Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-228. Tenang bagai air


Setengah jam kemudian, puluhan kalajengking hitam itu telah berhasil dilenyapkan oleh mereka bertiga dan saat ini, ketiganya tengah berada di ruang bawah tanah, yang merupakan tempat kalajengking itu tinggal.


Di dalam sana, mereka bertiga berhasil mengumpulkan banyak sumberdaya, mulai dari yang rendah hingga yang menengah, namun sayangnya, mereka bertiga masih belum menemukan satupun sumberdaya tingkat tinggi.


Karena belum menemukan sumberdaya tingkat tinggi, ketiganya memutuskan untuk terus menyusuri lorong bawah tanah tersebut, lagipula masih banyak ruangan yang belum mereka periksa, dan mereka yakin, masih ada sesuatu yang menanti untuk ditemukan.


"Zilong, didepan ada Beast yang lumayan kuat" ucap Huanran.


Xie Long mengangguk, "Aku juga melihatnya" sahut Xie Long.


Mata ungu yang mereka miliki sangat membantu keduanya dalam menyusuri lorong bawah tanah tersebut, karena dengan mata ungu tersebut, keduanya dat melihat apapun dalam jarak yang sangat jauh, bahkan hingga beberapa ratus meter.


Sebelumnya, Xie Long juga sempat menanyakan tentang kekuatan mata ungu pada Huanran, dan menurut penjelasan kekasihnya itu, kekuatan mata ungu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kekuatan penggunanya.


Sementara untuk jarak pandang maksimal mata ungu adalah sejauh seribu meter, jarak pandang ini adalah jarak terjauh yang bisa dilihat dengan mata ungu.


Kalaupun kekuatan penggunanya sudah meningkat lebih tinggi, atau mungkin sudah setara dengan para Dewa, jarak pandangnya tetap tidak akan bertambah melebihi seribu meter.


"Tuan, aku bisa merasakan aura keberadaan Beast itu, tapi kenapa kita masih belum menemukannya juga?"


"Sebentar lagi, kita akan sampai ditempatnya."


"Memangnya seberapa jauh tempat Beast itu?"


"Sebelum aku melihatnya, jaraknya mungkin hampir lima ratus meter, tapi sekarang sudah kurang dari dua ratus meter" jawab Xie Long.


"Jarak pandang Tuan memang luas, aku sungguh iri" sahut Xiao Xue.


"Aku tidak akan bisa melihat sejauh itu jika bukan karena Xiao Hua" Xie Long menoleh kearah Huanran, kemudian tersenyum dibalik penutup wajahnya.


"Kau pantas mendapatkannya" ujar Huanran.


"Terima kasih."


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga akhirnya sampai ditempat Beast yang sebelumnya mereka bicarakan. Beast tersebut adalah seekor lipan raksasa, panjang tubuhnya bahkan mencapai sepuluh meter.


"Kekuatannya lumayan juga" ucap Xie Long.


"Tuan, izinkan aku saja yang menghadapinya."


Xie Long mengangguk, "Selesaikan dengan cepat!"


"Baik, Tuan!"


Xiao Xue kemudian melesat mendekati lipan merah raksasa tersebut, setelah jaraknya cukup dekat, ia kemudian mengeluarkan kekuatan petir hitam di telapak tangan kanannya.


Kekuatan petir di tangan Xiao Xue berkumpul dan membentuk sebuah bola energi. Lalu setelah itu, Xiao Xue melempar bola energi petir di tangannya itu ke tubuh lipan raksasa tersebut.


Dhuaaar!


Ledakan dahsyat terjadi ketika bola petir itu menghantam tubuh lipan raksasa, dampak ledakan yang sangat besar membuat lorong itu bergetar, bahkan ada beberapa bagian yang hancur karenanya.


"Xiao Xue, jangan sampai menghancurkan satu-satunya akses jalan kita!"


"Baik, Tuan!"


Pertarungan keduanya tidak berlangsung lama, hanya dalam waktu kurang dari dua menit, Xiao Xue telah berhasil menghancurkan tubuh lipan itu menjadi beberapa bagian.


Lalu, setelah mengambil kristal jiwanya, mereka langsung melanjutkan perjalanan, karena masih banyak yang harus mereka temukan di dalam lorong bawah tanah tersebut.


***


Beberapa Minggu kemudian.


Setelah bermeditasi selama tiga Minggu di bawah air terjun, Jia Zhen kini sudah mulai terbiasa dengan tekanan berat yang berasal dari air terjun tersebut, bahkan ia tidak membutuhkan perlindungan apapun lagi untuk menahan tekanan ini.


Meski begitu, selama tiga Minggu ini Jia Zhen baru berhasil menahan tekanan itu saja, sementara untuk melihat setiap tetesan air terjun tersebut, masih sangat jauh dari kata bisa, apalagi harus melihat air terjun itu terhenti walaupun hanya sesaat.


Ditempat lain.


Hal yang sama juga terjadi pada Xie Ling, ia yang awalnya membutuhkan perlindungan kekuatan api bumi sampai tahap maksimal, kini hanya dengan mengeluarkan sedikit kekuatan saja, ia sudah bisa menahan suhu dingin di sana.


Sedangkan untuk mencoba terjun ke dalam danau, ia masih belum yakin bisa melakukannya, karena suhu dingin itu saja masih bisa ia rasakan walaupun hanya sedikit, apalagi harus melompat masuk ke dalam danau, pasti dia akan langsung membeku.


***


Jia Zhen membuka matanya namun tidak berdiri dari tempat duduknya, ia kemudian menengadah untuk mencoba melihat tetesan air terjun, tapi hasilnya sia-sia saja, jangankan melihat setiap tetesan, satu tetesan-pun masih belum berhasil ia lihat dengan jelas.


"Sepertinya butuh waktu yang lebih lama lagi" gumam Jia Zhen, kemudian melanjutkan meditasi-nya.


Saat menutup mata, dalam benak Jia Zhen tiba-tiba muncul ingatan tentang ayahnya, tepatnya saat ayahnya memberikan beberapa nasehat untuk dia dan kedua kakaknya.


Dalam ingatan tersebut, Lin Feng mengingatkan mereka untuk selalu tenang dalam kondisi apapun, dan harus tetap fokus meski keadaan disekitar mereka sedang kacau.


Ketenangan adalah sesuatu yang sangat penting dalam diri seorang kultivator, karena saat hati merasa tenang, seberat apapun masalah pasti akan dilalui dengan lancar, dan solusinya juga akan mudah ditemui.


Jika hati sudah tenang, maka pikiran akan fokus, dan saat seorang kultivator mencapai ketenangan dan fokus tertinggi, maka apapun rintangannya, apapun masalahnya dan sekuat apapun musuhnya, pasti bisa diatasi dengan mudah.


"Berusahalah untuk tenang seperti air, karena sebesar apapun batu yang jatuh ke dalamnya, tidak akan membuat riak gelombangnya bertahan lama."


Kata-kata itulah yang selalu Lin Feng tanamkan dalam benak anak-anaknya, dan kata-kata itu jugalah yang kini terngiang dalam benak Jia Zhen.


"Tenang seperti air, sepertinya aku sudah mengerti maksud perkataan ayah waktu itu" gumamnya.


Jia Zhen menarik napas panjang, kemudian membuangnya secara perlahan dari mulut, semua hal yang menjadi beban menumpuk dalam benaknya, ia buang bersamaan dengan udara yang keluar dari mulutnya.


Setelah benar-benar merasa tenang, Jia Zhen kemudian memulai meditasi-nya. Disaat yang bersamaan, ia mendengar sesuatu dari dalam dirinya, sesuatu yang terdengar seperti suara tetesan air yang jatuh kedalam sebuah danau yang begitu luas.


Tanpa Jia Zhen sadari, aura berwarna biru keluar dari dalam tubuhnya, aura yang terasa begitu tenang bagai air yang tidak bergelombang, aura yang begitu tenang hingga mampu melenyapkan amarah dalam diri siapapun yang merasakannya.


Wushh!


Boom!


Ledakan teredam terdengar dari dalam tubuh Jia Zhen, yang menandakan jika kultivasi-nya telah berhasil meningkat dan kini, kultivasi Jia Zhen sudah berada di ranah Penempaan Tubuh bintang delapan.


Untuk anak-anak seusianya, kultivasi Jia Zhen sudah bisa dikatakan cukup tinggi, dan bisa dipastikan jika Jia Zhen tidak memiliki lawan lagi untuk ukuran anak seusianya, karena selain kemampuan bertarung yang luar biasa, kekuatan yang ia miliki juga membuatnya semakin hebat.