Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-202. Obrolan panjang


Xie Long berdiri dan bergegas menghampiri Phoenix hitam tersebut, sudah cukup lama ia tidak bertemu dengannya dan sekarang, Xiao Xue sudah tumbuh semakin besar, bahkan Xie Long terlihat sangat kecil bila dibandingkan dengannya.


Selain tubuhnya yang sudah tumbuh menjadi semakin besar, kekuatan di dalam dirinya pun juga telah bertambah, dan semua itu berkat pelatihan yang ia terima dari Huise dan yang lainnya, latihan keras yang memaksa Xiao Xue beberapakali berada diambang kematian.


"Xiao Xue, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja. Tuan sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kau lihat sekarang, aku baik-baik saja" jawab Xie Long. Kemudian mengangkat tangannya, disaat yang sama, Xiao Xue menunduk agar Xie Long dapat membelai kepalanya.


Setelah beberapa saat berlalu, Xiao Xue kemudian mengarahkan pandangannya pada Huanran, Xie Long yang melihat hal itu kemudian memperkenalkan bawahannya itu kepada Huanran, gadis cantik yang sudah mencuri hatinya.


"Tuan, apakah dia akan menjadi..." Xiao Xue menggantung ucapannya dengan sengaja, karena tanpa dilanjutkan pun, Xie Long sudah mengerti kemana arah pembicaraannya.


Xie Long mengarahkan pandangannya pada Huanran kemudian tersenyum lembut, "Kau akan tahu saat masanya tiba."


Sementara itu, Huanran yang masih berada ditempat semula hanya bisa menundukkan kepala, ia benar-benar malu sampai tidak berani menatap Xiao Xue, apalagi dia dan Xie Long hampir saja berciuman didepannya.


"Bagaimana kabar paman Huise dan yang lainnya? Apa mereka melatih mu dengan baik?"


"Mereka juga baik-baik saja, Tuan. Dan mengenai latihan itu, aku rasa jauh lebih cocok jika disebut sebagai penyiksaan."


Lebih dari satu tahun Xiao Xue dan Xiao Xie menjalani latihan bersama Huise dan yang lainnya, dan selama lebih dari satu tahun itu pula, tidak ada hari yang mereka lewati tanpa penyiksaan, bahkan keduanya sempat ingin menyerah menjalani latihan keras tersebut.


Jika bukan karena dorongan dari Huise atau lebih tepat disebut sebagai paksaan, mungkin kedua Beast itu sudah menyerah sejak lama, karena latihan yang mereka jalani benar-benar sudah melewati batas nalar.


Akan tetapi, latihan keras yang mereka jalani bukannya tidak membuahkan hasil, justru sekarang mereka sudah menuai buah manis dari kesabaran menjalani latihan tersebut, bahkan yang mereka dapatkan sangat jauh dari apa yang diperkirakan oleh Huise dan yang lainnya.


"Paman memang seperti itu, tapi percayalah, mereka semua melakukan itu demi kebaikanmu sendiri."


"Dan satu lagi, latihan keras itu sebenarnya ujian untukmu, karena mereka sedang menguji apakah kalian berdua pantas untuk menjadi saudara mereka semua atau tidak."


Xiao Xue mengangguk, "Aku sudah mengerti, Tuan. Bahkan sekarang, aku dan Xiao Xie sudah dianggap seperti saudara oleh Tuan Huise dan yang lainnya."


"Baguslah, aku turut senang mendengarnya."


Setelah itu, Xiao Xue meminta izin kepada Xie Long untuk mengubah wujudnya, karena menurutnya, akan lebih nyaman jika mereka mengobrol saat dirinya berada dalam wujud manusia.


Ya! Salah satu buah manis yang berhasil dipetik oleh Xiao Xue adalah perubahan wujud, ia yang sebelumnya hanya seekor burung Phoenix, kini telah berhasil mengubah wujudnya menjadi manusia seperti yang lain.


Xie Long sangat senang ketika mengetahui hal itu, dan iapun memberikan izin kepada Xiao Xue untuk mengubah wujudnya.


Xiao Xue berubah menjadi pemuda tampan yang kisaran usianya tujuh belas tahun, dengan rambut hitam panjang yang menjadi ciri khas bulu tubuhnya yang juga hitam, begitupun dengan pakaian yang ia kenakan.


Xie Long menatap kagum pada bawahannya itu, ia mengitari Xiao Xue sembari memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah, "Dilihat dari manapun, kau benar-benar mirip seperti manusia" ucapnya.


"Terima kasih, Tuan."


Kehadiran Xiao Xue membuat Huanran semakin salah tingkah, ia bahkan tidak berani menatap wajah Xie Long ataupun Xiao Xue, bukan karena takut, melainkan karena malu padanya, apalagi saat mengingat kejadian sebelumnya.


"Xiao Hua, kenapa kau diam saja?" tanya Xie Long yang menyadari perubahan sikap Huanran.


"Eh... a-aku..."


"Nona Hua, jangan terlalu sungkan padaku, karena saat Nona Hua menjadi pasangan hidup Tuanku nanti, akupun akan menganggap Nona Hua sebagai Tuanku sendiri" sahut Xiao Xue.


Perkataan Xiao Xue membuat Huanran semakin tertunduk malu, andai saja dia mau mengangkat wajahnya walau hanya sesaat, pasti rona merah di pipinya akan terlihat dengan jelas, namun sayangnya, ia benar-benar tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu.


Sementara Xie Long, ia hanya bisa tersenyum seraya menggeleng pelan, ia tentunya mengerti kenapa Huanran tidak berani mengangkat wajahnya, karena apa yang Huanran rasakan juga dirasakan olehnya saat ini, hanya saja, dia masih bisa mengandalikan diri.


"Tuan, bagaimana perjalanan Tuan selama berada di Daratan Suci ini?" tanya Xiao Xue.


Xie Long mendesah pelan, kemudian mengangkat wajahnya dan menatap jutaan bintang yang menghiasi langit malam, apa yang ia lakukan itu jelas menunjukkan adanya masalah yang tengah membebani pikirannya.


Melihat sikap Tuannya, Xiao Xue sudah bisa menebak seberapa besar masalah yang tengah ia hadapi, namun Xiao Xue lebih memilih untuk diam dan menunggu Tuannya itu bercerita dengan sendirinya, karena tidak sopan rasanya bila ia menanyakan hal tersebut.


Setelah diam untuk waktu yang cukup lama, Xie Long akhirnya menceritakan masalah yang tengah menimpa dirinya dan Huanran, ia juga mengatakan jika dirinya dan Huanran masih menjadi buruan anggota sekte Naga Angin sampai saat ini.


"Tuan! Tunjukkan saja dimana sekte itu berada, dan akan dipastikan Tuan mendengar berita kehancuran mereka besok!" Xiao Xue nampak sangat marah setelah mendengar cerita Tuannya.


Xie Long menggeleng pelan, "Aku senang mendengarnya, tapi aku tidak akan puas jika tidak menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri" sahut Xie Long.


"Selain itu, masih ada dendam yang harus aku selesaikan dengan mereka" lanjutnya sembari mengarahkan pandangan pada Huanran yang masih tertunduk.


Selama ini, tidak terhitung berapa kali Xie Long dan Huanran bertarung melawan anggota sekte Naga Angin yang memburu mereka, dan sudah tidak terhitung pula berapa banyak luka yang mereka dapatkan dari pertarungan tersebut.


Namun, yang membuat Xie Long benar-benar marah adalah saat Huanran terluka parah, bahkan ia hampir saja melepaskan kekuatan Asura untuk menghancurkan musuhnya, beruntung Huanran yang masih sadarkan diri berhasil menghentikannya.


Jika bukan karena dihentikan oleh Huanran, entah apa yang akan terjadi pada orang-orang itu, dan entah apa pula yang akan terjadi pada Xie Long, karena mengeluarkan kekuatan Asura saat sedang marah, akan memudahkan sosok dalam dirinya mengambil alih tubuhnya.


Sejak saat itu, Xie Long mulai memaksakan diri untuk meningkatkan kekuatannya, bahkan ia tidak peduli lagi pada resiko yang akan dia dapatkan, karena yang ada dalam pikirannya hanya meningkatkan kekuatan, agar bisa membalaskan dendamnya.


"Tuan, aku selalu siap membantu kapanpun Tuan membutuhkan bantuan."


"Terima kasih, tapi untuk saat ini, aku masih belum memiliki rencana untuk menyerang mereka" sahut Xie Long, dengan pandangan yang masih tertuju pada Huanran.


"Zilong." Setelah diam sekian lama, Huanran akhirnya membuka suara, ia juga sudah berani mengangkat wajahnya, namun masih belum begitu berani menatap Xiao Xue.


"Ada apa, Xiao Hua?"


"Apa aku boleh tidur sekarang?"


Xie Long mengerutkan alisnya, "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja boleh. Lagipula, kapan aku pernah melarang mu untuk tidur?"