
Waktu kian berlalu, hari-hari terus berganti dan beberapa bulan telah terlewati, Lin Feng yang sudah bebas dari segala beban lebih memilih untuk hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya di sebuah tempat yang tidak jauh dari kota Zuanshi.
Saat ini, urusan kerajaan Dunia Bawah ia serahkan sepenuhnya kepada Yin Ouyang, tapi ia akan tetap datang jika kerajaan Dunia Bawah membutuhkan bantuannya, ia juga tidak memilih untuk tinggal di kota Zuanshi, karena ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilnya.
"Ning'er, apa kau tidak keberatan kita tinggal di sini?" tanya Lin Feng pada istrinya yang tengah duduk melamun di halaman rumah.
Luo Ning menggelengkan kepalanya, "Aku sama sekali tidak keberatan, Gege. Justru aku sangat senang karena bisa tinggal di tempat yang tenang seperti ini."
Alasan lain yang membuat Lin Feng tidak ingin tinggal di kota adalah, agar dia dan keluarga kecilnya bisa hidup dengan tenang, walaupun rumah yang ia bangun tidak semegah istana kerajaan Dunia Bawah, namun kebersamaan mereka seolah menutupi kesederhanaan mereka saat ini.
"Tapi, kenapa Gege memilih tempat ini?" tanya Luo Ning.
"Kau sendiri pasti tahu jawabannya" jawab Lin Feng.
Beberapa bulan yang lalu, Lin Feng dibantu oleh para bawahannya membangun sebuah rumah di kedalaman hutan, alasan ia memilih tempat itu adalah, karena di sana terdapat sumber energi kehidupan yang cukup besar, yang mana akan sangat berguna bagi kedua anaknya.
Alasan lainnya adalah, ia hanya ingin hidup sebagai manusia biasa dan melupakan segala macam urusan yang telah membebaninya selama ini. Karena ia yang sekarang hanya ingin fokus merawat dan menyaksikan pertumbuhan kedua anaknya.
"Aku ingin melihat mereka berdua, apa kau mau ikut?"
Luo Ning mengangguk, lalu keduanya beranjak dari halaman rumah dan pergi menuju air terjun, yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumah mereka.
"Gege, apa tidak apa-apa melatih mereka di usia sekarang?"
"Tidak usah khawatir, latihan ini akan sangat berguna untuk peningkatan mereka nantinya, lagipula, latihan yang aku berikan bukanlah latihan yang berbahaya" jawab Lin Feng seraya mengarahkan pandangannya ke air terjun.
Wushh!
Boom!
Tidak lama kemudian, dari air terjun terpancar aura kekuatan yang cukup besar, lalu diiringi dengan suara ledakan teredam yang juga berasal dari air terjun tersebut.
"Apa kau merasakannya? Sepertinya mereka sudah menjadi kultivator sekarang" ucap Lin Feng.
"Long'er dan Ling'er memiliki bakat luar biasa sejak lahir, jadi wajar jika mereka bisa menjadi kultivator di usia ini" sahut Luo Ning.
"Lalu, kenapa kau masih saja khawatir?"
"Aku hanya tidak ingin anak-anak kita mengalami hal yang buruk" jawab Luo Ning.
"Selama aku ada, akan aku pastikan mereka berdua baik-baik saja" ucap Lin Feng, kemudian mendekat ke air terjun.
"Long'er, Ling'er, kalian bisa berhenti sekarang" ucapnya.
Xie Long dan Xie Ling yang tengah bermeditasi di bawah air terjun, langsung membuka mata setelah mendengar perkataan ayah mereka, lalu keduanya melompat keluar dari air terjun dan mendarat tepat didepan Lin Feng.
"Ayah" ucap kedua serempak.
"Selamat, kalian berdua sudah menjadi kultivator, setelah ini ayah akan mengajari kalian mengenai berbagai hal mengenai dunia kultivasi."
"Baik, ayah!" ujar keduanya serempak, kemudian menghampiri Luo Ning.
"Long'er, Ling'er, selamat atas keberhasilan kalian."
"Terima kasih, Bu."
Malam harinya.
Kebahagiaan terpancar dengan jelas di wajah Lin Feng, kehangatan keluarga yang sudah lama ia rindukan akhirnya bisa ia rasakan lagi, walaupun ayah, ibu dan kakaknya tidak ada di sana, namun Lin Feng bisa merasakan keberadaan mereka bertiga ditengah-tengah keluarga kecilnya itu.
"Ayah, apa yang ayah pikirkan?" tanya Xie Ling.
Lin Feng tersenyum kemudian membelai puncak kepala putrinya itu dengan lembut, "Ayah sedang memikirkan, kakek, nenek dan bibi kalian" jawab Lin Feng.
"Maksud ayah?" tanya Xie Long.
"Apa ayah punya saudari?"
"Karena kalian sudah besar, maka ayah akan menceritakan semuanya pada kalian."
Dalam ceritanya, Lin Feng mengarang jika dirinya terbunuh di kehidupan pertamanya dahulu, lalu Dewi Nuwa memindahkan jiwanya kedalam tubuh seorang pemuda di dunia kultivasi, yang memiliki nama yang sama dengan dirinya, yaitu Zhao Feng.
"Kenapa yang mulia Dewi memindahkan jiwa ayah ke sini?" tanya Xie Long.
"Karena dia membutuhkan bantuan ayah untuk mengalahkan iblis yang jahat dan ingin menguasai dunia ini" jawab Lin Feng.
"Tapi kalian tenang saja, karena sekarang ini sudah tidak ada lagi yang namanya iblis" sahut Luo Ning.
"Apa karena ayah membunuh mereka semua?"
"Benar sekali, putriku, ayahmu sudah membunuh semua iblis jahat itu, sehingga tidak ada lagi bangsa iblis yang tersisa di dunia ini" jawab Luo Ning.
"Itu artinya ayah adalah pahlawan umat manusia, benarkan, Bu?"
"Hahaha" Lin Feng tertawa mendengar ucapan Xie Long, "Tidak juga, karena ayah melakukan semua ini bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk menciptakan kedamaian di dunia ini."
"Bagiku itu sama saja!" ujar Xie Long.
Malam semakin larut, setelah menidurkan kedua anaknya, Luo Ning kemudian menghampiri Lin Feng yang tengah duduk di halaman rumah sembari menatap gelapnya langit malam yang dihiasi jutaan cahaya bintang.
"Kapan Gege akan berangkat?" tanya Luo Ning, kemudian duduk di sebelah suaminya itu, namun Lin Feng malah memintanya untuk duduk di pangkuannya.
"Tunggu setelah kau melahirkan, barulah aku akan berangkat" jawab Lin Feng.
"Maafkan aku Ning'er, aku terpaksa harus meninggalkan kalian sekali lagi" lanjutnya.
"Tidak apa-apa suamiku, lagipula perjalanan ini adalah yang terakhir, dan berbeda dari sebelumnya, perjalanan kali ini pasti akan jauh lebih mulus, karena tidak ada lagi yang menghalangi jalan Gege" sahut Luo Ning.
"Semoga saja."
"Apa anak-anak sudah tidur?"
Luo Ning mengangguk pelan, "Ada apa?"
"Baguslah, itu artinya hanya tinggal kita berdua saja sekarang" jawab Lin Feng.
"Lagi? Bukankah kemarin malam..." ucapan Luo Ning terhenti karena Lin Feng meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Itu kemarin malam, dan sekarang berbeda lagi" ujar Lin Feng, kemudian mengecup pipi istrinya itu berulang kali.
"Hahahaha" Luo Ning tertawa geli karena tingkah suaminya itu.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Lin Feng menghentikan aksinya.
"Tidak, bukan begitu Gege."
"Lalu?"
"Aku hanya penasaran saja, sebenarnya sejak kapan sang Assassin terkuat yang dijuluki sebagai raja malam menjadi seperti ini?"
"Sejak putri Luo mencairkan gunung es dalam diriku ini" jawab Lin Feng, kemudian mendaratkan kecupan mesra di bibir istirnya itu.
*
*
*
Assalamu'alaikum semuanya.
Sepertinya banyak reader yang ngga rela kalo novel ini tamat, bahkan sampai ada yang ngga terima karena author menamatkan novel ini secara sepihak😂 jadi harus musyawarah dulu ya kalo mau end🤣
Yaudah, sesuai keinginan kalian deh, author lanjutkan novelnya. Tapi beberapa hari ke depan libur dulu ya, nanti lanjutnya pada tanggal 1 bulan depan.
Satu lagi, kalo like-nya sampai 1000 sebelum tanggal 1, nanti author kasih crazy up minimal 8 chapter.
Sekian untuk hari ini, see you next chapter, Bai-bai.