Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-56. Aku ingin menentang takdir


Xiao Lang nampak mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan Maha Dewa, karena tidak pernah sedikitpun tersirat dalam benaknya bahwa buku yang ia pegang itu memiliki pengaruh yang sangat besar untuk alam semesta, namun setelah mengingat isi buku tersebut, maka apa yang dikatakan oleh Maha Dewa bisa saja menjadi kenyataan.


"Baik, yang mulia, hamba akan menyimpan buku ini dengan sebaik mungkin" ucap Xiao Lang, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


Di halaman istana bintang.


Setelah kembali dari dimensi ciptaan Maha Dewa, Lin Feng terlihat masih merenungkan setiap perkataan yang diucapkan oleh Maha Dewa. Bagaimana tidak, selama ini ia berusaha sekuat tenaga untuk menentang takdirnya sendiri, tapi pada akhirnya, ia masih saja berjalan di jalan yang sudah ditentukan oleh takdir untuknya.


"Cihh, apa aku benar-benar tidak bisa lepas dari ikatan takdir?"


"Yang aku inginkan hanyalah ketenangan dengan hidup sebagai manusia biasa, tapi kenapa takdir selalu saja membawaku ke jalan yang seperti ini?"


"Tuan, takdir semua orang memang sudah ditentukan sejak ia dilahirkan, sekalipun ia berpindah jalan, namun akhirnya dia akan menemukan jalan yang sama" ucap Huise.


"Dilahirkan? Kau salah, Huise. Aku tidak dilahirkan di dunia ini, tapi dipaksa untuk masuk ke dunia ini."


"Itu benar, tapi kenyataan bahwa tubuh Tuan dilahirkan di dunia ini tidak bisa Tuan pungkiri begitu saja" sahut Huise.


"Huise, apa kau masih ingat dengan janji yang kau ucapkan dulu?"


Huise mengangguk pelan, "Sampai kapanpun, aku tidak akan melupakan janji itu, Tuan."


Lin Feng tersenyum kemudian berdiri dari tempat duduknya, ia mengangkat tangan kanannya ke langit kemudian mengepalkan jari tangannya, "Mulai sekarang, aku akan menentang takdirku sendiri!"


Huise tersentak kaget mendengar perkataan Lin Feng, tapi kemudian ia juga beranjak dari tempat duduknya lalu berlutut di depan Lin Feng, "Dan aku akan selalu setia menemani Tuan" ucapnya.


Meskipun sudah mengetahui tujuan yang ingin Lin Feng capai hampir mustahil untuk dilakukan, namun Huise tidak pernah sedikitpun meragukan kehendak Tuannya itu, dan jangankan untuk merasa ragu, Huise bahkan tidak pernah mempertanyakan apa alasan Lin Feng mengambil keputusannya itu.


Disisi lain.


"Huise, kelebihan apa yang kau miliki hingga kau sangat berbeda dariku?"


Sejak mengetahui identitas Huise yang sebenarnya, Shen Long tidak pernah berhenti mengawasi Huise, ia benar-benar penasaran dengan sosok Huise dan juga alasan kenapa Huise bisa jauh lebih hebat darinya. Padahal, status mereka berdua sama-sama bawahan, namun derajat mereka jelas jauh berbeda.


Akan tetapi, sejak ia mulai mengawasi Huise dan sampai saat ini, Shen Long belum pernah menemukan sesuatu yang sangat spesial dari Huise, dan bisa dikatakan bahwa mereka berdua memiliki kesamaan yang selalu ada pada diri seorang bawahan, yaitu kesetiaan kepada Tuan mereka.


Jika Huise rela mengorbankan nyawanya demi Lin Feng, maka Shen Long juga rela mengorbankan nyawanya demi Xiao Lang, jika Huise menjadi senjata dan tameng bagi Lin Feng, maka Shen Long juga melakukan hal yang sama seperti Huise, namun entah mengapa Shen Long selalu menganggap jika ada sesuatu pada diri Huise yang tidak ada dalam dirinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menanyakan masalah ini secara langsung" gumam Shen Long, kemudian menghampiri Lin Feng dan Huise.


"Bukankah kau sudah lama bersembunyi untuk mengawasi kami? Lalu kenapa sekarang kau malah keluar dari persembunyian mu?" tanya Lin Feng.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengawasi kalian, aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Huise" jawab Shen Long.


"Jika ingin bicara, bicara saja ditempat ini, karena aku tidak bisa pergi tanpa izin dari Tuanku" sahut Huise.


"Pergilah, mungkin ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu."


"Baik, Tuan!"


Setelah mendapat izin dari Lin Feng, Huise kemudian mengikuti Shen Long menuju ke sisi lain taman istana. Di sana, Shen Long mulai menanyakan hal-hal mengenai diri Huise, termasuk apa saja yang telah ia lakukan hingga membuatnya berada di titik dimana ia berada sekarang.


"Bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan, dan mustahil kau tidak melakukan apapun yang membuat derajat mu terangkat lebih tinggi dariku" ucap Shen Long.


"Aku sudah mengatakan kebenaranya padamu, jika kau tidak percaya, itu bukan urusanku!" sahut Huise.


"Cihh, pasti ada sesuatu yang kau lakukan di masa lalu, jika tidak, bagaimana mungkin hewan rendahan sepertimu bisa memiliki derajat yang lebih tinggi dariku?!"


"Shen Long, kau memang bangsa Beast yang agung, tapi bukan berarti kau bisa merendahkan para Beast yang lain, dan jika sikapmu tidak berubah, suatu saat nanti, pasti akan ada Beast lain yang derajatnya jauh lebih tinggi lagi darimu."


"Apa maksud ucapan mu itu? Apa kau sudah berani merendahkan ku?"


"Itu tergantung bagaimana kau menanggapinya" jawab Huise, kemudian pergi meninggalkan Shen Long.


Karena kesal mendengar ucapan Huise, Shen Long yang awalnya ingin berbicara baik-baik langsung tersulut emosi, dan saat Huise hendak meninggalkannya, ia langsung melancarkan serangan. Namun, serangan itu ditahan oleh Xiao Lang yang tiba-tiba muncul didekatnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Xiao Lang.


"Yang mulia, a-aku tidak bermaksud..."


"Apa kau ingin bilang tidak bermaksud untuk menyerang Huise? Dan apa kau pikir aku tidak melihat semuanya?!" Xiao Lang nampak kesal dengan perbuatan bawahannya itu.


"Shen Long, aku benar-benar kecewa denganmu! Dimana dirimu yang dulu?"


"Kau bertanya kenapa Huise bisa seperti sekarang? Baiklah, aku akan menjawabnya untukmu."


"Huise bisa seperti sekarang karena dia tidak sombong sepertimu, meskipun dia memiliki kekuasaan yang jauh lebih luas darimu, tapi dia tidak pernah menunjukkannya. Sebaliknya, kau justru menyombongkan segala yang ada pada dirimu, dan itulah alasan kenapa Huise lebih baik darimu."


Shen Long terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, karena apa yang dikatakan oleh Xiao Lang memang benar adanya, dia memang terlalu sombong hingga membuatnya lupa bahwa di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi lagi. Dan kesombongan itu juga membuatnya lupa darimana dia berasal.


"Sudah cukup! Kembalilah sekarang dan renungkan kesalahanmu ini!" ucap Xiao Lang.


"Baik, Tuan" Shen Long kemudian pergi dari sana dengan wajah tertunduk, ia benar-benar menyesal karena sudah membuat Tuannya kecewa.


"Huise, aku minta maaf atas perbuatan Shen Long sebelumnya" ucap Xiao Lang setelah Shen Long pergi dari sana.


Huise menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, yang mulia. Lagipula, aku bisa memaklumi hal itu."


"Terima kasih, kau benar-benar sosok yang luar biasa, sama seperti Tuan mu."


*


*


*


(*Besok mau crazy up lagi? Jangan lupa di Vote dan like ya... Jika like-nya banyak, mungkin besok bakalan update 4 episode lagi...


Sekian dari author, see you next chapter, Bai-bai*...)