
Xin Yi duduk termenung di singgasananya yang megah, ingatan tentang pertarungannya dengan Lin Feng masih tergambar jelas dalam benaknya, dan setiap kali ia mengingat kejadian itu, penyesalan yang ia rasakan semakin membesar.
"Lin Feng, kenapa kau datang dengan kekuatan yang tidak sempurna?"
"Dasar bodoh! Jika kekuatanmu sempurna, pasti akulah yang akan mati dan tidak mungkin aku merasakan penyesalan ini."
Sejak pertarungan mereka berakhir, Xin Yi tidak pernah bisa berhenti memikirkan Lin Feng, penyesalan yang ia rasakan karena telah membunuh adiknya sendiri, membuatnya tidak bisa merasakan ketenangan sedikitpun.
"Andai saja aku tidak serakah, mungkin kami sudah berhasil mencapai tujuan bersama" gumam Xin Yi yang masih saja menyalahkan dirinya sendiri.
Perubahan sikap Xin Yi memang berasal dari keserakahannya, lebih tepatnya, semua ini dimulai ketika mereka menjalani ujian untuk mendapatkan kekuatan Asura.
Alasan kenapa Xin Yi ditolak saat ingin melakukan ujian itu adalah kekuatan kegelapan yang ia miliki, padahal, syarat utama untuk memiliki kekuatan Asura adalah terbebas dari kekuatan kegelapan dan bangsa iblis.
Sedangkan Xin Yi, ia tidak hanya memiliki kekuatan kegelapan yang besar dalam dirinya, tapi juga memiliki darah bangsa iblis yang mengalir dalam nadinya. Jadi, sangat wajar jika dirinya ditolak mentah-mentah saat hendak melakukan ujian tersebut.
Kegagalannya mengikuti ujian itu membuat rasa benci tumbuh di hatinya, bahkan ia sampai membenci adiknya sendiri, karena dialah yang terpilih untuk mendapatkan anugerah berupa kekuatan Asura.
Jika saja, saat itu Xin Yi bisa menerima kenyataan dan mau mengakui kesalahannya, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, dan tidak mungkin adiknya menjadi korban dari keserakahannya sendiri.
Meski begitu, Xin Yi masih mampu menahan gejolak kekuatan iblis di dalam dirinya, buktinya ia masih memikirkan dan ingin mewujudkan impian yang ia buat bersama adiknya, yaitu menciptakan kedamaian untuk alam semesta.
Hanya saja, Xin Yi tidak menyadari jika jalan yang ia pilih untuk mencapai tujuan itu adalah jalan yang salah, bahkan dirinya semakin larut dalam kesalahan saat keserakahan mengambil alih kendali atas dirinya.
"Lin Feng, jika kau berada di posisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
"Tunggu, bukanlah Lin Feng punya anak?"
"Benar! Aku harus menebus kesalahanku, tapi bagaimana caranya?"
Xin Yi diam sembari memikirkan cara yang tepat untuk menebus kesalahannya, namun setelah berpikir cukup lama, ia tetap tidak menemukan satupun cara yang menurutnya tepat untuk dilakukan.
Disaat yang bersamaan, kekuatan kegelapan dalam dirinya seolah bangkit dan membisikkan sesuatu padanya, tapi tentunya, sesuatu yang dibisikkan oleh kekuatan jahat itu bukanlah hal yang baik.
Raut wajah Xin Yi berubah, senyuman aneh dan mengerikan nampak terukir di bibirnya, "Benar juga, satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku adalah dengan mempersatukan mereka."
"Hahahaha!" Xin Yi tertawa hingga suaranya menggema di seluruh istana, "Ya! Aku harus menyatukan Lin Feng dengan keluarganya!"
"Dan aku yakin, Lin Feng pasti bahagia jika bersatu dengan keluarganya lagi."
Sekilas, sikap yang ditunjukkan oleh Xin Yi mirip seperti seseorang yang mengalami gangguan jiwa, atau mungkin seseorang yang memiliki dua kepribadian dalam dirinya, kadang kala ia terlihat sangat baik dan kadang sangat jahat.
Misalnya saja seperti saat ini, jika sebelumnya ia menyesal telah membunuh Lin Feng yang ia anggap sebagai adiknya sendiri, maka sekarang ia berniat menyatukan mereka lagi.
Niatnya memang terdengar baik, tapi satu-satunya cara menyatukan mereka adalah dengan membunuh semua keluarganya, karena bagi Xin Yi, Lin Feng telah mati dalam pertarungan mereka sebelumnya.
***
Di satu tempat di alam semesta.
Puluhan hingga ratusan orang nampak tengah berkumpul mengelilingi sebuah kawah yang cukup besar, alasan berkumpulnya mereka adalah penyebab dari terciptanya kawah raksasa tersebut.
Selain itu, tidak ada yang mengetahui darimana pedang itu berasal, mereka hanya mengingat ledakan dahsyat yang terjadi enam bulan lalu, dan saat diperiksa, ternyata ledakan itu berasal dari pedang tersebut.
Sejak kemunculannya enam bulan yang lalu, sudah banyak kultivator bahkan orang biasa yang mencoba menarik pedang itu dari tanah, tapi tidak satupun dari mereka yang berhasil melakukannya, bahkan pedang itu masih bergeming ditempatnya.
Sebagian orang menganggap jika pedang itu adalah pemberian Dewa untuk orang terpilih, dan hanya orang terpilih itulah yang bisa mencabut pedang tersebut dari tanah.
Lalu yang sebagiannya lagi, menganggap bahwa pedang itu adalah senjata yang melegenda, karena kekuatannya sangatlah luar biasa besar. Dan mereka yang beranggapan seperti ini adalah para kultivator.
"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang pria yang baru saja datang ke tempat tersebut.
"Sayangnya belum, yang mulia."
"Teruslah berusaha, karena jika kita berhasil memiliki pedang ini, maka kekuatan kita akan bertambah besar!"
"Dan aku yakin, pedang ini adalah kunci untuk menguasai seluruh kekaisaran yang ada di benua ini."
"Baik, yang mulia!"
Selain para kultivator dan orang biasa, kemunculan pedang tersebut juga menarik perhatian para penguasa, mereka bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkan pedang tersebut, bahkan mereka sangat yakin jika pedang itu adalah kunci untuk menuju ke puncak kekuasaan tertinggi.
"Yang mulia, orang-orang dari kekaisaran timur telah tiba."
"Abaikan saja mereka dan tetap fokus pada tujuan kita!"
"Baik yang mulia!"
Tidak lama berselang, sekelompok orang yang dimaksud akhirnya tiba di tempat tersebut, dan setibanya di sana, pemimpin kelompok tersebut langsung memerintahkan bawahannya untuk melakukan tugas mereka.
"Aku tidak menyangka jika pangeran mahkota kekaisaran timur ternyata tidak tahu diri seperti ini" ucap pria sebelumnya.
Pemuda yang disebut sebagai pangeran mahkota itupun menoleh ke sumber suara, "Bukan urusanmu, lagipula tidak ada larangan atau aturan khusus untuk mencabut pedang itu!"
"Hahahaha! Kau benar, aku juga penasaran apakah pangeran mahkota kekaisaran timur bisa mencabutnya atau tidak."
Pemuda itu tidak lagi menyahuti perkataan pria tersebut, ia lebih memilih untuk fokus pada bawahannya yang tengah berusaha mencabut pedang hitam dari tanah, namun sayangnya, usaha bawahannya malah tidak membuahkan hasil.
"Gunakan seluruh kekuatan kalian!"
"Baik, yang mulia!" ujar mereka yang berada di dekat pedang hitam.
Wushh!
Lebih dari dua puluh kultivator yang ada di sana melepaskan aura kekuatan mereka secara bersamaan, kemudian mereka menyatukan kekuatannya lalu mencoba untuk mencabut pedang itu sekali lagi, tapi hasilnya, masih saja sama seperti sebelumnya.
"Sial! Kenapa pedang itu masih tidak bisa dicabut? Padahal, mereka semua adalah kultivator tingkat tinggi."
"Sudah kukatakan, pedang ini bukanlah pedang biasa."
"Sebaiknya kau diam saja! Karena semua ini tidak ada hubungannya denganmu!"