
Beberapa bulan kemudian.
Latihan panjang yang mereka jalani bersama ayah dan ibunya benar-benar membuahkan hasil yang memuaskan, karena berkat latihan itu, kekuatan mereka berempat sudah meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi.
Untuk saat ini, kultivasi Xie Long telah berhasil mencapai ranah Nirvana bintang sembilan, lalu kekuatannya sendiri sudah setara dengan seorang kultivator ranah Martial Emperor bintang empat.
Sementara Lin Xie Ling, kultivasi-nya juga telah meningkat dengan pesat, yaitu berada di ranah Nirvana bintang tujuh, dan kekuatannya sendiri setara dengan kultivator ranah Martial Emperor bintang dua.
Tidak hanya mereka berdua, karena kultivasi Jia Zhen juga mendapatkan peningkatan yang signifikan, karena sekarang, kultivasi-nya telah mencapai ranah Heaven Spiritual bintang sembilan.
Sedangkan untuk Zhen Jia, peningkatan kekuatannya mengikuti Jia Zhen, karena sampai sekarang, jiwa Zhen Jia masih terhubung dengan tubuh kakaknya, sehingga dirinya belum bisa berkultivasi sendiri.
Dan yang terakhir adalah Huanran, selama beberapa bulan berlatih bersama Lin Feng, ia juga mendapatkan pencapaian yang memuaskan, bahkan kekuatannya juga telah meningkat seperti yang lainnya.
***
Lin Feng tersenyum puas melihat pencapaian keempat anaknya itu, jika dirinya dulu dijuluki sebagai jenius tiada banding, maka mereka berempat jauh lebih cocok dikatakan sebagai jenius diatasnya para jenius.
"Ayah benar-benar bangga pada kalian semua, karena hanya dalam beberapa bulan saja, kalian telah berhasil mencapai sesuatu yang mustahil dicapai oleh orang lain."
"Tapi ingatlah, kekuatan yang besar bukan untuk dipamerkan, tetaplah rendah diri dan jangan sombong, karena di luar sana, masih ada yang lebih hebat dari kalian."
"Baik, ayah!"
Lin Feng mengangguk, kemudian mengarahkan pandangannya pada Xie Long, "Long'er, bagaimana dengan kekuatan Asura?"
Xie Long menghela napas panjang seraya menggeleng pelan,karena walaupun dirinya berhasil meraih pencapaian yang cukup tinggi, namun ia masih saja gagal menaklukkan kekuatan Asura dalam dirinya itu.
"Tetaplah berusaha, karena ayah yakin kau bisa menaklukkannya."
Sebenarnya, Lin Feng bisa saja membantu putranya menaklukkan kekuatan Asura dalam dirinya, namun jika ia melakukan hal itu, maka kekuatan Asura tidak akan benar-benar tunduk pada anaknya.
Untuk beberapa waktu, kekuatan Asura mungkin akan patuh dan mau menyatu dengan Xie Long, namun bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti kekuatan itu akan berubah lagi, dan mungkin saja akan mengancam nyawa anaknya.
Oleh karena itu, Lin Feng ingin anaknya berusaha sendiri, karena jika dia berhasil melakukannya, maka kekuatan Asura dalam dirinya itu akan benar-benar tunduk padanya dan tidak akan pernah berulah lagi.
"Ayah, ibu, aku ingin menyampaikan sesuatu" ucap Xie Long.
"Ada apa, Long'er?"
Xie Long menghela napasnya, "Ayah, ibu, aku ingin melanjutkan perjalananku..." Xie Long menghentikan ucapannya dan menghela napas lagi.
"Meski disini ada ayah dan ibu yang membantuku, tapi aku ingin berhasil mencapai tujuanku dengan caraku sendiri" lanjutnya.
"Ayah tidak pernah melarang mu, dan kau boleh pergi kemanapun yang kau inginkan, asalkan kau tidak pernah lupa dengan jalan pulang" sahut Lin Feng.
"Kau sudah dewasa, dan ibu tidak mungkin mengekang mu lagi. Tapi... ibu tidak mengizinkanmu membawa Huanran."
Xie Long mengangguk paham, ia tentu mengetahui alasan kenapa ibunya melarang Huanran pergi bersamanya, karena selain mereka yang masih belum menikah, keberadaan Huanran juga masih jauh dari kata aman.
Buktinya, Xin Yi sudah berani memerintahkan pasukannya untuk menyerang dimensi pertama, dan bukan tidak mungkin jika dirinya juga akan datang ke dimensi pertama ini.
Jika hal itu benar-benar dia lakukan, maka tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi Huanran selain Dunia Bawah, karena sampai kapanpun, Xin Yi tidak akan pernah bisa masuk ke Dunia Bawah.
"Tentu saja tidak, ibu. Lagipula, aku sudah sangat nyaman berada disini , terutama berada disisi ibu" jawab Huanran.
"Ayah, aku..."
"Tidak, ayah masih belum bisa memberimu izin untuk melakukan perjalanan" sahut Lin Feng.
Jia Zhen menghela napas panjang, ia sudah menduga jika dirinya tidak akan diberi izin oleh ayahnya. Padahal, ia sangat ingin menjelajahi alam semesta ini, melakukan perjalanan dengan bebas dan pergi kemanapun yang ia inginkan.
"Zhen'er, ketika kau sudah dewasa nanti, kau juga boleh melakukan perjalanan sendiri" ucap Lin Feng, kemudian menoleh pada Xie Ling.
"Ling'er..."
Xie Ling menggeleng pelan, "Aku tidak ingin kemana-mana, karena berada disisi ayah dan ibu jauh lebih nyaman daripada berada di tempat lain."
"Baiklah, tapi kalau kau memiliki niat seperti kakakmu, jangan segan-segan untuk mengatakannya pada ayah dan ibu."
Setelah itu, Lin Feng mengajak mereka semua kembali ke istana, karena tidak akan lama lagi malam akan segera tiba, yang artinya, sudah saatnya mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama di istana kerajaan.
***
Sama seperti malam-malam sebelumnya, Zhen Jia masih saja ingin tidur bersama kakaknya itu dan menolak untuk kembali ke kamarnya, bahkan kamar kakaknya itu sudah sama seperti kamarnya sendiri.
"Jia'er, bagaimana kalau ayah dan ibu tahu kau selalu tidur di sini?"
"Apa salahnya, aku-kan adik kakak."
"Aku tahu itu, tapi inikan kamarku dan kau juga memiliki kamar sendiri" sahut Jia Zhen.
"Apa kakak mengusirku?"
Jia Zhen menghela napas panjang menatap adiknya yang mulai menggunakan jurus andalannya, yaitu menunjukkan wajah sedih agar tidak diusir dari sana.
Dan benar saja, Jia Zhen tidak punya pilihan lain selain memberi izin pada adiknya itu. Padahal, Zhen Jia sudah sering melakukan hal itu, tapi Jia Zhen tetap saja luluh saat melihat wajah sedihnya.
"Yasudah, kau boleh tidur di sini" ucap Jia Zhen, kemudian naik ke tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya.
Tidak lama berselang, Zhen Jia juga ikut naik ke tempat tidur dan langsung memeluk tubuh kakaknya itu. Awalnya memang hanya memeluk lengan, tapi lama-kelamaan, Zhen Jia mulai berani memeluk tubuh kakaknya itu.
Bahkan, ia tidak akan pernah bisa tidur jika tidak memeluk kakaknya, dan sebagai seorang kakak yang baik, Jia Zhen tentu tidak bisa melarang tindakan adiknya itu, dan sejujurnya, ia sendiri juga sudah mulai terbiasa jika tidur dipeluk oleh Zhen Jia.
"Kakak, apa yang akan kakak lakukan jika aku mati?"
"Bodoh! Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" jawab Jia Zhen.
"Tapi, bagaimana kalau aku benar-benar mati?"
Jia Zhen menoleh dan tersenyum pada adiknya, "Aku juga akan mati bersamamu."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, karena aku tidak ingin adikku ini sendirian, baik saat masih hidup ataupun setelah mati nanti."