
Sementara itu.
Kepergian Xie Long membuat Xie Ling dan Jia Zhen sangat sedih, keduanya bahkan tidak mau bicara dengan Lin Feng, karena dialah yang telah mengizinkan kakak mereka pergi berpetualang sendirian.
Tidak hanya itu saja, keduanya juga mengurung diri didalam kamar selama dua hari penuh, walaupun sudah banyak usaha dilakukan untuk membujuk mereka, namun tetap tidak berhasil membuat mereka keluar dari dalam kamarnya.
Akan tetapi, keduanya memutuskan untuk keluar saat Lin Hua datang menemui mereka, itupun setelah dia berjanji untuk menghukum Lin Feng, jika tidak, mereka berdua tidak akan pernah mau keluar dari dalam kamarnya.
"Nenek, aku sangat merindukan kakak" ucap Xie Ling.
"Aku juga merindukan kakak" imbuh Jia Zhen.
Lin Hua tersenyum sembari membelai rambut kedua cucunya, "Nenek juga merindukan kakak kalian, tapi kita tidak boleh seperti ini, karena kepergiannya demi tujuan yang baik."
"Aku tahu itu, nek, tapi kenapa kakak tidak mau mengajakku?"
"Dan kenapa ayah malah mengizinkan kakak pergi?!"
"Ling'er, kakakmu tidak mungkin membawamu pergi, karena dia tidak mau kau terluka saat berada diluar sana."
"Dan, Zhen'er, sebenarnya ayah kalian juga tidak mau memberi izin pada kakak kalian, namun ia tidak bisa melarangnya."
"Kenapa nek? Bukankah ayah bisa melarang kakak dengan mudah? Dan aku yakin, kakak tidak mungkin membantah perkataan ayah" sahut Jia Zhen.
"Suatu saat nanti, kalian pasti akan mengerti apa alasannya."
"Selain itu, ayah kalian adalah orang yang sangat sedih karena kepergian kakak kalian, hanya saja, dia tidak menunjukkan kesedihan itu pada kalian dan lebih memilih untuk memendamnya sendiri."
"Kenapa nenek sangat yakin?"
"Nenek sangat mengenali ayah kalian, meski dia sangat keras bagaikan batu, namun hatinya sangat lunak bagaikan kapas" jawab Lin Hua.
"Jika kalian tidak percaya, malam ini cobalah untuk keluar, nenek yakin kalian akan melihat ayah kalian duduk di taman istana sembari memandangi langit malam" lanjutnya.
"Kenapa ayah melakukan itu?"
"Karena dia sedang sedih, dan dia selalu melakukan hal itu saat dirinya sedang bersedih" jawab Lin Hua.
Meski sudah dijelaskan oleh nenek mereka, namun keduanya masih tidak percaya jika ayah mereka benar-benar merasakan kesedihan karena kepergian Xie Long, bahkan mereka berniat untuk datang ke taman istana malam nanti.
***
Xie Long membuka matanya saat wajahnya diterpa oleh sinar mentari pagi yang hangat, namun masih sangat sulit baginya untuk bangkit, karena sekujur tubuhnya masih terasa sangat sakit akibat pertarungan sebelumnya.
"Akhirnya kau sadar juga."
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Xie Long.
"Tidak lama, hanya dua hari" jawab perwujudan kekuatan Asura dalam tubuhnya.
"Apa selama aku pingsan kau yang menjaga tubuhku?"
"Memangnya siapa lagi yang bisa menjagamu? Jika bukan karena aku yang menjagamu, mungkin kau sudah menjadi santapan hewan buas penghuni hutan ini."
"Terima kasih" sahut Xie Long.
"Cihh, aku melakukannya karena terpaksa, karena aku masih mau melihat perjalananmu."
"Lalu, apa kau juga yang menyembuhkan luka di tubuhku?"
"Begitu, ya? Tapi, terima kasih karena sudah menjagaku selama dua hari ini."
"Berhentilah berterima kasih, lebih baik kau bermeditasi untuk mengembalikan energi mu, jika tidak, kau akan menjadi makanan segar untuk hewan buas di hutan ini."
Xie Long tersenyum mendengar ucapan sosok yang tersegel dalam dirinya itu, "Aku baru tahu jika kau sangat perhatian padaku" ucapnya.
"Diam kau, bocah!"
Xie Long tidak menyahuti perkataan sosok itu lagi, dalam keadaan yang masih terlentang di tanah, Xie Long kemudian menutup matanya dan mulai menyerap energi alam disekitarnya untuk memulihkan energinya yang telah terkuras.
Setelah beberapa jam melakukan penyerapan, Xie Long akhirnya berhasil memulihkan energinya, meski belum sepenuhnya, tapi sudah cukup baginya untuk beranjak pergi meninggalkan tempat pertarungan tersebut.
Namun sebelum pergi, Xie Long tidak lupa mengambil kristal jiwa milik harimau hitam, karena kristal jiwa itu akan ia gunakan untuk meningkatkan kultivasinya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Tapi sayangnya, hanya satu kristal jiwa yang tersisa, karena kristal jiwa yang satunya lagi sudah terbakar habis bersamaan dengan lenyapnya tubuh harimau hitam kedua yang dibakar oleh api langit.
***
Hari-hari kembali berlalu dengan cepat, Xie Long kini telah sampai di sebuah kota yang masih berada di wilayah kekaisaran Feng. Kota tersebut adalah kota Shuijing yang merupakan kota tempat sang permaisuri kekaisaran Feng berasal.
"Berhenti di sana!" ujar salah seorang prajurit penjaga gerbang menghentikan langkan Xie Long.
"Jika mau masuk ke kota ini, kau harus menunjukkan identitas dirimu" lanjutnya.
Xie Long mengangguk, kemudian mengeluarkan lencana giok milik keluarga Lin dari cincin penyimpanannya, lalu menunjukkan lencana tersebut kepada para prajurit yang menjaga gerbang masuk kota.
"Lencana giok?" gumam prajurit tersebut, kemudian mengamati penampilan Xie Long dari atas sampai bawah.
Sebagai seorang prajurit yang bertugas menjaga gerbang, mereka tentunya sudah melihat berbagai macam lencana dan sudah mengerti setiap tingkatan dari lencana itu sendiri.
Misalnya saja seperti lencana giok yang ditunjukkan oleh Xie Long pada mereka, yang merupakan tanda bahwa pemegang lencana itu adalah salah seorang anggota penting dari suatu keluarga.
Akan tetapi, saat melihat penampilan Xie Long, mereka tidak yakin jika lencana giok yang ia tunjukkan adalah lencana miliknya sendiri, karena selain penampilannya yang mencurigakan, mereka juga tidak akan percaya jika ada salah seorang anggota penting dari satu keluarga atau klan keluar sendirian tanpa pengawalan.
"Bocah, apa kau yakin jika lencana ini milikmu?"
"Tentu saja aku yakin, karena lencana ini adalah pemberian kakekku" jawab Xie Long.
"Memangnya kenapa? Apa kalian tidak percaya padaku?" tanya Xie Long.
"Bukannya tidak percaya, kami hanya merasa tidak mungkin anak sepertimu memiliki sebuah lencana giok" jawab salah seorang prajurit.
"Begini saja, bagaimana kalau kau ikut kami ke tempat pemeriksaan, karena sebelum mengizinkanmu masuk ke kota ini, kami harus memeriksa keaslian lencana ini terlebih dahulu.
Xie Long mengangguk dan kemudian mengikuti salah seorang prajurit menuju ke tempat pemeriksaan. Setibanya di sana, ia diminta untuk menunggu di ruangan khusus, sementara lencana giok yang ia tunjukkan dibawa oleh prajurit sebelumnya untuk diperiksa.
"Komandan, bagaimana hasilnya?"
"Aku merasakan adanya energi yang sangat kuat dari lencana ini, yang artinya, lencana giok ini adalah lencana asli."
"Tapi siapa anak yang membawa lencana ini? Maksudku, tidak mungkin seorang anak sepertinya merupakan anggota penting keluarga Lin, kalaupun iya, pastilah ada pengawal yang datang bersamanya" ucap prajurit tersebut.
"Sudahlah, untuk saat ini biarkan saja dia masuk ke kota dan ingatlah untuk selalu mengawasi pergerakannya"
"Baik!"