
Di suatu tempat di wilayah timur.
Seorang pria tua yang tengah bermeditasi, tiba-tiba saja membuka matanya ketika sebuah giok disebelahnya pecah. Ia kemudian meraih pecahan giok tersebut, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
"Murid-ku, aku pasti akan membalaskan dendam mu!" ucapnya, kemudian menghilang dari tempat duduknya.
Tidak lama kemudian, pria tua itu telah muncul lagi di kota Awan, namun ia hanya mengawasi keadaan kota dari udara, karena ia tidak ingin ada yang mengetahui tentang keberadaannya di kota tersebut.
"Kehancuran di kota ini cukup parah, sepertinya musuh yang dihadapi murid ku adalah kultivator yang cukup kuat" gumamnya.
"Tubuh itu..."
Pria tua itu melesat turun ke arah tubuh tanpa kepala yang tergeletak di tanah, ia mengerutkan dahinya ketika melihat penampilan mayat yang tidak asing di matanya itu.
Saat hendak mendekati mayat tersebut, pria itu tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh ke bawah kearah benda di bawahnya yang hampir saja terinjak olehnya.
"Kepala?"
Karena tidak ingin menyentuhnya, pria tua itu kemudian menggeser kepala tersebut dengan kakinya, dan seketika itu juga, ia dibuat kaget saat mengetahui jika kepala itu adalah kepala muridnya.
Wushh.
Aura kekuatan yang sangat dahsyat terpancar dari tubuh pria tersebut, "siapapun yang melakukan semua ini, pasti akan kubunuh dengan tanganku sendiri!"
Pria tua itu melesat terbang mengikuti jejak aura yang semakin menjauh dari kota Awan, ia sangat yakin jika jejak aura yang ia rasakan itu, adalah aura milik orang yang telah membunuh muridnya.
Hanya dalam hitungan menit, pria tua itu telah berhasil menemukan pemilik aura yang ia rasakan sebelumnya, namun ia dibuat kaget karena pemilik aura itu hanyalah seorang bocah.
"Ini benar-benar sulit dipercaya, tidak mungkin bocah inilah yang telah membunuh murid-ku."
"Tapi, aura yang ia miliki benar-benar sama dengan aura yang aku rasakan sebelumnya."
Pria tua itu nampak ragu dan juga bingung, sangat sulit baginya untuk percaya jika bocah itulah yang telah membunuh muridnya, namun aura di tubuhnya sudah menjadi bukti yang sangat jelas dan nyata.
"Cihh, aku tidak peduli mau dia bocah atau tidak, yang jelas aku harus membalaskan dendam murid-ku!"
Disisi lain.
"Zhen Jia, sepertinya kau tidak bisa keluar sekarang."
"Memangnya kenapa?"
"Ada masalah besar yang sedang mengintai-ku" jawab Jia Zhen.
Tidak lama berselang, pria tua yang sebelumnya muncul di depan Jia Zhen, tatapan matanya sangat tajam dan tidak bersahabat, bahkan Jia Zhen bisa merasakan kebencian yang besar dalam tatapan pria itu.
"Apa kau yang membunuh murid-ku?"
"Maaf, aku tidak mengenal murid yang kau maksud" jawab Jia Zhen dengan santai.
"Jangan pura-pura bodoh!"
Jia Zhen mengangkat sudut bibirnya, "sudah aku katakan, aku tidak mengenal murid-mu, tapi jika yang kau maksud adalah pria itu, memang benar, akulah yang membunuhnya."
"Akhirnya kau mengaku juga, bocah sialan!" ujar pria tua itu, kemudian mengarahkan telapak tangannya pada Jia Zhen.
Wushh.
Cahaya berwarna merah melesat dari telapak tangan pria itu dan hampir saja mengenai Jia Zhen, beruntung ia dapat menghindarinya, jika tidak, dirinya pasti akan terluka sangat parah karenanya.
"Jangan harap bisa kabur dariku!"
Pria tua itu kembali mengarahkan telapak tangannya pada Jia Zhen, kemudian dari dalam tanah muncul beberapa rantai yang tercipta dari energi, lalu rantai itu melesat kearah Jia Zhen dan berhasil membelenggu dirinya.
"Jangan remehkan aku, pak tua!"
Dhuaaar!
Jia Zhen melepaskan kekuatannya dan berhasil membuat rantai yang membelenggu dirinya hancur, lalu setelah itu, ia menghilang dari pandangan pria tua tersebut.
Detik berikutnya, Jia Zhen telah muncul lagi di belakang musuhnya itu, namun saat ia hendak melancarkan serangan, sebuah tendangan telah lebih dulu mendarat di tubuhnya.
Tendangan pria itu membuat Jia Zhen terlempar sangat jauh hingga menabrak sebuah pohon, ia juga muntah darah akibat luka dalam yang ia dapatkan karena tendangan tersebut.
Rantai yang sama seperti sebelumnya kembali muncul di tanah dan membelenggu tubuh Jia Zhen untuk kedua kalinya, namun kekuatan rantai itu jelas jauh lebih besar dari sebelumnya.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan seraya melambaikan tangannya, dan seketika itu juga, tubuh Jia Zhen ditarik oleh rantai yang membelenggunya sampai ke hadapan pria tua tersebut.
"Kakak, biarkan aku keluar."
"Tidak, aku tidak mau kau terluka."
"Tapi..."
"Mengertilah, Zhen Jia. Kau sangat berharga bagiku dan aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu!" ujar Jia Zhen.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu sebelum aku mencabut nyawamu?"
"Coba saja kalau kau bisa!"
"Hahaha!"
Pria tua itu tertawa lantang mendengar perkataan Jia Zhen, meski sangat membencinya, namun ia cukup kagum dengan keberanian yang dimiliki oleh bocah didepannya itu.
"Dengar, tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu dari kematian" ucap pria itu, kemudian mengepalkan jari tangannya.
"Arkhhh!"
Jia Zhen berteriak kencang karena rasa sakit di sekujur tubuhnya, rantai yang membelenggu tubuhnya tidak ubah seperti ular yang tengah melilit mangsa, ia akan terus mengeratkan lilitannya sampai tubuh mangsanya itu hancur.
Wushh.
Dhuaaar!
Rantai yang melilit tubuh Jia Zhen mendadak hancur tanpa sebab, disaat yang sama, aura yang begitu mengerikan langsung memenuhi tempat tersebut, bahkan pria tua itu sampai dibuat bergidik olehnya.
"Berani sekali kau menyakiti putraku."
"Si-siapa kau?"
Tubuh pria itu gemetaran saat menatap sosok Lin Feng yang tengah menghampirinya, walaupun penampilannya biasa saja, namun aura yang terpancar dari tubuhnya sangatlah mengerikan.
"Aku adalah dewa kematian yang datang untuk mencabut nyawamu!" jawab Lin Feng.
Kemudian, Lin Feng mengarahkan telapak tangannya kepada pria tersebut, seketika itu juga, rantai berwarna merah kehitaman muncul di tanah dan langsung melilit tubuhnya.
"Bukankah sebelumnya kau ingin membunuh putraku dengan cara ini? Sekarang coba kau rasakan betapa menyakitkannya dibunuh dengan cara yang sama!"
"Ti-tidak, to-tolong ampuni aku."
"Tu-tuan, yang mulai, a-aku mohon, ampuni aku!"
"Matilah!" ujar Lin Feng, kemudian mengepalkan jari tangannya.
Boom!
Seketika itu juga, pria tua itu langsung berubah menjadi kabut darah, tubuhnya hancur karena dililit oleh rantai yang membelenggu dirinya.
"A-ayah."
"Istirahatlah, ayah akan membawamu pulang" sahut Lin Feng, kemudian menghilang dari tempat tersebut.
Setibanya di istana kerajaan Dunia Bawah, Lin Feng kemudian membawa Jia Zhen ke kamarnya, agar putranya itu dapat beristirahat dengan tenang.
Walaupun pertarungan yang ia lalui tidak terlalu lama, namun menghadapi musuh yang kuat pastilah melelahkan dan menguras banyak tenaga.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Luo Ning yang baru saja datang ke kamar putranya.
"Dia hanya kelelahan setelah bertarung melawan musuh yang kuat" jawab Lin Feng.
"Lalu, bagaimana dengan musuhnya itu?"
"Dia sudah kubunuh."
"Baguslah, pastikan jiwanya terjerat selamanya dalam neraka Asura dan tidak bisa bereinkarnasi."