
Dimensi kedua.
Lin Feng saat ini tengah duduk bermeditasi dipuncak sebuah gunung, meski ia sekarang ada di dimensi kedua, namun ia bisa melihat dan menyaksikan pertarungan putranya yang ada di dimensi pertama.
Sejak pertemuannya dengan lima sosok penjaga alam semesta, Lin Feng mendapatkan sebuah anugerah dengan diangkat menjadi Dewa penjaga keenam, bersamaan dengan itu, ia juga mendapatkan kemampuan khusus yang membuatnya bisa melihat keadaan di dimensi lain.
Oleh karena itu, meski Lin Feng saat ini berada di dimensi kedua, namun ia masih bisa melihat dan mengetahui apa yang tengah terjadi di dimensi pertama, begitupun dengan dimensi yang lainnya yang ada di seluruh alam semesta ini.
"Kemampuan ini sangat berguna, meski aku berada ditempat yang jauh, tapi aku masih bisa mengawasi mereka dari sini" gumam Lin Feng.
Wushh!
Saat sedang fokus mengawasi pertarungan putranya, Lin Feng dikejutkan oleh gejolak aura kekuatan yang sangat besar, dan dengan sangat terpaksa, ia harus menyudahi kegiatannya itu, karena ia harus segera menghampiri sumber kemunculan aura tersebut.
"Hah" Lin Feng menghela napas panjang, "Padahal aku masih ingin melihat pertarungan Long'er" gumamnya, kemudian menghilang dari tempat tersebut.
Tidak lama kemudian, Lin Feng telah muncul lagi di suatu tempat di alam Dewa dimensi kedua, "Selamat, akhirnya kau berhasil menembus ranah lagi, Wu Nan" ucap Lin Feng.
"Terima kasih, guru" jawab Wu Nan.
Sejak kedatangannya lima tahun yang lalu, Lin Feng membawa muridnya itu untuk menyusuri berbagai macam tempat di dimensi kedua ini, selain ingin menambah pengetahuannya, Lin Feng juga ingin kekuatan muridnya itu mencapai puncak kekuatan yang bisa dicapai oleh seorang manusia.
"Guru, apa ada tugas untukku?" tanya Wu Nan.
"Untuk saat ini kau istirahat saja terlebih dahulu, karena setelah ini aku akan membawamu ke dimensi kesembilan" jawab Lin Feng.
"Dimensi kesembilan?"
Lin Feng mengangguk, "Aku berencana untuk menjadikanmu penguasa di dimensi ke-sembilan, tapi itupun jika kau mau menjadi penguasa di sana, jika tidak, maka aku tidak akan memaksa."
Wu Nan diam sejenak sembari memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil, karena keinginan gurunya itu bukanlah keinginan biasa, apalagi dia tidak yakin apakah dirinya mampu memegang tanggung jawab itu atau tidak.
"Guru, izinkan aku membahas masalah ini bersama ayah dan yang lainnya."
"Tentu, karena mendapatkan izin dari keluargamu adalah hal yang paling utama" sahut Lin Feng, kemudian ia membawa Wu Nan kembali ke alam manusia.
Setibanya di ibukota kekaisaran, Wu Nan kemudian menceritakan perihal mengenai keinginan Lin Feng kepada ayah dan juga semua anggota keluarganya. Lalu, ia meminta pendapat dan juga saran dari mereka semua, agar kedepannya nanti dia tidak salah mengambil jalan.
Suasana di ruangan keluarga menjadi hening setelah Wu Nan menjelaskan semuanya, hal itu sempat membuatnya berpikir jika semua keluarganya tidak setuju dengan keputusan Lin Feng, bahkan ia saat ini sudah siap untuk menolak keinginan gurunya itu.
"Dimana gurumu sekarang?" tanya kaisar Wu.
"Guru ada di luar, aku sudah mengajaknya kemari, tapi dia menolak, karena tidak ingin ikut campur urusan keluarga kita" jawab Wu Nan.
"Panggil dia kemari, ada yang ingin ayah sampaikan padanya."
"Baik, ayah!" sahut Wu Nan, kemudian keluarga dari ruang keluarga.
Tidak lama kemudian, Wu Nan kembali masuk ke ruang keluarga bersama Lin Feng dan saat itu juga, kaisar Wu beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Lin Feng, lalu setelahnya, ia berlutut pada guru anaknya itu.
"Tuan Lin, terima kasih, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membalas kebaikan Tuan Lin, tapi aku mohon, terimalah penghormatan dari orang tua ini" jawab kaisar Wu.
"Hah" Lin Feng hanya bisa menghela napas panjang, "Sudahlah, rasa terima kasihmu sudah lebih dari cukup untukku."
"Lagipula, seharusnya akulah yang berterima kasih karena kau sudah mengizinkan Wu Nan ikut bersamaku" lanjutnya.
Wu Nan tersentak mendengar ucapan gurunya itu, kemudian mengalihkan pandangannya pada ayahnya "Jadi, ayah..."
"Iya, nak! Ayah mengizinkanmu" ujar kaisar Wu.
"A-apa ayah yakin?"
"Harapan terbesar seorang ayah adalah melihat kesuksesan anaknya, jadi bagaimana mungkin ayah menghalangi jalanmu" jawab kaisar Wu.
Bagi seorang kaisar, kaisar Wu tentunya ingin anaknya itu menjadi orang hebat yang nantinya bisa meneruskan jalannya, meski begitu, harapan terbesar dalam dirinya untuk anak-anaknya adalah, ingin melihat anaknya berada diposisi yang jauh lebih tinggi darinya.
Dan dengan bantuan Lin Feng, maka keinginan terbesarnya itu pasti akan terwujud, jadi tidak ada alasan baginya untuk menolak ataupun menghalangi jalan anaknya, apalagi keberadaannya bukan hanya sekedar penguasa satu kekaisaran, melainkan penguasa satu dimensi.
"Terima kasih ayah" ucap Wu Nan, kemudian memeluk ayahnya dengan erat.
Sementara itu, Lin Feng hanya bisa tersenyum melihat kehangatan yang terjalin antara ayah dan anak itu, dan dalam hatinya, ia juga menginginkan hal yang sama seperti kaisar Wu, ingin melihat anak-anaknya berdiri ditempat yang jauh lebih tinggi darinya.
***
Dimensi pertama.
Pertarungan Xie Long melawan pemuda yang menantangnya masih terus berlanjut, namun seiring dengan berjalannya waktu, Xie Long nampak semakin mendominasi pertarungan tersebut, bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak pukulan telak yang berhasil ia dapatkan pada lawannya.
Selain itu, Xie Long juga sangat diuntungkan oleh ketidakstabilan senjata jiwa milik musuhnya, yang membuatnya kesulitan untuk mengerahkan kemampuan maksimal dari senjatanya tersebut. Jika tidak, Xie Long pasti akan sangat kewalahan menghadapi pemuda tersebut.
"Menyerah lah sebelum terlambat!" ujar Xie Long disela-sela pertarungan.
"Berhentilah meremehkan aku, bocah sialan!"
Karena sudah tidak tahan dengan ucapan Xie Long yang memintanya untuk menyerah berulang kali, pemuda itu kemudian memaksakan dirinya untuk mengerahkan kekuatan maksimal dari senjatanya, namun apa yang dikatakan oleh Xie Long sebelumnya benar-benar terjadi.
Saat pemuda itu menyalurkan energi dalam jumlah besar kedalam senjatanya, pedang yang seharusnya membantu menghalalkan lawannya, malah berbalik menyerangnya sendiri, bahkan pedang itu terus saja menghisap energi spiritualnya seolah ingin menghabiskan seluruh energi spiritual dalam dirinya.
"Tidak! A-apa yang terjadi pada pedang ini?!"
Disaat yang bersamaan, Xie Long mengeluarkan sebilah pedang dari cincin penyimpanannya, lalu ia bersiap dan menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangannya.
"Siapapun, tolong aku!"
"Sekarang!" ujar Xie Long, kemudian melesat dengan kecepatan tinggi menuju pemuda tersebut, lalu saat berada tepat didepannya, Xie Long langsung menebaskan pedangnya.
Semua orang nampak tercengang dengan perbuatan Xie Long, mereka berpikir jika Xie Long tengah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, namun setelah menyaksikan apa yang terjadi berikutnya, barulah mereka mengetahui jika Xie Long sedang membantu pemuda tersebut.