
Xie Long sangat senang karena telah berhasil menyelesaikan ujian tahap pertama, yang artinya, ia sudah selangkah lebih dekat dengan tujuannya, yaitu mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh kakeknya.
"Dia masih berkultivasi."
Meski luapan energi yang terjadi sebelumnya sangatlah dahsyat, namun hal itu tidak mengganggu konsentrasi Xiao Xue sedikitpun, bahkan ia masih bisa berkultivasi dengan tenang seolah tidak terjadi apapun.
"Sebaiknya aku berkultivasi lagi, lagipula tidak ada hal lain yang bisa kulakukan." Xie Long kembali duduk bersila ditempat sebelumnya, lalu menutup mata dan mulai berkultivasi.
Setelah itu, Xie Long kembali memasuki alam bawah sadarnya, namun kali ini, dirinya berada ditempat yang berbeda, dari yaitu sebuah tempat dimana ia dan phoenix perak bertemu sebelumnya.
Tidak lama berselang, sosok yang ingin ditemui oleh Xie Long akhirnya datang, "Selamat, aku tidak menyangka kau benar-benar bisa menyelesaikan ujian ini" ucap phoenix perak.
Xie Long tersenyum, "Semua ini tidak lepas dari usaha dan dukungan keluargaku."
Phoenix perak diam sejenak, kemudian mengembangkan kedua sayapnya, ia berniat menunjukkan keagungan yang ia miliki kepada Xie Long, namun sayangnya, apa yang ia rasakan ditubuh Xie Long malah membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Kapan ujian kedua dimulai?"
"Kau bisa memulainya kapanpun, tapi untuk menjalani ujian ini, kau harus datang ke pulau Huoshen, karena di sanalah ujian kedua akan dilaksanakan."
"Dimana pulau itu berada?"
"Menemukan keberadaan pulau itu merupakan tahapan pertama dalam ujian ini" jawab phoenix perak, kemudian terbang meninggalkan Xie Long.
Xie Long menghela napas panjang seraya menatap kepergian phoenix perak, ia benar-benar tidak menyangka jika ujian kedua yang akan ia jalani ternyata memiliki tahapan di dalamnya.
Walau tahapan pertama ini terdengar mudah, namun sebenarnya sangatlah sulit, apalagi Xie Long tidak mengetahui apapun mengenai pulau Huoshen, bahkan ia baru pertama kali mendengar nama pulau tersebut.
Meski begitu, bukan Xie Long namanya jika dia menyerah begitu saja dengan keadaan, jika dia ditugaskan untuk menemukan pulau Huoshen yang misterius, maka itulah yang akan ia lakukan.
Selain itu, phoenix perak tidak mengatakan berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menemukan pulau itu, yang artinya, dia memiliki banyak waktu untuk mencari keberadaan pulau misterius tersebut.
***
Setelah Sun Xiang resmi diangkat menjadi penguasa dimensi pertama, Lin Feng langsung mengajak mereka semua ke Dunia Bawah, karena dirinya ingin merayakan keberhasilan muridnya itu.
Sementara yang lainnya sibuk berpesta di dalam istana, Jia Zhen dan adiknya malah memilih untuk tidak ikut andil dalam pesta tersebut, bukan karena tidak senang, hanya saja, keduanya lebih suka dengan suasana yang tenang.
"Kak."
"Hmm?"
"Apa suatu saat nanti kakak akan menikah?"
Jia Zhen tersentak kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya itu, namun ia masih tenang dan hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman indah seperti biasanya.
"Kita masih kecil, tidak baik membahas masalah seperti itu."
"Apa salahnya? Aku-kan hanya bertanya!"
"Entahlah aku juga tidak tahu" jawab Jia Zhen.
"Hmm... bagaimana kalau kakak menikah denganku saja?"
"Hahaha!" Kali ini, pertanyaan Zhen Jia sukses membuat Jia Zhen tertawa, "Itu tidak mungkin, karena kita adalah saudara."
"Bagaimana jika di kehidupan selanjutnya?"
Raut wajah Jia Zhen langsung berubah, meski ucapan Zhen Jia terdengar seperti sebuah harapan, namun dua kata terakhir yang ia ucapkan membuat dada Jia Zhen terasa sesak.
Meski begitu, Jia Zhen tetap berusaha untuk menyembunyikan perasaan tersebut dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, namun ia lupa jika Zhen Jia juga bisa merasakan apa yang ia rasakan.
"Kehidupan selanjutnya, itu artinya kita akan mati, benarkan?"
"Memangnya kenapa?"
Jia Zhen menggeleng pelan, kemudian menyentuh pipi adiknya, "Zhen Jia, aku sudah bersumpah untuk tidak membiarkanmu mati." Lalu, Jia Zhen mendaratkan kecupan lembut di dahi adiknya itu.
"Aku akan selalu menjagamu, meski yang menjadi taruhannya adalah nyawaku sendiri."
Zhen Jia tidak mengatakan apapun lagi, karena ia yakin, apa yang ia rasakan saat ini juga bisa dirasakan oleh kakaknya, meski begitu, perasaan haru dan bahagia itu tetap saja tidak tertahankan, sehingga membuat air matanya menetes.
"Jangan menangis" Jia Zhen tersenyum seraya menghapus air mata yang membasahi pipi adiknya.
Sementara itu.
Andaikan dirinya memiliki kekuatan untuk menentang takdir, mungkin ia sudah mengubah takdir mereka, namun apalah daya, bahkan suaminya saja masih tidak sanggup melakukan hal tersebut.
"Gege, apakah tidak ada jalan lain yang bisa mereka tempuh?" tanya Luo Ning, namun hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh suaminya itu.
"Kita harus belajar merelakan, agar saat mereka..."
"Tidak!" ujar Luo Ning memotong ucapan suaminya.
Lin Feng menghela napas panjang, kemudian merangkul pundak Luo Ning untuk menenangkannya. Meski ia sendiri tidak bisa menerimanya, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain belajar untuk merelakannya.
***
Beberapa bulan kemudian.
"Ayah, aku dan kakak ingin ke Benua Biru, apakah boleh?"
Lin Feng tersenyum dan mengangguk pelan, "boleh saja, tapi kalian harus mendapatkan izin dari ibu terlebih dahulu."
"Terima kasih, ayah" sahut Zhen Jia, kemudian menghampiri Luo Ning.
"Ibu..."
"Pergilah, ibu mengizinkan kalian ke Benua Biru, tapi ingatlah, jangan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan!"
Zhen Jia mengangguk, "baik, Bu. Aku berjanji" ucapnya, kemudian memeluk Luo Ning dengan erat.
"Zhen'er, jaga adikmu baik-baik!"
"Baik, Bu!"
***
Setibanya di Benua Biru, mereka berdua kemudian berangkat menuju ke kota Zuanshi untuk menemui Lin Jianheeng dan seluruh anggota keluarga Lin, karena sudah sangat lama mereka tidak mengunjungi anggota keluarga Lin yang lain.
Namun sayangnya, perjalanan mereka berdua terpaksa harus ditunda karena dicegat oleh beberapa kultivator, dan saat Jia Zhen menanyakan apa tujuan mereka, para kultivator itu dengan santainya menjawab jika mereka ingin merampok keduanya.
Selain itu, mereka juga mengarahkan tatapan liar pada Zhen Jia dan hal itu sontak memancing kemarahan sang kakak, karena tidak rela jika adiknya dipandangi dengan tatapan seperti itu oleh laki-laki kurang ajar seperti mereka.
"Tinggalkan kami atau kalian akan menanggung akibatnya!" Ancam Jia Zhen.
"Hahahaha! Memangnya apa yang bisa kau lakukan pada kami, bocah!?"
"Daripada kau mengancam kami, lebih baik kau serahkan semua isi cincin penyimpanan mu pada kami, begitupun dengan Nona kecil di belakang mu itu."
Jia Zhen mengepalkan tinjunya menahan amarah, "Manusia biadab seperti kalian tidak pantas untuk hidup!"
Sesaat kemudian, Jia Zhen menghilang dari pandangan mereka semua dan seketika itu juga, salah seorang dari mereka tiba-tiba saja mati dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
"Matilah, manusia sialan!"
Dhuaaar!
Boom!
Boom!
Puluhan petir merah keemasan muncul di langit dan langsung menghantam tubuh mereka semua, dan hanya dalam sekejap, para kultivator itu telah berubah menjadi tumpukan mayat.
Setelah itu, Jia Zhen menghampiri adiknya dan hendak meninggalkan tempat tersebut, namun langkahnya terhenti ketika menemukan sebuah lencana yang tergeletak di tanah.
"Sekte Phoenix Emas?"
Jia Zhen sangat kaget dan tidak bisa percaya dengan apa yang ia temukan, meski lencana yang ada di tangannya itu sudah jelas membuktikan jika mereka adalah murid sekte Phoenix Emas, namun ia tidak bisa menarik kesimpulan begitu saja.
"Aku harus menanyakan hal ini secara langsung!"
Kemudian, Jia Zhen menyimpan lencana yang ia pungut di tanah, lalu ia juga memasukkan beberapa mayat kultivator yang masih utuh kedalam cincin penyimpanannya, karena untuk membenarkan tuduhannya, ia harus punya bukti yang kuat.
"Kakak."
"Jia'er, kita tunda dulu perjalanan ke kota Zuanshi" ucap Jia Zhen, namun hanya ditanggapi dengan anggukan oleh adiknya itu.
"Semoga saja yang aku pikirkan tidak benar!" gumam Jia Zhen, amarah yang sangat besar nampak tergambar dengan jelas dalam tatapan matanya yang tajam.