
Beberapa hari kemudian.
Setelah menginap selama beberapa hari di kediaman keluarga Lin, Jia Zhen dan adiknya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena mereka masih ingin menjelajahi wilayah timur Benua Biru ini.
Sebenarnya, mereka berdua ingin menjelajahi seluruh wilayah Benua Biru, namun mereka tidak bisa melakukannya, karena kedua orang tua mereka tidak memberikan izin untuk melakukan hal tersebut.
"Kak, kemana tujuan kita selanjutnya?"
"Aku ingin mengunjungi kota kelahiran ayah, tapi kalau kau tidak mau..."
"Tentu saja aku mau, lagipula aku sangat penasaran dengan kota itu" sahut Zhen Jia.
Jia Zhen mengangguk, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kota Awan. Namun lagi-lagi, langkah mereka terpaksa harus dihentikan karena dihadang oleh sekelompok kultivator bertopeng.
"Kami sudah menunggu cukup lama untuk bisa membunuh kalian!"
Jia Zhen mengerutkan dahi, "siapa kalian? Aku tidak pernah menyinggung siapapun sebelumnya?"
"Kau mungkin lupa, tapi kami tidak!"
Setelah itu, para kultivator tersebut langsung menyerang mereka berdua, disaat yang bersamaan, Jia Zhen meminta adiknya untuk kembali ke tubuhnya, karena ia tidak ingin adiknya itu terluka.
"Apa kalian murid sekte Phoenix Emas?"
Meski hanya sekedar menebak, namun Jia Zhen yakin jika para kultivator yang menyerangnya itu adalah murid sekte Phoenix Emas, karena beberapa hari yang lalu ia pernah berurusan dengan mereka.
"Bagus jika kau tahu, tapi menyesal sekarang sudah tidak ada gunanya lagi!"
Amarah yang sudah menghilang akhirnya muncul kembali dalam dadanya, ia benar-benar tidak menyangka jika sekte Phoenix Emas masih menyimpan dendam pada ia dan adiknya.
Padahal, ia sudah berbaik hati untuk tidak meluluhlantakkan sekte tersebut, namun kebaikannya malah mereka anggap sebagai suatu kelemahan, bahkan tidak segan-segan mengincar nyawanya dan adiknya.
"Kalian semua benar-benar membuatku muak!"
Karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi dengan mereka, Jia Zhen kemudian mengeluarkan pedang Dewa Asura dari cincin penyimpanannya, lalu menyerang dan membantai mereka semua.
Meski sudah membantai mereka, namun kemarahan dalam dirinya masih belum menghilang, dan karena tidak ingin masalah ini terus berlanjut, iapun memutuskan untuk mendatangi sekte Phoenix Emas sekali lagi.
Namun, ditengah perjalanan menuju sekte Phoenix Emas, Jia Zhen mendadak menghentikan langkahnya, ia sepertinya menyadari adanya sesuatu yang janggal dalam masalah ini. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyelidikinya.
"Hubungan antara sekte Phoenix Emas dan ayah sangat baik, jadi mustahil mereka ingin memulai pemberontakan."
"Jangan-jangan ada pihak yang ingin mengadu domba dan menyulut api peperangan antara ayah dan sekte Phoenix Emas."
"Aku tidak bisa diam saja!"
Jia Zhen melanjutkan perjalanannya menuju ke sekte Phoenix Emas, namun kedatangannya kali ini ia lakukan secara diam-diam, agar tidak ada pihak lain yang mengetahui tentang kehadirannya di sekte.
Setibanya di sekte, Jia Zhen langsung menjelaskan tentang kecurigaannya tersebut, ia juga mengatakan jika sekte Phoenix Emas sudah disusupi oleh mata-mata, dan mereka inilah yang sebelumnya mengusik dirinya.
"Jia Zhen, apa yang membuatmu begitu yakin dengan perkataan-mu itu?"
Jia Zhen diam sejenak, kemudian mengungkapkan segala kemungkinan yang ia pikirkan, dan semua hal yang ia sampaikan sangatlah masuk akal, sehingga membuat mereka yakin dengan perkataannya.
"Lalu, saran apa yang kau miliki untuk masalah ini?"
"Untuk mendapatkan tangkapan yang besar, tentu kita harus memberikan umpan yang besar pula."
"Maksudmu?"
"Aku akan datang dua hari lagi, dan aku yakin, cara ini akan membuat mereka keluar dari persembunyiannya."
"Caranya?"
"Kita lihat saja nanti." Setelah menyampaikan semuanya, Jia Zhen kemudian pamit pergi, karena ia harus bersiap-siap untuk menjalankan rencananya itu.
"Anak itu sangat sulit ditebak" ucap Jin Feng Huang.
"Tapi, rencana apa yang ia siapkan?"
"Entahlah, tapi firasat-ku mengatakan, akan ada keributan saat dia datang nanti" jawab Jin Feng Huang.
***
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa dua hari yang dijanjikan telah tiba dan kini, Jia Zhen tengah menuju ke sekte Phoenix Emas dengan sebilah pedang di tangan kanannya.
"Selamat datang, tuan muda" sapa penjaga gerbang sekte.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, jadi persiapkan diri kalian!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Jia Zhen langsung menebas pedangnya ke udara, sehingga terciptalah sebuah energi berbentuk bulan sabit yang langsung menghantam gerbang sekte.
Dhuaaar!
Ledakan dahsyat yang berasal dari gerbang berhasil mengejutkan semua orang di sekte, namun pemimpin dan para tetua sekte hanya bisa menghela napas panjang, karena sudah mengetahui apa penyebab ledakan tersebut.
"Bersiaplah, sepertinya dia sudah memulai rencananya."
Para tetua mengangguk, kemudian meninggalkan aula pertemuan, lalu mengumumkan kepada seluruh murid untuk segera bersiap-siap, karena pertempuran akan segera terjadi.
Saat mengetahui kabar itu, para murid sekte tentu saja terkejut, karena tidak menyangka jika masih ada orang yang berani menyentuh sekte mereka, padahal semua orang sudah tahu siapa pelindung sekte tersebut.
Inilah salah satu kelemahan sekte Phoenix Emas, mereka terlalu senang karena berada dibawah naungan Lin Feng, sehingga mereka lupa jika masih ada pihak yang menginginkan kehancuran mereka.
Memang benar, tidak ada yang berani menyentuh sekte Phoenix Emas secara langsung, tapi bukan berarti tidak ada yang berani melakukannya secara diam-diam, hanya saja, mereka tengah menunggu waktu yang tepat.
Dan terbukti, mereka sukses menyusupkan mata-mata ke sekte Phoenix Emas, bahkan mereka hampir berhasil membuat sekte Phoenix Emas berseteru dengan Lin Feng.
Sementara itu.
"Bocah itu telah memakan umpan yang kita pasang, sekarang hanya tinggal menunggu kehancurannya saja."
"Tunggu apa lagi, mari buat suasana semakin kacau!"
Beberapa pria tua yang tengah mengawasi keadaan akhirnya memutuskan untuk ikut andil dalam keributan tersebut, bahkan memerintahkan pasukannya untuk langsung menyerang.
Pada saat yang bersamaan, mata-mata yang berada di sekte juga mulai menyerang para murid, sehingga membuat keadaan di sekte Phoenix Emas semakin kacau, dan sudah banyak juga murid sekte yang menjadi korban.
"Akhirnya mereka muncul juga" gumam Jia Zhen, kemudian melesat kearah gerbang sekte.
Kemunculan Jia Zhen membuat langkah pasukan yang ingin menyerang sekte terhenti, mereka sedikit bingung melihat Jia Zhen yang justru berada didepan gerbang, karena seharusnya, Jia Zhen saat ini tengah membantai murid sekte.
"Tidak usah kaget, aku memang sengaja melakukan ini untuk membuat kalian keluar."
"Kau..."
"Iya! Aku sudah mengetahui semuanya!" ujar Jia Zhen.
"Hahahaha!"
"Aku tidak menyangka kau bisa menyadari rencana kami, tapi percuma saja, karena hari ini, kami akan membunuhmu dan menghancurkan sekte ini!"
"Lakukanlah jika kalian mampu!"
"Semua prajurit, dengarkan perintah! Bunuh bocah itu dan hancurkan sekte ini!"
"Aku yakin, inilah yang ayah rasakan saat menghadapi ribuan musuh sendirian" gumam Jia Zhen, kemudian melesat ke arah lautan musuh didepannya.
*
(Maaf ya cuma satu, author kecapean karena hari ini sibuk, tapi besok author usahakan bisa up 3 chapter.
Sekian untuk hari ini, see you next chapter, Bai-Bai)