Night King: The Asura

Night King: The Asura
Ch-229. Ketenangan


"Siapa kau?"


Lin Jia Zhen bertanya pada seorang anak yang berdiri membelakangi dirinya, meski postur tubuh dan pakaian yang ia kenakan mirip seperti dirinya, namun Jia Zhen tidak bisa yakin jika anak itu adalah dirinya sendiri.


"Siapa aku? Seharusnya aku yang bertanya, siapa dirimu?"


Anak itu membalikkan badannya dan benar saja, dia memang sangat mirip seperti Jia Zhen, tidak hanya mirip dari postur tubuh ataupun pakaian yang ia kenakan, tapi wajah mereka juga sangat mirip.


"Namaku Lin Jia Zhen, siapa namamu?"


"Tidak, akulah Lin Jia Zhen, siapa kau? Kenapa mengaku sebagai diriku?"


Jia Zhen mengerutkan dahi mendengar ucapan anak itu, padahal jelas-jelas dirinya-lah Lin Jia Zhen yang sebenarnya, tapi anak didepannya itu malah mengaku sebagai dirinya.


"Jangan buat aku mengulang pertanyaan yang sama!" ujar Jia Zhen yang mulai tersulut emosi.


"Dan jangan buat aku mengulang kata-kataku!"


Sama halnya dengan Jia Zhen, anak itu berpegang teguh pada pendiriannya dan enggan mengakui siapa dia sebenarnya, bahkan ia terlihat seperti sangat yakin jika yang berdiri didepannya saat ini adalah seorang penipu.


Jia Zhen mengepalkan tangannya, ia benar-benar kesal karena anak itu masih saja keras kepala, padahal sudah jelas jika dirinya-lah yang penipu, tapi tatapan matanya justru mengatakan sebaliknya.


"Dengar, aku akan memaafkan-mu jika kau mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya!"


"Akulah yang seharusnya mengatakan hal itu!"


Kesabaran Jia Zhen mulai menipis, namun ia berusaha untuk tidak meluapkan emosinya itu. Kemudian, ia mengajukan beberapa pertanyaan pada anak itu, seperti siapa nama ayah dan ibunya, namun semuanya berhasil dijawab dengan benar.


Hal yang sama juga dilakukan oleh anak yang mirip dengan Jia Zhen, namun jawaban yang Jia Zhen berikan juga membuat anak itu kaget, karena apapun yang ia tanyakan, berhasil dijawab dengan benar oleh Jia Zhen.


Perdebatan keduanya semakin memanas, api amarah nampak terukir jelas dalam tatapan dan raut wajah yang mereka tunjukkan, namun sampai saat ini, keduanya masih melakukan adu mulut dan belum sampai adu kekuatan.


"Sekarang apa lagi? Aku sudah menjawab semua pertanyaan-mu dan kau-pun sama!"


"Mau bertarung?"


"Kenapa tidak!?"


Jia Zhen mengangkat sudut bibirnya mendengar jawaban anak itu, kemudian ia melepaskan aura kekuatannya untuk mengintimidasi anak didepannya itu, namun kekuatan yang dimiliki oleh anak itu juga sama dengan kekuatannya.


Tidak hanya kekuatannya saja yang sama, anak itu bahkan memiliki tingkat kultivasi serta kekuatan alami yang persis sama seperti dirinya, yaitu kekuatan petir mereka keemasan, yang merupakan gabungan dari kekuatan petir surgawi dan api emas.


Karena tingkat kekuatan masih belum bisa membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, keduanya kemudian melesat maju dan saling melancarkan serangan, agar mereka dapat mengetahui siapa yang penipu dan siapa yang bukan.


Namun, setiap serangan yang mereka lakukan selalu saja sama, bahkan gaya bertarung mereka juga benar-benar sama, termasuk setiap teknik yang mereka gunakan saat bertarung.


Setelah saling bertukar serangan selama lebih dari sepuluh menit, keduanya kemudian melompat mundur dan saling menjauhi, lalu mereka berdua mengangkat tangannya ke udara secara bersamaan.


Keduanya kemudian menangkap petir yang memiliki warna dan ukuran yang sama itu, lalu mereka menarik petir merah keemasan itu yang akhirnya berubah menjadi sebilah pedang dengan warna yang juga sama.


Setelah itu, keduanya kembali melesat maju dan melanjutkan pertarungan mereka yang sempat tertunda. Petir merah keemasan tiba-tiba menyambar saat keduanya mengayunkan pedang ditangannya.


Dhuaaar!


Dhuaaar!


Ledakan demi ledakan terus terjadi ketika pedang mereka saling beradu, suaranya terdengar bersahut-sahutan dan menggema di udara, kemudian diiringi oleh suara petir yang masih saja menyambar ke daratan.


Meski mereka masih berumur delapan tahun dan kultivasi-nya berada di ranah Penempaan Tubuh, namun kekuatan yang mereka keluarkan jelas melebihi tingkat kultivasi mereka saat ini.


Hal itu bisa dibuktikan dari kehancuran yang tercipta akibat pertarungan sengit yang mereka lakukan, dampaknya sudah menyebar luas dan menghancurkan apapun yang ada disekitar mereka berdua.


"Ini benar-benar aneh, kenapa aku tidak bisa mengalahkannya sama sekali?"


Saat kebingungan tengah melanda dirinya dan memenuhi pikirannya, Jia Zhen tiba-tiba saja mendengar suara tetesan air yang sama seperti sebelumnya, dan seketika itu juga, ia mengingat kembali pesan yang disampaikan oleh ayahnya.


"Benar, aku harus tenang" gumam Jia Zhen, kemudian menghentikan serangannya dan lebih memilih untuk menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.


Jia Zhen melompat mundur, kemudian melenyapkan pedang yang sebelumnya ia ciptakan dari kekuatan petir, lalu setelah itu, ia memejamkan matanya dan membiarkan anak itu menyerangnya dengan bebas.


Slash!


Suara tebasan terdengar dengan jelas, namun anehnya tidak ada apapun yang terjadi pada Jia Zhen, padahal dia sempat berpikir jika serangan itu akan melukainya, tapi nyatanya tidak seperti itu.


Seharusnya, tebasan itu memang mengenai Jia Zhen, tapi sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terjadi, pedang yang seharusnya melukai Jia Zhen malah melewati tubuhnya begitu saja, seolah dirinya terbuat dari asap yang tidak bisa disentuh.


"Sungguh luar biasa, aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan-ku secepat ini" ucap anak tersebut.


Jia Zhen membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada anak yang sangat mirip dengannya itu, "Tidak perlu bingung, kau adalah Jia Zhen yang sebenarnya, kehadiranku di sini hanya untuk menguji dirimu.


Setelah menyelesaikan ucapannya, tubuh anak itu perlahan mulai lenyap menjadi serpihan cahaya, ia tersenyum lembut pada Jia Zhen yang masih menatapnya dengan tatapan heran.


"Lin Jia Zhen, senang bisa menjadi bagian dari dirimu" ucap anak itu, sebelum akhirnya benar-benar lenyap dari pandangan Jia Zhen.


Tidak lama setelah anak itu menghilang, suara tetesan air itu kembali terdengar, bersamaan dengannya, ketenangan Jia Zhen semakin bertambah besar, dan kini, wajahnya terlihat begitu menyejukkan untuk dipandang.


"Ayah, sekarang aku mengerti kenapa ayah selalu mengajarkan ketenangan pada kami" gumamnya.


Meski tidak tahu dia ada di mana, namun Jia Zhen lebih memilih untuk meninggalkan tempat tersebut, namun setelah beranjak sejauh beberapa langkah dari sana, ia tiba-tiba saja telah berada ditempat yang berbeda.


Ditempat yang baru itu, Jia Zhen dapat melihat sebuah gerbang yang terbuka lebar didepannya, di sana juga ada sebuah jalan lurus yang terbuat dari energi dan terhubung langsung dengan gerbang tersebut.


"Apa itu pintu keluarnya?" gumam Jia Zhen kemudian melangkahkan kakinya untuk mencapai gerbang tersebut.