Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-160. Dua anak manja


Setelah proses meditasi selesai, Lin Feng kemudian membawa Xie Long menemui ibu dan adiknya yang berlatih di tempat lain, namun saat mereka tiba di sana, mereka malah melihat ekspresi wajah cemberut yang ditunjukkan oleh Xie Ling.


"Putriku, apa yang membuatmu cemberut seperti ini?" tanya Lin Feng.


"Ayah, aku benar-benar kesal sekarang!"


"Benarkah? Jadi, apa karena kau kesal kau tidak mau bicara dengan ayah?"


"Bukan begitu, aku hanya sedang tidak mau membahas apapun!"


Lin Feng hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu, padahal usianya hampir menginjak tiga belas tahun, tapi sikapnya masih saja belum berubah, meski begitu, Lin Feng tidak mempermasalahkannya sama sekali.


"Long'er, bujuk adikmu, ayah ingin bicara dengan ibu sebentar."


"Baik, ayah"


Kemudian, Lin Feng dan Luo Ning meninggalkan kedua anak mereka dan berbicara ditempat yang cukup jauh, karena yang akan mereka bahas adalah sesuatu yang belum boleh diketahui oleh kedua anak mereka.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Lin Feng.


Luo Ning kemudian menceritakan apa yang telah dialami oleh Xie Ling, ia juga menyampaikan keanehan yang terjadi pada perwujudan kekuatan Asura dalam tubuh putri mereka itu, dan bisa dikatakan jika itulah alasan yang membuat putri mereka menunjukkan raut wajah cemberutnya.


"Gege, apa kondisi ini baik-baik saja? Maksudku, kenapa perwujudan kekuatan mereka sangat berbeda?"


Lin Feng menggelengkan kepalanya, "Aku sendiri juga tidak tahu kenapa ada perbedaan seperti ini, tapi dari pengamatan ku, perbedaan ini terjadi karena kita berdua."


"Maksud Gege?"


Perbedaan yang terjadi pada wujud kekuatan dalam diri si kembar memang disebabkan oleh Lin Feng dan Luo Ning, karena di dalam diri mereka terdapat dua jiwa yang berbeda namun berdampingan dan saling membutuhkan, yaitu jiwa Yin dan Yang.


Dua jiwa yang berbeda namun tetap satu inilah, yang menyebabkan perbedaan tersebut, karena pada saat Lin Feng merubah wujudnya menjadi Dewa Asura, dia membutuhkan Luo Ning untuk menyempurnakan kekuatannya.


Dengan kata lain, perwujudan dari kekuatan Asura dalam diri anak mereka juga merupakan perwujudan dari dua jiwa tersebut, yakni jiwa Yin dan Yang. Untuk Xie Long, perwujudan kekuatan dalam dirinya melambangkan kegelapan dan kebencian, sedangkan Xie Ling, melambangkan cahaya dan kebaikan.


"Lalu, apa perbedaan ini akan mempengaruhi pertumbuhan mereka? Maksudku, apa sifat mereka akan berubah nantinya?"


"Bisa saja iya dan bisa juga tidak" jawab Lin Feng.


"Sama halnya denganmu, sejak kecil, Xie Long memiliki sifat yang lemah lembut dan baik, namun itu hanya bagian luarnya saja, sedangkan di dalamnya, tersimpan sesuatu yang begitu mengerikan dan dia benar-benar mirip denganku."


"Sedangkan Xie Ling, di luarnya memang nampak keras dan kejam, namun di dalamnya terdapat kebaikan dan kelembutan yang sangat besar, jadi ada kemungkinan sifat terpendam mereka ini akan muncul suatu hari nanti."


"Tidak, aku tidak ingin Xie Long menjadi orang yang kejam dan malah berjalan di jalan yang salah."


"Tenanglah, Ning'er, aku yakin Xie Long tidak akan melakukan hal itu, karena sejak kecil, aku selalu mengajarkan ketenangan dan kesabaran padanya. Selain itu, Xie Long juga memiliki perisai yang kuat sama sepertiku."


"Maksud Gege?"


Lin Feng tersenyum sembari membelai pipi istrinya dengan lembut, "Saat aku marah, apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja menenangkan Gege."


"Itulah yang akan dilakukan oleh Xie Ling saat kakaknya sedang murka" sahut Lin Feng.


Luo Ning akhirnya bisa menghela napas lega setelah mendengar penjelasan suaminya, meski ia sempat merasa takut jika putranya akan mengambil jalan yang berbeda, namun rasa takut itu perlahan menghilang ketika melihat si kembar yang sangat dekat.


Xie Long dan Xie Ling, mereka berdua benar-benar menyerupai Lin Feng dan Luo Ning, meski sifat keduanya berbeda jauh, namun keduanya saling membutuhkan dan akan saling mendukung satu sama lain. Jika yang satunya berniat memilih jalan yang berbeda, maka yang satunya lagi akan menegur dan melarangnya.


"Mereka benar-benar mirip seperti kita dulu" ucap Luo Ning yang telah tenggelam dalam pelukan suaminya.


"Lalu bagaimana denganku? Apa hanya kakak saja yang mirip seperti ayah dan ibu?"


Lin Feng dan Luo Ning tersentak kaget mendengar suara seseorang didekat mereka, seketika itu juga, keduanya langsung melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada seseorang yang tidak lain adalah Jia Zhen.


"Benarkah?" tanya Jia Zhen dengan nada yang sedikit acuh.


Lin Feng tersenyum, kemudian berjongkok didepan putra bungsunya itu, "Zhen'er, yang ibu katakan itu memang benar, kau mewarisi segala yang ayah dan ibu miliki, yang artinya, kau lebih spesial dari kedua kakakmu."


Berbeda dengan kedua kakaknya yang hanya mewarisi salah satu dari ayah dan ibu mereka, Lin Jia Zhen justru mewarisi keduanya. Ia memiliki sikap tegas seperti Lin Feng, namun juga memiliki sisi lembut seperti Luo Ning.


Lin Jia Zhen bisa sangat kejam seperti ayahnya, namun ia juga bisa sangat baik seperti ibunya, yang artinya, Lin Jia Zhen adalah perwujudan dari Lin Feng dan Luo Ning itu sendiri, karena ia memiliki sifat kedua orang tuanya, baik di dalam maupun di luar.


Satu-satunya yang tidak diwarisi oleh Lin Jia Zhen adalah kekuatan Asura, meski begitu, kekuatan terpendam di dalam dirinya juga bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh, karena ia memiliki kekuatan petir surga yang jauh lebih kuat dari yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.


Lin Feng sendiri sempat kebingungan saat pertama kali melihat kekuatan petir yang dikeluarkan tanpa sengaja oleh Jia Zhen, namun setelah mengamati kekuatan petir tersebut, Lin Feng akhirnya mengetahui jika kekuatan petir itu merupakan gabungan dari kekuatan petir surga dan kekuatan api emas.


"Ayah, kapan aku bisa berlatih seperti kakak?"


"Zhen'er, sekarang masih belum waktunya bagimu untuk berlatih dan menjadi kultivator, setidaknya tunggu sampai kau menginjak usia delapan atau sembilan tahun."


"Ayah berjanji?"


Lin Feng mengangguk, "Ayah janji, dan ayah juga berjanji akan melatih mu seperti ayah melatih kedua kakakmu."


"Terima kasih, ayah!" ujar Jia Zhen, kemudian memeluk Lin Feng.


Xie Long dan Xie Ling yang menyadari kedatangan Jia Zhen, kemudian menghampiri mereka, "Zhen'er, kapan kau datang?"


"Belum lama" jawab Jia Zhen singkat.


"Apa-apaan itu? Apa begitu caramu bicara dengan kakakmu?" Xie Ling terlihat kesal dengan sikap dingin yang ditunjukkan oleh adiknya itu.


"Memangnya kenapa? Lagipula, kakak tidak menyayangiku!"


"Apa katamu?!" Xie Ling menghampiri Jia Zhen dan hendak menarik telinganya, namun Jia Zhen lebih dulu menghindar dan berlindung di belakang Xie Long.


"Kakak, tolong aku."


"Ling'er, jangan menakuti Zhen'er seperti itu" ucap Xie Long.


"Kakak, berhentilah memanjakannya, dia sudah sangat manja dengan kakek dan jangan buat dia lebih manja lagi pada kakak!"


"Apa salahnya? Lagipula kau juga kakak manjakan."


"Aku tidak manja!"


"Benarkah? Tapi setahuku, kakak sangat manja pada ayah" sahut Jia Zhen.


"Kau! Akan kutarik telingamu sampai panjang!"


Melihat kakak perempuannya yang sudah sangat marah, Jia Zhen kemudian berlari menjauh "Hahahaha! Tangkap aku kalau bisa!"


"Jangan kabur kau, anak manja!"


"Kakak jauh lebih manja dariku, wle!" Jia Zhen berlari sembari menjulurkan lidahnya.


"Aku tidak manja!" ujar Xie Ling.


"Hahahaha!"


Sementara Xie Ling dan Jia Zhen tengah sibuk kejar-kejaran, Lin Feng, Luo Ning dan Xie Long hanya bisa tertawa melihat tingkah laku mereka berdua.


Meski terkadang mereka sering bertengkar, namun keduanya sangat saling menyayangi satu sama lain, terutama Xie Ling yang sangat menyayangi adiknya itu.


"Suasana seperti inilah yang sangat aku inginkan selama ini" gumam Lin Feng.