
Waktu berlalu dengan cepat, penyerapan yang dilakukan oleh Xie Long telah berhasil ia selesaikan dalam waktu dua Minggu, dan saat ini, tingkat kultivasi-nya berada di ranah Saint bintang satu.
Berhasil meningkat sampai ke ranah selanjutnya dengan menggunakan kristal jiwa milik naga merah, seharusnya memberikan kebahagiaan untuknya, namun Xie Long malah tidak terlihat bahagia sama sekali.
Masalahnya bukan karena pencapaian yang ia dapatkan terlalu sedikit, tapi karena ia gagal menaklukkan kekuatan Asura dalam dirinya. Tidak, lebih tepatnya ia gagal menjadikan sosok kesepian itu sebagai temannya.
Setelah mengetahui masa lalu Dewa Asura, Xie Long sepertinya mengerti apa yang dirasakan oleh sosok yang ada dalam dirinya itu, dan kebencian yang ada padanya, bermula dari kegagalannya waktu itu.
"Kau tenang saja, suatu saat nanti, aku pasti akan membuatmu melupakan kesalahan yang tidak kau perbuat itu" gumam Xie Long.
Tidak lama berselang, Huanran dan Xiao Xue datang menghampiri Xie Long, mereka berdua terlihat senang ketika mengetahui Xie Long telah berhasil meningkatkan kultivasi-nya ke ranah selanjutnya.
"Zilong, selamat atas pencapaian-mu"
"Tuan, selamat!"
Xie Long hanya menanggapi ucapan selamat keduanya dengan senyuman seadanya dan sedikit anggukan kepala, ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua.
"Zilong, ada apa?" tanya Huanran yang menyadari perubahan sikap kekasihnya itu.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedikit lelah" jawab Xie Long, kemudian tersenyum agar Huanran dan Xiao Xue tidak khawatir padanya.
Meskipun Xie Long menunjukkan senyuman lebar yang terukir di bibirnya, namun Huanran dan Xiao Xue dapat merasakan jika ada yang salah dengan Xie Long, karena tidak biasanya ia bersikap seperti itu.
Namun, mereka berdua lebih memilih untuk bungkam dan tidak mempermasalahkannya lagi, karena keduanya yakin jika Xie Long akan menceritakan semuanya pada mereka nanti.
"Tuan, sebentar lagi akan malam, bagaimana kalau kita bermalam di sini saja?"
Masih sama seperti sebelumnya, Xie Long hanya menanggapi perkataan Xiao Xue dengan anggukan, bahkan ia tidak menoleh sedikitpun pada bawahannya itu.
"Aku akan menyiapkan makan malam" sahut Huanran, kemudian menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
***
Alam Nirvana.
Latihan yang dijalani oleh Xie Ling dan Jia Zhen terus bertambah sulit setiap harinya, namun keduanya tidak pernah mengeluh atau menyerah sedikitpun, karena mereka takut mengecewakan kedua orang tuanya.
Selain itu, hasil latihan berat yang mereka jalani sudah mulai terlihat secara perlahan, karena kekuatan, ketahanan dan kecepatan mereka sudah mulai meningkat secara perlahan, khususnya Jia Zhen yang memiliki kecepatan tinggi, bahkan sudah hampir menyamai kakak perempuannya itu.
"Ling'er, Zhen'er, kemari-lah" ucap Lao Tzu.
Xie Ling dan Jia Zhen menghentikan latihan yang sedang mereka lakukan, lalu keduanya menghampiri Lao Tzu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka berdua.
"Ada apa, guru?" tanya Xie Ling.
"Ling'er, kekuatanmu sudah lebih tinggi dari adikmu, jadi aku rasa kau bisa menjalankan tugas ini sendirian."
"Pergilah ke kota dan beli tanaman herbal yang sudah aku tulis di kertas ini" lanjutnya, kemudian menyerahkan selembar kertas pada Xie Ling.
"Baik, guru!" jawab Xie Ling dengan patuh, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Guru, apa yang harus aku lakukan?"
"Zhen'er, kau harus menjalani latihan khusus sebelum kakakmu kembali, guru ingin menyaksikan kekuatanmu secara langsung" jawab Lao Tzu.
"Baik, guru!"
Setelah itu, keduanya kemudian menghilang dari tempat tersebut dan sesaat kemudian, mereka telah sampai di hutan yang terletak di bagian belakang desa tersebut, lalu setelahnya, Lao Tzu menciptakan perisai pelindung ditempat tersebut.
"Sekarang, keluarkan kekuatanmu" perintah Lao Tzu.
"Ini benar-benar aneh, kekuatan petir ini tidak begitu dahsyat, tapi kenapa kekuatan Asura bisa gentar saat merasakannya?"
Lao Tzu mengamati petir yang menyelimuti tubuh Jia Zhen dengan serius, ia juga mencoba membandingkan kekuatan petir itu dengan kekuatan Asura, namun hasilnya, kekuatan petir milik Jia Zhen tidaklah sebesar kekuatan Asura milik Lin Feng.
Bukan karena kekuatan Jia Zhen masih belum berkembang, ataupun kekuatan Asura milik Lin Feng yang telah sempurna, tapi apa yang Lao Tzu dapatkan dari pengamatannya adalah, mustahil kekuatan petir merah keemasan itu bisa menandingi kekuatan Asura.
"Lalu apa yang membuat kekuatan Asura gemetar? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi dalam kekuatan ini?"
Lao Tzu berusaha keras mencari sesuatu yang mungkin saja menyebabkan kekuatan Asura bergetar, namun sekeras apapun dia mencoba, usahanya tetap tidak membuahkan hasil apapun dan ia tetap tidak menemukan keanehan apapun dalam kekuatan itu.
"Guru, apa ada yang aneh dengan kekuatan ini?" tanya Jia Zhen.
Lao Tzu menggeleng pelan, "Guru hanya sedang mengagumi kekuatanmu."
"Baiklah, sekarang mari kita coba sampai sejauh mana kekuatanmu sudah berkembang" lanjutnya.
"Baik, guru!"
Setelah itu, Jia Zhen mulai melepaskan kekuatannya sampai ke tahap maksimal yang bisa ia capai, namun akibatnya, tempat itu malah hancur berantakan karena sambaran kekuatan petir merah keemasan itu.
Untungnya, Jia Zhen sudah mulai bisa mengendalikan kekuatannya tersebut, jika tidak, mungkin petir yang keluar dari tubuhnya itu akan menyambar Lao Tzu yang berada tepat didepannya.
"Kekuatannya memang sangat dahsyat, tapi kau harus berlatih lebih giat lagi, agar dapat mengendalikan kekuatan ini sepenuhnya."
"Baik, guru!"
"Baiklah, sekarang mari kita pindah ke tempat yang berbeda" ucap Lao Tzu, kemudian menyentuh pindah Jia Zhen dan seketika itu juga, mereka langsung berpindah tempat dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
"Ini dimana, guru?"
"Kita berada di ujung Hutan Agung wilayah Selatan Alam Nirvana" jawab Lao Tzu.
Jia Zhen terpana melihat pemandangan indah yang disuguhkan oleh hutan tersebut, didepannya saat ini ada sebuah air terjun yang sangat besar dan juga sangat tinggi, sedangkan di bawahnya ada danau yang benar-benar sangat luas.
"Kau lihat batu di bawah air terjun itu?" tanya Lao Tzu mengarahkan telunjuknya pada batu besar di bawah air terjun.
Jia Zhen mengangguk setelah melihat batu yang ditunjuk oleh gurunya itu, "Ada apa dengan baru itu, guru?"
"Batu itu adalah tempat yang akan kau gunakan untuk bermeditasi dan melatih konsentrasi mu."
"Baik, guru, tapi sampai kapan aku harus bermeditasi di sana?"
"Sampai kau bisa melihat setiap tetesan dari air terjun itu, dan akan lebih baik lagi kalau sampai bisa melihatnya berhenti walaupun hanya sesaat."
Jia Zhen melebarkan rahangnya mendengar perkataan gurunya itu, pasalnya, latihan yang ia berikan adalah latihan yang sangat sulit dan mustahil untuk dilakukan.
Bagaimana mungkin seseorang bisa melihat setiap tetesan air terjun yang turun dengan begitu deras? Bahkan Jia Zhen yakin ayahnya juga tidak bisa melakukan hal itu.
"Ada apa dengan ekspresi-mu itu?"
"Gu-guru, latihan ini..."
"Ingatlah pesan ayah dan ibumu, apa kau mau membuat mereka kecewa?"
Jia Zhen kehabisan kata-kata, ingatan mengenai tujuan dan keinginannya untuk melindungi ayah, ibu dan kedua kakaknya muncul kembali dalam benaknya.
"Benar! Aku tidak mau membuat ayah dan ibu kecewa!" ujarnya, kemudian melompat ke batu yang berada di bawah air terjun tersebut.