
Setelah menyusuri hutan selama beberapa jam, Xie Long akhirnya berhasil menemukan Xiao Xue, namun keadaannya juga sama, karena bawahannya itu juga tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Meskipun begitu, keduanya tidak langsung menyerah begitu saja, walaupun tidak bisa menggunakan kekuatannya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melakukan apapun dan hanya pasrah menerima keadaan.
"Tuan, di depan sana ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih" ucap Xiao Xue.
"Darimana kau tahu?"
"Sebelum tuan datang, aku sudah menyusuri hutan ini dan kebetulan menemukan sungai di depan sana" jawab Xiao Xue.
"Baiklah, sebaiknya kita ke sana untuk membersihkan diri, dan kebetulan aku sedang sangat haus" sahut Xie Long.
***
Ketika mereka tiba di sungai yang dimaksud, Xie Long tidak langsung meminum air sungai yang sangat jernih tersebut, karena ia merasakan sesuatu yang aneh dari arah hulu sungai tersebut.
Walaupun ia tidak bisa menggunakan semua kekuatan yang ada dalam dirinya, namun instingnya sebagai seorang kultivator masih tetap ada, sehingga ia masih bisa merasakan kehadiran bahaya yang mengintainya.
"Tuan, ada apa?"
"Entahlah, tapi sebaiknya jangan meminum air sungai ini" jawab Xie Long, pandangannya masih fokus menatap kearah hulu sungai.
"Apa tuan ingin memeriksanya?"
Xie Long mengangguk pelan, kemudian berjalan mengikuti arah yang berlawanan dengan aliran air sungai. Pada saat yang bersamaan, perasaan aneh yang ia rasakan sebelumnya tiba-tiba saja lenyap.
"Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan tempat ini" gumam Xie Long.
Setelah mengikuti arah yang berlawanan dengan aliran air sungai selama hampir satu jam, mereka berdua akhirnya menemukan tempat aliran air sungai itu berasal, yaitu di dalam sebuah gua yang sangat besar.
Ketika masuk ke dalam gua, mereka dibuat kagum dengan pemandangan didepannya, karena di dalam gua yang sangat besar itu terdapat sebuah air terjun yang begitu tinggi.
Tidak hanya itu saja, kedalam gua tersebut justru tidak terlihat seperti gua lagi, melainkan lebih mirip seperti gelapnya langit malam yang dihiasi oleh jutaan cahaya bintang.
Selain itu, di sana juga ada aliran energi kehidupan yang sangat besar, bahkan sangat besar sampai Xie Long berpikir jika tempat itu adalah sumber dari seluruh energi kehidupan di dunia ini.
"Tuan, tempat ini adalah surga sesungguhnya untuk para kultivator" ucap Xiao Xue.
"Kau benar, tapi kita harus tetap berhati-hati, karena tidak mungkin tempat ini tidak dijaga oleh sesuatu."
"Baik, tuan!"
Tidak lama berselang, seluruh tempat itu tiba-tiba saja bergetar, pada saat yang bersamaan, dipuncak air terjun muncul seorang pria paruh baya dengan aura yang begitu luar biasa.
"Siapa kalian berdua?" tanya pria itu.
"Senior, namaku Lin Xie Long, lalu yang ini adalah temanku, namanya Xiao Xue" jawab Xie Long dengan sopan.
Sebagai seorang kultivator, ia tentu mengetahui kapan harus bersikap sopan, karena kalau tidak, akan ada resiko besar yang mungkin saja mengancam nyawanya.
Misalnya seperti saat ini, meskipun terpaksa, ia tetap harus bersikap sopan, karena pria didepan mereka itu memiliki kekuatan yang begitu luar biasa, dan mustahil mereka bisa melawannya.
"Xie Long dan Xiao Xue, aku ucapkan selamat datang di tempat ku. Dan perkenalkan, namaku Huoshen."
Keduanya langsung tersentak saat mendengar nama pria itu, karena namanya sama dengan nama pulau yang tengah mereka cari selama ini, yaitu pulau Huoshen.
"Senior, maaf jika aku lancang, tapi apakah senior mengetahui tentang pulau Huoshen?"
"Bukan hanya mengetahui, tapi akulah pemilik pulau Huoshen yang kau maksud itu" jawab pria bernama Huoshen tersebut.
"Tapi, kenapa kalian mencari pulauku?"
Xie Long tersenyum senang, kemudian menjelaskan jika dirinya ditugaskan untuk mencari pulau Huoshen, ia juga menjelaskan tentang ujian yang harus ia jalani di pulau tersebut.
"Benar, senior!"
"Coba buktikan agar aku percaya pada ucapan-mu itu!"
Xie Long mengangguk, kemudian menunjukkan bulu berwarna perak yang diberikan oleh Phoenix perak padanya.
"Anak muda, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa mengenal Phoenix perak?"
"Aku mengenalnya dari mendiang kakekku yang bernama Yuan Long" jawab Xie Long.
"Ternyata begitu, aku juga pernah mendengar nama kakek-mu dari temanku itu" sahut Huoshen.
Setelah itu, Huoshen meminta mereka untuk naik ke puncak air terjun tersebut, namun karena tidak bisa menggunakan kekuatannya, mereka hanya bisa naik dengan cara memanjat.
Akan tetapi, mencapai puncak air terjun bukanlah sesuatu yang mudah, karena selain sangat tinggi, air terjun yang menimpa tubuh mereka juga memberikan tekanan yang sangat berat.
Selain tekanan dari air terjun, tubuh mereka juga ditekan oleh aura kekuatan yang begitu besar, sehingga membuat keduanya sangat kesulitan untuk mendaki tebing tersebut.
"Anak muda, jika kau gagal mendaki air terjun ini, maka kau tidak akan bisa menjalani ujian kedua" ucap Huoshen.
"Satu lagi, kau harus mencapai puncak dalam waktu satu bulan!"
Xie Long dan Xiao Xue tercengang mendengar perkataan Huoshen, karena tidak menyangka jika waktu yang diberikan pada mereka sangatlah panjang.
Dengan kata lain, mendaki air terjun tersebut adalah pekerjaan yang sangat sulit, kalau tidak, mustahil Huoshen memberikan waktu selama satu bulan pada mereka untuk bisa mencapai puncak.
"Xiao Xue, mari kita selesaikan ujian ini bersama-sama!"
"Baik, tuan!"
***
Sementara itu.
Jia Zhen dan Zhen Jia kini telah sampai di kota kelahiran ayah mereka, yaitu kota Awan. Namun, kedatangan mereka di sana tidak terlalu disambut dengan baik, apalagi ketika mengetahui jika mereka berasal dari keluarga Lin.
Waktu memang sudah berlalu sangat lama, namun orang-orang di kota Awan tentunya masih mengingat kejadian kelam dimasa lalu, kejadian yang menewaskan seluruh anggota keluarga Zhou.
"Orang-orang di sini sangat tidak bersahabat" ucap Zhen Jia dengan suara pelan.
"Abaikan saja, yang penting kita masih diizinkan untuk masuk ke kota ini" sahut Jia Zhen.
"Tapi, kenapa mereka sangat membenci keluarga kita?"
"Entahlah, mungkin ada kejadian yang belum bisa mereka lupakan sampai sekarang."
"Berhenti!"
Jia Zhen dan adiknya menghentikan langkah mereka, kemudian menoleh kearah sumber suara.
"Ada apa, tuan?" Jia Zhen bertanya dengan sopan.
"Aku minta maaf, tapi kalian berdua dilarang memasuki kota ini!" jawab prajurit yang menghentikan mereka.
"Apa maksud tuan? Bukankah kami sudah diizinkan masuk sebelumnya?"
"Aku tahu itu, tapi aku berubah pikiran, dan sebaiknya kalian pergi sekarang atau aku akan mengusir kalian dengan cara kasar!"
Jia Zhen mengerutkan dahi, ia benar-benar tidak menyangka jika dia dan adiknya akan mendapatkan perlakuan seperti itu, namun ia lebih memilih untuk mengalah, karena tidak ingin menimbulkan masalah di kota kelahiran ayahnya itu.
"Baiklah, kami akan pergi."