
"Tujuh tebasan kematian!"
Setelah melompat mundur dan mengambil jarak dari mereka, Xie Long kemudian melancarkan serangan dengan jurus yang ia pelajari dari ayahnya, yaitu sebuah jurus yang telah banyak merenggut nyawa musuh-musuh Lin Feng.
Tujuh energi pedang berbentuk bulan sabit berwarna merah, melesat dengan kecepatan tinggi dan memotong apapun yang ia lalui. Para bandit yang menyaksikan hal itu, berusaha untuk melarikan diri, namun semuanya sudah terlambat.
Pada akhirnya, semua bandit yang menghentikan langkah Xie Long, berhasil dilenyapkan olehnya hanya dengan menggunakan satu jurus saja, dan semuanya benar-benar mati dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
"Cihh, dasar pengganggu!" ujar Xie Long.
Kemudian, Xie Long mengumpulkan cincin penyimpanan mereka semua, meskipun isinya tidak terlalu berharga, namun sudah lumayan cukup untuk membantu meningkatkan kultivasinya, dan setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju ke kota kekaisaran.
"Semoga saja diluar hutan ini adalah kota" gumam Xie Long.
Karena baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di wilayah Selatan ini, Xie Long hanya bisa berharap pada jalan yang saat ini ia ikuti, dan jika jalan itu tidak membawanya ke sebuah kota ataupun desa, maka Xie Long harus berjuang sendiri untuk mencarinya.
Akan tetapi, Xie Long akhirnya bisa menghela napas lega setelah melihat sebuah kota yang letaknya masih lumayan jauh dari tempatnya sekarang, dan tanpa pikir panjang lagi, Xie Long mempercepat langkahnya agar segera sampai di kota tersebut.
Kurang dari sepuluh menit, Xie Long yang melesat dengan kecepatan maksimalnya, akhirnya sampai di kota pertama yang ia lihat di wilayah Selatan ini, namun sama seperti kota-kota lainnya, ia harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu sebelum memasuki kota.
"Tunjukkan identitas mu!"
Xie Long mengangguk, kemudian menunjukkan lencana klan Lin.
"Klan Lin? Kau berasal dari wilayah mana?"
"Wilayah timur, kekaisaran Feng, tepatnya di kota Zuanshi" jelas Xie Long.
"Baiklah, silahkan masuk!" ujar prajurit penjaga gerbang tersebut.
"Terima kasih, Tuan!" sahut Xie Long, kemudian melewati para prajurit penjaga gerbang.
***
Beberapa hari yang lalu.
"Yang mulia, para bandit mulai bertindak lagi, banyak sekali penduduk yang mengeluh karena mereka masih belum dimusnahkan juga."
"Bukankah aku sudah menurunkan perintah untuk memburu mereka?" tanya pria tua yang duduk di singgasana.
"Benar yang mulia! Tapi, perburuan yang kami lakukan masih belum bisa memusnahkan semua bandit di wilayah Selatan ini."
"Hah" pria tua itu menghela napas panjang, "Baiklah, sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan."
"Yang mulia! Tindakan ini terlalu berlebihan, mereka hanyalah bandit rendahan dan tidak pantas jika yang mulia turun tangan secara langsung."
"Benarkah? Lalu kenapa kalian masih belum menyelesaikan masalah sepele seperti ini?"
"Jendral, siapkan pasukan, besok kita akan berangkat ke desa itu."
"Maksud yang mulia?"
"Sudah saatnya kita membinasakan para pengganggu dari kekaisaran ini!"
"Baik, yang mulia!"
Setelah mendapatkan perintah, pria yang memiliki status sebagai seorang jendral itupun beranjak pergi meninggalkan aula singgasana, lalu ia pergi menuju ke tempat latihan para pasukan untuk menyampaikan perintah yang baru saja ia dapatkan.
"Setelah sekian lama, akhirnya yang mulia mulai bersemangat lagi" gumam jendral tersebut.
"Hah" jendral itu menghela napas panjang, "Apapun alasannya, yang penting semangat dalam diri yang mulia telah muncul lagi."
Esoknya.
Sesuai dengan yang telah diperintahkan, hari ini kaisar negara Yuan yang tidak lain adalah kakek buyut Xie Long, akhirnya berangkat bersama pasukannya menuju ke sebuah desa yang dianggap sebagai tempat paling berbahaya di wilayah Selatan ini.
Namun, karena jaraknya yang sangat jauh, perjalanan itu tidak bisa hanya ditempuh dengan satu hari saja. Sebenarnya mudah bagi Yuan Chun Zhe dan pasukannya untuk sampai di sana, namun karena harus membasmi para bandit, perjalanan itupun harus mereka lakukan dengan menunggangi kuda.
Hanya dengan menunggangi kuda dan membawa beberapa gerobak, barulah para bandit yang meresahkan akan muncul dan menunjukkan batang hidungnya, karena mereka akan berpikir jika rombongan Yuan Chun Zhe adalah rombongan para pedagang.
Dan benar saja, setelah mereka keluar dari gerbang kota kekaisaran dan berada dalam jarak yang sudah lumayan jauh, rombongan mereka langsung dihentikan oleh sekelompok bandit. Tapi tentunya, mereka semua berhasil diringkus oleh pasukan kekaisaran dengan mudah.
Kini, setelah beberapa hari melakukan perjalanan dan memberantas para bandit yang meresahkan, rombongan Yuan Chun Zhe akhirnya sampai di sebuah kota yang letaknya sangat jauh dari kota kekaisaran.
***
Disebuah restoran.
"Selamat datang" sapa seorang pelayan pada Xie Long.
Xie Long tersenyum ramah seraya mengangguk, "Bawakan aku makanan dan minuman yang enak" ucapnya.
"Baik" jawab pelayan itu, kemudian pergi menyiapkan pesanan Xie Long.
Setelah memesan, Xie Long mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan, setelah menemukan satu meja yang kosong, ia kemudian menghampirinya dan duduk di sana.
Disaat yang sama.
Beberapa pria yang duduk tidak jauh dari Xie Long menatapnya dengan tatapan tajam, dan tentu saja, tatapan mereka ini langsung disadari oleh Xie Long, namun ia lebih memilih untuk mengabaikan mereka, lagipula mereka juga tidak mengusiknya.
Tidak lama kemudian, pelayan yang sebelumnya datang menghampiri Xie Long dengan membawa sepiring makanan dan segelas minuman, setelah meletakkannya dimeja, pelayan itupun menundukkan badannya dan pergi meninggalkan Xie Long.
"Hah" Xie Long menghela napas panjang, "Aku hanya ingin makan, rasanya tidak ada hal menarik dari seorang anak sepertiku, tapi kenapa tatapan kalian tidak bisa lepas dariku?"
Xie Long berbicara dengan nada yang lumayan keras sehingga ucapannya terdengar oleh semua orang di ruangan tersebut, namun ia bicara tanpa menoleh sedikitpun pada orang-orang yang sejak tadi mengawasi dirinya.
"Anak ini..."
"Kau lumayan juga karena menyadarinya, kalau boleh tahu, siapa kau sebenarnya? Rasanya tidak mungkin anak seusia dirimu mampu merasakannya."
"Aku bukan siapa-siapa, hanya pengembara kelaparan yang sedang singgah untuk mengisi perut yang keroncongan" jawab Xie Long, namun masih belum menoleh kearah lawan bicaranya.
"Jawaban yang menarik, aku semakin penasaran denganmu."
"Tidak masalah, tapi biarkan aku menghabiskan makanan dan minuman ini terlebih dahulu" sahut Xie Long.
Walaupun lawan bicaranya itu tidak mengatakan jika dirinya ingin menantang Xie Long untuk bertarung, namun perkataannya barusan sudah bisa diartikan sebagai sebuah tantangan, dan Xie Long bukanlah anak bodoh yang tidak memahaminya.
"Jika bisa sekarang, kenapa harus menunggu sampai nanti?"
"Boleh saja, tapi kau perlu tahu, ada beberapa hal yang tidak aku sukai, pertama diganggu saat makan, kedua keluargaku" jawab Xie Long.
"Ucapan mu barusan mengingatkanku pada seseorang!" sahut pria lainnya, dari nada suaranya, Xie Long bisa menebak jika pria itu jauh lebih tua dari pria sebelumnya.
"Kau benar, karena ayahku selalu mengatakan hal itu, dan ya! Aku mempelajari kata-kata itu darinya."