
Malam harinya.
"Jendral, bagaimana hasilnya?"
"Sampai saat ini, kami masih belum menemukan jejak musuh, dan kemungkinan besar, mereka semua memang telah lenyap" jawab jendral pasukan.
"Baiklah, tapi jangan sampai lengah, karena mungkin saja mereka masih bersembunyi di suatu tempat di desa ini."
"Baik, yang mulia!"
Walaupun Xie Long sudah melenyapkan semua musuh yang ada di sana, namun Yuan Chun Zhe tetap memerintahkan para prajurit untuk berjaga secara bergiliran, karena mungkin saja masih ada sisa-sisa pasukan musuh di sana.
"Bangsa iblis, aku benar-benar tidak menyangka jika mereka akan bangkit lagi," gumam Yuan Chun Zhe.
Sejak Lin Feng dan pasukannya melenyapkan bangsa iblis, Benua Biru bisa dikatakan sudah benar-benar sangat aman dari ancaman kekuatan kegelapan, namun kejadian hari ini, membuat Yuan Chun Zhe merasa sedikit khawatir.
Meski yang mereka temui hari ini bukan sepenuhnya bangsa iblis, tapi bukan berarti mereka bisa dibiarkan begitu saja, karena seiring dengan berjalannya waktu, kekuatan mereka tentunya akan bertambah besar dan bukan tidak mungkin jika mereka akan menjadi iblis yang sesungguhnya.
"Aku harus menyebarkan berita ini sesegera mungkin, kalau tidak, Benua Biru ini akan kembali tenggelam dalam cengkeraman kegelapan."
Sementara itu.
Alam bawah sadar Xie Long.
Ketika Xie Long tengah bermeditasi, kejadian yang sama seperti sebelumnya kembali terulang, dan kali ini, ia sudah sampai di hamparan padang rumput luas yang juga sama seperti sebelumnya.
"Lin Xie Long!"
Xie Long langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil, namun kali ini, ia langsung berlutut karena sudah mengetahui siapa yang datang menemuinya.
"Lin Xie Long memberi hormat pada kakek" ucapnya.
Pria yang tidak lain adalah Yuan Long itu tersenyum melihat sikap yang ditunjukkan oleh cucunya, "Bangunlah cucuku," ucapnya.
"Kakek..."
"Cucuku, kau sudah sangat besar sekarang dan kakek benar-benar menyesal karena baru bisa menemui mu sekarang."
Xie Long menggeleng, "Aku malah sangat senang karena bisa berjumpa dengan kakek."
"Sungguh? Kakek juga senang karena bisa bertemu denganmu" sahut Lin Xie Long.
"Kakek, maaf jika cucumu ini lancang, tapi bagaimana kakek bisa menemui ku?"
Yuan Long tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh cucunya itu, kemudian ia menjelaskan alasan kenapa dirinya bisa datang menemui Xie Long di alam bawah sadarnya, padahal, sebenarnya tidak mungkin lagi dia bisa melakukan itu.
Semua orang yang mengenal Yuan Long, tentunya sudah mengetahui jika dirinya sudah lama meninggal, namun tidak semua orang mengetahui jika jiwanya belum sepenuhnya musnah, bahkan Lin Feng sendiri tidak menyadarinya.
Kisah ini dimulai saat Yuan Long menyadari jika dirinya tidak mungkin lagi untuk menjadi kultivator, lalu dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki saat itu, ia menyimpan sebagian jiwanya kedalam pedang Dewa Naga dengan menggunakan teknik terlarang.
Alasan Yuan Long melakukan hal itu, bukan karena ingin dibangkitkan lagi, namun ia melakukan hal itu agar di masa depan nanti, ia masih bisa menemui keturunannya secara tidak langsung.
Selama bertahun-tahun terjebak dalam pedang Dewa Naga, jiwa Yuan Long akhirnya bangkit saat Lin Feng mewarisi pedang tersebut, namun sayangnya, Lin Feng malah tidak menyadari keberadaan jiwa ayahnya itu.
Walaupun sudah dibangkitkan secara tidak sengaja, namun jiwa Yuan Long harus menunggu lebih lama lagi, dan akhirnya, penantian panjang itu dapat terbalaskan saat si kembar lahir ke dunia ini.
Saat itu, Xie Long yang masih bayi memang belum mengerti apa-apa, namun jiwa Yuan Long bisa merasakan jika cucunya itu adalah satu-satunya orang yang bisa mewarisi segala peninggalannya.
Sejak saat itu, jiwa Yuan Long tidak lagi berada di dalam pedang Dewa Naga, melainkan berpindah ke dalam suatu benda yang ada di dalam tubuh si kembar, dan setelah tiga belas tahun berlalu, barulah Yuan Long bisa menemui cucunya.
***
"Pedang Dewa Naga? Maksud kakek pedang yang ada pada ayah?" tanya Xie Long.
Yuan Long mengangguk menjawab pertanyaan cucunya, "Sekarang, kakek akan memberikan semua peninggalan kakek padamu, dan dimulai dari senjata spesial yang kakek ciptakan sendiri."
"Senjata spesial?"
"Benar, tapi untuk mendapatkan senjata ini, kau harus melewati beberapa tahapan ujian terlebih dahulu, jika kau lolos, senjata ini akan mengakui dirimu sebagai pemiliknya."
"Apa kau siap?"
"Tentu saja, kakek! Aku akan melewatinya dan mendapatkan pengakuan dari senjata itu!"
"Bagus, itulah yang kakek harapkan darimu" sahut Yuan Long.
"Sekarang, pejamkan matamu, kakek akan memasukkan semuanya kedalam ingata mu."
Xie Long mengangguk, kemudian ia duduk dengan sikap meditasi, lalu memejamkan matanya seperti yang diperintahkan oleh kakeknya itu.
Setelah Xie Long memejamkan matanya, Yuan Long kemudian menyentuh dari cucunya itu dengan jari telunjuknya, lalu dari ujung jari Yuan Long terpancar cahaya yang langsung masuk kedalam kepala Xie Long.
Xie Long berteriak kencang tak kala berbagai macam ingatan masuk ke kepalanya, menimbulkan rasa sakit yang membuat kepalanya terasa seperti akan meledak saat itu juga.
"Bertahanlah, proses ini memang sedikit menyakitkan!" ujar Yuan Long.
Beberapa menit berlalu, Yuan Long akhirnya menarik jari telunjuk yang menyentuh dahi cucunya, bersamaan dengan itu, rasa sakit yang Xie Long rasakan juga mulai menghilang secara perlahan.
"Kakek sudah memberikan semuanya, sekarang sudah saatnya untuk kita berpisah" ucap Yuan Long.
"Maksud kakek?"
"Long'er, kakek sudah lama meninggal dan sudah seharusnya kakek pergi meninggalkan dunia ini."
"Tidak! Kakek, aku mohon jangan pergi!"
"Long'er, kakek akan selalu mengawasi mu dari alam sana, dan ingatlah, jangan buat kakek mu ini kecewa."
Setelah itu, jiwa Yuan Long perlahan mulai menghilang dari pandangan Xie Long.
"Kakek!"
"Kakek, jangan pergi!"
"Long'er, apa yang terjadi?!"
Suara Yuan Chun Zhe membuat Xie Long tersadar, napasnya terdengar memburu seperti seseorang yang baru saja mengalami mimpi buruk, bahkan seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat.
"Cucuku, kenapa kau berteriak? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Yuan Chun Zhe.
Xie Long masih terdiam tanpa tahu harus memberikan jawaban seperti apa pada kakek buyutnya itu, karena ia sendiri terlihat masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Peristiwa itu terasa seperti mimpi, namun rasa sakit di kepala yang ia rasakan sebelumnya, serta ingatan-ingatan aneh yang ada dalam benaknya, membuat Xie Long yakin jika kejadian itu bukanlah sebuah mimpi.
"Long'er, katakan pada kakek, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Aku..." Xie Long terlihat ragu untuk menjelaskan apa yang baru saja ia alami di alam bawah sadarnya.
"Kau kenapa?"
"Aku baru saja bertemu dengan kakek" jawab Xie Long.
Yuan Chun Zhe nampak mengerutkan alisnya mendengar perkataan cucunya itu, meski ia tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi, namun ia yakin jika cucunya itu sedang tidak berbohong padanya.
"Yuan Long, misteri apa lagi yang kau sembunyikan dari pria tua ini?"
***
Istana kekaisaran Luo.
Seisi istana dibuat heboh ketika mendengar suara teriakan dari kamar Xie Ling, bahkan para pelayan dan prajurit istana yang telah terlelap juga terbangun akibat suara teriakan yang sangat keras tersebut.
"Ling'er, apa yang terjadi padamu, nak? Kenapa kau berteriak?"
Luo Ning langsung memeluk putrinya itu untuk menangkan dirinya, meski tidak tahu apa yang telah dialami oleh putrinya, namun Luo Ning dapat merasakan rasa takut yang dirasakan oleh putrinya tersebut, bahkan tubuhnya masih tidak berhenti bergetar saat Luo Ning memeluknya.
"I-ibu, a-aku..." Sangat sulit bagi Xie Ling untuk menjelaskan apa yang telah ia temui, karena kejadian itu terasa begitu nyata, padahal jelas-jelas ia tengah tertidur lelap di dalam kamarnya.
"Ling'er, katakan pada nenek, apa yang membuatmu takut sampai seperti ini?" Lin Hua ikut memeluk cucunya itu.
"Ka-kakek..."
"Kakek?"
Lin Hua dan Luo Ning tersentak kaget mendengar perkataan Xie Ling, dan entah kenapa, keduanya langsung memikirkan satu sosok yang sama, yaitu Yuan Long.
"Cucuku, apa kau bermimpi bertemu dengan kakek mu?" tanya Lin Hua.
Xie Ling mengangguk, "I-itu bukan mimpi nek, semuanya terasa sangat nyata dan..."
"Tenanglah, nanti saja lanjutkan ceritamu setelah kau benar-benar tenang" ujar Luo Ning.
"I-ibu, nenek, te-temani aku."
Lin Hua dan Luo Ning mengangguk bersamaan, "Baiklah, ibu dan nenek akan menemanimu."
Kejadian yang menimpa sang kakak, juga dialami oleh Xie Ling yang berada di ibukota kekaisaran Luo, dan sama seperti Xie Long yang mendapatkan warisan dari kakek mereka, Xie Ling juga mendapatkan hal tersebut, hanya saja warisan yang mereka dapatkan adalah dua hal yang berbeda.
"Suamiku, misteri apa lagi yang kau sembunyikan dariku" gumam Lin Hua, tanpa ia sadari, setetes air telah keluar dari sudut matanya.