkan antar aku ke sana" ucap Xie Long dengan nada yang sedikit kesal.


Sementara itu, para pria yang sebelumnya mengganggu Xie Long, nampak semakin kesal ketika melihat Xie Long dibawa menuju ke istana oleh komandan pasukan, walaupun mereka tidak tahu apa tujuannya, namun mereka yakin jika Xie Long bukanlah anak biasa.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus melaporkan masalah ini kepada Tuan Muda!" ucap salah seorang dari mereka.


"Kau benar! Tuan muda harus mengetahui tentang bocah itu."


***


Istana kerajaan.


Obrolan yang tengah berlangsung di aula singgasana seketika terhenti saat komandan pasukan datang bersama Xie Long, dan saat melihat wajah Xie Long, Qing Zong Xian langsung merasa seperti mengenali anak berusia tiga belas tahun itu.


"Kau... Nak, siapa nama ayahmu?" tanya Qing Zong Xian.


Xie Long diam sejenak, ia nampak ragu untuk menyebutkan nama ayahnya, namun setelah mengingat jika dirinya berada cukup jauh dari kota Zuanshi dan sekte Phoenix Emas, ia akhirnya memutuskan untuk menyebutkan nama ayahnya.


"Nama ayahku Lin Feng" jawab Xie Long.


Qing Zong Xian tersentak dan langsung menghampiri Xie Long, kemudian ia memeluknya dengan erat seraya berkata, "Cucuku, setelah sekian lama akhirnya kita bisa bertemu."


Alis Xie Long berkerut saat mendengar perkataan raja kota, "Maaf, yang mulia, tapi kenapa yang mulia memanggilku cucu?"


"Hahahaha" Qing Zong Xian tertawa lantang, kemudian menjelaskan siapa dirinya kepada Xie Long.


Setelah mendengar penjelasan raja kota, Xie Long kemudian berlutut seraya berkata, "Lin Xie Long memberi hormat pada kakek buyut."


"Hahahaha, bangunlah cucuku, mari, kita mengobrol di meja makan" sahut Qing Zong Xian.


Karena sangat bahagia dengan kedatangan Xie Long, Qing Zong Xian sampai melupakan keberadaan para petinggi serta obrolan mereka sebelumnya, meski begitu, para petinggi istana tersebut dapat memakluminya, karena yang datang adalah putra seorang penguasa di Benua Biru ini.


Ya! Siapa yang tidak mengenal Lin Feng? Sosoknya begitu luar biasa hingga membuat orang ingin menunduk hormat hanya dengan mendengar namanya, sosoknya begitu mengerikan hingga membuat orang berpikir ribuan kali untuk menimbulkan kekacauan di Benua Biru ini.


Dikalangan penduduk kelas bawah, ia dikenal sebagai Dewa penyelamat dan pembawa kedamaian, sementara di kalangan para penguasa, ia dikenal sebagai penguasa di atas segala penguasa, dan dikalangan orang-orang jahat, ia dikenal sebagai Dewa kematian.


Itulah Lin Feng, sosok yang begitu ditakuti dan juga dihormati oleh semua orang di Benua Biru, hingga saat ini, Lin Feng mendapatkan sebuah julukan baru, yaitu penguasa Benua Biru, entah siapa yang memulainya, namun gelar ini sudah menyebar luas ke seluruh penjuru Benua.


Meja makan.


"Long'er, bagaimana kabar ayah dan pamanmu?" tanya Qing Zong Xian.


"Ayah dan paman baik-baik saja, kakek" jawab Xie Long sembari menyantap hidangan yang disajikan oleh para pelayan istana.


"Syukurlah, kakek sudah sangat lama tidak bertemu mereka berdua, khususnya ayahmu" sahut Qing Zong Xian.