
Tidak lama berselang, para kultivator itupun akhirnya muncul di dekat mereka berdua, jumlah mereka lebih dari dua puluh orang, dan semuanya adalah kultivator ranah Nirvana bintang lima ke atas.
"Aku tidak menyangka jika kalian malah akan menunggu kedatangan kami di sini" ucap salah seorang dari mereka.
"Aku juga tidak menyangka kalian akan datang secepat ini" sahut Xiao Xue.
"Hahahaha!"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Serang!"
Setelah mendapatkan aba-aba, para kultivator itu langsung melesat maju mendekati Xiao Xue, beberapa dari mereka ada juga yang mendekati Xie Long yang masih duduk dengan tengah di dahan pohon.
Sikap santai dan tenang yang ia tunjukkan seolah mengartikan jika dirinya tidak menghiraukan orang-orang itu, jangankan menghiraukan mereka, Xie Long bahkan belum menoleh sedikitpun sejak orang-orang itu datang.
Disisi lain.
Xiao Xue yang tidak ingin bermain terlalu lama dengan mereka, sudah mulai menghabisi mereka satu-persatu, dengan kekuatan yang ia miliki saat ini, tentunya sangat mudah baginya untuk melakukan hal tersebut, apalagi kultivasi mereka tidak ada yang setara dengannya.
"Macan penghisap jiwa, datanglah!"
Groaarrr!!
Dari kedalaman hutan terdengar suara raungan yang sangat keras, kemudian diiringi dengan kemunculan aura kekuatan yang cukup besar.
Tidak lama berselang, dikejauhan nampak seekor harimau hutan tengah berlari dengan kecepatan tinggi, setelah berada dalam jangkauan yang cukup dekat, harimau itu kemudian melompat untuk menerkam Xiao Xue.
Dengan santainya, Xieo Xue bergerak ke samping untuk menghindari serangan harimau tersebut, disaat yang bersamaan, ia juga melancarkan serangan dengan tinjunya dan berhasil mendarat di kepala harimau tersebut.
Besarnya kekuatan yang digunakan Xiao Xue dalam serangannya, berhasil membuat harimau yang sangat besar itu terlempar cukup jauh. Namun, serangan itu tentu masih belum bisa mengalahkannya.
"Diam di sana!" ujar Xiao Xue seraya mengarahkan tatapan tajam pada harimau tersebut.
Harimau itu benar-benar diam ditempatnya, bahkan tubuhnya nampak gemetar karena tatapan tajam Xiao Xue. Pria yang memanggil harimau hitam nampak keheranan, ia bahkan tidak menyangka jika hewan peliharaannya akan menuruti perkataan Xiao Xue.
"Apa yang kau lakukan, bodoh? Cepat bunuh dia!" ujar pria tersebut.
Harimau hitam tidak menanggapi perkataan Tuannya, ia masih menundukkan kepala dan tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun. Sikapnya itu menunjukkan jika status Xiao Xue jauh lebih tinggi darinya.
Manusia mungkin tidak menyadari dan tidak akan merasakan penindasan dari tatapan Xiao Xue, namun bagi para Beast yang lebih rendah darinya, tatapan itu sudah mampu mengintimidasi mereka hingga membuat mereka tidak bisa berkutik sedikitpun.
Misalnya seperti harimau hutan saat ini, sebenarnya dia bisa saja mematuhi perintah Tuannya dan melawan Xiao Xue, namun jika dia melakukan hal itu, maka dia harus siap menerima resiko yang sangat besar, yaitu kehilangan nyawanya.
"Jika kau ingin hidup, bunuh mereka semua!" ujar Xiao Xue.
Tanpa diduga, harimau hitam itu malah berdiri dan langsung melesat kearah Tuannya sendiri, tidak hanya sekedar menyerang, harimau hitam itu bahkan mematuhi perintah Xiao Xue untuk membunuh mereka semua.
"Tuan, masalah disini sudah selesai, bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan?"
Xie Long mengangguk, kemudian turun dari dahan pohon tempat ia duduk. Setelah itu, ia melesat terbang meninggalkan tempat tersebut.
"Ingat baik-baik, pastikan kau membunuh mereka semua atau aku yang akan membunuhmu!" ancam Xiao Xue, kemudian mengikuti Xie Long yang telah terbang menjauh.
***
Jia Zhen kembali melanjutkan perjalanannya setelah memulihkan kondisinya, kini mereka tengah dalam perjalanan menuju ke dimensi yang berbeda, dimensi yang bahkan belum pernah Jia Zhen ketahui.
Kejadian sebelumnya juga membuat Jia Zhen sadar jika dirinya telah salah dalam bertindak, padahal ia bisa mengikuti jejak kekuatan petir surgawi yang ia rasakan tanpa harus memaksakan dirinya, karena akibatnya benar-benar sangat fatal.
"Tuan Muda, selanjutnya kemana?" tanya Lang Diyu.
"Sama seperti sebelumnya, kita akan tetap menyusuri setiap dimensi yang ada di semesta ini" jawab Jia Zhen.
"Baik, Tuan Muda!" jawab mereka semua serempak.
"Ada apa Zhen Jia?"
"Aku ingin menyampaikan sesuatu."
"Baiklah, aku akan menemui-mu setelah kita sampai di tempat tujuan" sahut Jia Zhen.
Tanpa Jia Zhen sadari percakapannya dengan Zhen Jia terdengar oleh Huise dan yang lainnya, dan hal itu membuat mereka kebingungan, karena tidak mengetahui dengan siapa Tuan Muda mereka sedang mengobrol.
"Tuan Muda."
"Iya, ada apa paman?"
"Maaf jika aku lancang, tapi Tuan Muda bicara dengan siapa?" tanya Huise.
Jia Zhen tersentak, "Bukan siapa-siapa paman" jawabnya.
Sebenarnya, Jia Zhen memang sudah memiliki niat untuk memperkenalkan adiknya pada mereka semua, namun sekarang ini bukanlah waktu yang tepat, karena ia harus memperkenalkan Zhen Jia pada kedua orang tuanya terlebih dahulu.
Tidak lama berselang, mereka akhirnya berhasil keluar dari lorong dimensi ruang dan waktu, dan kini, mereka telah sampai di sebuah daratan yang sangat luas dan juga indah, namun sayangnya, tidak seorangpun yang mengetahui dimana mereka sekarang.
"Paman, aku ingin bermeditasi sebentar."
"Baik, Tuan Muda!"
Setelah menutup matanya, kesadaran Jia Zhen kemudian masuk ke ruang jiwanya sendiri, yaitu sebuah tempat yang ada di dalam dirinya, tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain selain kesadarannya sendiri.
"Zhen Jia, apa yang ingin kau sampaikan pada kakak?" tanya Jia Zhen.
Zhen Jia menarik tangan kakaknya, kemudian membawanya terbang meninggalkan altar, tepatnya menuju ke tempat kekuatan mereka menyatu, yaitu bagian terdalam ruang jiwa Jia Zhen.
"Zhen Jia tubuhmu..."
"Inilah yang ingin aku sampaikan, setelah aku menyelamatkan kakak waktu itu, tubuhku tidak lagi menjadi gumpalan energi" jelas Zhen Jia.
"Lalu, kenapa kau membawa kakak ke sini?"
"Lihat itu!"
Jia Zhen mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh adiknya, ia nampak kaget ketika melihat perubahan pada gumpalan energi yang ada di dalam dirinya itu.
Sebelumnya, ada tiga gumpalan energi di dalam dirinya, namun sekarang, dua gumpalan energi yang merupakan perwujudan dari kekuatan petir surgawi dan api emas sudah menghilang.
"Apa yang terjadi pada dua gumpalan energi sebelumnya?"
"Aku juga tidak tahu, kak. Tapi dari pengamatan ku, kedua gumpalan itu telah menyatu. Lihatlah, gumpalan energi yang itu sudah semakin besar sekarang."
"Tapi kenapa aku tidak merasakan apapun?"
"Aku juga baru menyadarinya setelah menyelamatkan kakak" jawab Zhen Jia.
"Selain itu, ada sesuatu yang muncul di dalam sana."
"Ada lagi?"
Zhen Jia mengangguk, kemudian mengajak kakaknya mendekati gumpalan energi yang sangat besar itu. Saat mereka berada didekatnya, barulah Jia Zhen bisa melihat sebuah benda di dalam gumpalan energi tersebut.
"Ini... bukankah ini pedang ayah?"
"Benar kak, ini pedang ayah. Aku sudah mencoba untuk mengeluarkannya dari sana, tapi tidak bisa."
Jia Zhen diam sembari memikirkan keanehan yang terjadi dalam dirinya, namun sekeras apapun ia berpikir, ia tetap tidak menemukan jawabannya. Setelah itu, ia mencoba mengeluarkan pedang tersebut, namun hasilnya tetap sama saja.