Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-84. Warisan terakhir


Groarrr!


Naga giok meraung dengan sangat kencang hingga suaranya berhasil membuat gunung tersebut bergetar, bahkan hewan-hewan spiritual yang terbang mengelilingi gunung langsung terbang menjauh, karena mereka tidak ingin berurusan dengan Naga Giok.


Akan tetapi, suara raungan yang mampu membuat hewan spiritual tingkat empat lari ketakutan, nyatanya tidak berhasil menggoyahkan Lin Feng sedikitpun, dan jangankan untuk melarikan diri, ia justru semakin tertarik untuk berhadapan secara langsung dengan naga tersebut.


"Manusia! Kalian semua akan menjadi santapan ku!" ujar Naga Giok.


Kemudian, Naga Giok membuka mulutnya dan menyemburkan napas apinya kearah Lin Feng dan teman-temannya, namun sayangnya, semburan napas api itu juga tidak mampu menembus perisai pertahanan yang telah diciptakan oleh Lin Feng sebelumnya.


"Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan perisai ini" ucap Lin Feng, lalu menghilang dari pandangan mereka berlima.


Sesaat kemudian, Lin Feng muncul lagi di hadapan Naga Giok dengan kedua lengannya yang telah diselimuti oleh armor sisik naga, dan seketika itu juga, Lin Feng langsung mendaratkan pukulan keras ke kepala Naga Giok yang membuatnya terpental hingga menghantam puncak gunung.


Setelah itu, Lin Feng mengangkat tangannya ke langit, bersamaan dengan itu, di langit muncul seribu pedang berwarna merah kehitaman yang memancarkan aura kematian.


"Mati kau, cacing tanah sialan!" ujar Lin Feng, kemudian menurunkan tangannya.


Wushh!


Dhuaarrr!


Dhuaarrr!


Ledakan terus terjadi dipuncak gunung ketika seribu pedang itu melesat turun dan menghantam tubuh Naga Giok, namun karena takut serangannya akan berdampak pada kuil Dewa Asura, Lin Feng terpaksa menurunkan kekuatannya, sehingga dampak kehancurannya tidak terlalu besar.


Akan tetapi, serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh Lin Feng sudah lebih dari cukup untuk menumbangkan Naga Giok, bahkan ada puluhan pedang yang berhasil menancap ditubuhnya, hanya saja, serangan itu tidak langsung merenggut nyawa Naga Giok penjaga kuil Dewa Asura tersebut.


"Ka-kau, si-siapa kau sebenarnya?" tanya Naga Giok.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku" jawab Lin Feng.


"Ke-kenapa kau tidak langsung membunuhku?"


"Anggap saja aku sedang berbaik hati karena kau selama ini sudah menjaga kuil Dewa Asura dengan baik" jawab Lin Feng, kemudian masuk ke dalam kuil.


Di bagian dalam kuil.


Kejadian yang sama seperti sebelumnya kembali terulang namun kali ini, Lin Feng tidak dibawa menuju ke suatu tempat yang tidak ia ketahui, melainkan sosok Dewa Asura itu sendiri yang datang menemui Lin Feng dalam wujudnya yang sempurna.


Aura yang jelas sangat jauh berbeda memenuhi aula kuil, seluruh bangunan kuil bahkan gunung yang besar dan tinggi itu ikut bergetar ketika Dewa Asura muncul, bahkan kemunculannya juga membuat seluruh Benua Zhanshi bergetar, namun tidak kencang.


"Dewa Asura, apakah ini adalah wujud mu yang sebenarnya?" tanya Lin Feng.


"Benar! Inilah wujud ku yang sebenarnya" jawab Dewa Asura.


Dewa Asura menunjukkan wujudnya yang menyerupai manusia, namun dengan tiga pasang sayap berwarna emas dengan campuran warna merah di ujungnya.


Sama halnya dengan tiga pasang sayap yang ia miliki, rambut Dewa Asura juga berwarna emas dan sangat panjang, lalu di dahinya terdapat lambang api dan es yang menyatu.


Ditangan kanannya ada pedang hitam yang begitu mirip dengan pedang Lin Feng, sedangkan di tangan kirinya ada beberapa bola energi yang melambangkan masing-masing kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Asura.


Diantaranya adalah, api emas, kristal es surgawi, cahaya dan juga kegelapan, serta beberapa kekuatan lain yang tidak diketahui oleh Lin Feng.


"Kau sudah melihat wujud ku yang sebenarnya, lalu, apa kau tidak mau berlutut atau memberikan penghormatan padaku?" tanya Dewa Asura.


"Wujud mu memang luar biasa, bahkan kekuatan mu jauh melebihi perkiraan ku, tapi itu saja tidak akan cukup untuk membuatku tunduk padamu" jawab Lin Feng.


"Benarkah? Lalu sosok seperti apakah yang mampu membuatmu berlutut saat bertemu dengannya?"


"Ibuku, hanya dialah satu-satunya sosok agung yang mampu membuatku berlutut saat aku bertemu dengannya."


"Jika aku mengambil nyawa ibumu saat ini juga, apa yang akan kau lakukan?"


"Yang pastinya aku akan membunuhmu walaupun hal itu mustahil untuk dilakukan!"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah menerima warisan terakhirku?"


"Kau sendiri sudah tahu apa yang akan aku lakukan, jadi untuk apa menanyakan hal itu lagi?"


"Baiklah, sekarang aku akan mengajarimu cara untuk membuka segel kekuatan Asura secara utuh, tapi ingatlah! Gunakan kekuatan ini untuk melindungi apa yang seharusnya kau lindungi" ucap Dewa Asura, kemudian mengajari Lin Feng cara membuka segel kekuatan yang ia maksud.


Setelah selesai mengajari Lin Feng, Dewa Asura kemudian memberikan warisannya yang terakhir kepada Lin Feng, akan tetapi, sejak proses itu dimulai sampai selesai, Lin Feng tidak merasakan perubahan apapun dalam dirinya, baik itu peningkatan kekuatan ataupun yang lainnya.


Karena penasaran, Lin Feng kemudian menanyakan hal itu kepada Dewa Asura, "Kenapa aku tidak merasakan apapun?"


"Lin Feng, sebenarnya kau sudah memiliki semuanya dari awal, hanya saja, kau masih belum menyadarinya dan sekarang ini, aku sudah mengembalikan semua ingatanmu yang merupakan warisan terakhir dariku."


"Ingatanku?"


"Arkhhh!"


Lin Feng berteriak kencang ketika merasakan sakit yang begitu luar biasa didalam kepalanya, bersamaan dengan itu, berbagai macam ingatan mengenai kehidupan Lin Feng muncul di dalam benaknya, baik itu kehidupan pertamanya, ataupun kehidupannya saat ini.


Selain itu, ada juga beberapa ingatan yang tidak Lin Feng mengerti, bahkan ia merasa tidak pernah melalui hal yang tergambar dalam benaknya itu, namun anehnya, gambaran itu jelas menunjukkan jika ingatan itu adalah miliknya sendiri.


"I-ini..." ditengah-tengah rasa sakit yang sangat luar biasa di kepalanya, Lin Feng nampak terkejut ketika melihat gambaran masa lalu di kehidupan pertamanya, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, ternyata identitas pria tua yang mengajarinya itu sangat berkaitan dengan dirinya.


"Pria tua itu, ja-jadi dia..."


"Lin Feng, aku harap kau yang sekarang tidak akan mengulang kejadian kelam yang terjadi di masa lalu" sahut Dewa Asura.


"Hah" Lin Feng menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, "Kau tenang saja, aku tidak akan mengulang sejarah kelam itu lagi" ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang."


Tubuh Dewa Asura diselimuti oleh cahaya yang sangat terang, kemudian tubuhnya berubah menjadi bola cahaya sebesar kepalan tinju pria dewasa, lalu setelah itu, bola cahaya tersebut melayang dan masuk ke dalam tubuh Lin Feng.