
Esoknya.
Sesuai dengan perkataan Lin Feng sebelumnya, hari ini adalah hari dimana dia pergi meninggalkan dimensi pertama untuk menjalankan tugasnya, yaitu melatih dan mengajari para penerus takhta kekuasan penguasa setiap dimensi.
Sekilas, memang tidak ada yang aneh dengan kepergian Lin Feng, ia berpamitan seperti biasanya ketika ia hendak pergi menjalankan misi, namun diantara mereka semua, hanya Luo Ning yang mengetahui alasan kepergian suaminya itu.
***
Sebelum Xie Long kembali.
"Apa Gege yakin dengan keputusan ini?" tanya Luo Ning yang masih merebahkan kepala di bahu Lin Feng.
Lin Feng menghela napas panjang, "Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menjaga putra kita."
"Kalau begitu, izinkan aku ikut!"
Hembusan napas panjang kembali terdengar dari mulut Lin Feng, "Istriku, jika kita berdua pergi, lalu siapa yang akan menjaga anak-anak kita?"
"Mereka memang sudah besar, tapi mereka masih membutuhkan kehadiran dirimu."
"Lalu bagaimana denganku? Siapa yang akan menghiburku saat aku sedih? Siapa yang..."
Luo Ning menghentikan ucapannya, bukan karena tidak tahu apa yang harus ia katakan, tapi karena kesedihan yang begitu besar membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
Lin Feng merangkul istrinya kedalam pelukannya, membiarkan ia menangis untuk meluapkan kesedihan yang memenuhi dadanya.
"Berjanjilah satu hal padaku, apapun yang akan terjadi padaku nanti, jangan sampai kau mengungkapkan kebenarannya pada mereka, karena hal itu hanya akan merusak kebahagiaan mereka."
Ditengah derai air mata yang terus mengucur deras, Luo Ning memaksakan dirinya untuk berjanji walaupun hanya dengan anggukan kepala, ia tahu jika suaminya itu sangat menyayangi anak-anak mereka, jadi apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan mereka.
Setelah cukup lama, Luo Ning akhirnya berhasil mengontrol dirinya agar tidak menangis lagi, kemudian ia melepaskan pelukan suaminya dan menatap matanya dengan lekat.
"Kalau begitu, aku juga ingin Gege berjanji satu hal padaku" ucapnya.
"Apa itu?"
"Berjanjilah untuk kembali dengan selamat!"
"Akan aku usahakan" sahut Lin Feng, kemudian mengecup dahi istrinya itu.
Lin Feng tentunya juga ingin kembali dengan selamat, karena ia masih ingin menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya, menghabiskan waktu bersama mereka hingga sisa hidupnya habis.
Namun, musuh yang akan ia hadapi kali ini tidak sama seperti Yama ataupun Dewa Huo, bahkan untuk pertama kalinya, Lin Feng merasa tidak yakin dirinya bisa menenangkan pertarungan tersebut.
Meski begitu, ia akan tetap berjuang hingga akhir, hingga ia tidak bisa lagi bergerak, hingga matanya tidak bisa lagi di buka, dan hingga jantungnya tidak lagi berdetak.
Hanya ada satu alasan yang membuatnya ingin melakukan pertarungan ini, yaitu kebahagiaan anaknya, ia bisa melihat seberapa besar kebahagiaan putranya saat ia memberikan restu padanya, dan itulah yang ingin Lin Feng jaga.
Selain itu, ada kebahagiaan muridnya yang juga ia pikirkan, karena satu dari tiga hal yang diinginkan oleh Xin Yi ada pada Sun Xiang, yaitu pedang yang ia buat dari bongkahan batu meteor.
Sedangkan dua hal lainnya ada pada kedua anaknya, pertama adalah Xiao Xue dan Xiao Xie, yang masing-masing sudah menjadi teman terdekat Xie Long dan Xie Ling. Lalu yang ketiga ada Huanran, yang telah menjadi kekasih putranya.
Mungkin Xie Long dan yang lainnya tidak menyadarinya, tapi Lin Feng, ia bisa mengetahui jika Huanran sebenarnya bukanlah manusia, melainkan Beast Surgawi yang sangat diinginkan oleh Xin Yi.
***
Setelah berpamitan, Lin Feng kemudian membuka gerbang dimensi, lalu melangkah masuk ke dalamnya, namun sebelum benar-benar masuk ke sana, Lin Feng menghentikan langkahnya dan menoleh pada mereka semua.
Senyuman indah nampak terukir di bibirnya, senyuman yang seolah memberitahukan jika dirinya akan baik-baik saja. Namun, senyuman yang seharusnya menenangkan itu, malah membuat Luo Ning meneteskan air mata.
"Aku pergi" ucap Lin Feng, kemudian melesat masuk ke gerbang dimensi tersebut.
"Ibu, kenapa ibu menangis?" tanya Xie Long.
Luo Ning tersenyum seraya menggeleng pelan, "Ibu hanya sedih karena tidak bisa ikut dengan ayahmu."
"Long'er, kau dan adik-adikmu semakin dewasa, ada kalanya kalian akan meninggalkan ayah dan ibu, jika saat itu tiba, hanya ayah kalian yang akan menghabiskan waktu bersama ibu."
"Ibu..."
"Sudahlah, ibu ingin kembali ke kamar" ujar Luo Ning, kemudian meninggalkan mereka semua.
Setibanya di kamar, Luo Ning kemudian mengeluarkan sebuah giok hijau dari cincin penyimpanannya, giok itu adalah giok pemberian Lin Feng dan di dalamnya tersimpan sedikit energi kehidupan milik suaminya itu.
Selama giok itu masih memancarkan cahaya, artinya Lin Feng masih baik-baik saja, namun jika giok itu sudah tidak memancarkan cahaya atau bahkan hancur, artinya Lin Feng sudah pergi untuk selamanya.
"Gege, kembalilah dengan selamat" gumam Luo Ning dengan air mata yang kembali berderai.
***
Lin Feng berulang kali menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, karena musuh yang akan ia hadapi kali ini adalah musuh terkuat yang pernah ia temui selama hidupnya, oleh sebab itu, ia tidak mungkin bertarung dengan pikiran yang tidak tenang.
"Long'er, ayah harap kau menepati janjimu untuk menjaga ibu dan adik-adikmu" gumam Lin Feng, kemudian menambah kecepatan terbangnya.
Setelah melewati lorong dimensi yang sangat panjang, Lin Feng akhirnya melihat setitik cahaya didepannya, setitik cahaya yang ia lihat itu adalah jalan keluarnya menuju ke tempat tujuannya, yaitu tempat yang akan menjadi arena pertarungannya nanti.
"Xin Yi, aku datang!"
Hanya dalam hitungan detik, Lin Feng akhirnya berhasil keluar dari lorong dimensi ruang dan waktu dan saat ini, ia sudah berada di sebuah tempat di dimensi yang sangat jauh, lebih tepatnya di tempat Xin Yi berada.
"Selamat datang Lin Feng, aku tidak menyangka kau akan mengunjungi-ku secepat ini" sapa Xin Yi.
"Aku juga tidak menyangka akan datang ke sini lagi."
"Mari, silahkan duduk."
"Terima kasih" sahut Lin Feng, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?"
Meski sudah mengetahui tujuan kedatangan Lin Feng, namun Xin Yi masih berusaha untuk bersikap layaknya tuan rumah yang sopan pada tamunya, salah satunya adalah dengan menanyakan tujuan kedatangan Lin Feng.
"Kenapa malah bertanya saat kau sudah mengetahui semuanya?"
"Hahahaha" Xin Yi tertawa lantang, "Kau benar, tapi bagaimanapun juga, aku ingin dianggap sebagai tuan rumah yang baik olehmu."
"Aku mengakui kau adalah tuan rumah yang baik, karena biasanya, aku tidak pernah mendapatkan sambutan seperti ini, apalagi dari seseorang yang menganggap-ku sebagai musuh."
Xin Yi diam sejenak, raut wajahnya juga telah berubah dan tidak terlihat ramah sedikitpun, "Kau yakin dengan keputusanmu ini?"
"Jika aku tidak yakin, aku tidak akan datang menemui-mu!" jawab Lin Feng.
"Hahahaha! Baiklah, mari kita selesaikan pertarungan kita waktu itu."
*
*
*
Assalamu'alaikum semuanya, pasti pada kesal karena chapter-nya digantung kek jemuran 😅
Sabar, ngga boleh emosian.
Di chapter selanjutnya akan ada pertarungan dahsyat antara Lin Feng dan Xin Yi, kira-kira, Lin Feng bisa menang ngga ya?
Oke, sekian dulu untuk hari ini, see you next chapter, Bai Bai!